Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 120


__ADS_3

Saat Yuda menemui Hangga, mantan suami Harum itu tengah duduk memangku putri Yuda. Duduk di pangkuan Hangga, Harum kecil tengah berceloteh riang bersama Nata dan Hangga.


“Jadi, Harum sekolahnya diantar jemput sama Mami?” Nata bertanya sembari memandang gemas Harum kecil.


“Iya. Aku diantar jemput sama Mami, belajar sama Mami, bobo juga kadang-kadang sama Mami."


“Mami antar jemput Harum naik apa?” lontar Hangga penasaran.


“Mobil dong.”


“Oh, sama sopir juga ya?”


“Enggak, Om. Kan Mami yang setirin mobilnya.”


“Oya?” sahut Hangga dan Nata dengan kompaknya. Tidak percaya Harum yang mereka kenal bisa menyetir mobil sendiri.


“Mas Hangga, bisa ikut saya sebentar.” Yuda datang menginterupsi obrolan ketiganya. “Mbak Nata juga mari ikut saya,” lanjutnya.


Hangga dan Nata kompak mengangguk. Bersama Harum kecil, Hangga mendorong kursi roda Nata mengikuti langkah Yuda.


Yuda membawa Hangga dan Nata ke ruang perpustakaan di mana Harum dan Bu Yusma sudah menunggu di sana.


“Mas Hangga.” Yuda yang mulai membuka obrolan. Panggilan ‘Pak’ pada Hangga kini berubah menjadi ‘Mas’.


“Iya, Dok.”


"Mas Hangga jangan panggil 'Dok' saat saya sedang tidak berada di rumah sakit atau pun mengurusi pasien. Panggil yang lain aja. Mas atau Abang juga boleh."


"Oh, begitu. Baiklah, Mas."


“Begini Pak Hangga, saya merasa tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan saya dengan Harum.” Hangga dan Nata yang duduk berdampingan kompak saling pandang dengan ekspresi terkejut, kemudian keduanya beralih menatap Harum yang duduk di seberang meja dengan kepala tertunduk.


“Maaf kalau saya mengecewakan Mas Hangga. Kemarin Mas Hangga bilang, kalau Mas Hangga percaya bahwasanya saya bisa membahagiakan Harum. Tapi, kenyataannya saya belum siap.


Mungkin bagi laki-laki lain di bumi ini, berpindah dari satu cinta ke cinta lain adalah hal yang mudah, berpindah dari satu hari ke hati yang lain adalah hal yang gampang. Tapi, tidak bagi saya. Saya belum sanggup melepas semua kenangan tentang almarhumah istri saya. Saya belum mau masa depan saya menutup buku masa lalu saya. Saya enggak bisa. Saya belum bisa,” tuturnya menatap Hangga.


Hangga menatap tajam Yuda di hadapannya. Tidak ada sepatah pun yang keluar dari bibirnya, namun hatinya ikut merasakan sakit atas apa yang terjadi. Bagaimana bisa Yuda membatalkan pernikahan yang sudah berada di depan mata? Apa pria itu tidak memikirkan bagaimana perasaan Harum? Bukankah itu namanya mempermalukan Harum?


Saat hati Hangga masih bergelut dengan kekecewaannya, Yuda berkata lagi, “Mas Hangga, apakah ada niat untuk kembali rujuk dengan Harum?”


*

__ADS_1


Hangga memandang Harum tidak percaya. Tidak menyangka mimpi dan harapannya untuk kembali bersama Harum benar-benar bisa terwujud saat ini. Hangga yang masih mencintai Harum tentu tidak menolak saat Yuda dan Bu Yusma mengusulkan agar ia dan Harum rujuk kembali. Begitu pun dengan Nata yang dengan begitu semangatnya membujuk Harum agar mau menerima Hangga kembali. Namun, Hangga tidak mau memaksakan Harum jika memang mantan istrinya itu menolak rujuk.


