Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 94


__ADS_3

Ada enggak sih orang model Hangga, rajin solat, tapi juga tetap pacaran?


Jawabannya: Buanyaaaak.


Namun, biasanya orang seperti Hangga punya batasan sendiri dalam hal pacaran. Misalnya enggak ada ci uman bibir, enggak ada hubungan in tim.


Jangankan pacaran, yang rajin solat tapi suka maling juga banyak. Itu contohnya sebagian para koruptor di Indonesia. Ups.


Solat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Idealnya memang seperti itu, tapi kadar keimanan seseorang kan berbeda-beda.


Oke mari kita lanjutkan kisah Hangga dan Nata serta kekisruhannya. Harum sementara aku skip dulu ya. Kehadiran Harum kecil, akan membuat Harum melupakan segala drama sedih kehidupannya. Terus apa kabar, sama bapaknya Harum? Tunggu terus lanjutannya.


*


“Aku cinta kamu. Tapi, aku juga benci kamu, Hangga. Huuu, huuu, huuu.” Untuk kesekian kalinya Nata menangis, dan menangis lagi.


“Aku minta maaf kalau mungkin perlakuanku menyakiti kamu. Tapi, aku mohon kamu mengerti. Aku enggak pernah selingkuh atau mengkhianati kamu. Harum itu istriku, Nata. Coba kamu pahami itu. Aku mohon kamu tekan sedikit ego kamu, coba buka cara berpikir kamu dalam sudut pandang orang lain. Sudut pandang aku misalnya, bagaimana aku merasa berdosa karena tidak memperlakukan kedua istriku dengan adil. Atau coba kamu berpikir dari sudut pandang Harum, memangnya Harum tidak terluka dengan keegoisan kamu? Dengan keegoisan kita?”


“Huuu, huuu, hiks, hiks.” Nata terisak-isak.


“Harum lebih dulu menjadi istriku, Nata. Dan kamu harus selalu ingat bahwa Harum yang mengizinkan kita menikah. Kita bisa menikah karena Harum. Dan kini Harum yang pergi karena kita.” Hangga berbicara dengan napas terengah-engah menahan emosi.


“HARUM PERGI KARENA KITA, NATA! KAMU ENGGAK PAHAM JUGA!” teriak Hangga.


Braaak


Pintu kamar mandi jadi sasaran emosi Hangga. Setelah menendang pintu, Hangga berlalu meninggalkan Nata.


Tubuh Nata meluruh jatuh di lantai. Menangis tersedu-sedu ditemani luka yang menghunjam jantungnya.


Selepas salat Isya berjamaah di masjid, hati Hangga merasa lebih tenang. Ia naik ke lantai atas menuju kamarnya. Tangannya menekan gagang pintu, namun pintu dikunci dari dalam.


“Nata.” Hangga mengetuk pintu kamarnya.


Beberapa kali diketuk dan memanggil nama istrinya, tidak ada sahutan dari dalam. Hangga khawatir Nata melakukan perbuatan bodoh lagi.


“Nata, ayo makan!”


“Nata!”


“Jawab, Nata! Atau aku dobrak pintunya," ancam Hangga.


“Aku udah makan tadi. Kamu makan sendiri aja.” Hangga bernapas lega mendengar sahutan Nata dari dalam. Setidaknya, istrinya itu baik-baik saja.


Hangga turun ke lantai menuju dapur. Masih mengenakan baju koko, Hangga makan malam sendirian. Usai makan, ia naik lagi ke atas dan mendapati kamarnya masih dikunci dari dalam. Tangannya kembali bergerak mengetuk pintu dan memanggil nama Nata.


“Aku mau tidur sendiri. Baju kamu sudah aku taruh di meja luar,” sahut Nata dari dalam kamar.


Hangga menoleh ke arah meja, sudah ada piyama tidur, kaus oblong, celana boxer, sarung, selimut, juga gawai miliknya beserta charger.


Ya sudah, mungkin Nata mau sendirian dulu. Lagi pula sudah hampir dua bulan ini hubungan mereka anyeb seperti cucian Mak Othor yang enggak kering-kering karena hujan yang terus turun tanpa jeda. (Emak-emak se-nusantara pasti senasib)


Hangga sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tv. Kemudian matanya tertuju pada pintu kamar di hadapannya yang dulu ditempati Harum. Sebenarnya Hangga ingin tidur di kamar tersebut. Berharap masih ada jejak-jejak dan aroma mewangi tubuh Harum yang tertinggal di sana. Lumayan sebagai penawar hatinya yang begitu merindu. Akan tetapi, ia mengurungkan keinginannya demi menghargai Nata. Khawatir Nata salah paham lagi, lalu meledak lagi.


Hangga bangun dari posisinya. Ia ngin menghubungi Harum, meskipun kini Harum tidak pernah lagi mau menjawab telepon Hangga.


“Kenapa, Harum? Memang kalau sudah mantan, enggak boleh menelepon?” Hangga pernah bertanya seperti itu kepada mantan istrinya itu.


Dan Harum menjawab dengan tenang. “Saya enggak suka aja Mas Hangga menelepon.”


