Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 95


__ADS_3

Nata benar-benar tidak pulang. Hangga yang merasa tubuhnya sangat lelah karena seharian mencari Harum, memutuskan untuk mencari Nata besok saja. Lagi pula, tidak mungkin ia mengetuk-ngetuk pintu rumah orang malam-malam begini.


Tadi Hangga sudah berusaha menghubungi Nata, namun suara operator yang menjawab panggilannya. Ia juga berusaha menghubungi Melly, namun tidak ada jawaban. Sahabat Nata itu mungkin telah tidur. Pikir Hangga.


Hangga tidur di kamar yang dulu ditempati Harum. Bayangan saat ia menyuruh Harum menempati kamar tamu, melintas di angan. Hangga masih ingat, saat itu adalah hari pertama perempuan berjilbab itu sah sebagai istrinya. Hatinya perih mengingat keburukan sikapnya pada Harum. Ditambah fakta yang baru diungkap ibundanya kemarin malam membuat dirinya semakin didera rasa bersalah yang mengiris hati.


Hangga memejamkan mata. Sebelum benar-benar terlelap, ia menggumamkan sebuah doa. Berharap malam ini ia bisa bertemu Harum, meskipun hanya sebatas mimpi.


Pagi-pagi sekali Hangga pergi ke rumah Melly. Waktu menunjukkan pukul enam pagi saat Hangga tiba di rumah sahabat Nata tersebut. Bahkan si empunya rumah masih berselimut dalam lelap dan Hangga harus menunggu setengah jam untuk bertemu Melly.


“Ada apa lu? Tumben?” Kalimat yang pertama kali dilontarkan Melly saat menemui Hangga yang tengah duduk di teras.


“Hai, Mel. Gue ke sini mau jemput Nata,” sahut Hangga langsung pada inti permasalahannya.


“Jemput Nata?” lontar Melly dengan alis saling bertaut.


“Iya. Nata nginep di sini ‘kan?”


“Enggak.” Melly menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Lu lagi ribut ya sama Nata?” tebaknya.


“Kalau Nata enggak nginep di sini, terus Nata nginep di mana?” Alih-alih menjawab pertanyaan Melly, Hangga malah justru melontarkan pertanyaan kepada sahabat istrinya itu.


“Jadi beneran ya lu lagi ribut sama Nata? Sampai Nata ke mana lu gak tau.”


Hangga mengangguk lemah.


“Kalau Nata sampai kabur, berarti ributnya parah nih,” tukas Melly.


“Ayo lah, Mel. Gue ke sini cari Nata. Lu mungkin bisa kasih petunjuk ke gue kira-kira ada di mana Nata sekarang.”


“Ck.” Melly berdecak. “Sebenarnya kalau lu mau cari Nata itu gampang. Samperin aja di tempat kerjanya saat jam kerja. Nata pasti ada di sana. Nata mungkin bisa kabur dari lu, tapi dia gak bisa kabur dari tanggung jawabnya di tempat kerja.”


“Ya Allah, kok gue enggak kepikiran.” Hangga mengetuk dahinya dengan tangan yang dikepal.

__ADS_1


“Thanks ya, Mel. Gue pulang dulu. Sorry nih, udah ganggu lu pagi-pagi.”


“Oke.”


Hangga berpamitan pulang. Baru beberapa ayun kakinya melangkah, Melly berseru memanggil namanya. “Hangga!”


“Ya.” Hangga menoleh dan berbalik badan.


“Luka di pergelangan tangan Nata itu bekas apa?” tanya Melly menatap Hangga.


Hangga terdiam sesaat, baru kemudian ia menggelengkan kepalanya.


“Jangan bilang kalau itu luka bekas sayatan karena Nata nekat mau bunuh diri,” tukas Melly. “Keterlaluan kalau lu sampai menyia-nyiakan Nata. Lu mungkin bisa mencintai perempuan lain. Tapi, enggak ada perempuan lain yang bisa mencintai lu seperti Nata mencintai lu,” pungkas Melly lalu masuk ke dalam rumahnya.


Hangga hanya bergeming mendengar kalimat yang diucapkan Melly.


*


Hangga tetap pergi bekerja. Ia tidak mungkin bolos bekerja lagi hari ini. Saat jam istirahat, Hangga datang menemui Nata di tempat istrinya tersebut bekerja. Hatinya merasa lega karena melihat Nata baik-baik saja. Ia mengajak Nata untuk makan siang bersama, namun istri cantiknya itu menolak. Sejak peristiwa percobaan bunuh diri itu, Nata tidak pernah lagi mau diajak makan siang bersama olehnya.


