
“Alhamdulillah,” ucap Harum usai selesai menyuapi Nata dan istri Hangga itu menghabiskan makanan lebih dari separuh.
“Minum, Kak.” Harum menyodorkan minum kepada Nata lalu membantunya minum.
“Terima kasih, Rum.”
“Sama-sama, Kak.”
Tidak lama kemudian, seorang perawat datang menemui Nata.
“Bu Nata sudah makan?” tanya perawat perempuan bertubuh agak gemuk.
“Sudah, Sus. Alhamdulillah makannya lumayan banyak.” Harum yang menjawab pertanyaan perawat tersebut.
“Nanti sekitar jam satu, Bu Nata siap-siap ya. Dokter akan melakukan serangkaian terapi pengobatan kepada Bu Nata.”
“Pengobatan apa, Sus?” tanya Nata lirih.
“Mungkin terapi radiasi yang digabungkan dengan kemoterapi. Nanti biar dokter yang lebih jelas memaparkan terapi pengobatan yang akan dilakukan kepada Bu Nata. Tindakan yang dilakukan dokter juga tergantung dengan kondisi Bu Nata saat ini. Sebelumnya dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan dulu terhadap Bu Nata.”
Nata menganggukkan kepala mendengar penuturan perawat yang masih muda itu.
“Baik, Bu. Saya hanya mau menyampaikan itu saja.”
“Terima kasih, Sus.”
“Sama-sama.”
“Kalau begitu Kak Nata solat Zuhur sekarang aja ya. Sekarang udah jam setengah satu,” ujar Harum sepeninggal perawat. Nata mengangguk setuju.
Harum menuntun Nata untuk bertayamum menggunakan media debu dari dinding. Setelahnya Nata menunaikan salat dengan dibimbing oleh Harum. Seperti biasa, Harum membimbing Nata hingga zikir dan doa selepas salat.
“Rum,” panggil Nata lirih selepas salat dan berdoa.
“Iya, Kak.”
“Meskipun sebelumnya aku tidak pernah solat, tapi aku selalu berdoa agar aku bisa bertemu dengan kamu sebelum aku mati. Aku enggak mau mati sebelum bertemu kamu dan mendapatkan maaf kamu," ucap Nata lirih.
__ADS_1
Harum menggigit bibir menahan sesak di dada. Jiwanya turut bergetar pilu saat memikirkan bagaimana Nata menghadapi bayangan kematian yang berada di depan mata.
“Dan sekarang Allah mengabulkan doaku. Aku bahagia dan lega setelah bertemu kamu dan berpikir akan lebih tenang menyongsong hari kematian aku. Kupikir, ada kamu yang akan menemani Hangga setelah aku mati. Tapi ternyata, kamu justru akan menikah dengan dokter Yuda.
Aku enggak tahu mana yang aku rasakan lebih dulu, senang atau sedih saat mendengar kabar itu. Aku merasakan senang dan sedih bersamaan. Senang karena melihat kamu akan hidup bahagia bersama dokter Yuda. Kamu orang baik, Rum. Dan kamu layak mendapatkan pasangan sebaik dokter Yuda. Aku turut senang mendengar kabar itu.
Tapi di sisi hatiku yang lain, aku merasa sedih sebab itu artinya Hangga akan sendirian setelah aku mati,” tutur Nata dengan intonasi yang tenang. Mungkin pasokan air mata Nata sudah mengering, hingga tidak ada bulir yang membasahi pipinya. Berbeda dengan Nata, Harum justru berderaian air mata mendengar penuturan mantan madunya itu.
“Hangga itu laki-laki yang baik, Rum. Saat aku melihat cinta di mata Hangga untuk kamu, sesungguhnya aku tahu bahwa cinta Hangga untuk aku itu udah enggak ada. Tapi, dia tetap bertahan dan mempertahankan aku. Kalau laki-laki lain mungkin mereka akan membuang cinta lamanya saat telah menemukan cinta yang baru. Tapi, Hangga enggak begitu. Bahkan sampai saat ini dia mau merawat aku, mengorbankan kehidupan dan pekerjaannya demi aku. Hangga tetap menyayangi aku, meskipun dia sudah tidak cinta aku. Hangga itu mencintai kamu, Rum. Cintanya enggak berubah, masih sama seperti saat pertama ia menemukan cinta atas kamu.”
Harum menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Enggak, Kak. Mas Hangga itu cinta sama Kak Nata. Makanya Kak Nata harus sembuh biar bisa bersama-sama lagi dengan Mas Hangga,” ucapnya terisak-isak.
Nata tersenyum menanggapi ucapan Harum. “Kamu mau berjanji sama aku, Rum. Meskipun kamu sudah menikah dengan dokter Yuda nanti, dan aku sudah tidak ada di dunia ini, kamu mau perhatikan Hangga juga ya. Kalau dia kelak punya pasangan baru, pastikan pasangan Hangga itu perempuan baik dan solehah seperti kamu. Jangan sampai Hangga mendapatkan jodoh perempuan yang tidak baik. Pastikan hidup Hangga baik-baik saja. Dan pastikan Hangga tetap menjadi laki-laki baik seperti ini.” Harum yang semakin berderai air mata, menghambur memeluk Nata.
"Kamu mau janji 'kan Rum?" lontar Nata di tengah pelukan Harum. Harum menjawab dengan Isak tangis yang semakin menjadi.
Dari balik tirai, Yuda mendengarkan semua yang dibicarakan Nata. Tanpa suara, ia memutar tubuh dan meninggalkan ruangan itu.
“Dok,” sapa perawat yang berpapasan dengan Yuda di pintu kamar perawatan Nata.
