Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 69


__ADS_3

Harum menyisir rambut panjangnya yang indah di depan cermin. Matanya melirik jilbab yang tergeletak di atas meja rias. Gerakan menyisirnya melambat seperti tengah memikirkan sesuatu.


Selama ini, Harum selalu menutup aurat sempurna meski di dalam rumah. Hal itu dikarenakan sikap Hangga yang belum menerima diri Harum sepenuhnya.


Namun kini, Hangga telah menerima dirinya. Bukan saja menerima, bahkan lelaki idaman Harum sejak kecil itu telah melihat penampakan seluruh auratnya serta telah menikmati jejak manis setiap jengkal tubuhnya.


Ia berpikir bahwa tidak perlu lagi merasa sungkan untuk membuka jilbab di rumah. Toh, di rumah tidak ada laki-laki lain kecuali Hangga, suaminya.


Selesai menyisir, Harum mengembalikan jilbab yang tergeletak di meja rias itu ke dalam lemari. Kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


“Harum.” Nata yang sudah mengenakan pakaian kerja rapi terkesiap saat melihat penampilan Harum yang tidak seperti biasanya. Rambut hitam indah milik Harum dibiarkan tergerai, tidak lagi tertutup jilbab.


“Pagi, Kak Nata. Yuk, sarapan!” seru Harum yang tengah sibuk menata segala kebutuhan untuk aktivitas sarapan pagi ini.


“Oh, iya. Aku tunggu Hangga dulu,” sahut Nata sembari mengambil posisi duduk di kursi ruang makan.


Tidak sampai lima menit, Hangga datang ke meja makan. Pria beruntung karena memiliki dua istri yang cantik-cantik itu juga terkesiap sekejap saat melihat Harum.


Harum yang memakai long dress warna coklat susu dengan aksen tali di pinggang tampak sangat cantik dan anggun. Ditambah rambut hitam yang tergerai, semakin membuat wajahnya semakin cerah bersinar.


Nata berdehem saat memergoki Hangga tengah menatap Harum dan belum juga mengambil posisi duduk.


Hangga yang menyadari deheman Nata, lekas mengambil posisi duduk di tempat biasanya, yaitu samping Nata.


“A-ayo, kita sarapan!” ajak Hangga dengan gestur kikuk.


Setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Harum. Utamanya soal keintiman yang telah dilakukannya bersama Harum, Hangga seperti tidak nyaman berhadapan dengan kedua istrinya berbarengan seperti saat ini.


Hangga maunya berhadapan dengan Nata saja. Hanya dia dan Nata. Tanpa Harum.


Atau


Hangga inginnya berdua dengan Harum saja. Hanya dia dan Harum. Tanpa Nata.


“Nanti hari Minggu depan, kita jalan-jalan yuk, Yang,” kata Nata di sela aktivitas sarapannya.


Hangga yang hari ini memakai kemeja warna putih mengangguk setuju. “Ayo!”


Nata mengalihkan pandangannya pada Harum. “Kamu juga ikut ya, Rum.”


“Kalau hari Minggu sepertinya saya enggak bisa ikut, Kak,” sahut Harum.


“Kenapa?”


“Hari Minggu nanti ada acara gathering. Saya mau ikut acara tahunan itu sama teman-teman karyawan yang lain.”


“Oya? Di kedai ada acara gathering juga?”

__ADS_1


“Iya. Setahun sekali Ibu mengadakan acara gathering supaya karyawan relaks dan lebih semangat bekerja lagi. Biasanya tempatnya enggak jauh-jauh, masih sekitaran Banten atau paling jauh juga ke Jakarta. Tahun kemarin kami ke Ragunan,” tutur Harum. Matanya sekilas melirik Hangga.


Memori tentang Ragunan membuat tenggorokan Hangga agak seret. Ia punya “dosa” kepada Harum.


Hangga masih ingat, setahun yang lalu, ia “dipaksa” ikut ke acara gathering tersebut. Bu Mirna yang sudah lama ingin menjodohkannya dengan Harum, menyuruh Hangga untuk mendampingi Harum sekaligus pedekate di acara tahunan tersebut.


Hangga ingin menolak, tetapi tidak mampu. Akhirnya dengan setengah hati, ia menuruti kemauan ibundanya.


Hangga yang sama sekali tidak berminat mengikuti acara tersebut, tidak sepenuhnya mendampingi Harum. Ia sama sekali mengabaikan Harum. Akibatnya saat waktu pulang tiba, Harum tidak ditemukan dalam rombongan.


Harum tersesat dan Hangga kena omel ibunya. Saat lewat petang, baru Hangga bisa menemukan Harum. Dan reaksi pertamanya saat bertemu Harum adalah mengomelinya.


Omelan Hangga bukan karena lelah mencari, tetapi sebagai pelampiasan rasa kesalnya sebab sejak saat itu Hangga memahami bahwa orangtuanya ingin menjodohkannya dengan Harum. Padahal ia sendiri telah menjalin hubungan dengan Nata.


“Terus Minggu nanti mau ke mana?” tanya Nata.


“Ke Pantai Anyer.”


“Terus kamu mau ikut, Rum?”


“Maunya sih ikut. Insyaallah, semoga tidak ada halangan.”


“Kita ikut juga yuk, Mas.”


“Hah?” Hangga yang tengah melamun jadi kurang fokus.


“Kita ikut ke Ayer hari Minggu nanti.”


*


Dan hari Minggu pun tiba.


Mobil bus kecil menampung seluruh karyawan kedai dari tiga cabang, yaitu Tangerang, Serang dan Cilegon.


