Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Extra part


__ADS_3

Hujan mengguyur semesta kala iring-iringan mobil jenazah melaju menerjang jalanan aspal yang basah dan genangan air di sana-sini. Mengantar kepulangan Nata, Hangga dan Harum duduk dengan wajah sendu dalam mobil yang membawa jasad Nata ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Sementara di belakang mobil jenazah, ada mobil SUV hitam milik Yuda yang bergerak mengekor di belakangnya. Yuda bersama keluarganya yang menganggap Nata adalah kerabat Harum, turut mengantarkan kepulangan madunya Harum itu. Ada juga beberapa mobil teman-temannya Nata dan Hangga yang juga turut mengiringi. Melly dan Jeremy—kekasihnya, Arya, juga beberapa teman yang kebanyakan berdomisili di Jakarta turut mengantarkan kepergian Nata menuju tempat terindahnya.


Hangga melirik Harum yang duduk di sampingnya. Wajah Harum masih bersimbah air mata, sementara Hangga tampak lebih tegar dari sebelumnya. Suami Harum itu telah mengikhlaskan kepergian Nata. Daripada Nata terus menerus merasakan sakit tidak terkira, mungkin memang inilah keputusan yang terbaik. Hati Hangga mencelus pilu setiap mengingat lolongan kesakitan Nata.


Hangga menarik kepala Harum agar bersandar di pundaknya. “Ikhlaskan Nata, Hum. Maafkan segala kesalahannya. Dan jangan pernah bosan untuk mendoakannya,” ucapnya sembari mengusap kepala Harum yang mengenakan jilbab berwarna putih.


Harum mengangguk lembut. Allahummagfirlaha warhamha wa afiha wa’fu anha ... Doa tersebut sudah beberapa kali digumamkan Harum sejak Nata dinyatakan tiada.


“Ini almarhumah yang minta dikubur di Cilegon, Mas?” tanya Harum yang kepalanya bersandar di pundak tegap Hangga.


“Hem,” sahut Hangga sembari memandangi peti jenazah di hadapannya.


Nata memang pernah berpesan, jika meninggal nanti, ia ingin dimakamkan di pemakaman keluarga Hangga di Cilegon. Alasannya, karena Nata merasa sangat senang jika diakui jadi bagian keluarga Hangga.


Hati Hangga mencelus kala mengingat Nata yang dibuang keluarganya. Ia sudah mengabarkan kematian Nata kepada keluarga, namun keluarga istrinya itu tampak tidak peduli. Bahkan, saat Nata berjuang melawan sakit, tidak ada satu pun keluarga yang datang menjenguknya. Hanya nenek dan papanya yang masih sedikit peduli. Memberi support kepada Nata, meskipun hanya melalui sambungan telepon. Papanya Nata tinggal di Manado dan juga tengah sakit-sakitan, sedangkan nenek Nata meninggal dunia tidak lama setelah Nata divonis kanker untuk pertama kalinya.


Saat Hangga masih meratapi kepiluan hidup Nata, ia merasakan getaran di saku kemejanya.


“Hape kamu getar, Mas,” beritahu Harum seraya menegakkan kepalanya yang tengah dalam posisi bersandar di pundak Hangga.


Hangga mengambil gawai dari saku kemejanya. Mimik wajahnya tampak terkejut melihat nomor yang melakukan panggilan kepadanya. Sebuah nomor asing yang tidak ada dalam daftar kontaknya, tetapi ia bisa mengenali dari foto profil sang penelepon.


“Halo, Kak,” ucap Hangga begitu panggilan tersambung. Harum yang duduk di sampingnya, sedikit mengerutkan kening mendengar panggilan ‘Kak’. Jarang sekali Harum mendengar Hangga memanggil seseorang dengan sebutan ‘Kak’.


“Iya, Kak. Nata sudah enggak ada. Mohon dimaafkan kesalahan-kesalahan almarhumah ya, Kak.”


“Meninggalnya subuh tadi, Kak. Dan akan dimakamkan di Cilegon, di pemakaman keluarga saya. Pesan almarhumah seperti itu, minta dikuburkan di sana.”


“Nanti saya kirim alamatnya, Kak. Mobil kami juga masih dalam perjalanan.”


“Amin, amin. Terima kasih banyak atas doanya, Kak.” Setelah berkata begitu, panggilan telepon pun berakhir.


“Siapa yang telepon, Mas?” tanya Harum.


“Sepupunya Nata. Katanya mau ikut ke pemakaman.”


