
“Harum udah makan, Bi?” tanya Hangga pada Bi Jenah yang tengah membuat mi instan di dapur.
“Bibi belum lihat Neng Harum keluar kamar,” jawab Bi Jenah.
“Oh, gitu ya,” sahut Hangga mangut-mangut.
Setelah kejadian subuh hari itu, Harum selalu mengurung diri di kamar. Istri pertama Hangga itu hanya keluar kamar untuk hal-hal mendesak saja. Itu pun jika Hangga sudah naik ke kamarnya di lantai dua. Sebisa mungkin Harum selalu menghindar dari bertemu atau berpapasan dengan Hangga.
Harum akan berangkat bekerja saat Hangga dan Nata telah berangkat lebih dulu dan akan pulang ke rumah sebelum Hangga dan Nata pulang lebih dulu.
“Mi-nya udah jadi nih, Mas. Mau saya bawakan ke atas?” tawar Bi Jenah yang baru selesai menuangkan mi yang sudah masak ke dalam mangkok.
“Enggak usah, Bi. Saya saja yang bawa ke atas.”
“Iya deh. Mas Hangga hati-hati ya bawanya,” pesan Bi Jenah sembari meletakkan mangkuk mi ke atas baki.
Dua buah mangkok mi instan yang masih mengepulkan asap panas, lengkap dengan telur, sosis dan sayuran siap dibawa oleh Hangga ke kamarnya di lantai dua.
Sama seperti Harum, semenjak kejadian itu, Nata belum pernah terlihat menyantap sarapan atau makan malam di meja makan. Ia lebih memilih untuk makan di sofa ruang perpustakaan yang terletak di lantai dua, bahkan kadang-kadang di dalam kamar.
“Bi, saya minta tolong, nanti Harum disuruh makan ya,” pinta Hangga sesaat sebelum beranjak meninggalkan dapur.
“Siap, Mas,” sahut Bi Jenah.
Begitulah yang selalu diucapkan Hangga setiap malam kepada Bi Jenah, memastikan Harum untuk makan malam. Bahka kini Hangga jarang duduk di depan televisi, supaya Harum yang sedang menghindari dirinya merasa nyaman. Biasanya saat pagi hari nanti, Hangga akan menanyakan pada Bi Jenah, apakah Harum semalam makan malam atau tidak.
Hangga menikmati makan malam tidak sehatnya bersama Nata. Mi instan yang masih mengepulkan asap itu disantap pelan.
__ADS_1
Lima hari setelah kejadian Nata memergoki dirinya keluar dari kamar Harum, sikap Nata sudah lumayan membaik dan bersikap normal seperti biasanya, meskipun kadang-kadang masih suka mengungkit.
Perempuan ‘kan memang hobi mengungkit. Apalagi mengungkit hal yang membuatnya terluka. Kalau sudah begitu, perempuan akan menyudutkan pasangannya sampai mentok. Dan para pria biasanya lebih memilih diam. Ogah beradu argumen sebab pasti tidak akan ada ujungnya.
Jangan berpikir setelah kejadian itu sikap Nata baik-baik saja. Selama empat hari Hangga terpaksa harus manyun dan gigit jari karena sikap tidak acuh Nata.
Dering ponsel berbunyi saat pasangan itu masih menikmati mi instan.
“Siapa?” tanya Nata melirik Hangga yang sudah meraih ponsel dan meletakkan mangkuknya.
“Dari ibu.”
“Oh.”
“Aku jawab telepon ibu dulu ya,” ujar Hangga.
“Assalamualikum, Bu,” sapa Hangga setelah mengusap ikon gambar telepon di layar ponsel.
Beberapa saat kemudian, Hangga yang tengah duduk di dekat Nata berdiri lalu melangkah menjauhi Nata agar lebih leluasa mengobrol bersama sang ibunda.
“Nat, aku ke sana dulu ya,” pamit Hangga melalui isyarat tangan. Nata menjawab dengan anggukan kepala.
Dari tempatnya duduk, Nata memperhatikan Hangga. Ia melihat wajah tampan Hangga mengerut saat berbincang dengan sang ibunda.
“Lama banget sih teleponnya,” keluh Nata dengan bergumam pelan.
Sudah lebih lima belas menit panggilan telepon itu berlangsung, namun belum berakhir juga. Nata bahkan telah menghabiskan semangkuk mi instan. Sementara mi instan punya Hangga baru dimakan beberapa sendok saja. Tertunda karena ada panggilan telepon.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Nata setelah panggilan telepon sang mertua kepada Hangga selama hampir setengah jam itu berakhir.
“Libur nanti, ibu nyuruh aku pulang,” terang Hangga.
“Aku ikut,” sahut Nata cepat.
“Sebaiknya enggak usah ya, Nat. Lain kali saja ikutnya.”
“Kenapa?” lontar Nata yang sepertinya tidak menyukai jawaban Hangga.
“Ibu mau aku datang sama Harum saja.”
“Kenapa Hangga? Aku juga istri kamu loh!”
“Iya, Sayang. Aku juga maunya bawa kamu ikut, tetapi ini kan keputusan ibu.”
“Memangnya ada apa sih kok aku enggak boleh ikut?”
“Aku juga enggak tahu, Nat. Ibu cuma nyuruh aku pulang sama Harum.”
“Ibu kamu itu enggak dulu enggak sekarang sama aja. Memang dasar ibu kamu enggak suka sama aku!”
“Sabar, Nat. Aku nanti bilang sama ibu agar lain kali kamu bisa ikut,” ujar Hangga mengelus pelan lengan Nata. Berusaha untuk menenangkan Nata.
Sementara hati Hangga sendiri tidak tenang sebab obrolannya bersama sang ibunda lewat telepon tadi.
“Harum tadi telepon ibu. Harum bilang, lusa dia mau pulang. Ibu tanya apa pulangnya sama kamu, dia jawab mau pulang sendiri. Memangnya kalian ada apa?”
__ADS_1