Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 118


__ADS_3

Hangga memandangi Nata yang begitu antusias memilih pakaian yang akan dikenakannya untuk menghadiri akad nikah Harum dan Yuda.


“Semua baju-baju aku sekarang jadi kebesaran di badan aku,” ucap Nata sendu. Tentu saja kebesaran, sebab tubuh Nata yang dulu sintal kini menjadi kurus kering.


“Yang ini aja, Yang. Ini warnanya cantik dan kayaknya pas di badan kamu,” sahut Hangga yang tidak mau melihat Nata bersedih lebih lama.


Nata mengambil dress berwarna biru dengan motif bunga itu dari tangan Hangga. “Oh, iya. Ini ‘kan dress yang dulu dikasih sama Harum. Iya deh aku pakai ini aja.”


“Yang, kayaknya kita enggak usah datang ke pernikahan Harum dan dokter Yuda deh.”


“Ish, kenapa, Hangga?”


“Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kondisi kamu ‘kan lagi begini. Lebih baik istirahat saja di rumah. Aku yakin, Harum dan dokter Yuda pasti akan memaklumi ketidakhadiran kita.”


“Aku ingin melihat Harum menikah. Aku ingin lihat Harum bahagia, Hangga. Atau jangan-jangan kamu enggak cukup kuat melihat mereka menikah?”


“Kalau Harum menikahnya bukan dengan dokter Yuda, mungkin aku enggak semudah ini untuk ikhlas. Tapi ini Harum menikahnya dengan dokter Yuda. Kita sama-sama tahu dokter Yuda itu gimana. Dokter Yuda orang baik. Harum pasti akan bahagia dengan dokter Yuda. Jadi, insyaallah aku udah ikhlas. Tapi, aku tuh mencemaskan kamu, Nata. Takutnya kamu enggak kuat lama-lama duduk di acara itu.”


“Insyaallah aku kuat. Oya, dokter Yuda udah kasih serlok belum?”


“Udah.”


Selepas Asar, Nata dan Hangga bertolak ke kediaman Yuda. Duduk di kursi roda, istri Hangga itu mengenakan dress pemberian Harum yang dipadukan dengan celana legging dan jilbab yang juga adalah pemberian Harum. Sementara Hangga mengenakan kemeja putih lengan panjang.


Menurut informasi dari Yuda, akad nikah akan dilaksanakan sekitar pukul empat sore. Tepat pukul empat, mobil yang dikendarai Hangga berhenti di depan sebuah rumah bercat putih.


“Sepertinya ini deh rumahnya,” kata Hangga sembari memperhatikan rumah tersebut dari dalam mobil.


“Kok sepi ya?” sahut Nata.


“Atau mungkin akad nikahnya udah selesai?” lontar Hangga menoleh pada Nata.


“Atau mungkin belum dimulai,” balas Nata.


“Ya udah kita turun aja yuk!” ajak Nata yang dibalas anggukan oleh Hangga.

__ADS_1


Hangga mendorong kursi roda yang diduduki Nata sampai ke depan pintu. Saat tangan Hangga telah terangkat hendak mengetuk pintu, pintu tersebut malah lebih dulu dibuka oleh seorang gadis kecil.


“Assalamualaikum,” sapa Hangga dan Nata berbarengan.


“Waalaikum salam,” jawab gadis kecil yang tidak lain adalah putrinya Yuda.


Hangga masih mengingat anak kecil di hadapannya adalah anak kecil yang bergandengan tangan manja bersama Harum saat pertama kali berjumpa dengan mantan istrinya tersebut di kantin.


“Ini pasti Harum ya?” lontar Hangga yang kini telah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Harum kecil.


“Kok Om tahu sih? Om temannya Papi ya?”


“Harum cantik, ada siapa?” Harum yang mendengar suara Harum kecil tengah berbincang dengan seseorang, bergegas pergi ke pintu utama. Langkah gegasnya melambat ketika mengetahui Hangga dan Nata yang datang bertamu.


Sejujurnya Harum lebih merasa nyaman jika acara akad nikah dirinya tidak dihadiri oleh mantan suami dan mantan madunya. Oleh sebab itu, Harum tidak mengabarkan perihal pernikahannya pada Hangga dan Nata. Beberapa hari ini, ia juga sengaja tidak datang mengunjungi Hangga dan Nata. Harum yang sejatinya mengkhawatirkan Nata, memantau perkembangan kondisi kesehatan mantan madunya itu lewat Yuda.


“Mami, Om ini tahu nama aku,” lapor Harum kecil.


“Iya, Sayang. Om sama Tante ini temannya Papi dan mami,” sahut Harum membelai rambut putrinya Yuda.


“Mas Hangga, Kak Nata, mari masuk.”


