
Motor sport warna hijau itu melesat membawa pemiliknya menuju kawasan perumahan.
Arya—si pengendara motor itu menurunkan kecepatan setelah singgah di toko kue. Di jok belakang motornya, terikat sebuah dus yang berisi cake yang harus ia jaga penuh kehati-hatian. Jangan sampai cake-nya berantakan gara-gara laju kecepatan yang ugal-ugalan. Hingga kemudian motor itu berhenti di sebuah rumah bercat putih dan gold model minimalis.
Entah apa yang mendorong Arya untuk datang ke rumah teman baiknya itu.
Arya jelas menolak keinginan Nata yang memintanya mendekati Harum yang ia ketahui telah bersuami. Namun, ada rasa penasaran yang membuat Arya akhirnya menerima undangan Nata untuk makan malam.
Benarkah Harum adalah istrinya Hangga? Kalau iya, apakah Harum mencintai Hangga? Atau Hangga mencintai Harum? Atau justru keduanya saling mencintai? Mendadak ia jadi seperti ibu-ibu yang kepo.
Tetapi, bagaimana pun itu. Arya bersumpah, Hangga adalah pria yang paling beruntung. Statusnya sebagai jomblo merasa ternistakan.
Arya menekan bel rumah dua kali. Tidak menunggu lama, pintu dibuka oleh Bi Jenah. ART Hangga itu kemudian mempersilakan Arya untuk duduk setelah sang tamu menjelaskan tujuan kedatangannya.
Kemudian Bi Jenah pergi menemui Nata yang masih berada di kamar Harum. Istri kedua Hangga itu sedang memoles wajah Harum dengan hiasan make up tipis.
Meskipun make up-nya tipis, Harum yang tidak biasa berdandan tetap merasa penampilannya terlalu “wah”. Sesungguhnya Harum tidak nyaman, tetapi mau menolak pun sungkan.
“Rum, itu tamunya udah datang. Kamu tolong temani dulu ya, nanti aku nyusul,” kata Nata setelah mendapat informasi dari Bi Jenah.
Tanpa menunggu jawaban Harum, Nata segera menggiring Harum menuju ruang tamu.
Harum terkejut begitu melihat sosok pria yang memakai kemeja rapi tengah duduk di sofa. “Arya? Mau ngapain ke sini?"
*
Harum menatap menu mewah yang tersaji di hadapannya dengan pikiran tidak menentu. Ia dibuat terkejut sekaligus bingung karena kedatangan Arya ke kediamannya.
Semula Harum mengira, kedatangan Arya adalah karena ada keperluan dengan Hangga atau Nata. Kan Arya teman mereka. Meskipun kini telah menjadi temannya juga. Tetapi yang terjadi, malah kini ia ditinggal berdua bersama Arya di sebuah restoran dengan suasana romantis yang terletak di sebuah hotel bintang lima.
“Dimakan makanannya, Rum. Kalau sudah dingin ndak enak loh,” ujar Arya menatap raut gelisah Harum.
“Kita tunggu Mbak Nata dan Mas Hangga dulu,” sahut Harum.
__ADS_1
Sudah lebih dari tiga puluh menit, Nata yang izin ke toilet bersama Hangga belum kembali juga.
“Mungkin mereka ndak balik lagi ke sini.”
“Kenapa? Memang mereka ke mana?” tanya Harum dengan kening mengerut.
“Aku ndak tahu, Rum.”
“Dari mana Mas Arya tahu kalau mereka enggak balik lagi ke sini?”
“Minuman di meja itu hanya dipesan untuk dua orang. Makanannya juga terlalu sedikit kalau untuk dinikmati empat orang,” jawab Arya sembari menunjuk hidangan di atas meja yang berbalut kain putih.
“Kenapa mereka meninggalkan kita berdua begini?”
Arya mengedikkan bahu.
“Mas Arya pasti tahu sesuatu, ya ‘kan?”