“Alhamdulilah masih ada keluarga yang masih peduli dengan almarhumah Kak Nata.” Hangga mangut-mangut mendengar ucapan Harum.


Setelah sekitar dua jam menempuh perjalanan, iring-iringan mobil sampai di depan halaman rumah orangtua Hangga yang sudah ramai dengan para pelayat. Kedua orangtua Hangga menunggu jenazah sang menantu di kediamannya serta mempersiapkan keperluan acara pemakaman dengan dibantu para warga.


“Siapa yang meninggal Bu Haji?” tanya seorang warga kepada Bu Mirna.


“Istrinya Hangga yang meninggal,” jawab Bu Mirna.

__ADS_1


“Harum meninggal?” Para warga yang sebagian besar tidak mengetahui perihal status Nata sebagai istri Hangga terkejut mendengar jawaban ibunda Hangga.


“Ish, bukan. Ini istri kedua Hangga yang meninggal.” Kabar kematian Nata malah membuka tabir pernikahan poligami Hangga.


Beberapa kaum bapak-bapak sigap bergerak begitu mobil jenazah sampai di kediaman orangtua Hangga. Mereka membantu menurunkan peti jenazah dan menggotong masuk ke dalam rumah untuk disemayamkan sejenak.


Bu Mirna memicingkan mata saat melihat putranya turun dari mobil jenazah bersama seorang perempuan berjilbab. Hangga belum menceritakan tentang pertemuannya dengan Harum serta dirinya yang telah merujuk Harum kepada kedua orangtuanya.


“Assalamualaikum, Bu,” sapa Harum yang sudah berdiri di hadapan Bu Mirna.


“Waalaikum salam. Ha-Harum? Ini benar Harum?” lontar Bu Mirna tidak dapat menutupi raut terkejut bercampur haru bahagia.


“Iya, Bu.” Harum meraih tangan sang ibu mertua dan menciumnya takzim. Ibunda Hangga itu merespons dengan memeluk haru menantu kesayangannya.


“Ya Allah, Harum. Bagaimana kabarmu, Nak? Kamu sehat? Enggak kenapa-kenapa, Nak?” Bu Mirna memindai menantunya dari atas ke bawah dengan raut khawatir.


“Alhamdulillah saya sehat, Bu. Ibu dan Ayah bagaimana?”


“Ibu dan Ayah tidak baik-baik saja setelah kehilangan kamu, Nak. Kami mengkhawatirkan mu. Tapi, sudahlah yang penting sekarang ibu sudah bertemu kamu.” Bu Mirna berkata haru. “Ibu bahagia sekali. Sangat bahagia.”


Ayah Hangga juga menyambut kedatangan Harum dengan perasaan haru bahagia. Beliau menceritakan bagaimana keadaan istrinya setelah kepergian Harum.


“Maafkan Harum, Bu, Yah. Waktu itu Harum pergi tanpa pamit.”


“Kami yang minta maaf ya, Nak. Karena kepergian kamu juga sedikitnya disebabkan oleh ulah putra kami,” sesal Pak Hendra—ayah Hangga.


Harum juga meyakini bahwa dirinya berlabuh pada orang-orang baik juga pasti karena adanya doa dari Bu Mirna, Pak Hendra, Hangga dan semua orang yang menyayanginya. Ia yakin itu.


Harum kemudian memperkenalkan keluarga Bu Yusma kepada kedua mertuanya. Kedua orangtua Hangga menyambut ramah dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena telah menjaga Harum.


Jenazah Nata disemayamkan sejenak di kediaman orangtua Hangga. Beberapa orang mengaji bergantian di hadapan jasad istri Hangga yang sudah dimandikan dan dikafani. Setelah itu, jenazah almarhumah Nata dibawa ke masjid untuk disalatkan, sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Bahagia.


Para pelayat yang ikut menghadiri pemakaman, satu per satu pulang. Menyisakan Hangga, Harum dan Yuda yang berjongkok di depan pusara Nata sembari menggumamkan doa dalam hati. Harum dan Hangga menumpang di mobil Yuda saat berangkat ke pemakaman tadi. Sedangkan Bu Mirna tidak ikut ke pemakaman, menunggu di rumah menemani Bu Yusma dan Harum kecil. Sementara mobil Pak Hendra--ayah Hangga dipenuhi oleh pejabat desa seperti Pak RT dan Pak RW.


“Kita pulang sekarang, Hum?” lontar Hangga pada Harum yang memakai pakaian serba putih. Harum menjawab dengan sebuah anggukan.


