
“Dan Harum ini adalah calon istri saya,” terang Yuda yang seketika membuat Nata dan Hangga syok.
“Apa itu artinya Dokter dan Harum sebentar lagi akan menikah?” tanya Nata dengan ekspresi tegang.
“Ya, semoga saja begitu. Doakan saja,” sahut Yuda.
Nata melirik pada Hangga dan ia bisa melihat raut kecewa di wajah suaminya itu.
“Oya, Rum, kamu ke sini bawa mobil apa motor?” Yuda bertanya pada Harum.
“Mobil, Mas. Karena sudah malam, jadi saya bawa mobil.”
“Kalau begitu kita pulang bareng ya. Mobil saya lagi di bengkel.”
“Iya, Mas.”
“Kamu masih mau lama di sini?”
“Kalau Mas Yuda sudah selesai bertugas, kita pulang sekarang saja,” jawab Harum.
“Saya sudah selesai kok. Kita pulang sekarang saja kalau begitu.” Harum dan Yuda pun pulang setelah berpamitan dengan Hangga dan Nata.
Mobil warna putih yang biasa dikendarai Harum untuk mengantar-jemput putrinya Yuda sekolah itu melaju meninggalkan gedung rumah sakit. Yuda yang mengendarai mobil tersebut, sedangkan Harum duduk di samping Yuda.
“Rum.” Setelah beberapa menit keduanya hanya terdiam sambil memandangi kepadatan jalan raya kota Jakarta di malam hari, Yuda akhirnya membuka suara, memanggil nama calon istrinya itu.
“Iya, Mas.” Harum menoleh pada Yuda di sampingnya.
“Kamu enggak ada yang mau diceritakan sama saya, Rum?” todong Yuda.
“Maksudnya?”
“Tentang pasien saya atas nama Natalia Friska Wayong.” Dua kali menangani Nata, membuat Yuda hafal nama lengkap pasien pertamanya itu. “Kalian ada hubungan apa? Nata itu siapanya kamu? Teman atau saudara kamu?” cecar Yuda.
Harum bergeming sesaat. Harum tidak berniat untuk menutupi perihal hubungannya dengan Nata dan Hangga, ia hanya menunggu Yuda menanyakannya. Setelah lebih dari lima hari pertemuannya dengan Nata, Yuda baru menanyakan hal tersebut sekarang.
“Mas Hangga itu mantan suami saya,” sahut Harum dengan menundukkan kepala sembari menjalin jari-jemari di pangkuannya.
Yuda terkejut. Beruntung mobil yang dikendarainya tengah berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.
“Pak Hangga itu mantan suami kamu?” lontar Yuda menatap Harum di sampingnya.
“Iya, Mas.” Harum mengangguk.
“Jadi Bu Nata itu mantan madu kamu?”
Harum mengangguk lagi.
“Tapi hubungan kalian kelihatannya baik-baik saja,” ujar Yuda bertepatan dengan lampu lalu lintas berganti hijau dan ia kembali melajukan mobilnya. Saat awal pertemuan Harum dan Nata, Yuda yang berada di ruangan Nata, ikut merasakan haru. Pertemuan kedua wanita berparas cantik itu mirip acara Tali Kasih. Pikir Yuda.
__ADS_1
“Memang hubungan saya dan Kak Nata baik-baik saja. Hanya saja mustahil satu orang nahkoda dapat membawa dua kapal sekaligus secara bersamaan." Yuda mangut-mangut mendengar kalimat yang diucapkan Harum.
“Lantas, apakah sekarang kamu mau mengubah keputusan kamu tentang lamaran saya?”
“Enggak, Mas. Saya tetap dengan keputusan saya."
"Syukurlah."
"Hanya saja, bagaimana cara mengurus perceraian saya, sementara Mas Hangga sedang fokus mengurus Kak Nata yang sakit?”
“Nanti saya coba tanyakan sama teman saya yang pengacara, sekalian berkonsultasi bagaimana baiknya masalah perceraian itu.”
*
“Harum ternyata calon istrinya dokter Yuda,” ucap Nata lirih selepas Harum dan dokter yang menangani penyakitnya itu berpamitan pulang.
“Udah lah, Nat. Enggak usah dipikirkan. Yang penting kamu tetap semangat berjuang melawan penyakit kamu,” sahut Hangga berusaha menegarkan hati. Ia tidak mau Nata dapat merasakan bagaimana kehancuran hatinya.
“Aku akan mati. Dan Harum akan menikah dengan dokter Yuda. Kamu bagaimana, Hangga?”
“Udah stop, Nata! Aku enggak mau dengar kamu ngomong begitu lagi. Aku maunya dengar kamu ngomong kalau kamu mau sembuh lagi, kalau kamu mau sehat lagi.” Meskipun Hangga mengetahui bahwa peluang sembuhnya penyakit Nata adalah sangat kecil, ia tetap harus mengobarkan semangat Nata. Semoga saja ada mukjizat dari Sang Maha Kuasa yang dapat menghilangkan dan mematikan seluruh sel kanker di tubuh Nata. Begitu harapnya.
