Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Extra part 3


__ADS_3

“Stooop! Sayang, mau ngapain?” Hangga yang baru masuk rumah, sepulang dari menunaikan salat Isya di masjid, gegas mengayun langkah lebar menghampiri Harum dengan rasa khawatir.


“Mas Hangga ngagetin aja ih!” Harum yang tadi tengah duduk menonton televisi kemudian berdiri, dibuat terkejut dengan seruan suaminya.


“Maaf, Sayang. Mas takut kamu mau ngapa-ngapain. Jangan ngapa-ngapain ya, Sayang. Biar semua mas yang kerjain. Kamu mau apa, Sayang?"


Harum mengembuskan napas berat. Begini lah kelakuan Hangga kini. Sejak Harum dinyatakan hamil, Hangga memperlakukannya sangat berlebihan. Harum tidak diizinkan untuk melakukan apapun saat Hangga tengah berada di rumah. Semua pekerjaan yang dilakukan Harum, semua diambil oleh Hangga. Cuci baju, cuci piring, nyapu, ngepel, semua dilakukan Hangga.


Semuanya Hangga lakukan karena rasa khawatir yang begitu berlebihan. Hangga takut peristiwa keguguran yang pernah dialami Harum dua tahun yang lalu, terjadi lagi di kehamilan kali ini.


“Saya enggak mau ngapa-ngapain, Mas. Orang saya mau ambil minum.”


“Biar mas saja yang ambilkan minumnya. Istriku yang cantik tunggu di sini ya.” Baru Hangga berkata begitu, terdengar suara cempreng suara putrinya Yuda mengucapkan salam.


“Assalamualaikum, Mami. Assalamualaikum, Papi Hangga,” seru Harum kecil dengan langkah ceria.


Kini Harum kecil sudah bersekolah di sekolah dasar berbasis Islam. Jam sekolah yang lebih panjang, yaitu pagi hingga sore, meringankan tugas Harum sebab tidak melulu Harum yang harus mengantar jemput putrinya Yuda itu. Terkadang Harum kecil berangkat dan pulang sekolah dengan diantar Yuda--sang papi, terkadang juga dengan papi Hangga.


Ah, iya. Sekarang Harum kecil tidak lagi memanggil Hangga dengan sebutan ‘Om’ melainkan ‘Papi Hangga.’ Suami Harum itu protes karena istrinya dipanggil ‘Mami’ sedangkan dirinya dipanggil ‘Om’. Sebutan yang berbeda antara dirinya dan Harum membuat ia merasa seperti ayah tiri.


“Waalaikum salam,” sahut Harum dan Hangga dengan serempak.


“Harum Mahendra, tolong jaga Mami sebentar ya. Papi Hangga mau ambil minum buat Mami dulu,” kata Hangga.


Kedua perempuan bernama Harum itu cekikikan mendengar perkataan Hangga. Lebih tepatnya, mereka selalu terkiki geli setiap Hangga memanggil putrinya Yuda dengan sebutan ‘Harum Mahendra’.


Habis gimana ya, kedua perempuan itu sama-sama bernama ‘Harum’. Jika Hangga memanggil dengan sebutan ‘Harum’ saja, pastilah dua-duanya akan menengok. Sedangkan Hangga tidak mau kalau memanggil gadis kecil itu dengan sebutan ‘Harum Sayang’ atau ‘Harum Cantik’. Karena ‘Harum Sayang’ dan ‘Harum Cantik’ hanyalah julukan untuk istri tercintanya. Titik.


Jadilah kini Hangga memanggil putrinya Yuda dengan sebutan ‘Harum Mahendra’.


Hangga segera beranjak menuju dapur tanpa menunggu jawaban Harum kecil.


Harum hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah suaminya, lalu ia kembali mengambil posisi duduk di sofa depan televisi.

__ADS_1


“Sini, Sayang!” Harum menepuk tempat duduk di sampingnya, memberi ajakan kepada Harum kecil untuk duduk.


“Aku mau ikut Papi Hangga ah.” Tidak mengindahkan ajakan perempuan yang sudah dianggap sebagai maminya sendiri, Harum kecil malah berlari menyusul Hangga.


“Papi Hangga mau ngapain?” tanya Harum kecil berdiri di samping Hangga yang tengah sibuk menuangkan beberapa sendok susu ke dalam gelas.


“Mau bikin susu buat Mami,” jawab Hangga melirik gadis kecil itu sekilas, tanpa menghentikan kegiatannya membuat susu.


“Aku mau dong, aku mau dong,” seru Harum kecil saat susu yang dibuat Hangga telah siap dibawa ke ruang tengah tempat di mana istrinya duduk menonton televisi.


“Enggak boleh, Sayang. Ini susu hamil buat Mami. Harum Mahendra enggak boleh minum ini.”


“Kenapa? Kan susu sehat?”


“Iya, tapi ini susu khusus ibu hamil. Kalau yang enggak hamil enggak boleh minum susu ini.”


“Oh, yang enggak hamil enggak boleh minum susu ini takut nanti jadi hamil ya?” Gadis kecil itu bertanya kritis.


“Tapi, aku mau susu,” rengek Harum kecil manja.


“Oke, papi bikinin susu buat Harum Mahendra. Tunggu ya.” Akhirnya Hangga membuatkan susu untuk putrinya Yuda daripada gadis kecil itu rewel. Beruntung di dalam rak ada stok susu bubuk sachet yang biasa digunakan Harum untuk membuat donat.


“Terima kasih, Papi Hangga.” Harum kecil tersenyum menggemaskan.


“Sama-sama, Sayang.”


Dua gelas susu serta segelas air putih telah siap dan diletakkan dalam baki. Hangga membawa baki tersebut menuju tempatnya Harum duduk, sedangkan Harum kecil mengiringi langkah Hangga di sampingnya.


“Humaira sayang, ini minum dan susunya.” Hangga yang masih mengenakan baju koko dan sarung meletakkan baki di atas meja.


“Kok susu sih, Mas?” Harum meringis menatap gelas berisi susu di atas baki.


“Minum air putih dulu, terus minum susu. Sedikit aja ya, please,” bujuk Hangga. Selama menjalani masa kehamilan ini, istrinya itu sangat susah kalau disuruh minum susu.

__ADS_1


“Iya Humaira sayang, minum susu dulu,” timpal Harum kecil ikut-ikutan, diakhiri dengan cekikikan kecil.


“Nah tuh, dengar kata Harum Mahendra.” Harum tertawa mendengar selorohan Hangga.


Harum yang sudah haus mengambil gelas berisi air putih lalu meneguknya setengah tandas.


“Nah, sekarang minum susu ya, Sayang.” Hangga menyodorkan gelas susu ke depan bibir Harum.


Harum lekas menggelengkan kepalanya.


“Kenapa sih enggak mau minum susu?” tanya Hangga.


“Susu hamil itu enggak enak, Mas. Rasanya kaya ada rasa besi karatan gitu. Saya enggak suka.”


“Masa sih?”


“Coba aja Mas minum, kalau enggak percaya.”


Hangga meminum susu itu sedikit. “Enggak ah, rasanya susu kok,” katanya.


“Baru sedikit, lagi coba,” sahut Harum.


Hangga meminum lagi susu itu hingga menghabiskan setengahnya.


“Astgfiruloh,” pekik Harum kecil sembari menutup mulutnya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Harum.


“Kenapa Papi Hangga minum susu itu?” Harum kecil lekas mengulurkan tangannya menyentuh perut Hangga. “Apa habis ini Papi Hangga juga bakalan hamil?” tanyanya dengan wajah tegang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2