“Harum kok kamu enggak kasih kabar ke kami kalau mau nikah,” protes Nata.


“Cuma nikah siri, Kak. Jadi, saya pikir enggak perlu kasih kabar dulu. Nanti saja kalau sudah nikah resmi, baru saya kasih kabar. Rencana saya begitu,” kilah Harum.


“Ish, kamu. Kita bertiga ‘kan keluarga, mau nikah siri atau resmi itu adalah momen sakral kamu. Seharusnya kamu enggak sungkan untuk kasih kabar kepada kami. Untungnya dokter Yuda mau mengabari kami tentang hari pernikahan kalian.”


“Iya, Kak. Maafkan saya.”


“Om nya ganteng mirip Mas Biyan,” celetuk Harum kecil. Celetukan Harum kecil sukses menarik perhatian ketiga orang yang telah duduk di sofa itu.


“Mas Biyan siapa, Sayang?” lontar Harum mengerutkan kening. Ia yang selalu menjaga Harum kecil di setiap aktivitasnya merasa kecolongan karena tidak mengetahui nama yang disebutkan putrinya Yuda.


“Idolanya Oma itu. Oma kan suka nonton Mas Biyan.” Jawaban putri Yuda membuat Harum mengulum senyum menahan tawa.

__ADS_1


“Loh, ada tamu?” Panjang umur, baru juga dibahas, omanya Harum masuk menghampiri mereka. “Rum, tamunya suruh langsung ke rumah saja. Di sini enggak ada jamuan. Jamuannya kan ada di rumah. Ayo pindah ke rumah sebelah!” ajak Bu Yusma pada Hangga dan Nata.


“Iya, terima kasih, Bu,” sahut Hangga.


“Ini siapa, Rum?” tanya Bu Yusma setelah beberapa saat memperhatikan Hangga dan Nata.


“Oya, Bu. Kenalkan, ini Mas Hangga dan Kak Nata. Mas Hangga ini mantan suami Harum dan Kak Nata ini istrinya Mas Hangga.”


“Oh, ini toh mantan suami kamu.” Bu Yusma tampak melirik Hangga. Masya Allah gantengnya. Pantas saja Harum enggak bisa move on. Hadeuh Yuda, kamu kalah ganteng sama mantan suami Harum.


“Mas Hangga, Kak Nata, kenalkan ini ibunya Mas Yuda.” Hangga dan Nata mengangguk sopan dan mereka saling berjabat tangan ramah.


“Oma, omnya ganteng ya mirip Mas Biyan.” Celetukan Harum kecil sukses membuat Bu Yusma salah tingkah.


“Mari, Nak. Kita pindah ke rumah sebelah,” ujar Bu Yusma pada Hangga dan Nata.


“Kamu juga siap-siap, Nak. Pak Ustadznya sudah datang,” ujar Bu Yusma pada Harum.


*


Mengenakan kemeja lengan panjang warna putih, persis seperti yang dipakai Hangga, Yuda duduk berdampingan bersama Harum. Di hadapan calon kedua mempelai pengantin, duduk seorang ustaz yang adalah sesepuh di kompleks perumahan tempat Yuda tinggal.


Sementara di sudut lain, ada Hangga dan Nata yang duduk berdampingan menyaksikan pernikahan yang sesaat lagi akan dilaksanakan. Nata tersenyum memandangi Harum dan Yuda. Sedangkan Hangga hanya menundukkan kepala, tidak kuasa menyaksikan perempuan yang dicintainya bersanding dengan pria lain.


Meskipun Hangga sudah berusaha untuk mengikhlaskan Harum, tetap saja di relung terdalam ada hati yang teriris amat perih.


“Mas Yuda sudah siap?” lontar ustaz yang akan menikahkannya.


Yuda terdiam membisu dengan kepala tertunduk.


“Mas Yuda sudah siap?” ulang ustaz berusia lima puluh tahunan itu. “Kalau sudah siap, mari kita baca taawudz, basmalah lalu kemudian membaca syahadat.”


Masih bergeming dengan kepala tertunduk, titik-titik peluh tampak membasahi kening dan pelipis Yuda. Bahkan, pada bagian punggung kemeja putih itu pun terdapat titik-titik air, menandakan peluh juga membanjiri tubuh dokter muda itu.


Harum yang duduk di samping Yuda, menoleh ke arah calon suaminya tersebut. “Mas. Mas Yuda!” panggilnya.

__ADS_1


Yuda tiba-tiba merasakan tubuhnya gemetar. Ia menoleh pada Harum dan sorot mata keduanya bertemu. Yuda berkali-kali menelan liur, tenggorokannya terasa tercekat sampai tidak bisa mengeluarkan suara.


“Mas Yuda kenapa?” tanya Harum menatap bingung wajah Yuda yang tampak pucat.


__ADS_2