Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 83


__ADS_3

Hangga dan Harum merajut manisnya hari selama liburan di Bali. Banyak yang mereka lakukan setiap harinya, bukan sekedar menghabiskan tidur berdua di kamar saja.


Hari pertama di Bali, pasangan suami istri tersebut menghabiskan banyak waktunya bercanda ria di kamar hotel dan pantai sekitar hotel. Menikmati keramaian pantai yang dipenuhi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Menyaksikan para peselancar melakukan aksinya yang membuat Hangga takjub.


Kemudian sore harinya ditutup dengan menyaksikan tenggelamnya matahari. Tidak lupa mengabadikan indahnya sunset di langit Bali nan indah dengan kamera DSLR yang telah dipersiapkan Hangga sebelumnya.


Hari kedua, Hangga mengajak Harum bersepeda di daerah Jatiluwih. Bersepeda berdua sambil menikmati pemandangan perbukitan serta sawah terasering yang asri nan indah. Semula Hangga mengira, Harum tidak pandai bersepeda, ternyata Hangga baru tahu bahwa Harum lebih jago dalam hal menggowes ketimbang dirinya.


Hari ketiga, pasangan itu mengikuti kegiatan wisata pelepasan anak penyu dan menyaksikan tukik-tukik lucu yang berenang bebas ke lautan lepas.


“Lucu banget itu anak kura-kura,” kata Harum antusias.


“Bukan kura-kura, Sayang. Itu penyu,” ralat Hangga.


“Iya, sama aja. Penyu kan adiknya kura-kura,” sahut Harum tidak mau kalah.


“Iya deh, enggak papa. Kalau kamu yang ngomong mau benar ataupun salah selalu cantik. Mas suka.” Hangga mencubit gemas pipi Harum. Sepertinya mencubit pipi menjadi hal yang paling disukai Hangga saat berdekatan dengan Harum.


“Hum, tahu enggak, kura-kura yang suka bohong apa namanya?” lontar Hangga.


“Enggak tahu.”


“Kura-kura yang suka bohong itu namanya ... pura-pura. Hahahaha.” Hangga melempar tebak-tebakan garing andalannya.


Harum teringat Hangga pernah melempar tebak-tebakan model seperti itu saat pulang kampung sebulan yang lalu. Saat itu, Harum yang tengah terluka akibat ucapan Hangga, tidak bereaksi dan diam saja, tidak menanggapi tebak-tebakan garing tersebut.


Namun, kali ini Harum memilih tertawa. Kasihan suami yang dicintainya itu kalau sudah berniat melucu, tetapi malah tidak ditertawakan.


“Hehehehe.” Harum tertawa, meskipun bunyi tertawanya terdengar aneh.


“Kalau biri-biri yang jalannya cepat, apa namanya hayo?”


“Enggak tahu, Mas.”


“Biri-biri yang jalannya cepat namanya ... buru-buru. Hahahaha.”


“Hehehehe.” Suara tawa Harum terdengar semakin aneh.


“Hum, kalau enggak mau ketawa, jangan memaksakan ketawa,” ujar Hangga dengan wajah ditekuk.


“Lucu kok, Mas. Sumpah lucu banget,” sahut Harum diakhiri dengan senyum yang lebar.


Hangga melengos dengan wajah super datar, pura-pura merajuk.


“Mas Hangga marah? Maafkan saya, Mas. Jangan marah dong!” Harum meraih tangan Hangga dan menggenggamnya erat dalam posisi saling berhadapan.


"Mas Hangga, maaf dong. Jangan marah ya." Hangga menahan senyum sembari memasang wajah sedatar mungkin.


“Kalau mau mas enggak marah, ada syaratnya,” kata Hangga setelah beberapa saat bertahan dalam kondisi pura-pura merajuk.


“Apa syaratnya?”


“Cium dulu.” Hangga mengetuk bibirnya yang dimanyunkan dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


“Di sini?” sahut Harum dengan mendelikkan mata.


“Hem.”


“Enggak ih, malu. Di sinj banyak orang."


“Ini Bali, Hum. Enggak usah malu. Kalau di sini, yang belum halal aja, hal begitu lumrah. Apalagi kita yang sudah halal.”


“Iya, tapi tetap aja malu kalau di sini.”


Mmmuach


Tanpa aba-aba, Hangga langsung mengecup bibir Harum tanpa permisi, kemudian langsung lari.


“Mas Hangga ih!” Pasangan suami istri itu berlarian berkejaran di sepanjang pantai.


“Hum, binatang apa yang paling dibenci anjing laut?” lontar Hangga di sela kegiatan larinya.


“Kucing laut!” sahut Harum.


*


Hari keempat, Hangga mengajak Harum menyusuri kebun bunga Marigold di salah satu desa di Bali. Pasangan suami istri itu menikmati keindahan bunga yang biasa digunakan untuk banten atau persembahan masyarakat Hindu Bali sembari berswafoto.


Hangga mengambil foto dengan menggunakan kamera DSLR, sedangkan Harum berfoto menggunakan ponselnya yang di setting ke dalam airplane mode.


“Hum, kamu pasti enggak punya foto mas di galeri hapenya ‘kan?” lontar Hangga saat mereka berjalan menyusuri kebun bunga dengan saling memeluk pinggang.


“Mas juga pasti enggak punya foto saya di hape mas,” balas Harum.