Harum tidak langsung menjawab permintaan rujuk Hangga. Mungkin mantan istrinya itu masih menyimpan bara dalam dada, mengingat dosa-dosa dirinya. Hangga menyadari waktu empat bulan kebersamaannya bersama Harum sebagai pasangan suami istri dua tahun yang lalu, lebih banyak kenangan tentang goresan luka ketimbang suka.


Rum, please jangan diingat lagi tentang brengseknya aku. Tolong ingat saja tentang manisnya kita. Hangga membatin seraya menatap Harum penuh permohonan.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya terima rujuknya Mas Hangga.” Jawaban Harum sontak menciptakan senyum haru di wajah Hangga.


Satu jam lalu, pria berkemeja putih itu mengikrarkan lafal kabul dengan satu helaan napas.


“Saya terima nikah dan kawinnya Harum Lestari binti Abdul Manaf almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Suara Hangga bergetar mengucapkan lafal tersebut. Batinnya mengharu mengingat lafal kabul kedua ini ibarat penebus dosa atas kesalahannya menyebut nama Harum saat ijab kabul dalam pernikahan pertama.


Indahnya senja di atas langit Jakarta menjadi saksi pernikahan kedua Harum dan Hangga.


“Huuu, huuu, Mami enggak boleh pergi. Mami di sini aja nemenin aku.” Harum kecil menangis meraung kala menyadari bahwa pernikahan maminya dan Hangga akan membuatnya kehilangan Harum--sang mami.


“Mami cuma pergi sebentar aja, Sayang. Besok pagi, insyaallah Mami kembali ke sini untuk antar jemput Harum sekolah,” bujuk Harum berjongkok memeluk putrinya Yuda.


Sesungguhnya hal inilah yang membuat Harum berat mengambil keputusan rujuk bersama Hangga. Untungnya, Hangga dan Harum telah sepakat bahwa pernikahan mereka tidak akan menghentikan pekerjaan Harum mengasuh putrinya Yuda. Hangga memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Sembari mereka merawat Nata, Harum masih bisa mengasuh putrinya Yuda. Setidaknya sampai Yuda mendapatkan pengasuh baru untuk anaknya.


“Mami janji akan terus antar jemput aku sekolah sampai aku lulus TK?”


“Iya, Sayang. Mami janji. Sekarang mami harus temani Om Hangga untuk menjaga Tante Nata. Tante Nata kan lagi sakit. Besok pagi, insyaallah mami ke sini jemput Harum. Oke?”


Pukul delapan malam, ketiga insan yang terikat dalam biduk pernikahan luar biasa itu pulang ke rumah sewaan Hangga yang letaknya dekat dengan rumah sakit.


“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih telah mengabulkan permintaan aku. Terima kasih karena sudah mengembalikan Harum pada Hangga.” Nata yang tengah berbaring berucap lirih.


Sepanjang prosesi ijab kabul sore tadi, Nata tidak berhenti mengucap syukur. Hatinya kini lega luar biasa. Berjuta sesal serta rasa bersalah yang menancap di hati seolah telah lenyap berguguran.


Mata sipit Nata bergerak kala mendengar derit suara pintu dibuka dan mendapati Harum dan Hangga yang datang menghampirinya.


“Loh, kok kalian ke sini?” lontar Nata.


“Kami mau temani Kak Nata,” sahut Harum menguntai senyum.


“Aku enggak papa, kok. Aku baik-baik aja. Enggak usah ditemani.”


“Saya ingin tidur sama Kak Nata.”


“Jangan!” cegah Nata. “Hangga, bawa Harum sana. Ini kan malam pertama kalian.”

__ADS_1


“Ish, Kak. Orang saya pengen temani Kak Nata.”


“Pergi sana, Harum. Kamu tidur sama Hangga aja. Di kamar sebelah juga sudah ada kasur kok, meskipun Cuma kasur lantai. Enggak apa-apa lah ya, soalnya pernikahan kalian kan mendadak jadi enggak ada persiapan. Nanti besok Hangga beli tempat tidur yang lebih layak untuk ditempati.”


