
Roda empat yang membawa tiga orang itu sampai di kota yang berjuluk Kota Baja saat azan isya berkumandang. Hangga mengantarkan Nina terlebih dahulu ke kediamannya. Baru kemudian ia membawa Harum ke rumah tujuannya.
Kening Harum berkerut bingung sebab mobil Hangga tidak berbelok ke jalan perkampungan tempat tinggalnya. Ingin bertanya, tetapi malas untuk berbicara dengan Hangga. Akhirnya ia memilih untuk diam saja sembari memandang pemandangan sekitar sepanjang perjalanan. Mengikuti saja ke mana Hangga akan membawanya. Mungkin Hangga kelaparan dan ingin mengajaknya makan malam bersama di restoran atau tempat makan romantis.
Hufht
Harum menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecut sebab menyadari pikirannya yang begitu naif.
Seharusnya ia sadar dari dulu bahwa tidak mungkin mendapatkan hati dan cinta Hangga.
Semestinya pada dini hari itu, ia bisa membentengi hati dari “sentuhan” Hangga. Sehingga nantinya, meskipun “hal itu” akhirnya terjadi, hatinya tidak terlalu percaya diri dengan membuat kesimpulan bahwa Hangga melakukannya atas dasar cinta.
“Kenapa berhenti di sini? Rumah siapa ini?” lontar Harum saat Hangga memarkirkan mobilnya di depan rumah mungil di suatu kompleks perumahan.
“Memangnya kamu mau berhenti di mana? Ini pun sama, rumah kamu juga,” sahut Hangga begitu mesin mobil dimatikan.
Sebenarnya yang diinginkan Harum adalah menginap di rumah peninggalan orangtuanya untuk malam ini, baru esok ia akan mengunjungi rumah mertuanya. Tetapi, Hangga malah membawanya ke sebuah rumah yang ia pun tidak tahu milik siapa. Rumah bercat putih gading dengan pilar dicat warna jingga itu tampak gelap gulita.
“Yuk, turun!” ajak Hangga lalu lekas turun dari mobil.
Harum tidak mampu menolak. Biar bagaimanapun Hangga masih berstatus imam yang harus ia ikuti perintahnya. Ia yang duduk di kursi penumpang depan, turun dari mobil, mengikuti titah suaminya.
Saat Harum turun, lampu-lampu di rumah tersebut langsung menyala. Harum tidak melihat bagaimana Hangga menyalakan lampunya. Mungkin dari saklar KWH meter.
“Ayo masuk, Rum,” ajak Hangga yang sudah membuka pintu utama rumah tersebut.
Harum mengangguk patuh.
Hangga yang lebih dulu masuk ke rumah kosong dan tidak berpenghuni itu. Harum berjalan mengekor di belakang Hangga tanpa suara. Saat itulah, ia baru ngeh dengan penampilan Hangga.
__ADS_1
Suami Harum itu memakai kemeja batik warna merah marun lengan pendek dan celana hitam. Pakaian yang sama yang dipakai Hangga saat berangkat kerja pagi tadi. Artinya, Hangga tidak pulang ke rumah dan langsung menemuinya begitu pulang kantor.
Kemeja batik adalah pakaian kantor yang biasa dikenakan Hangga di hari Jumat. Teringat dengan hari Jumat, Harum jadi berpikir apakah Hangga akan menginap atau hanya sekedar mengantarkannya saja.
“Ini rumah Ibu juga,” terang Hangga meskipun Harum tidak menanyakannya.
Harum yang tengah melamun, terkesiap sejenak. Baru di detik keempat dia dapat memahami ucapan Hangga. Bahwa rumah yang disinggahi tersebut adalah rumah milik orangtua Hangga yang pernah ditempati untuk Hangga menginap beberapa hari sebelum pernikahannya.
“Kenapa Mas bawa saya kemari?” tanya Harum.
“Ada yang mau aku bicarakan,” jawab Hangga sembari mengambil posisi duduk di sofa. “Duduk dulu, Rum,” titahnya.
