Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 97


__ADS_3

“A-apa, Dok? Kan-ker?” Dada Hangga bergemuruh mendengar hasil diagnosa dokter. Pernyataan dokter seperti peluru yang tepat menghunjam jantungnya.


Dokter dengan rambut sedikit beruban itu mengangguk menjawab pertanyaan Hangga.


“Mengapa bisa istri saya ....” Hangga tidak dapat melanjutkan kalimatnya, namun dokter berjenis kelamin laki-laki tersebut bisa memahami apa yang dilontarkan Hangga.


“Penyebab kanker serviks hingga saat ini masih belum bisa dipastikan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa 99% kasus kanker serviks terkait dengan HPV atau human papilloma virus."


“A-apa bisa disembuhkan, Dok?” Sebagai orang awam, Hangga pernah mendengar bahwa kanker serviks pembunuh perempuan nomor satu dan dianggap penyakit paling mematikan bagi kaum hawa.


“Dilihat dari penyebarannya selnya, kanker sudah masuk stadium dua. Kankernya sudah menyebar di luar leher rahim dan rahim,” terang dokter yang berumur sekitar empat puluhan itu.


“Kanker itu berbeda dengan penyakit infeksi virus lainnya dimana pasien dapat sembuh dan terbebas dari virus tersebut. Tetapi, Bapak tidak usah khawatir. Banyak pasien kanker yang selesai dengan terapinya dan menjalani kehidupan seperti orang tanpa kanker. Kondisi tersebut dalam istilah kedokteran disebut remisi atau relaps. Yang penting pasien jangan sampai stres dan usahakan mendapatkan dukungan keluarga. Juga jangan pernah lelah berdoa. Karena biar bagaimanapun pemilik kehidupan kita adalah Dia.”


Hangga mendengar penuturan dokter dengan kepala tertunduk. Bayangan senyum ceria Nata saat awal berjumpa melintas di benaknya. Dan senyum ceria yang kini jarang sekali dilihatnya, dipastikan akan semakin menghilang begitu wanita cantik itu mengetahui diagnosa penyakitnya.


Pelupuk mata Hangga mulai basah, ada cairan yang tiba-tiba menggenang di sana kala mengingat semua kenangannya tentang Nata.


“A-apa yang harus saya lakukan, Dok?” tanya Hangga dengan suara bergetar menahan tangis


“Yang pertama, Bapak harus menjelaskan kepada pasien, dalam hal ini istri Bapak, tentang penyakitnya. Biar bagaimanapun pasien berhak tahu tentang sakitnya. Saya rasa Bapak yang lebih tahu bagaimana cara menyampaikan berita kurang baik ini kepada istri Bapak. Sampaikanlah setenang mungkin, dan juga beri motivasi.”


Hangga menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menyamarkan air mata yang hampir jatuh. Ia bahkan tidak tahu apakah sanggup untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Nata.


“Setelah ini kami akan membuat surat rujukan untuk istri Anda agar bisa dirawat di rumah sakit spesialis kanker. Karena di rumah sakit ini belum tersedia pelayanan dan penanganan untuk penderita kanker.”


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Hangga kembali ke ruangan perawatan Nata dengan langkah gontai. Saat masuk ke ruangan, ia mendapati istrinya tersebut tengah tertidur. Mata Hangga yang memerah karena menahan tangis itu kini memandangi Nata dengan perasaan haru.

__ADS_1


Ya Allah, kuatkanlah Hamba. Dan tegarkanlah istri Hamba.


Hangga mengulurkan tangan, lalu membelai rambut Nata yang kini berwarna hitam.


“Hangga,” lirih Nata yang terbangun karena merasakan belaian di rambutnya.


“Kenapa bangun? Ti-tidur lagi aja, Yang,” ucap Hangga memaksakan senyum.


“Mata kamu kenapa merah begitu?” tanya Nata.


“Oh, eng, ini. enggak apa-apa.” Hangga menjawab gugup."


“Sebentar aku mau ke toilet dulu.” Khawatir tidak dapat menahan tangis, Hangga langsung berbalik badan dan pergi ke toilet. Tanpa suara, ia menumpahkan tangisnya di sana. Setelah merasa lebih lega, baru kemudian ia keluar menemui Nata kembali.


“Mau makan lagi, Yang?” tawar Hangga diiringi seulas senyum.


“Enggak apa-apa,” sahut Hangga sembari mengambil posisi duduk di tepi ranjang bersama Nata.


“Kita jadi pulang hari ini ‘kan?” lontar Nata.


Tangan Hangga bergerak untuk merapikan rambut Nata. Mata Hangga berkaca-kaca membahayakan jika nanti rambut Nata akan rontok bahkan botak karena melakukan serangkaian terapi.


“Hangga, kita pulang yuk!” seru Nata karena Hangga tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Mungkin enggak lama lagi kita akan keluar dari rumah sakit ini. Tapi, kita akan pindah ke rumah sakit lainnya,” terang Hangga masih sibuk merapikan rambut Nata.


“Kok gitu? Enggak ah, aku mau kerja. Enggak bisa lama-lama bolos.”

__ADS_1


“Mungkin kamu juga harus resign dari tempat kerja, Yang.” Suara Hangga mulai bergetar mengucapkan kalimat tersebut. Membayangkan Nata yang selalu semangat bekerja terpaksa harus resign karena penyakitnya tersebut, membuat Hangga tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.


“Hangga, memangnya ada apa?” tanya Nata curiga melihat riak wajah Hangga yang berubah.


“Ada apa? Dokter bilang apa, Hangga?” ulang Nata sebab Hangga malah diam dan terus memandangi wajahnya.


“Kamu harus kuat, Yang. Aku akan menemani kamu melewati semuanya.” Tubuh Hangga mendekat lalu memeluk Nata.


“Ada apa, Hangga? Aku gak ngerti. Cepat bilang ada apa?” Nata melepaskan diri dari pelukan Hangga, lalu mendorong tubuh suaminya tersebut.


Hangga menarik napas panjang sebelum memulai kalimatnya. “Kata dokter, ka-mu ke-na kan-ker ser-viks.”


Napas Nata terengah-engah mendengar berita tersebut. “A-ku kena kan-ker? Itu artinya, a-ku akan ma-ti, Hangga.”


Hangga menghambur memeluk Nata. “Kamu harus kuat, Yang. Kamu pasti kuat."


“A-ku bakalan ma-ti, Hangga,” ucap Nata tergegap. Suaranya terdengar bergetar, namun tidak ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata sipitnya.


“Enggak Nata, kamu pasti sembuh. Kamu pasti sembuh.” Hangga mengecupi wajah Nata dengan berurai air mata.


.


.


.


Jangan pada kejam ah, sama Nata. Nata ini enggak jahat kok.

__ADS_1


__ADS_2