Titik awal keberangkatan adalah dari kedai cabang Tangerang. Selanjutnya bus akan berhenti sejenak di Kota Serang dan Cilegon untuk mengangkut para karyawan kedai cabang tersebut, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Anyer.


Harum tidak ikut rombongan. Ia naik mobil SUV, tentu saja bersama suami dan madunya.


Harum mendadak menyesal tidak ikut bersama rombongan. Pasti akan lebih menyenangkan jika perjalanan yang lumayan jauh (menurut perhitungan Harum yang belum pernah merasakan berpergian lebih jauh dari Jakarta-Cilegon) itu dilalui bersama teman-temannya yang sudah pasti akan dipenuhi canda tawa.


Bukan perjalanan penuh atmosfer kecanggungan yang dirasakannya kini. Harum bisa melihat, gestur Hangga yang merasa tidak nyaman. Meski kacamata hitam bertengger di hidung mancung Hangga, tetap saja tidak menutupi risau dan resahnya.


Betul seperti dugaan Harum, Hangga yang memakai kaus oblong warna putih dan celana pendek hitam itu memang tidak nyaman. Sejujurnya Hangga ingin menolak kemauan Nata ini, tetapi apa daya jika Nata sudah punya mau.


Dulu Hangga tidak peduli dengan keadaan duduk bertiga dalam mobil seperti ini. Ia akan mengobrol santai dengan Nata tanpa memedulikan Harum.


Tapi itu dulu. Saat ia belum memiliki benih-benih rasa cinta pada Harum, serta belum pernah terlibat keintiman bersama istri pertamanya itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Harum merasa Nata sedikit mengabaikannya. Tidak sekalipun mengajaknya mengobrol seperti biasanya.


Perjalanan yang terasa sangat lama bagi Harum dan didominasi oleh celotehan Nata itu akhirnya sampai juga ke Pantai Sambolo Anyer.


Kening Harum mengernyit ketika mobil Hangga masuk ke dalam kawasan pantai Sambolo. Padahal sepengetahuan Harum tujuan gathering adalah ke Pantai Carita Anyer. Harum ingin menanyakan hal tersebut kepada Hangga, tetapi enggan.


Sudahlah. Lagi pula jika bergabung bersama rombongan, Harum tidak siap jika keberadaan Nata akan menimbulkan pertanyaan dari teman-temannya. Sebab hanya Nina yang mengetahui soal rumah tangganya. Hanya Nina yang mengetahui jika ia telah dimadu oleh putra sang pemilik kedai.


“Kenapa kita ke sini, Yang? Kok enggak ikut rombongan?” Pertanyaan itu malah keluar dari bibir Nata.


“Kalau Carita masih jauh banget. Tanganku pegel dan kesemutan, Yang,” sahut Hangga. Padahal, ia sengaja menghindar dari rombongan untuk menjaga perasaan Harum.


“Ooooh.” Nata ber-oh panjang.


“Aku enggak ikut ke laut ya. Nunggu di mobil aja,” ujar Hangga.


“Ih, enggak asyik!” Nata mencebik. Lalu menarik tangan Hangga. “Ayo, kita berenang!”


Nata yang memakai hotpants warna hitam dan t shirt warna putih berlari-lari kecil seraya menarik tangan Hangga menuju hamparan laut yang membiru.


Sementara Harum memilih untuk duduk di gazebo yang menghadap ke laut. Menyaksikan dua sejoli yang bermain air laut dengan riang.


Ia bersyukur hatinya baik-baik saja menyaksikan keromantisan suami dan madunya. Meski ada sedikit rasa sesal yang timbul, kenapa tadi tidak ikut rombongan teman-temannya saja. Agar ia tidak kesunyian seperti ini.


“Neng Harum.” Harum yang tengah menatap deburan ombak yang menggulung menoleh pada seseorang yang memanggilnya.


“Eh, ketemu Mama Ninis di sini,” sahut Harum. Ternyata yang menyapa barusan adalah tetangganya.


“Sama siapa, Neng? Sama Mas Hangga ya?”


Harum mengangguk.


“Mas Hangganya mana?”


“Emm, ke mana ya?” Harum mengedarkan pandangannya pura-pura mencari Hangga.


Padahal suaminya itu masih jelas terlihat olehnya tengah bermain air laut bersama Nata sembari tertawa-tawa pula, beberapa meter dari tempatnya duduk.


“Ya sudah, Neng. Saya tinggal ya, mau ke Ninis dulu. Ninis nungguin tuh di sana,” kata perempuan yang bertubuh gemuk khas ibu-ibu.


“Saya ikut, Mama Ninis.” Harum yang mengenakan kaus tunik dan celana berbahan spandex berlari kecil mengikuti tetangganya itu.


Sementara itu beberapa meter dari gazebo beratap blarak kelapa, Hangga yang tengah berfoto selfi penuh kemesraan bersama Nata, pandangannya sedari tadi memperhatikan Harum.


Sungguh hati Hangga berdenyut resah melihat Harum duduk sendiri. Kalau bisa, ia ingin menarik Harum untuk ikut bergabung bersama dirinya dan Nata.


Akan tetapi, hari ini Nata sedang sensitif dan uring-uringan gara-gara panggilan “Mas” yang disematkan sendiri olehnya saat berbicara dengan Harum.

__ADS_1


“Rum, nanti kamu enggak usah ikut rombongan. Kamu ikut mobil mas aja.” Begitu ucapan Hangga pada Harum yang membuat Nata meradang.


“Aku perhatikan kalau bicara sama Harum, kamu sekarang berMas-Mas terus ya,” kata Nata dengan wajah ditekuk dan tangan terlipat di dada.


__ADS_2