“Pasien atas nama Bu Nata, tolong bawa langsung saja ke ruang terapi. Saya tunggu di sana," titah Yuda kepada perawat yang hendak masuk ke kamar perawatan Nata.
*
Usai makan dan salat Zuhur di masjid rumah sakit, Hangga kembali ke kamar perawatan Nata. Ia terbengong karena tidak mendapati Nata dan juga Harum di sana. Hangga lekas menemui perawat untuk menanyakannya.
“Bu Nata sudah dibawa ke ruang terapi, Pak. Ditemani sama Mbak Harum tadi,” terang perawat perempuan dengan tubuh berisi.
“Oh, begitu. Terima kasih, Sus.”
Hangga mengayun langkah gegas menuju tempat yang dijelaskan oleh perawat. Di depan ruang terapi, ia melihat Harum duduk tertunduk di kursi tunggu. Hangga melambatkan langkah mendekati Harum, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya. Harum menolehkan kepalanya tepat saat bokong Hangga mendarat di kursi stainless panjang yang hanya diduduki oleh mereka berdua.
“Udah lama Nata masuk ke sana?” tanya Hangga yang sudah duduk di sisi Harum.
“Semoga Kak Nata bisa sembuh ya, Mas.” Harum menjawab pertanyaan Hangga dengan sebuah doa.
“Amin,” sahut Hangga.
__ADS_1
Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam, sama-sama memandangi pintu ruangan di mana Nata ada di dalamnya.
“Oya, Rum. Kapan kamu mau menikah dengan dokter Yuda?” tanya Hangga memecah kesunyian di antara mereka.
“Belum tahu,” sahut Harum singkat dengan pandangan lurus ke depan masih menatap pintu ruangan di depannya.
“Maaf, mas belum sempat mengurus perceraian kita di pengadilan. Belum sampai seminggu kepergian kamu waktu itu, Nata divonis kanker. Mas fokus mengurus Nata, jadi belum sempat mengurus perceraian itu. Tapi, kalau pernikahan kamu akan dilakukan dalam waktu dekat ini, biar mas hubungi Ayah supaya menyiapkan pengacara untuk mengurus perceraian kita," tutur Hangga.
“Mas fokus saja mengurus Kak Nata. Masalah perceraian nanti biar saya dan Mas Yuda yang mengurusnya,” sahut Harum tanpa menatap Hangga.
“Mas pernah dengar kalau proses perceraian itu lebih mudah jika gugatan itu dari pihak suami. Tapi, kalau kamu yang mau memasukkan gugatan cerai juga gak papa, Rum. Nanti mas enggak akan hadir di setiap proses persidangannya. Katanya, kalau suami yang jadi tergugat dan tidak pernah hadir dalam proses persidangan, hakim akan menganggap suami itu menerima atas gugatan istri kepadanya, jadi hakim bisa langsung memutuskan dan mengabulkan gugatan cerai dari pihak istri.” Kali ini Hangga berbicara dengan menatap Harum di sampingnya. Ia melihat Harum hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan pandangan tetap lurus ke depan, tanpa sedetik pun mau menatap dirinya.
“Dokter Yuda itu orang baik, dan dia sangat tepat menjadi pasangan kamu.” Harum menundukkan kepala. Entah mengapa, kalimat yang diucapkan Hangga terasa menggoreskan perih di hatinya.
“Kalau boleh jujur, tadinya mas berharap bisa kembali sama kamu. Karena mas masih sangat mencintai kamu, Rum. Tapi, sekarang mas berpikir bahwa kamu berhak bahagia. Dan mungkin dokter Yuda lah laki-laki yang bisa membahagiakan kamu. Mas hanya bisa berdoa semoga kamu bahagia bersama dokter Yuda. Mas ikut bahagia kalau kamu bahagia.”
Selama mendengar penuturan Hangga, Harum duduk gelisah dengan mata mengembun. Sekuat hati ia menahan rasa sesak yang menggumpal di dada. Khawatir tidak dapat menahan air mata yang terasa mendesak akan tumpah, Harum berdiri lalu lekas berlalu meninggalkan Hangga.
“Rum.” Hangga memandangi langkah Harum yang terus menjauh. Hatinya pun sama bergetar pilu, tetapi ia sudah memutuskan untuk mengikhlaskan Harum.
Harum berhak bahagia. Dan dokter Yuda lebih bisa membahagiakan Harum ketimbang dirinya. Begitu cara Hangga meyakini dirinya agar bisa ikhlas melepas Harum.
*
Harum duduk telungkup dengan kepala bersandar di meja kerjanya. Jejak-jejak air mata membasahi pipinya yang kemerahan. Tadi ia meninggalkan Hangga dan pergi ke kantin untuk menumpahkan sesak yang begitu memukul dada. Ia masih mencintai Hangga, tetapi ia tidak ingin kembali kepada mantan suaminya itu, entah apa alasannya.
“Rum.” Suara Yuda membuat Harum terjingkat bangun.
“Saya kira kamu udah pulang, Rum,” kata Yuda seraya mengamati wajah Harum.
“Be-belum, Mas. Ini sebentar lagi saya mau pulang,” sahut Harum memaksakan senyum.
“Kamu habis nangis, Rum?” Dari tempatnya berdiri, Yuda bisa melihat wajah dan mata Harum yang sembab seperti habis menangis.
“Mas Yuda serius ingin menikahi saya?” tanya Harum menatap Yuda.
Yuda tidak langsung menjawab pertanyaan Harum, ia bergeming sejenak menatap Harum. “Kalau tidak serius, saya enggak mungkin mengatakannya.”
__ADS_1
“Kalau begitu, apakah bisa kita segera menikah saja, Mas?”