Menuruti perintah suaminya, Harum mengambil posisi duduk di sofa lain. Harum bisa melihat sofa yang diduduki tampak bersih tidak berdebu. Ruangan di sekitar juga terlihat bersih, tidak seperti rumah kosong biasanya. Mungkin mertuanya memang memperkerjakan orang untuk membersihkan rumah tersebut setiap hari.
Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam. Hangga mungkin masih bingung harus memulai bicara dari mana. Terlalu banyak yang ingin dibicarakannya.
Tidak lama kemudian Hangga datang membawa tiga botol minuman dingin. Dua botol adalah minuman teh, sedangkan yang satu botol adalah air mineral.
“Minum dulu, Rum,” ujar Hangga sembari menyodorkan dua botol minuman, sedangkan yang sebotol lagi diletakkan di atas meja. “Mau yang teh apa air mineral?” tawarnya.
“Yang ini aja.” Harum mengambil botol berisi air mineral dari tangan kanan Hangga. “Terima kasih,” ucapnya.
Hangga menanggapinya dengan tersenyum. Senyum Hangga tampak ramah dan tulus. Bukan senyum pura-pura seperti yang ditunjukkan Hangga saat meminang Harum dulu. Atau senyum penuh gairah saat dini hari waktu itu.
“Kamu lapar ‘kan?” tanya Hangga sembari mengambil posisi duduk di tempat semula.
Sekalipun benar perut Harum lapar, tetapi istri pertama Hangga itu memilih untuk menggelengkan kepalanya.
“Masa sih gak lapar? Tangerang-Cilegon jauh loh,” goda Hangga.
__ADS_1
“Sebentar lagi, biasanya ada abang nasgor lewat. Nasgornya enak loh, tapi aku suka sama mi tek-teknya sih.” Baru saja Hangga bicara begitu, terdengar denting suara wajan yang dipukul-pukul. Pertanda penjual nasi goreng lewat. “Tuh abang nasgornya datang,” lanjutnya.
“Yuk, Rum!” Hangga meraih tangan Harum lalu menggenggamnya. Memberi isyarat agar Harum mengikutinya.
Harum tercenung beberapa detik, sebelum akhirnya ia pasrah juga ketika Hangga menggandengnya sampai teras rumah.
“Wah, ada Mas ganteng,” sahut penjual nasi goreng itu ketika Hangga memanggilnya. “Lagi di sini, Mas?”
“Iya, Bang. Baru aja sampai,” jawab Hangga. Kemudian ia ganti bertanya pada Harum “Rum, kamu mau nasi goreng apa mi tek-tek?”
Harum sebenarnya ingin menolak. Lebih baik menahan lapar dari pada harus menerima tawaran suami yang selalu menyakitinya itu. Akan tetapi, Harum yang memiliki rasa empati tinggi justru merasa kasihan pada abang penjual nasi goreng.
Sudah jauh-jauh dorong gerobak, bawa wajan, bawa kompor dan sebagainya kok malah enggak dibeli.
“Apa saja,” sahut Harum akhirnya.
“Kalau nasi gorengnya sih masih juara buatan kamu, Rum. Cobain mi tek-teknya aja ya,” usul Hangga.
“Hmm.” Harum mengangguk saja.
Sebenarnya sejak kejadian subuh itu, Harum tidak berselara makan. Paling makan hanya sekali sehari. Itu pun sedikit, hanya sesuap dua suap. Dan Harum berpesan pada Bi Jenah untuk menjawab “sudah”, setiap Hangga bertanya apakah dirinya sudah makan atau belum.
“Nasi goreng apa mi tek-tek, Mas?” tanya penjual nasi goreng itu.
“Mi tek-tek aja dua ya. Buat saya dan istri saya,” sahut Hangga sembari merangkul pundak Harum.
Harum tergugu karena perlakuan Hangga yang sungguh mengejutkan. Untuk pertama kalinya Hangga mengakui dirinya sebagai istri di depan orang lain. Meskipun itu hanya sebatas kepada penjual nasi goreng.
Sedetik selanjutnya, Harum bukan hanya kaget. Ada desiran halus yang menjalar ke seluruh tubuh manakala tangan Hangga mencubit mesra pipi meronanya sambil berkata, “cantik ‘kan istri saya?”
__ADS_1