Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 67


__ADS_3

Hangga dan Harum dibuat terkejut dengan keberadaan Nata yang sudah berdiri di teras rumah. Keduanya mengira Nata masih berada di Jakarta, tidak tahunya sudah ada di depan mata.


Hangga turun lebih dulu. Setelah menutup pintu mobil, ia melangkah mendekati Nata. Langkah Hangga meragu kala melihat wajah sendu Nata. Padahal, ia mengira Nata justru akan marah padanya.


Apakah tadi Nata melihat kemesraannya bersama Harum? tanya hati Hangga.


“Kamu udah pulang, Yang?” lontar Hangga saat sudah berdiri di hadapan Nata.


“Hangga.” Nata menghambur memeluk Hangga, kemudian tangisnya pecah seketika. “Huuu ... Huuu ....”


Sementara Harum yang semula masih duduk di dalam mobil, segera turun saat melihat Nata menangis di pelukan Hangga.


Mendengar Nata menangis, Hangga mengurai pelukan lalu menangkup wajah wanita cantik itu dengan kedua tangannya.


Hangga bisa melihat dengan jelas wajah pilu Nata. Seingat Hangga, Nata jarang sekali bersedih penuh kepiluan seperti saat ini.


Hangga kenal betul bahwa Nata bukanlah tipe perempuan melankolis. Nata cenderung ekspresif jika tentang kemarahan, tapi bukan tentang kesedihan.


“Kenapa, Nat? Ada apa?” tanya Hangga yang masih menangkupkan kedua tangan di wajah Nata.


“Hangga, aku ... hiks hiks hiks.” Bukannya menjawab, Nata malah semakin menangis.


“Kamu kenapa udah pulang, Yang? Padahal aku mau jemput kamu,” tanya Hangga.


“Hangga, aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Keluargaku marah besar dengan keputusan aku. Hiks hiks....”


“Mas, sebaiknya Kak Nata dibawa ke dalam saja,” sela Harum sebab khawatir tangisan Nata terdengar tetangga.


“Ayo, Nat. Kita masuk dulu.” Hangga menuntun Nata masuk ke dalam rumah diikuti Harum.


Hangga menggiring Nata menuju sofa ruang televisi. Sementara Harum yang membawa toples berisi asinan mangga lanjut melangkah menuju dapur.

__ADS_1


“Coba sekarang kamu cerita. Ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanya Hangga saat ia dan Nata telah mengambil posisi duduk.


“Aku enggak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Hangga. Keluargaku marah besar karena keputusan aku yang mau dinikahi kamu tanpa meminta izin dulu sama keluarga. Apalagi sampai aku berpindah keyakinan demi kamu,” tutur Nata setelah tangisnya mulai mereda.


“Hangga please, jangan khianati aku. Sebab semua yang aku lakukan itu adalah demi kamu. Karena aku terlalu mencintai kamu.”


Hangga tercekat mendengar penuturan Nata. Ia menelan liur membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Rancangan kalimat yang sudah ia susun sedemikian rupa untuk memberikan pengertian kepada Nata tentang keharusan dirinya berbuat adil, menguap seketika. Apalagi tekad untuk mengatakan kepada Nata bahwa ia mencintai Harum, yang juga mendadak sirna.


Hangga tidak tega membuat Nata lebih terluka. Perempuan cinta pertama Hangga itu bahkan telah mengorbankan kehidupannya demi Hangga. Meninggalkan keluarga dan menanggalkan keyakinan demi dirinya.


Terlalu besar yang dikorbankan Nata untuknya. Dan Hangga tidak mampu membuat Nata kecewa.


“Hangga, aku sangat mencintai kamu. Aku enggak punya keluarga, aku hanya punya kamu,” ucap Nata di sela isak tangisnya.


Hangga merengkuh tubuh Nata ke dalam pelukannya. “Aku juga sangat mencintai kamu, Nata. Jangan takut. Ada aku yang akan selalu menjagamu.”


Sementara dari balik dinding dapur, Harum yang mendengar semua pembicaraan Hangga dan Nata turut menitikan air mata. Entah air mata itu ditujukan kepada siapa.


Menarik napas panjang, Harum menyeret langkah pilu menuju meja makan. Menarik kursi, ia duduk di sana sembari memandangi toples asinan mangga yang kecut, sekecut hatinya saat ini.


“Ehem.” Harum mendongak saat mendengar suara deheman Hangga.


“Rum.” Hangga menarik kursi tepat di seberang Harum yang terpisah oleh meja makan, lalu mengambil posisi duduk.


Harum terkejut. Raut wajahnya tampak gelisah melihat Hangga yang duduk di hadapannya. Melalui isyarat mata ia bertanya pada Hangga, “Kak Nata mana? Kenapa Mas duduk di sini?”


“Nata udah naik ke kamarnya,” jawab Hangga seolah memahami apa yang dikhawatirkan Harum.


Hangga bergeming sejenak menatap Harum. Sungguh, ia juga merasa tidak enak hati dengan Harum. Akan tetapi, menjelaskan tentang bagaimana hubungannya dengan Harum kepada Nata di situasi seperti ini rasanya juga tidak tepat.


“Rum, mas minta maaf. Mas belum bisa bicara ke Nata tentang .... “

__ADS_1


“Enggak apa-apa, Mas,” sahut Harum sebelum Hangga menuntaskan kalimatnya. Harum sepertinya sudah paham tentang maksud ucapan Hangga.


“Saya pun berpikir, kalau sebaiknya Mas jangan bicara apa-apa dulu kepada Kak Nata. Kasihan Kak Nata. Jangan menambah beban pikiran Kak Nata. Jangan membuat Kak Nata lebih bersedih lagi," ujar Harum. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Nata yang dibuang oleh keluarganya.


“Alhamdullilah kalau kamu mengerti, Rum. Mungkin nanti aku tunggu waktu yang tepat untuk bicara sama Nata.”


“Iya, Mas.”


“Oya, Rum. Buku nikah kita ada di mana?”


“Ada sama saya, Mas."


“Besok tolong kamu siapkan ya. Kalau kamu bisa, besok kamu ikut ke kantor mas ya.”


“Memangnya ada apa, Mas?”


“Mas mau mendaftarkan pernikahan kita ke kantor,” sahut Hangga.


Meskipun Hangga belum bisa berkata jujur pada Nata tentang perasaannya pada Harum, ia akan berusaha meninggikan Harum dengan caranya.


.


.


.


.


Maaf ya, biar rada panjang ceritanya, rencana Hangga untuk ngomong ke Nata ditunda dulu.


Aku juga mau minta maaf, mulai hari ini update cerita ini ga akan serajin bulan kemarin. Sebab ada kendala teknis, ponsel aku error gak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️❤️


__ADS_2