Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 52


__ADS_3

Harum tengah berkutat di dapur, baru saja selesai mengiris bawang merah, saat telinganya mendengar keributan seperti orang yang tengah marah-marah. Ia menajamkan pendengarannya, kemudian mengerutkan kening saat meyakini itu adalah suara Nata.


Kenapa Nata marah-marah? Nata marah pada siapa? Apakah pada Bi Jenah?


Begitu rentetan pertanyaan di benak Harum.


Ia belum pernah mendengar Nata semarah itu kecuali ketika pertama kali mengetahui Hangga telah menikahinya.


Suara Nata terdengar lantang, namun Harum tidak dapat mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Nata.


Rasa penasaran yang mengusik, membuat Harum menghentikan kegiatannya yang hendak mengupas bawang putih. Ia lalu beranjak menuju tempat keberadaan Nata.


Dari balik dinding yang menghubungkan ruang makan dan ruang televisi, Harum bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Nata tengah meradang penuh emosi. Dan Hangga tengah susah payah meredakan amarah Nata.


“Maafkan aku, Nat. Aku enggak cinta sama Harum. Aku Cuma cinta sama kamu. Apa yang aku lakukan sama Harum itu sebuah kekhilafan. Aku janji enggak akan melakukannya lagi.” Harum menggigit bibir menahan sesak, mendengar pengakuan Hangga di depan Nata.


Pengakuan yang membuat hatinya seketika merasakan nyeri yang luar biasa. Sakit teramat sakit. Perih teramat perih.


Baru beberapa menit yang lalu, Hangga membuainya dengan penuh cinta, bahkan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadanya. Juga panggilan ‘Sayang” yang membuatnya melayang-layang.


Kini pria itu membuat pengakuan mengejutkan yang berhasil menjatuhkan Harum ke dasar jurang yang sangat dalam. Setelah sebelumnya melambungkan sampai ke angkasa.


Tangan kanan Harum menekan dada seolah ingin meredam sesak yang begitu mengimpit. Bulir-bulir hangat mulai mendesak di sudut mata, tetapi sekuat tenaga ia menahan agar bulir itu tidak jatuh membasahi pipi.


Pipi yang sempat berkali-kali merona akibat perlakuan Hangga beberapa jam silam, bahkan beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Harum menyeret langkah pilu mendekati Hangga ketika melihat Nata telah berlalu dari hadapan pria yang telah berhasil melambungkan sekaligus menjatuhkannya dalam sekejap.


Hangga tampak terkejut ketika mendapati Harum telah berdiri di dekatnya.


Hangga dapat melihat pancaran dari mata bening istri pertamanya yang berbinar pilu. Menyiratkan luka yang teramat dalam.


Perempuan yang baru saja dibuat bahagia itu berdiri sembari menatap dingin Hangga.


Beberapa jenak Harum menatap Hangga. Sorot matanya menginginkan penjelasan dari Hangga atas apa yang diucapkannya barusan.


Benarkah semua yang terjadi dini hari tadi adalah ketidaksengajaan? Benarkah sesungguhnya Hangga tidak menginginkannya dan tidak menginginkan apa yang telah terjadi di antara mereka? Jika memang itu adalah ketidaksengajaan, lalu kenapa Hangga membuainya sampai dua kali?


Bahkan keintiman yang terjadi dini hari tadi hampir saja berjalan tiga babak kalau saja Harum menuruti kemauan Hangga. Tetapi kemudian Hangga mengurungkan niatnya begitu melihat Harum meringis kesakitan.


Pala Lu meleot. Hangga!! (umpat para Ntunizen)


Pria berusia dua puluh enam tahun itu hanya diam menatap Harum dengan sorot mata yang tidak mampu dimengerti oleh Harum. Mulut Hangga seolah terkunci. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir pria beristri dua itu.


Harum yang gagal memahami arti tatapan Hangga, akhirnya memilih masuk ke kamar dan segera menutup pintunya dengan kasar. Perempuan berusia dua puluh satu tahun itu menghempaskan tubuh mungilnya di atas tempat tidur. Tempat tidur yang beberapa jam lalu menjadi saksi kebahagiaannya. Sebelum akhirnya kebahagiaan itu terhempas seketika.


Hati Harum hancur bukan main. Dari sekian luka yang pernah ditorehkan Hangga, ini adalah yang paling menyakitkan.


Mengapa Hangga begitu tega mengatakan kalimat yang benar-benar menjatuhkannya.


Harum yang dalam posisi tengkurap, membenamkan wajahnya pada bantal. Air matanya tumpah membasahi bantal yang bahkan masih meninggalkan jejak aroma Hangga.

__ADS_1


Basahan mata itu semakin mengucur deras tatkala pandangan Harum jatuh pada bercak darah di atas seprei putih bermotif bunga. Jejak benteng kesucian yang telah diporak-porandakan oleh Hangga dini hari tadi.


“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.” Harum menarik napas panjang lalu mengucap istighfar berulang-ulang untuk meredakan sesak yang begitu menghunjam dada.


Harum tidak menyesali perbuatan Hangga yang telah menjamah segala yang ia punya. Sebab sebagai seorang suami, Hangga berhak untuk melakukannya. Pun dengan Harum sebagai seorang istri, berkewajiban memberikannya secara sukarela.


Akan tetapi, seketika ia merasa benci. Benci pada dirinya sendiri yang terlalu dalam mengharapkan cinta Hangga.


Seharusnya ia tidak berekspektasi terlalu tinggi atas keintiman yang terjadi. Seharusnya ia tidak terlarut dalam buaian dan menyangka bahwa Hangga melakukannya karena cinta.


Bukankah cinta Hangga hanya untuk Nata?


Setelah puas menumpahkan tangis, Harum beringsut bangun dari posisinya. Mengusap jejak tangis di pipinya yang basah, ia menyeret langkah menuju lemari dan membuka laci di dalamnya. Tangannya mengambil dua buah buku berbentuk persegi berwarna hijau dan merah yang tidak lain adalah buku nikah dirinya dan Hangga.


Sembari duduk di tepi ranjang, ia menatap nanar buku nikah. Buku nikah suami dan buku nikah istri, keduanya Harum yang menyimpan. Sebab dari awal Hangga memang tidak memedulikan dokumen resmi yang menjadi bukti hukum adanya pernikahan tersebut.


Sama seperti Hangga yang sedari awal tidak pernah memedulikannya.


Harum menarik napas panjang sembari meletakkan tangannya di dada untuk mengukur seberapa kuat rasa sakit yang ia rasakan. Apakah ia mampu bertahan atau menyerah saja lalu pergi meninggalkan pernikahan toxic ini?


Bayang-bayang kedua orangtua Hangga melintas di benak Harum. Hal inilah yang membuat Harum tidak pernah berpikir untuk berpisah dari Hangga, setajam apa pun lelakinya itu menorehkan luka.


Bu Mirna dan Pak Hendra bukan sekedar mertua bagi Harum. Kedua orangtua Hangga itu berperan banyak dalam setiap jenjang hidup Harum.


"Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah," lirih Harum sembari menyeka bulir bening yang kembali meluruh.

__ADS_1


__ADS_2