
Semua adegan yang terjadi beberapa saat lalu, bergerak lambat di benak Harum.
Dimulai saat Hangga mengatakan dirinya ‘cantik’.
Mana mungkin Harum tidak tebang melayang sampai ke awang-awang, dipuji cantik oleh pria yang selama ini didambakannya.
Setelah itu Hangga membuka jilbab yang menutupi kepalanya. Sekali lagi pria berwajah tampan khas Indonesia itu memberikan pujian kepadanya. “Rambut kamu indah dan harum,” ucapnya.
Astaga.
Rasanya Harum ingin melompat saking senangnya. Harum yakin bukan hanya dirinya yang ingin melompat, jantungnya yang sedari tadi berdetak heboh pun pasti ingin ikutan melompat menyaksikan wajah Harum yang merona.
Harum tersipu mengingat adegan selanjutnya. Setiap potongan adegan yang terjadi, sukses membuat gadis ayu itu berdesir bahagia.
Harum tidak pernah melakukan kontak fisik penuh keintiman dengan pria mana pun. Sejak menginjak remaja, Harum sudah menjaga dirinya dan membuat batasan hubungan dengan lawan jenis.
Kemungkinan besar pria pertama yang menyentuh tangannya adalah Hangga. Dan kepada pria ini pula akhirnya Harum memberikan segalanya.
Kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu. Yang paling diingat, dan mungkin akan selalu diingat Harum adalah rasa sakit luar biasa yang menghunjam inti tubuhnya, saat tubuh polos Hangga mulai mendesak penuh gelora.
Harum merasa kesakitan luar biasa, tetapi entah mengapa di waktu yang sama juga merasakan bahagia luar biasa. Bahagia karena telah memberikan sesuatu yang paling berharga dari dirinya untuk pria yang dicintainya, suami impiannya, Hangga Yudistira.
Adegan terbaik dan paling indah dari potongan fragmen yang terjadi tadi adalah saat rasa kesakitan itu membuat Harum ingin mendorong tubuh Hangga yang tengah mengimpitnya, lalu pria gagah itu berbisik di telinganya. “Sabar, Sayang, tahan,” katanya dengan suara paling merdu yang pernah didengar Harum.
Harum berusaha bertahan. Akan tetapi, sakit yang tidak tertahan itu membuatnya kembali ingin mendorong tubuh suaminya.
Hangga segera bereaksi dengan lebih merapatkan tubuhnya. Lalu, dalam posisi yang sangat rapat itu ia memeluk tubuh mungil Harum sebagai usahanya untuk memberikan ketenangan agar perempuan berparas ayu itu merasa nyaman dalam mengarungi lautan gairah bersamanya.
__ADS_1
Harum menyambut pelukan lelakinya dengan sebuah pelukan.
Pelukan pertamanya untuk Hangga.
Setelahnya, Harum memilih pasrah. Membiarkan dirinya terombang-ambing dalam deras arus has-rat yang diciptakan Hangga—lelaki yang tengah berasyik masyuk di atas tubuhnya.
Hingga kemudian, ia bersama Hangga sampai pada puncak suka cita dengan penuh kemenangan.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Hangga sembari melepaskan sebuah kecupan di bahu mulus Harum. Pria idaman Harum itu tengah memeluk tubuh mungil Harum yang masih polos dari belakang, selepas permainan dua babak yang sangat menyenangkan.
Harum tersipu atas ucapan “terima kasih” dari lelaki yang sangat dicintainya itu. Apalagi ada embel-embel “Sayang” di belakangnya.
Benarkah Hangga telah menyayanginya? Menyayangi selayaknya seorang suami pada istri?
Harum tersenyum. Pipi mulusnya memancarkan rona merah. Beruntung Hangga tidak dapat melihat wajah meronanya dikarenakan posisi Harum yang membelakangi Hangga.
Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus Hangga. Pria yang begitu erat memeluk Harum dari belakang itu sepertinya telah tertidur cukup lelap. Mungkin karena kelelahan akibat kegiatan dua babak tadi.
Tubuh Harum bergerak pelan, berbalik badan menghadap Hangga. Bibirnya melengkungkan senyum menatap pria yang dicintainya itu. Baru kali ini Harum bisa melihat wajah tampan Hangga dengan leluasa.
Sorot mata Harum menelusuri setiap bagian wajah sang Arjuna yang di mata Harum sangat sempurna tanpa cela. Wajah rupawan yang selalu menghias mimpi serta angannya sejak lama.
Tangan Harum terangkat pelan lalu mendaratkan telunjuknya ke bagian pipi Hangga yang ditumbuhi cambang, lalu terus bergerak ke bibir Hangga yang cerah karena pria itu memang bukan perokok.
Harum terus memandangi Hangga yang tertidur pulas. Saking pulasnya, pergerakan jari Harum di wajah Hangga tidak menyebabkan suaminya itu bangun.
Ada desir bahagia yang menjalar begitu hangat di sekujur tubuh Harum mana kala mengingat dirinya punya andil atas lelapnya tidur Hangga.
__ADS_1
Sementara Harum memilih untuk tetap terjaga. Semua yang terjadi begitu indah. Momen yang Harum lewati sangat indah. Ia tidak rela jika harus tidur, lalu melupakan semuanya.
Ia ingin tetap terjaga dan merasakan Hangga tengah bersamanya serta memeluknya.
Hati Harum bahagia saat ini. Kalau bisa, ia ingin terus begini, dalam posisi seperti ini. Dipeluk oleh Hangga dan dapat memandangi wajah tampan itu sepuasnya.
Akan tetapi, kumandang azan subuh membuat dirinya mau tidak mau harus bangun. Meskipun berat untuk menyudahi hal indah ini, Harum tetap beringsut turun.
“Mau ke mana, Yang?” tanya Hangga setengah sadar. Tangannya menarik lengan Harum yang dalam posisi hendak turun dari ranjang.
“Sudah azan, Mas. Kita solat berjamaah, yuk!” ajak Harum sembari memegang selimut sampai ke dada.
“Aku nanti aja lah solatnya, masih ngantuk,” sahut Hangga dengan mata terpejam.
Harum tidak bicara lagi, hanya tersenyum kecil menatap suaminya. Kemudian ia memungut daster batik lengan panjang yang tersampir di kepala ranjang lalu memakainya.
Setelahnya, ia beranjak menuju kamar mandi untuk melakukan mandi junub pertamanya.
.
.
.
.
"Hai para pembaca, aku gak bodoh tau, cuma rada bego doang," kata Harum.
__ADS_1
triple up nih