“Biarkan aku sendiri dulu, Hangga,” tolak Nata saat Hangga mengajaknya pulang. “Kamu enggak usah khawatir, aku enggak akan pernah melakukan perbuatan bodoh itu lagi.”


“Kenapa, Nata? Kamu istriku. Sudah seharusnya kamu ikut dengan aku.”


“Betul kata kamu, aku ini egois. Dan sekarang aku tertekan dengan egoku sendiri.” Nata berkata sembari memandangi Hangga. Menatap tepat di manik mata berwarna coklat itu untuk mencari-cari apakah masih ada cinta yang besar dari lelaki pujaannya.


“Semuanya sudah enggak sama. Itu yang aku rasakan sekarang. Dan aku terluka, tersiksa dengan keadaan kita yang sekarang.” Nata menggigit bibir, menahan dirinya agar tidak menangis lagi.


Hangga meraih tangan Nata dan menggenggamnya. “Maafkan aku, Nata.”


“Biarkan aku sendiri dulu, Hangga. Aku ingin menepi sebentar. Izinkan aku menepi sebentar.” Tangan Nata bergerak hendak mengusap air yang menggenang di pelupuk mata, namun bulir bening itu telah jatuh lebih dulu.


Hangga menangkup wajah Nata dengan kedua tangannya. Ibu jarinya lembut mengusap jejak air mata di pipi mulus perempuan cantik itu.


“Jangan buat aku lebih tersiksa lagi dengan memaksakan diri untuk dekat dengan kamu. Hiks, hiks, hiks,” ucap Nata terisak-isak.

__ADS_1


“Oke. Kalau itu memang mau kamu. Kalau itu bisa menenangkan hatimu. Kalau itu bisa mengembalikan Nataku yang dulu. Aku akan izinkan. Tapi, kasih tahu aku kamu tinggal di mana? Biar aku tenang,” ujar Hangga masih mengelus pipi Nata. Hangga jadi sadar, sudah lama sekali ia tidak melakukan hal tersebut kepada Nata.


“Aku tinggal di kontrakan sama dua orang temanku. Dekat sekali dengan tempat kerja aku. Jadi, kamu enggak perlu antar jemput aku. Aku bisa jalan kaki, tempatnya dekat banget dengan kantor."


“Aku akan sering-sering nengok kamu.”


“Jangan!”


“Kenapa?”


“Apa Harum sudah ketemu?” Bukannya menjawab, Nata malah melempar pertanyaan. Ia tahu bahwa kemarin Hangga bolos bekerja untuk mencari Harum.


“Belum.”


“Aku sudah mendengar cerita ibu tentang Harum. Kamu harus menemukan Harum. Kehadiran Harum mungkin akan sedikit mengurangi beban hati aku." Setelah mendengar kisah hidup Harum, Nata merasa bersalah dan hal tersebut semakin menyiksa batinnya.


“Iya. Doakan aku supaya bisa segera menemukan Harum.”


"Amin." Nata mengangguk, bertepatan dengan seruan dua orang temannya yang berdiri beberapa meter di belakangnya.


"Nata, pulang bareng enggak?”


“Iya!” Nata menoleh ke belakang menyahut seruan temannya.


“Oke, Hangga. Temanku sudah menunggu.” Nata berbalik badan, bersiap mengayun langkah gegas menghampiri dua orang temannya, namun cekalan tangan Hangga menahan langkahnya.


Hangga meraih pundak Nata, lalu lekas memeluknya. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya yang masih berlalu lalang. “Maafkan aku, Nata. Yang harus selalu kamu ingat adalah aku akan selalu mencintai kamu sampai kapan pun. Aku mencintaimu, Nata.”


Nata bergeming dalam pelukan Hangga. Bulir air mata kembali meluruh, namun kali ini bukan air mata luka, tetapi air mata keharuan.


Mengingat mereka berada di tempat umum, Nata melepas pelukan Hangga. “Terima kasih, Hangga,” ucap Nata tersenyum. Kemudian lekas berlalu dari hadapan Hangga, menghampiri teman-temannya.


Hangga memandangi langkah gegas Nata yang terus menjauh meninggalkan dirinya.


Hatinya lega kala melihat tawa lebar Nata yang berjalan sambil bersenda gurau dengan teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2