“Ayo sekarang hape kamu penuhi sama foto mas!”


“Ish, narsis sekali Mas Hangga nih. Nanti hape saya ngehang,” ledek Harum.


"Mana ada wajah mas yang ganteng ini bikin hape kamu ngehang, yang ada foto mas bikin hape kamu naik spek."


Setelah berkata begitu, Harum langsung mengarahkan Hangga ke berbagai spot yang menarik untuk difoto.


“Kalau gayanya begini, mas ganteng enggak, Hum?” lontar Hangga yang bergaya cool. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana sementara wajahnya melengos memandang kebun bunga yang indah.


“Ganteng, Mas. Siap ya, satu, dua, tiga.”


Harum tersenyum melihat Hangga bergaya, padahal sesungguhnya ia bukan sedang memotret melainkan menyalakan video.


Sekali-kali ngerjain Mas Hangga. Gumamnya dalam hati sembari terkikik geli.


Sore harinya Hangga mengajak Harum ke sebuah mal di Bali.


“Hum, kalau kamu mau beli sesuatu, ambil aja ya," ujar Hangga yang tengah berjalan berdua dengan merengkuh bahu Harum.


“Enggak, Mas. Kita jangan beli oleh-oleh, nanti ketahuan Kak Nata kalau kita habis dari Bali.”


“Iya, juga sih. Terus kita ngapain ke sini?”

__ADS_1


“Mas Hangga sih ngajaknya Jalan-jalan ke mal, padahal mal kan di Tangerang, Serang, Cilegon juga ada.”


“Hum, kita buat tantangan yuk!” usul Hangga.


“Tantangan apa?”


“Mas belikan sesuatu buat kamu, dan kamu belikan sesuatu buat mas. Enggak usah yang mahal-mahal, yang penting value-nya, buat kenang-kenangan. Tapi, kita carinya misah ya, mas ke sana, kamu ke sana. Dua puluh menit lagi kita ketemuan di sini di pusat informasi mal. Berani enggak?”


Harum mengetuk telunjuknya di dagu, tengah menimbang-nimbang. “Oke, siapa takut!” putusnya.


“Paling lama setengah jam ya, Hum. Kalau sudah setengah jam, dapat atau enggak batang yang dibeli itu, kita harus kembali ke sini.”


“Oke.”


“Kita mulai sekarang nih?”


“Iya. Salim dulu.” Harum meraih tangan Hangga lalu menciumnya. Hangga membalas dengan mencium kening Harum.


“Ish, malu, Mas!” protes Harum yang disambut gelak tawa Hangga.


Setelahnya Hangga dan Harum berpisah untuk mencari barang kenang-kenangan yang mungkin bisa dibeli.


Sejujurnya Harum bingung mau membelikan apa untuk Hangga, sebab setahu Harum, suami tampannya itu sudah memiliki semuanya. Sempat berpikir mau membelikan Hangga tas atau dompet, tetapi seingat Harum, Nata sudah pernah membelikannya.


Lagi pula, Harum tidak mau membelikan barang yang terlalu mencolok karena khawatir ketahuan madunya itu. Mau membeli parfum, Harum tidak mengerti aroma parfum kesukaan Hangga.


Hingga kemudian, Harum menemukan counter yang menjual pernak-pernik khas Bali. Dan ia membeli beberapa gelang tridatu khas Bali. Gelang yang terbuat dari untaian benang dengan tiga warna berbeda itu seolah mencerminkan kehidupan pernikahan yang dijalaninya bertiga. Kalau saja, ia dan Nata mau ikhlas berbagi suami, mungkin mereka bertiga akan bisa hidup indah dan damai seperti gelang tersebut.


Harum memutuskan untuk membeli gelang tridatu yang harganya murah meriah sebagai kenangan. Yang penting kan nilainya bukan harganya. Begitu yang dikatakan Hangga tadi. Meskipun gelang tridatu bagi masyarakat Bali dianggap bukan gelang biasa. Gelang tersebut memiliki makna yang dalam yang dipercaya mampu melindungi pemakainya. Akan tetapi, tentu saja bagi Harum yang seorang muslimah tidak mempercayai mitos tersebut. Ia membelinya karena suka dan untuk kenang-kenangan.


“Mohon perhatian. Diberitahukan kepada pengunjung mall atas nama Harum Humaira Sayangku ditunggu kedatangannya oleh Mas Hangga suami gantengmu di pusat informasi.”


Saat hendak membayar, Harum dibuat terpaku dengan suara pemberitahuan dari pusat informasi yang menggema di seantero mal yang ramai tersebut.


“Sekali lagi diberitahukan kepada pengunjung mall atas nama Harum Humaira Sayangku ditunggu kedatangannya oleh Mas Hangga suami gantengmu di pusat informasi. Sekian dan terima kasih.”


“Denger gak sih itu tadi pengumumannya, so sweet banget. Siapa sih itu,” kata salah satu pengunjung mal yang berdiri di sebelah Harum.


Ya Allah, Mas Hangga, kamu gila juga ternyata. Gumam Harum dalam hati dengan pipi yang merona.


.


.


.


.


.


Sebelum masuk ke bab menegangkan, mari kita bikin Harum dan Hangga bahagia dulu.


Btw penasaran enggak sih, kira-kira Hangga membelikan apa untuk Harum?

__ADS_1


Aku sih iyes, pinisirin bingits.


__ADS_2