Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 38


__ADS_3

“Ayo, aku antarkan pulang,” sahut Arya setelah terdiam beberapa jenak sebab hatinya bimbang lantaran status Harum yang sudah bersuami.


Tetapi, Harum kan adiknya Hangga serta adik iparnya Nata. Sepertinya tidak masalah kalau mengantarkan pulang Harum. Begitu pikir Arya.


“Tapi sebelum nolong Dek Harum, tolong Dek Nina dulu ya Pakde Ganteng. Tolong dorong motor Dek Nina sampai ke alamnya,” sela Nina.


Harum tertawa mendengar Nina ikut-ikutan memanggil dirinya “Dek.” Sementara Arya merasa malu mendengar gurauan Nina tentang sebutan "Dek."


“Tunggu sini ya, Rum. Aku dorong motor Nina dulu,” pamit Arya.


Dahlah ndak usah pakai Dek. gumam Arya dalam hati.


Setelah membantu mendorong motor Nina yang belum jauh dari kedai, baru Arya mengantar Harum pulang. Perjalanan sepuluh menit di atas dua roda itu ditempuh dalam keheningan, tanpa obrolan dan tanpa suara.


Keduanya tenggelam dalam kegalauan masing-masing. Sama-sama merasa tidak enak hati.


Duh, kenapa saya malah minta Mas Arya untuk antarkan pulang. Salah enggak ya. Galau Harum dalam hati.


Kalau kamu masih single, aku bakal terbang nih dengar Harum minta antar pulang. Tapi, Harum kan istri orang. Nanti suaminya marah ndak ya. Galau Arya dalam hati.


Hingga kemudian tidak terasa, motor sport warna hijau itu sampai di depan rumah minimalis berlantai dua. Harum dan Arya sama-sama merasa lega karena malam ini suasana perumahan tampak sepi. Bersyukur tidak ada seorang pun yang berada di luar rumah.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Mas,” ucap Harum saat turun dari motor.


“Sama-sama, Dek Harum. Aku langsung pulang aja ya. Salam buat masmu.” Setelah berkata begitu, Arya gegas melesat bersama motornya. Sebab mengantarkan pulang perempuan yang sudah bersuami, rasanya ngeri.


Rasa ngeri itu bercampur sedap. Terlebih jika perempuan tersebut tanpa disadari telah memikat hati.


Maafkan aku ya, suami Harum. Arya membatin seraya memandang bayang sosok perempuan ayu berjilbab itu dari kaca spion hingga bayangan Harum benar-benar menghilang.


Setelah motor Arya pergi menjauh, Harum melakukan peregangan dengan menggerakan tubuhnya ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang. Baru kali ini ia merasakan dibonceng dengan motor sport.


Ternyata tidak mudah mempertahankan diri untuk tidak pegangan dengan si pengendara saat dibonceng dengan motor jenis seperti itu. Tubuh Harum terasa kaku semua.


Setelahnya Harum bergerak untuk membuka pagar. Saat Harum hendak membuka pagar, ia dikejutkan dengan suara seseorang.


“Jadi begitu kelakuan kamu?”


Suami Harum itu memakai baju koko, sarung, lengkap dengan peci hitam. Sepertinya Hangga baru pulang dari masjid. Atau barangkali pulang dari undangan ngeriung, sebab saat ini sudah lewat jauh waktu salat Isya.


“Mas Hangga.” Harum hendak meraih tangan Hangga untuk salim, tetapi suaminya itu malah menghindar.


“Jadi begitu kelakuan kamu?” lontar Hangga.

__ADS_1


“Kelakuan saya? Saya kenapa, Mas?” sahut Harum kebingungan.


“Jadi selama ini yang mengantar kamu pulang itu si Arya. Pantas saja belakangan selalu pulang malam, kamu lagi dekat sama dia. Begitu?” tukas Hangga.


“Harusnya kamu tahu bagaimana seorang istri itu bersikap. Saya pikir kamu itu perempuan yang baik dan solehah yang mengerti bagaimana menempatkan diri sebagai seorang istri. Kalau Ibu dan Ayah tahu kelakuan kamu, mereka pasti kecewa karena sudah bersikukuh menjodohkan saya dengan kamu yang ternyata murahan," tutur Hangga tanpa perasaan.


Ucapan Hangga membuat hati Harum tercabik-cabik. Mendapat tuduhan kejam dari suaminya, dada Harum sesak bukan main.


Akan tetapi, Harum memilih untuk diam tidak melawan. Biar bagaimanapun, ia sadar dirinya salah. Tidak seharusnya ia meminta laki-laki lain untuk mengantarkannya pulang.


“Asal kamu tahu aja. Nata saja tidak pernah sekalipun jalan sama laki-laki lain. Sementara kamu yang berjilbab, yang katanya solehah, malah kelakuannya lebih buruk dari Nata.”


“Cukup, Mas! Jangan banding-bandingkan saya dengan istri kedua kamu yang sangat kamu cintai itu. Tentu saja berbeda, karena Mas mencintai dia sedangkan saya ....” Harum menelan liur membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering kerontang. Ia menarik napas untuk mengurai sesak di dada sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Kak Nata tidak perlu orang lain untuk membantu urusannya karena Mas selalu ada untuknya. Sedangkan saya ... Sebaik apa pun saya menjadi seorang istri, apa Mas akan menghargai saya, menganggap saya, dan mencintai saya? Enggak kan!”


Dituduh murahan oleh sang suami karena kesalahannya, Harum masih bisa menerima. Tetapi, kalau dibanding-bandingkan dengan sang madu, Harum jelas tidak terima.


Bukankah perlakuan Hangga padanya dan Nata berbeda? Bagaimana bisa dirinya dibanding-bandingkan sedangkan perlakuan suaminya itu tidak adil.


“Jangan menghakimi saya sebagai istri yang tidak baik, sebelum Mas bisa menjadi suami yang baik. Satu lagi, kalau menurut Mas saya buruk, silakan ceraikan saya!” pungkas Harum kemudian berlalu meninggalkan Hangga.

__ADS_1


Harum yang tidak mau pertengkarannya didengar tetangga, memilih lekas masuk rumah. Mengabaikan kalimat yang diucapkan Hangga selanjutnya.


“Kalau saya bisa, saya sudah ceraikan kamu dari dulu, Harum!”


__ADS_2