Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 105


__ADS_3

“Jadi begini. Langsung saja ya.” Yuda meletakkan sebuah kotak perhiasan ke atas meja lalu mendorong pelan ke depan sambil berkata, “ini untuk kamu, Rum. Saya mau menikahi kamu. Apakah kamu bersedia menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk anak saya Harum.”


Harum terperangah dengan apa yang diutarakan Yuda barusan. Ia memandangi Yuda dengan raut penuh tanda tanya. “Ma-maksudnya gimana, Mas?”


“Mungkin apa yang saya katakan barusan mengejutkan kamu. Tetapi, apa yang saya katakan tadi adalah sebuah kesungguhan. Saya sungguh ingin menikahi kamu,” ucap Yuda menatap Harum tanpa berkedip.


Harum terpaku membisu. Ia tidak tahu harus berkata apa.


“Tidak usah dijawab sekarang. Kamu boleh berpikir dulu. Mungkin seminggu, mungkin sebulan,” ujar Yuda selanjutnya.


“Itu perhiasannya buat kamu. Mau nanti jawaban kamu adalah menerima atau menolak lamaran saya, itu tetap buat kamu. Kalau kamu terima, silakan dipakai. Kalau kamu tolak, silakan disimpan. Anggap saja itu hadiah dari saya. Sebagai ucapan rasa terima kasih saya kepada kamu karena kamu sudah mengurus putri saya dengan baik. Bahkan, kamu bukan sekedar mengurus, tetapi mendidik putri saya. Banyak hal-hal yang mungkin tidak dapat saya ajarkan kepada putri saya, dan kamu mengajarkannya dengan baik. Harum, putri saya tumbuh jadi anak yang baik salah satunya berkat kamu juga,” tutur Yuda panjang lebar.


“Di dalam kotak perhiasan itu juga saya sertakan kwitansi pembeliannya. Kalau pilihan kamu adalah menolak lamaran saya, kamu bisa menjual perhiasan itu jika suatu hari kamu membutuhkannya.”


“Ya sudah, itu saja yang mau saya bicarakan. Saya permisi dulu.” Yuda berdiri dan meninggalkan Harum yang masih terperangah dengan kejutan lamaran darinya.


Yuda mengayun langkah menuju kamarnya dengan pikiran berkecamuk. Namun, hatinya merasa lega karena berhasil mengungkapkan keinginannya menikahi Harum secara langsung. Bu Yusma dan Harum—putrinya, tidak diberi tahu soal lamaran tersebut. Jika Harum menerima lamarannya, baru ia akan memberitahukannya pada ibu dan putrinya. Begitu rencana Yuda.

__ADS_1


“Mas Yuda, buku-bukunya sudah saya kemocengin semua. Ada lagi yang harus saya kerjakan, Mas?” tanya Bu Inah begitu berpapasan dengan Yuda yang hendak masuk ke kamarnya.


“Enggak ada, Bi. Makasih. Bibi bisa kembali ke rumah sekarang,” sahut Yuda yang memang tadi sengaja menahan Bi Inah tetap berada di rumahnya agar ia bisa leluasa menyampaikan lamarannya kepada Harum.


Sampai di kamar, Yuda menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pandangannya lurus tertuju pada pigura besar foto pernikahannya bersama Ranum. Yuda tampak gagah dengan jas pengantin pria warna abu-abu dan Ranum yang memakai baju pengantin modern warna putih tampak sangat cantik. Keduanya tampak sangat serasi.


Kemudian pandangan Yuda beralih ke sisi dinding sebelah kanan, menatap satu per satu foto kenangannya bersama Ranum. Mulai dari saat awal mereka pacaran, tunangan, menikah, hingga saat kehamilan Ranum. Yuda memang suka mengabadikan setiap momen kebersamaannya bersama sang wanita tercinta di setiap jenjang hubungan mereka.


Menurut Yuda, semua jejak kenangan itu yang nanti akan membangkitkan cinta keduanya saat cinta mungkin saja surut. Akan tetapi, cintanya pada Ranum dan cinta Ranum padanya tidak pernah surut hingga saat ini. Yuda yakin, di alam keabadian, Ranum masih selalu mencintainya.


Yuda kembali meletakkan kembali organizer book ke dalam laci. Mungkin mulai malam ini, ia akan mengurangi mengenang Ranum dan fokus pada rencana masa depannya.


Setelahnya, Yuda merebahkan tubuh bersiap merajut malam-malam sepi yang sudah enam tahun dijalaninya.


“Honey, aku rindu,” lirih Yuda sebelum memejamkan matanya. Berharap malam ini, ia bisa bertemu Ranumnya meskipun hanya dalam mimpi. "Katakan sama aku, Honey, apakah keputusanku melamarnya sudah tepat?


*

__ADS_1


Harum menatap nanar kotak perhiasan yang tergeletak di atas kasur di dekatnya. Sungguh ia tidak menyangka Yuda--dokter muda tampan nan mapan itu baru saja melamarnya. Tidak ada angin, tidak ada gerimis, tidak ada petir dan halilintar, Yuda langsung mengguyurnya dengan hujan. Lamaran Yuda bagai hujan deras yang turun tiba-tiba tanpa sinyal gerimis sebagai pertandanya.


Sejujurnya Harum sejak dulu sudah mengagumi dokter tampan beranak satu yang baik hati itu. Akan tetapi, rasa kagum tersebut hanyalah layaknya seorang pekerja kepada atasannya, atau seorang adik kepada kakaknya.


Di ruang hati tersembunyi, nama Hangga masih terukir manis bersama kenangannya. Meskipun ia menyadari serta tidak menginginkan untuk kembali kepada pria yang telah menalaknya secara agama. Bagi Harum, Hangga adalah milik Nata. Dan ia tidak akan mungkin kembali pada pria yang sejak lama dicintainya itu.


Sudah dua tahun ini Harum berusaha sekuat hati untuk melupakan Hangga, namun semakin kuat ia berusaha melupakan, justru semakin susah ia melepaskan perasaan cinta yang terlanjur mengakar terlalu dalam.


Dan kini, ada Yuda yang mengutarakan keinginan menikahinya. Apakah menikah dengan Yuda adalah jalan yang harus ia pilih demi agar dapat melupakan Hangga dan membuang semua kenangannya?


*


Mohon maaf up nya sedikit. Dan enggak begitu penting juga part nya. Yang penting up, biar tercium sistem NT. 🤭


Harum masih bingung nih mau jawab apa. Diterima apa enggak ya lamarannya?


(Padahal yang bingung itu Mak Othor nya 😭)

__ADS_1


__ADS_2