Arya terdiam sejenak menatap perempuan yang diam-diam telah mempesonanya.
Harum terkesiap sesaat. Tidak menyangka Arya telah mengetahui faktanya.
Harum kemudian menundukkan kepala. Ada sedikit rasa malu yang menghinggap di jiwa mengingat Arya yang notabene adalah teman suami dan madunya, pasti mengetahui bagaimana besarnya cinta antara Hangga dan Nata.
Apakah Arya akan menganggap dirinya orang ketiga, pelakor atau apa lah?
“Tadi sore aku ketemu Nata. Lebih tepatnya Nata yang mengajak ketemuan.” Arya mulai bercerita.
Pantas saja tadi sore Mas Hangga menemuiku di kedai dan sempat-sempatnya memadu cinta. Rupanya karena Mbak Nata lagi ketemuan sama Mas Arya. Batin Harum.
“Mbak Nata cerita apa?” tanya Harum.
“Nata itu orangnya baik. Aku kenal banget dia. Cuma kalau urusan Hangga, dari dulu dia memang posesif akut. Waktu zaman kuliah dulu, beberapa kali dia pernah ngelabrak teman cewek, entah karena cewek-cewek itu yang genit atau Natanya aja yang cemburuan. Yang jelas Nata itu sangat mencintai Hangga.”
__ADS_1
Harum menunduk lagi. Hatinya terasa tercubit. Ia pun tahu betapa besarnya cinta Nata pada Hangga. Bahkan wanita cantik itu sampai rela meninggalkan keyakinan dan keluarga demi cintanya pada Hangga.
Setali tiga uang, Hangga pun sangat mencintai Nata. Bahkan pria pujaan Harum itu tidak mau menyentuh dirinya di awal-awal pernikahan demi menjaga rasa cinta pada Nata.
Mereka pasangan yang sangat serasi dan saling mencinta.
Jika begitu keadaannya, lalu apakah Harum adalah pantas dijuluki orang ketiga.
“Apa kamu mencintai Hangga, Rum?” Arya memberanikan diri bertanya. Hal inilah yang membuatnya penasaran dan memutuskan untuk menerima undangan makan malam bersama.
Arya kira, mereka berempat akan duduk dalam satu meja makan. Dengan begitu, nantinya ia berharap bisa menerka-nerka ‘apakah ada cinta’ dari gestur yang ditunjukkan oleh Harum maupun Hangga.
Akan tetapi, yang terjadi kini, malah ia ditinggal makan malam berdua dengan Harum. Di restoran yang super romantis pula. Beruntung Arya bisa mengendalikan dirinya dan tidak terbawa suasana. Karena berdua di tempat romantis bersama orang yang disukai membuatnya ingin melamar atau minimal “nembak”.
Sayang, Harum adalah istri orang.
Arya yakin, semua ini adalah rencana Nata. Rupanya Nata sungguh-sungguh ingin mendekatkan dirinya dengan Harum.
“Kalau saya juga mencintai Mas Hangga, apa itu salah?” lontar Harum.
“Tentu saja ndak. Lah wong kamu istrinya. Istri itu wajib mencintai suami ya toh.”
“Saya bahkan sudah mencintai Mas Hangga sejak dulu.”
“Dan Hangga, apakah dia mencintai kamu, Rum?”
Harum bergeming. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya. Seingatnya, Hangga hanya pernah mengatakan mulai mencintainya. Tetapi, belum pernah mengatakan secara gamblang seperti yang sering diucapkannya pada Nata.
Tiba-tiba alunan kata cinta antara Nata dan Hangga yang sering tidak sengaja didengarnya, terngiang di telinga.
I love you.
Love you too.
__ADS_1
Aku mencintaimu, Nata. Sangat-sangat mencintaimu.
Harum seketika tersadar bahwa Hangga belum pernah mengatakan kalimat manis itu kepadanya.