Tetapi kali ini, Hangga bertekad akan tetap menelepon. Dan pantang berhenti sampai teleponnya diangkat atau sampai lowbat sekalian. Ia ingin memastikan apakah Harum benar pulang? Atau hanya ingin menghindarinya.


Wajah Hangga berbinar cerah karena pada panggilan ketiga, ada jawaban dari nomor Harum tersebut. Harum menjawab teleponnya. Pikir Hangga.


“Assalamualaikum, Mas Hangga.”


“Waalaikum salam,” jawab Hangga dengan dahi mengerut. Ia tahu suara diujung telepon bukanlah suara seseorang yang dirindukannya.


“Ini Nina, Mas. Hape Harum ketinggalan di kamar mes.”

__ADS_1


“Ya Allah. Terus kamu udah dapat kabar dari Harum, Nin?”


“Enggak, Mas. Nina mau telepon Bu Mirna, mau nanya apa Harum udah sampai atau belum. Tapi, enggak enak, takut ganggu.”


“Ya udah, Nin. Nanti saya saja yang telepon ibu. Makasih ya, Nin. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Setelah memutus panggilan ke nomor Harum yang dijawab oleh Nina, Hangga menghubungi nomor ibundanya. Saat dering kelima, ia malah mendengar deru suara mobil berhenti di depan rumahnya. Seperti suara mobil Ayah? Batin Hangga.


Bi Jenah yang baru selesai mencuci piring bekas makan Hangga, bergegas hendak melangkah menuju pintu utama, tetapi dicegah oleh Hangga.


“Biar saya saja, Bi. Sepertinya itu Ayah dan ibu,” cegah Hangga.


Terbesit dalam angan Hangga jika ayah dan ibunya datang ke sini membawa serta Harum. “Semoga saja begitu,” harapnya.


“Bu, Yah.” Hangga mencium tangan ibu dan ayahnya.


Kemudian ia melemparkan pandangan ke mobil ayahnya yang terparkir di depan rumah, berharap selanjutnya ada Harum yang turun dari mobil.


“Ibu sama Ayah berdua saja datang ke sini?” lontar Hangga.


“Memangnya sama siapa lagi?” sahut Pak Hendra sembari melangkah masuk ke dalam rumah menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk. Hangga mengekor di belakang ayahnya dengan hati yang kecewa.


“Istrimu di mana?” tanya Bu Mirna setelah duduk di sofa ruang tengah.


“Nata sedang kurang sehat, Bu,” jawab Hangga.


“Sakit perut lagi?”


“Eng, bukan. Cuma lagi flu aja. Dia udah tidur kayaknya,” jawab Hangga berbohong.


“Hangga, kamu masih suka ketemu Harum?” tanya Bu Mirna.


“Masih, Bu. Kadang-kadang."


“Ibu datang ke sini, mau bicara sama Harum. Ibu takut kalau Harum benar-benar memutuskan berhenti bekerja di kedai.”


“Harum enggak datang ke rumah tuh. Memangnya kapan Harum pulang?”


“Nina bilang, kemarin lusa Harum pulang.”


“Sebentar ibu telepon Harum dulu.” Bu Mirna merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.


“Harum enggak bawa hape, Bu. Hapenya ketinggalan di kamar mes,” kata Hangga.


“Coba ibu telepon Nina aja.” Bu Mirna melakukan panggilan singkat ke nomor sahabat Harum tersebut menanyakan kebenaran tentang kepulangan Harum.


“Benar, Yah, kata Nina Harum pulang. Tapi kok enggak datang ke rumah ya?” lontar Bu Mirna usai menelepon Nina.


“Mungkin Harum ada di rumahnya, Bu. Belum sempat menemui ibu,” timpal Pak Hendra.


“Kalau begitu, kita langsung pulang saja, Yah. Kalau Harum ada di Cilegon ngapain kita ke sini,” kata Bu Mirna.


“Besok saja lah, Bu. Kasihan Ayah, baru sampai kok langsung pulang. Memangnya nyetir Cilegon-Tangerang itu enggak cape, Bu,” timpal Hangga.


“Kalau Harum datang ke rumah terus kita enggak ada bagaimana?” sahut Bu Mirna.


“Ayah coba telepon Pak RT dulu, mau nitipin Harum,” timpal Pak Hendra.


Pak Hendra menghubungi Pak RT tetangga Harum menanyakan keberadaan mantan menantunya, namun jawaban Pak RT membuat semua yang berada di sana cemas.


“Kata Pak RT, Harum enggak ada di rumahnya. Dari kemarin juga Pak RT enggak melihat Harum,” ujar Pak Hendra.


“Terus di mana Harum, Yah?” sahut Bu Mirna cemas.


“Ibu tenang dulu. Coba Hangga, kamu tanya Nina tentang teman-teman Harum. Mungkin Harum berada di rumah temannya.”


Hangga tidak dapat menyembunyikan raut cemas di wajahnya. Ia segera menghubungi Nina menanyakan teman-teman akrab Harum. Ia juga menginstruksikan kepada Nina agar membantu menanyakan keberadaan Harum kepada teman-temannya.

