Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 59


__ADS_3

"Saya boleh mundur jadi istri Mas Hangga ‘kan? Saya mau kita pisah saja, Mas.”


Kalimat yang diucapkan Harum sukses membuat Hangga tercengang. Ia tidak menyangka Harum akan berpikir sampai ke hal tersebut.


Tadinya Hangga menerka tujuan Harum mendatangi ibunya adalah untuk mengadukan sikapnya selama ini sekaligus insiden yang terjadi subuh itu. Setelahnya ibu pasti akan ‘menceramahinya’ agar bersikap lebih baik pada Harum dan menjadi suami yang adil untuk kedua istrinya.


Harum kan cinta banget sama aku. Dia juga tipe istri penurut, penyabar dan selalu mengalah. Jadi, enggak mungkin kalau Harum sampai minta pisah. Begitu pikir Hangga sebelumnya.


“Ruuum!” teriakan Nina membuyarkan lamunan Hangga sekaligus menghentikan obrolan keduanya.


“Saya izin mau pulang sama Nina. Itu Ninanya udah siap.” Harum berdiri sembari menatap Hangga. Kemudian berlalu meninggalkan Hangga yang masih duduk tercenung tanpa mengucap sepatah kata pun.


Istri pertama Hangga itu berjalan menghampiri Nina yang berdiri di depan teras mes.


“Rum, maaf ya. Nina enggak tahu kalau kamu lagi ngobrol sama Mas Hangga. Nina main teriak aja. Sumpah, Nina enggak enak sama Mas Hangga,” sesal Nina begitu Harum datang menghampirinya.


“Enggak apa-apa, Nin,” sahut Harum.

__ADS_1


“Kalau masih mau ngobrol sama Mas Hangga, enggak apa-apa loh, Rum. Masih sore ini. Kita pulang habis magrib juga enggak apa-apa. Masih ada bis kok, habis magrib juga,” kata Nina yang hari ini mendapatkan jadwal kerja pagi dan besoknya mendapat jadwal libur dua hari. Sahabat Harum itu memang biasa mengagendakan pulang saat awal bulan di mana gajian telah turun seperti hari ini.


“Enggak usah. Kita pulang sekarang aja, nanti kemalaman di jalan,” sahut Harum. “Saya ambil tas dulu ya di kedai,” sambungnya.


Saat Harum berbalik badan, ia dibuat terkejut dengan sosok Hangga yang sudah berdiri di belakangnya. Beruntung, ia masih punya rem kefokusan yang sangat pakem. Jika tidak, mungkin sudah menubruk tubuh tegap Hangga yang menjulang tinggi itu.


“Saya akan antar kalian pulang,” ujar Hangga.


“Enggak usah, Mas,” sahut Harum.


Harum dan Nina saling melempar pandang sejenak. “Gimana nih?” keduanya saling melempar tanya melalui isyarat mata.


“Rum, kamu pulang sama Mas Hangga aja ya. Nina mau pulang sendiri aja, naik bis,” ujar Nina yang merasa tidak enak hati.


“Ini perintah, Nina! Atau kamu mau gaji kamu bulan depan dipotong!” ancam Hangga.


“Eh, jangan, Mas,” sahut Nina cepat. Sebagai seorang karyawan kecil, mendengar gaji bakal dipotong itu sangat menakutkan. Rasanya sudah seperti terkena bencana alam lahir batin.

__ADS_1


“Ya udah kalau begitu. Cepat bawa barang-barang kamu ke mobil!” titah Hangga lagi.


“Iya, Mas.” Nina bergerak patuh, mengayun cepat langkahnya menuju mobil SUV putih milik Hangga yang pastinya terparkir di depan kedai.


“Harusnya Mas Hangga enggak perlu repot-repot mengantar kami. Nanti kalau Mbak Nata nyariin bagaimana?” lontar Harum setelah Nina pergi.


“Enggak usah khawatir soal Nata. Aku udah bilang sama dia kalau mau pulang ke rumah ibu sama kamu,” sahut Hangga.


Harum tidak tahu saja, jika Hangga begitu khawatir saat ibu memberitahu bahwa menantu kesayangannya itu ingin pulang. Maka dari itu, ia terpaksa berbohong pada Nata dengan mengatakan bahwa ibu menyuruhnya pulang bersama Harum saja untuk menghadiri acara keluarga.


Keluarga besar Hangga belum mengetahui perihal pernikahannya dengan Nata, sehingga ia belum bisa mengajak Nata ke acara keluarga besarnya. Begitu alasan yang dilontarkan Hangga pada Nata.


Tidak ada lagi kata yang diucapkan Harum setelahnya. Istri pertama Hangga itu mengayun langkahnya menuju kedai untuk mengambil tas. Sementara Hangga mengekori langkah Harum di belakangnya dengan hati yang gamang.


Kenapa hatinya tidak rela dengan pernyataan Harum yang menginginkan berpisah.


“Rum kenapa kamu berpikir berpisah justru di saat aku berpikir mulai menyukaimu,” lirih Hangga dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2