
"Rum, kalau kamu bisa bolos kerja, kamu enggak usah kerja dulu deh, jagain Hangga,” ujar Nata sebelum berangkat bekerja. “Aku enggak bisa izin karena masih karyawan baru,” sambungnya.
“Mas Hangga masih demam, Kak?”
“Iya, malah semalam sampai muntah-muntah.”
Karena hujan-hujanan mencari Harum malam kemarin, Hangga jadi sakit. Suhu tubuhnya tinggi, tetapi badannya menggigil kedinginan.
Setelah kemarin siang izin pulang bekerja saat jam istirahat, hari ini Hangga pun tidak dapat masuk bekerja lantaran sakit.
“Mas Hangga sudah minum obat, Kak?” tanya Harum.
“Hangga itu susah kalau disuruh minum obat. Coba aja kamu yang bujuk, Rum. Siapa tahu Hangga nurut sama kamu. Lebih bagus lagi kalau Hangga mau diajak pergi ke dokter. Kalau Hangga mau periksa ke dokter, kamu aja yang temani dia ya, Rum,” tutur Nata panjang lebar.
“Oya, satu lagi. Dia dari semalam enggak mau makan. Pagi ini juga belum ada secuil makanan pun yang masuk ke perutnya,” imbuhnya.
Harum hanya dapat menganggukkan kepalanya menanggapi penjelasan Nata yang panjang lebar. Bagaimana mungkin dirinya dapat membujuk Hangga, sementara bujukan Nata saja tidak diindahkan oleh Hangga.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya. Taksinya udah datang," pamit Nata.
“Hati-hati, Kak," sahut Harum seraya memandang kepergian Nata yang tampak terburu-buru.
Harum merasa beruntung mendapat madu seperti Nata yang dikenalnya baik hati. Berbeda dengan Hangga, Nata memperlakukan dirinya dengan baik.
Nata selalu perhatian dan gemar berbagi. Setiap membeli sesuatu, ia selalu mengingat Harum dan membelikannya juga untuk Harum. Harum tidak dapat menghitung berapa paket belanjaan Nata yang dibeli secara online, dan Nata selalu membelikannya juga buat Harum dengan barang yang sama.
Selepas mengantar kepergian Nata, Harum naik ke lantai dua menuju kamar Hangga. Dilihatnya Hangga tengah tertidur dengan tubuh yang ditutupi selimut hingga leher. Harum melangkah mendekati Hangga lalu duduk perlahan di tepi ranjang di dekat Hangga.
Tangan Harum terulur perlahan menuju wajah Hangga, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Hangga untuk mengetahui suhunya. Saat tangan Harum masih menempel di kening Hangga, tiba-tiba suaminya itu membuka mata.
“Ma-ma-maaf.” Refleks Harum menjauhkan tangannya. Ia menundukkan kepala karena khawatir Hangga akan marah atas sikapnya.
Hangga menolehkan kepalanya ke meja kecil di samping ranjang seperti sedang mencari sesuatu.
“Mas Hangga mau minum?” tawar Harum. Dari gelagatnya, Harum merasa bahwa Hangga haus dan ingin minum.
Hangga menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Sebentar saya ambilkan dulu.” Harum berdiri lalu gegas pergi ke dapur, sebab sepertinya Nata lupa menyiapkan minum untuk Hangga.
Harum datang lagi dengan membawa nampan berisi segelas air putih dan semangkuk bubur ayam.
“Buburnya dimakan dulu, Mas,” kata Harum usai Hangga meneguk sedikit air putih.
“Saya lagi malas makan," sahut Hangga lesu.
__ADS_1
“Sedikit aja, Mas. Dua sendok aja enggak apa-apa, biar bisa minum obat. Kalau enggak makan dan minum obat, nanti lama sembuhnya. Nanti pekerjaan di kantor juga jadi terbengkalai,” bujuk Harum.
Awalnya Hangga menolak, tapi lama-lama suami Harum itu menurut juga.
“Saya suapin ya, Mas,” tawar Harum memberanikan diri. Meskipun ia tidak yakin Hangga akan menerima.
Tidak disangka, Hangga menganggukkan kepalanya. “Dua suap saja,” sahutnya.
Harum tersenyum lebar dan dengan penuh semangat menyuapkan sesendok bubur ke mulut Hangga. Seperti terhipnotis, Hangga yang semula menginginkan dua suap saja malah bisa makan lebih dari lima suap.
Harum tersenyum senang karena Hangga mau makan. Terlebih, Hangga mau makan disuapi olehnya. Rasa senang Harum berlipat-lipat jadinya.
Setelah makan, Harum membantu Hangga meminum obat.
“Mas Hangga nanti siang mau makan apa?” tanya Harum setelahnya.
“Kamu enggak berangkat ke kedai?” Hangga balik bertanya.
“Enggak, Mas. Hari ini saya libur. Lagi pula kalau Ibu tahu Mas Hangga sakit, pasti Ibu akan melarang saya pergi ke kedai,” sahut Harum.
“Kalau kamu enggak kerja, bisa buatkan soto seperti waktu itu?” Hangga pernah sekali memakan soto buatan Harum dan ia mengakui rasanya sangat enak. Hangga yang sedang tidak naf-su makan, malah jadi ngiler membayangkan soto buatan Harum.
“Bisa, Mas. Nanti saya akan masak soto,” sahut Harum semringah. Bibirnya tersenyum menunjukkan buncah bahagia hatinya. Demi apa, diminta memasak soto oleh Hangga saja sudah membuat dada Harum meledak bahagia.