__ADS_1


“Harum enggak ada, Bu,” kata Hangga usai menghubungi semua nomor teman-teman Harum.


Tidak lama kemudian, Nina pun memberi kabar yang sama, bahwa tidak ada satu pun temannya yang mengetahui keberadaan Harum.


“Harum di mana, Hangga? Harum di mana, Yah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Harum? Bagaimana kalau Harum sampai kenapa-kenapa?” Bu Mirna bertanya dengan penuh kecemasan.


“Sudah, ibu tenang dulu. Nanti kita lapor polisi. Polisi akan bantu kita menemukan Harum,” ujar Pak Hendra mencoba menenangkan istrinya yang mudah sekali terguncang jika menyangkut soal Harum.


“Kalau begitu, cepat lapor polisi sekarang!” sentak Bu Mirna.


“Sabar, Bu, tenang. Ibu tenang dulu ya.” Pak Hendra berpindah tempat duduk ke sebelah Bu Mirna dan meraih bahu sang istri untuk menenangkan.


“Gimana ibu bisa tenang kalau Harum, kalau Harum ....” Bu Mirna berucap terengah-engah menahan sesak. “Kalau sampai terjadi hal buruk terhadap Harum, ibu enggak akan bisa hidup. Ibu bisa mati karena rasa bersalah. Huuu, huuu, huuu.” Bu Mirna menangis penuh penyesalan.


“Sudah, Bu, sudah. Harum insyaallah enggak apa-apa. Insyaallah Harum baik-baik saja.” Pak Hendra memeluk menenangkan istrinya. “Hangga, kamu bantu tenangkan ibu,” titahnya kemudian.


Hangga mengernyitkan dahi melihat reaksi ibunya yang tampak sangat terguncang karena kehilangan Harum.


“Ibu tenang. Kenapa ibu jadi syok begini?” lontar Hangga.


“Hangga, semua itu gara-gara kamu! Coba kalau kamu nurut sama ibu. Ibu menikahkan kamu dengan Harum supaya Harum bahagia. Tapi, kamu malah menyakitinya, menduakannya. Ibu punya dosa sama Harum, ibu punya dosa sama Harum!” Bu Mirna semakin histeris.


“Hangga minta maaf atas sikap Hangga dulu kepada Harum. Tapi sekarang, Hangga pun merasa sangat kehilangan, Bu.”


“Ibu bukan cuma kehilangan, tapi ibu bakal dikejar-kejar dosa. Ibu yang telah membuat hidup Harum menderita. Ibu yang sudah menabrak orangtua Harum. Ibu yang sudah membuat Harum yatim piatu. Ibu yang telah membunuh orangtua Harum.”


Hangga tercengang mendengar pengakuan ibundanya.


“Harusnya kamu membuat Harum bahagia, Hangga! Supaya ibu enggak dikejar-kejar dosa!”


Hangga terdiam terpaku mengetahui fakta yang baru diketahuinya. Sebuah rasa penyesalan menyeruak di dada. ‘Harum, maafkan mas.’


Dari lantai dua, Nata mendengarkan semuanya. Hati Nata turut bergetar mendengar kisah Harum yang menurutnya lebih tragis ketimbang kisah hidupnya.


*


Esok harinya, kedua orangtua Hangga pulang kembali ke Cilegon untuk mencari Harum. Sementara Hangga memutuskan untuk bolos bekerja guna mencari Harum. Bahkan, ia mendatangi Arya meminta bantuan untuk bersama-sama mencari Harum di sekitar Tangerang.


“Kenapa Dek Harum bisa hilang sih? Sampean apain Dek Harum?”


“Ck. Gak usah panggil-panggil Dek segala.” Hangga berdecak ketus.


Hingga langit telah kelam, Hangga dan Arya belum bisa menemukan Harum. Kabar dari Pak Hendra yang juga mengabarkan bahwa belum berhasil menemukan Harum, membawa Hangga ke kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang sore tadi.


“Neng Harum belum ketemu, Mas?” tanya Bi Jenah saat membuka pintu untuk Hangga.


“Belum, Bi,” jawab Hangga lesu seperti langkahnya juga yang lesu.


“Di mana pun Neng Harum berada semoga baik-baik saja. Neng Harum kan orang baik, insyaallah akan selalu dikelilingi orang-orang baik.”


“Amin ya Allah.”


“Mas Hangga belum makan ‘kan? Bibi siapkan makan malam ya,” tawar Hangga.


“Enggak usah, Bi. Saya enggak lapar.” Meskipun sejak tadi pagi perutnya belum terisi nasi barang sesendok pun, Hangga tidak merasakan lapar dikarenakan terus memikirkan Harum. “Nata sudah makan belum, Bi?” tanya Hangga kemudian.


“Mbak Nata belum pulang tuh, Mas,” jawab Bi Jenah.


Hangga melirik arloji di tangannya. “Sudah hampir jam dua belas malam Nata belum pulang?”


“Iya, Mas.”


Ya Allah, Nata. Semoga kamu enggak mengikuti jejak Harum untuk pergi menjauhi dan meninggalkan aku juga.


.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih dukungannya ❤️❤️


__ADS_2