“Udahlah, Nat. Biar saja kalau Harum ingin tidur di sini. Aku juga akan tidur di sini temani kalian," timpal Hangga.


“Kita tidur bertiga gitu?”


“Hmm. Enggak papa lah sekali-kali.”


“Ya udah kalian boleh temani aku untuk yang terakhir kalinya. Karena besok mungkin kalian akan disibukkan oleh aku.”


Harum merasa ucapan Nata terdengar aneh. Ia ingin bertanya, namun urung karena kemudian Nata berkata lagi, “Rum, aku belum solat isya. Kamu bimbing aku solat ya,” pinta Nata.


“Siap, Kak,” sahut Harum penuh semangat. Ia bahagia sekali mendengar permintaan Nata. Berarti ada kemajuan pesat di diri Nata. Madunya itu minta salat tanpa ia mengingatkan untuk salat.


Malam itu Harum membimbing Nata salat Isya. Selepas salat, Nata langsung minta tidur duluan karena merasa tubuhnya lelah. Sebelum melepas Nata tidur, Harum membimbing Nata untuk membaca doa sebelum tidur serta surah-surah yang biasa dibaca saat sebelum tidur.


“Doa dan surah yang tadi itu biasa dibaca setiap kita mau tidur, Kak. Agar tidur kita mendapatkan perlindungan dari Allah.” Nata mangut-mangut mendengar penuturan Harum.


“Ada satu lagi yang biasa saya baca setiap mau tidur, yaitu kalimat syahadat. Sejak saya kecil, nenek saya mengajarkan kalau mau tidur itu harus baca syahadat. Karena kita tidak pernah tahu apakah besok kita masih bertemu dengan pagi atau enggak.” Harum yang dalam posisi berbaring miring bercerita sembari memandangi Nata. Entah mengapa, Harum merasa ada yang berbeda dengan Nata, namun hatinya tidak dapat mengungkapkan perbedaan tersebut. Sesaat kemudian, sebulir air mata jatuh membasahi pelipis Harum.


“Harum, kamu kenapa nangis?” tanya Nata.


“Aku boleh peluk Kak Nata,” jawab Harum terisak-isak.


Nata menjawab dengan sebuah senyuman. Harum lekas memeluk Nata. Kedua istri Hangga itu menangis bersama dalam posisi saling berpelukan.


“Kenapa kalian nangis?” lontar Hangga yang baru masuk kamar lagi. Saat Harum membimbing Nata salat tadi, Hangga memilih untuk keluar kamar agar tidak mengganggu salat Nata.


“Mas Hangga sini peluk Kak Nata juga,” kata Harum melambaikan tangannya pada Hangga.


Hangga menurut, ia berbaring di sisi kiri Nata, sedangkan Harum berbaring di sisi kanan Nata. Keduanya, Hangga dan Harum sama-sama memeluk Nata. Pria beristri dua itu terdiam sembari membatin, “kenapa Harum dan Nata kompak nangis begini.”


“Kak Nata ikutin saya ya, baca syahadat,” ujar Harum setelah acara tangisan dalam pelukan itu usai. Nata menganggukkan kepalanya pelan.


“Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrosulullah.” Nata melafalkan kalimat syahadat mengikuti Harum.


“Sekarang kita tidur aja ya. Besok kita bangun subuh solat Subuh bareng,” kata Harum.


“Kalian yakin mau tidur di sini?”

__ADS_1


“Iya,” jawab Harum dan Hangga berbarengan.


Mereka bertiga pun tertidur bersama dalam satu tempat tidur. Hangga yang semenjak Nata sakit tidak pernah bisa tidur pulas, malam ini malah tertidur sangat pulas. Saat ini ia merasa malam tengah memeluknya erat penuh kedamaian.


__ADS_2