Baru saja ketiga orang tersebut berdiri, datang seorang wanita cantik menghampiri pusara Nata.


“Kak.” Hangga menyalami wanita cantik yang memakai pakaian serba hitam itu. Ia hendak mengenalkannya pada Harum, namun wanita itu keburu berjongkok di depan pusara Nata sembari meratap pilu.


“Nata, maafkan aku. Aku terlambat menemui mu. Aku baru kemarin sampai di Indonesia. Rencananya hari ini aku mau menjenguk kamu di rumah sakit, malah sekarang jadi menjenguk kamu di sini begini.”


Hangga yang sudah berdiri, kembali berjongkok di samping wanita yang tidak lain adalah sepupu Nata.


“Saya juga kaget, Kak. Kemarin Nata masih kelihatan baik-baik saja,” ucap Hangga mengenang momen hari kemarin. Nata bahkan sempat membetulkan lengan kemeja Hangga yang digulung sampai siku sesaat sebelum dirinya melangsungkan akad nikah bersama Harum.

__ADS_1


“Mau nikah kok digulung begini sih lengan kemejanya,” protes Nata yang duduk di kursi roda. Tangan ringkihnya menurunkan gulungan lengan kemeja putih yang dipakai Hangga dan mengancingnya dengan sempurna.


“Bukannya waktu itu Nata sudah dinyatakan sembuh? Terus kenapa sekarang malah meninggal?” lontar perempuan yang memakai pakaian dan aksesoris serba hitam memandangi batu nisan bertuliskan nama Natalia Friska Wayong.


“Iya, Kak. Nata sempat dinyatakan sembuh saat vonis kanker yang pertama. Lalu kemudian sel kankernya datang lagi dan menggerogoti tubuhnya. Terakhir, diagnosa dokter menyatakan bahwa kanker di tubuh Nata sudah masuk stadium akhir,” tutur Hangga menjelaskan.


“Nata dirawat di rumah sakit sini?”


“Di Jakarta, Kak.”


“Iya. Maksud aku, seharusnya kamu bawa Nata berobat ke luar negeri. Paling tidak, bawa ke rumah sakit Singapura.”


“Tidak semua pasien yang berobat di luar negeri pasti akan sembuh,” timpal Yuda ketus. “Ilmu kedokteran adalah hasil penelitian berbasis evidence yang diakui seluruh dunia. Pengobatan standar di Indonesia pun tidak berbeda jauh dengan yang diaplikasikan di luar negeri. Kalau pun seandainya ada ketidakcocokan terapi kemungkinan adalah karena fasilitasnya yang kurang lengkap, bukan karena kualitas dokternya yang buruk!” sambar Yuda tidak terima.


Wanita cantik itu menengadah menatap Yuda yang dalam posisi berdiri. Raut sendu yang tadi menghias wajah berangsur hilang seiring keterkejutannya. Tangannya bergerak melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. “Dokter Yuda?” sapanya dengan mata berbinar.


Apa? Dia tahu nama aku? Yuda yang juga memakai pakaian serba hitam menatap bingung dan canggung perempuan yang kini telah berdiri menatapnya. “Anda mengenal saya?”


“Tentu saja. Aku tidak akan pernah lupa dengan kamu, eh dokter maksudnya.” Wanita itu menjeda sesaat. “Dokter Yuda enggak ingat aku?”


Yuda menatap lebih intens wanita di hadapannya. Mencoba mengenali wanita berambut model keriting gantung itu, namun nihil. Yuda merasa tidak mengenal wanita itu. Mungkin wanita itu keluarga dari salah satu pasien yang pernah ia tangani. Jadi, wajar saja kalau ia tidak ingat. Pikirnya.


“Maaf saya kurang ingat sosok Anda.”


“Saya Nara, Dok.”


“Nara?”


“Iya. Inara. Jocelyn Inara.”


Yuda terpaku.


Jocelyn Inara. Yuda tidak akan pernah lupa nama itu. Satu-satunya mahasiswi bimbingannya yang berani mengirimi surat cinta kepadanya. Tidak main-main, surat cinta tersebut berjumlah dua puluh lembar kertas polio yang membuatnya nyaris muntah saat membacanya.


.


.


.


.


Tuh, hilal jodoh Yuda udah kelihatan.


Insyallah ada extra part Harum.dan Hangga juga ya. Tapi, mode santai ya. 😊

__ADS_1


Terima kasih banyak dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2