“Enggak usah, saya mau istirahat,” sahut Hangga lalu merebahkan tubuhnya. Dengan sigap, Harum menyelimuti Hangga yang telah berbaring.
Harum keluar kamar setelah melihat Hangga memejamkan mata. Entah suaminya itu tidur atau hanya sekedar terpejam karena tidak mau melihat dirinya.
Masa bodo, Harum sedang tidak mau memikirkan kemungkinan dari dua hal itu. Yang pasti saat ini hatinya tengah senang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berperan sebagai istri. Meskipun sekedar melayani kebutuhan suami yang tengah sakit.
Harum bergegas pergi ke dapur. Membuka kulkas, ia memeriksa bahan-bahan untuk membuat soto. Beruntung bahan-bahan yang dibutuhkan tersedia lengkap di dalam kulkas.
“Mau masak apa, Neng?” tanya Bi Jenah saat Harum tengah mengupasi bawang.
“Mau bikin soto. Mas Hangga katanya pengen makan soto,” jawab Harum.
“Biar bibi saja atuh. Neng Harum mau berangkat kerja ‘kan?”
“Enggak, hari ini saya izin. Mas Hangga kan lagi sakit.”
“Mas Hangga itu sakit kayaknya karena hujan-hujanan,” celetuk Bi Jenah.
“Mas Hangga hujan-hujanan?” Harum mengerutkan kening dan menghentikan sejenak kegiatan mengupas bawang.
“Itu loh, Neng. Waktu Neng Harum enggak pulang dan nginep di mes. Bibi kira Neng Harum udah kabari Mas Hangga kalau mau nginep. Malam itu Mas Hangga ‘kan nyariin sampai kehujanan. Mana hujannya gede banget lagi. Mas Hangga pulang jam dua belas, waktu sampai rumah bajunya udah basah kuyup karena kehujanan.” Harum tertegun mendengar penuturan Bi Jenah.
__ADS_1
“Masa sih, Bi, Mas Hangga sampai nyariin saya?” lontar Harum merasa tidak percaya dengan ucapan Bi Jenah.
“Bener, Neng. Bibi enggak bohong. Mbak Nata juga sampai ketiduran di sofa tivi karena nungguin Mas Hangga pulang.”
Mendengar penuturan Bi Jenah, Harum jadi merasa bersalah sendiri dan berpikir jika sakitnya Hangga adalah karena ulahnya. Setitik penyesalan mendadak hinggap di relung hati Harum.
“Sotonya biar saya yang masak saja ya, Bi,” lontar Harum menghentikan obrolan tentang Hangga.
“Neng Harum enggak mau istirahat, mumpung libur,” sahut Bi Jenah.
“Saya mau masak untuk suami saya,” ujar Harum tersenyum tersipu.
Bi Jenah turut tersenyum senang melihat ceria di wajah Harum. Bi Jenah tentu mengetahui bagaimana hubungan Hangga dan Harum, meskipun Harum tidak pernah menceritakan masalahnya.
“Iya deh, Neng. Kalau begitu saya mau menyetrika aja.”
“Iya, Bi. Baju kerjanya Mas Hangga yang kemarin dicuci, kalau sudah kering tolong setrika juga ya, Bi.”
“Siap, Neng,” sahut Bi Jenah. Kemudian pergi meninggalkan Harum yang tengah berkutat dengan bumbu dapur.
Harum memasak soto dengan penuh semangat. Menjelang siang, saat soto telah matang, Harum kembali menawarkan Hangga untuk makan dan jawaban Hangga sangat memuaskan hatinya.
Hangga mau memakan soto masakannya, bahkan tidak menolak saat Harum menyuapinya.
Senyum Harum terus mengembang hingga hari berganti sore. Selain memasak soto, Harum juga membuat bubur kacang hijau. Bi Jenah yang memberitahunya bahwa bubur kacang hijau adalah salah satu makanan kesukaan Hangga.
Harum sudah berpakaian rapi setelah mandi sore. Kemudian, ia naik ke lantai dua menuju kamar Hangga dengan membawa semangkok bubur kacang hijau yang diletakkan di atas nampan
.
Saat masuk ke kamar Hangga, Harum tidak mendapati suaminya di sana. Mungkin sedang ke kamar mandi, pikirnya. Tetapi, ia tidak mendengar suara gemerencik air dari dalam kamar mandi.
Harum meletakkan nampan di atas meja, lalu berjalan mendekat ke pintu kamar mandi. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah pintu hendak menempelkan telinganya pada daun pintu, untuk memastikan apakah benar Hangga sedang berada di dalam kamar mandi atau tidak. Namun yang terjadi malah tubuhnya jatuh terjerembap karena tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
“Ya Allah,” lirih Harum.
Beberapa jenak waktu terasa terhenti, saat Harum menyadari bahwa ia terjatuh dalam pelukan Hangga. Harum mengangkat wajahnya. Sorot matanya tepat tertuju pada manik coklat milik pria yang kini tengah merangkulnya.
Harum tergemap sesaat. Merasakan debar tidak biasa yang tiba-tiba menyeruak. Sudah lama, ia tidak merasakan debaran seperti ini. Tepatnya, setelah dirinya resmi dimadu.
Hangga pun tidak kalah resahnya saat menatap wajah teduh Harum. Semakin ada yang menyengat saat indra penciumannya menghidu aroma wangi yang memabukkan jiwanya meski sesaat.
Hanya sesaat, karena entah di detik ke berapa sebuah suara mengejutkan keduanya.
“Hangga! Harum!”
__ADS_1