Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 54


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Harum mencari informasi tentang prosedur perceraian lewat internet. Menurut informasi yang diperolehnya dari menjelajah internet, ketika istri ingin menggugat cerai suami, harus ada alasan-alasan tertentu yang dapat diterima hakim sesuai undang-undang perkawinan.


Berhubung Harum dan Hangga beragama Islam, alasan tersebut harus mengacu pada ketentuan khusus kompilasi hukum Islam.


Menurut kompilasi hukum Islam, perceraian dapat terjadi karena beberapa alasan. Dan Harum malah bingung menetapkan alasannya bercerai itu apa.


Di artikel yang ia baca disebutkan bahwa boleh mengajukan perceraian jika salah satu pihak berbuat zina, pemabuk, pemadat, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan. Tetapi, Hangga kan tidak termasuk suami yang seperti itu. Hubungan Hangga bersama Nata adalah suatu kehalalan sebab mereka telah menikah.


Ada pula disebutkan jika antara suami dan istri terus menerus terjadi pertengkaran dan perselisihan maka boleh mengajukan perceraian. Akan tetapi, jangankan pertengkaran, mengobrol pun mereka nyaris tidak pernah.


Atau poin lain seperti salah satu pihak melakukan kekejaman dan penganiayaan berat. Di poin yang ini pun Hangga tidak termasuk di dalamnya.


Ada beberapa alasan lain yang dijabarkan, seperti salah satu pihak meninggalkan pasangannya selama dua tahun berturut-turut tanpa izin dan alasan yang sah. Atau salah satu pihak mengalami cacat badan atau sakit sehingga tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai suami atau istri. Atau salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara lebih dari lima tahun. Atau salah satu pihak murtad.


Dari sekian poin alasan gugatan cerai, Harum merasa masalah pernikahannya dengan Hangga tidak memenuhi alasan pada poin-poin tersebut.


Sempat terpikir untuk menggugat cerai dengan alasan menolak di poligami, nyatanya ia sendiri yang memutuskan untuk mau dipoligami.


Satu-satunya alasan yang masuk akal adalah sikap Hangga yang tidak adil padanya. Dan Harum akan menggunakan alasan itu untuk menggugat cerai Hangga.


Sebelum memasukkan gugatan cerai, Harum berencana untuk berkonsultasi dulu ke Pengadilan Agama di kota tempat ia mendaftarkan pernikahannya.


Perempuan yang terhitung masih sangat muda itu tentu belum mengetahui bagaimana prosedur perceraian. Jangankan perceraian, menjalani pernikahan pun Harum sepertinya kurang pandai.


Sebagai seorang istri, Harum merasa gagal. Gagal mendapatkan hati sang suami yang masih terjerat cinta masa lalunya.


Ah, sudahlah. Cinta kan memang tidak dapat dipaksakan.

__ADS_1


Biarlah. Mulai saat ini, Harum akan berusaha mengubur cintanya pada Hangga. Meskipun, ia tidak yakin mampu melakukannya. Sebab Hangga adalah satu-satunya pria yang berhasil memikat hati terdalamnya. Ia tidak pernah jatuh cinta kepada pria manapun selain Hangga.


Bahkan, jikalau memang akhirnya takdir pernikahan mereka usai, Harum tidak yakin bisa jatuh cinta lagi kepada pria lainnya.


Setelah drama subuh itu sebenarnya Harum menunggu Hangga untuk meminta maaf atau memberikan penjelasan kepadanya. Akan tetapi, Harum merasa suaminya itu memang tidak berniat untuk memberikan penjelasan.


Kalau sudah begitu, apalagi yang bisa dilakukannya kecuali berpikir untuk berpisah. Akan tetapi, yang mengganjal hatinya saat ini adalah bagaimana cara menyampaikan rencananya tersebut kepada sang mertua.


Selain mencari informasi tentang bagaimana mengurus perceraian, Harum juga tengah merangkai kata, menyiapkan rentetan kalimat yang akan ia sampaikan pada kedua orangtua Hangga nanti.


Bagi Harum yang pendiam dan tidak banyak bicara sekaligus “tidak enakan” pada orang, menyusun kalimat bukanlah perkara yang mudah. Apalagi yang akan disampaikannya adalah keinginan untuk bercerai dari laki-laki yang orangtuanya begitu menyayangi Harum.


Harum tengah menimbang-nimbang rencananya untuk berpisah dari Hangga saat ponselnya berdering. Harum yang tengah duduk di meja kerjanya, melirik ponsel. Ternyata ada panggilan telepon dari sang ibu mertua.


Kebetulan sekali, pikirnya.


Setelah menjawab salam Harum, ibunya Hangga itu menanyakan kabar sang menantu dan putranya.


“Alhamdulillah kabar kami di sini baik, Bu.” Harum menjawab begitu, meskipun kenyataannya ia tidak baik-baik saja. Dan anak beliaulah yang telah membuat diri Harum tidak baik-baik saja.


Setelahnya, Bu Mirna menanyakan keadaan kedai dan segala te-tek bengeknya. Harum yang memang dipercaya mengurusi semuanya menjawab apa adanya. Perkembangan omzet dan jumlah pengunjung kedai melaju pesat, berbanding terbalik dengan hubungan pernikahannya yang jatuh nyungsep.


“Maaf, Bu. Sebentar,” sela Harum saat Bu Mirna hendak mengakhiri panggilan teleponnya.


“Iya, Rum. Ada apa?”


“Insyaallah lusa Harum pulang ke sana, Bu. Ada yang ingin Harum bicarakan sama Ibu.”

__ADS_1


“Sama Hangga?”


“Enggak, Bu.”


“Kalau mau pulang, minta antar Hangga ya, Rum. Jangan pulang sendiri," pesan Bu Mirna.


“Harum pulang sama Nina, Bu. Kebetulan lusa Nina juga mau pulang.”


“Memangnya Hangga enggak bisa antar kamu pulang?”


“Eng ....” Harum bingung mau jawab apa. Karena sesungguhnya justru ia tidak mau diantar pulang oleh Hangga.


“Rum, kamu sama Hangga baik-baik aja kan?” tanya Bu Mirna karena Harum tak kunjung menjawab pertanyaannya.


.


.


.


insyaallah triple up ya.


Di bab ini, aku jadi tahu bagaimana proses gugatan cerai. Semoga aku dan semua yang baca novel ini dijauhkan dari perbuatan halal yang dibenci Allah, yaitu cerai (talak)


Semoga yang sudah menikah, selalu langgeng rumah tangganya. Sakinah, mawadah warahmah. Amin.


Jangan lupa likenya dong.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya sahabat semua. ❤️❤️❤️


__ADS_2