“Adapun masalah Harum, kita sepatutnya turut bahagia. Harum itu orang baik dan akan menikah dengan dokter Yuda yang juga adalah orang baik. Kita harusnya ikut senang mendengar kabar tersebut,” ujar Hangga berpura-pura tegar, padahal hatinya hancur berserakan.
*
Esok harinya, Harum kembali lagi menemui Nata. Sejak hari pertama pertemuannya dengan Nata, Harum sudah meminta izin kepada Yuda untuk mengunjungi Nata setiap hari dan Yuda mengizinkannya. Setelah semalam Yuda mengetahui hubungan antara Harum, Nata dan Hangga, ternyata hal tersebut tidak membuat Yuda serta merta melarang Harum mengunjungi Nata dan Hangga. Yuda tidak mempermasalahkan bahkan ketika mengetahui Harum kerap membawakan makanan untuk mantan suaminya.
“Kok teman Mami itu bisa dirawat di rumah sakit Papi sih?”
“Iya, Sayang. Soalnya kan lagi sakit.”
“Berarti teman Mami itu sakit cancer ya?” tanya Harum kecil dengan gaya ceriwisnya.
“Iya, Sayang,” jawab Harum sendu.
“Kasihan sekali teman Mami itu. Berarti teman Mami itu sebentar lagi mau meninggal ya?”
“Hush. Anak cantik enggak boleh ngomong begitu ah.”
“Soalnya kata Papi, kalau pasien cancer stadium 4 itu sudah enggak bisa disembuhkan. Dari 100 orang, hanya 5 orang yang mungkin bisa sembuh. Berarti lebih banyak yang enggak sembuh dong.”
Harum tertegun mendengar penuturan putri dokter itu. Harum sudah mengetahui bahwa kanker yang diderita Nata sudah masuk stadium lanjut. Kalau Kak Nata meninggal, nanti Mas Hangga sama siapa?
“Assalamualaikum,” sapa Harum begitu sampai di dekat ranjang Nata.
“Waalaikum salam.” Hangga yang tengah menyuapi Nata menjawab salam tersebut dengan kompak.
“Ini makanan untuk Mas Hangga,” ujar Harum seraya meletakkan rantang berisi makanan hasil masakannya ke atas nakas. "Ada pecak bandeng dan sayur asam."
__ADS_1
"Enak banget itu," timpal Nata lirih.
“Makasih ya, Rum," ucap Hangga.
"Sama-sama, Mas."
"Padahal enggak usah repot-repot, Rum. Mas enggak enak sama dokter Yuda,” sahut Hangga sembari menatap rantang tiga susun di atas nakas.
“Mas Yuda enggak mempermasalahkan kok, Mas. Enggak apa-apa.” Harum mengulurkan tangan meminta piring yang dipegang Hangga. “Sini, saya saja yang suapin Kak Nata.”
Hangga meletakkan piring ke atas nampan, lalu menyerahkan nampan itu kepada Harum. Harum mulai menyuapi Nata dengan telaten.
“Rum,” panggil Nata di sela kegiatan makannya.
“Iya, Kak.”
“Kamu benar mau menikah dengan dokter Yuda?” tanya Nata yang masih penasaran.
“Insyaallah, Kak.” Harum menjawab seraya menguntai senyum. Ia melirik Hangga sekejap, berharap Hangga dapat melihat senyumannya, supaya mantan suaminya itu berpikir bahwa ia sudah menemukan kebahagiaan setelah memutuskan pergi dua tahun yang lalu.
“Kamu sama dokter Yuda sudah berapa lama pacaran?” tanya Nata.
“Saya enggak pernah pacaran, Kak. Mas Yuda langsung melamar saya.”
“Kamu mencintai dokter Yuda?”
Harum tersenyum menanggapi pertanyaan mantan madunya itu. “Kalau saya tidak cinta, saya tidak mungkin menerima lamaran Mas Yuda. Lagi pula mana mungkin saya tidak cinta dengan Mas Yuda. Mas Yuda itu ganteng, baik, mapan, tipe suami idaman hampir seluruh wanita di dunia. Saya merasa ....”
“Ehem.” Kalimat Harum terputus karena deheman Hangga.
“Aku keluar dulu ya, Nat, untuk solat dan makan,” sela Hangga.
“Iya, sana kamu makan dulu aja,” sahut Nata.
“Mas bawa ya, Rum, makanannya. Mas mau makan di luar aja.”
“Iya, Mas, silakan.”
Menenteng rantang, Hangga keluar kamar dengan hati berdenyut nyeri. Hati dan telinganya belum cukup kuat mendengar kata cinta serta pujian yang ditujukan Harum kepada laki-laki lain.
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan. Sabar kan Hamba-Mu ini ya Allah. Dan ikhlasakan hati Hamba atas semua ketetapan-Mu.
.
.
.
Maaf ya kalau updatenya angin-anginan. Maklum lah namanya author-authoran dan remahan ini, terkadang otak ini ngeblank, Mak. Apalagi kalau cucian dan setrikaan numpuk.
__ADS_1
Kayaknya dua atau tiga bab lagi Harum nikah nih. Menikahnya sama siapa masih belum pasti ya. Jawabannya ada pas akad nikah. Dan insyaallah saya tamatkan pas malam pertama pernikahan kedua Harum.