
Nata asyik mengobrol bersama Hangga lewat ponselnya. Ternyata Hangga bukan melakukan panggilan suara, melainkan panggilan video. Sementara Harum masih setia memeluk guling dan mau tidak mau, telinganya menguping pembicaraan suami dan madunya itu.
Obrolan mesra dan manja layaknya sepasang manusia yang saling mencinta.
Jangan bertanya bagaimana perasaan Harum, tentu saja sedih dan terasa nyeri.
Ah, sudahlah. Bukankah dua hari ini sikap Hangga lebih baik kepadanya. Itu jauh lebih dari cukup, dan patut disyukuri.
Harum menghela napas panjang, menghirup oksigen banyak-banyak demi mengurai sesak di dada.
“Kamu enggak pernah ngajak aku ke Bali. Padahal aku ingin banget ke sana.” Nata terdiam sejenak sembari memanyunkan bibirnya. “Yang, kapan ya kita bisa ke Bali?” lontar Nata manja.
“Nanti kalau aku udah bisa ambil cuti, kita ke sana ya,” sahut Hangga.
Nata memang pernah mengajak Hangga untuk liburan ke Bali sejak saat masih pacaran dulu. Namun, hingga saat ini, Hangga belum dapat mewujudkannya
“Bener nih?”
“Iya.” Hangga tersenyum. Tentu senyuman Hangga membuat dirinya semakin tampan saja.
“Oh iya, Yang. Aku lagi di kamar Harum loh,” kata Nata sembari memandangi ponselnya yang tentu saja ada sosok Hangga dalam mode virtual di sana.
“Di kamar Harum? Lagi apa?”
“Ngobrol lah. Habisnya sepi, kamu enggak ada.”
Hangga ber ‘oh’ panjang lalu diam beberapa saat.
“Jangan malam-malam tidurnya,” ujar Hangga akhirnya. Tiba-tiba saja, ia kehilangan topik obrolan. Mengetahui Nata tengah bersama Harum, membuatnya tidak leluasa bicara seperti di awal.
__ADS_1
“Aku kayaknya enggak bisa tidur deh kalau enggak ada temannya,” keluh Nata.
“Aku mau tidur sama Harum aja deh. Enggak apa-apa ‘kan?” sambungnya.
“Iya, terserah kamu,” sahut Hangga.
Nata melirik Harum yang tengah menunduk memainkan bantal di pangkuannya. “Rum, boleh ya?”
“Ya, kenapa?” Sepertinya Harum tidak menyimak ucapan Nata.
“Aku tidur di sini bareng kamu ya. Boleh ‘kan?”
“Tentu boleh, Kak,” sahut Harum sembari tersenyum.
“Rum, sini.” Nata menepuk kasur di sampingnya, memerintahkan Harum agar mendekat kepadanya.
Harum menggelengkan kepalanya menolak ajakan Nata.
Tidak enak menolak ajakan Nata, akhirnya Harum menuruti kemauan Nata untuk duduk di sampingnya. Tetapi sebelumnya, ia mengambil jilbab instan yang tergantung di kapstok dan segera memakainya.
Panggilan video masih terus berlangsung untuk beberapa saat. Tentu saja hanya ada obrolan antara Nata dan Hangga. Sedangkan Harum hanya diam duduk di samping Nata.
Menatap bayangan virtual Hangga di layar ponsel saja, Harum tidak berani, bagaimana mau mengobrol.
Tidak lama kemudian, Hangga mengakhiri panggilan videonya dengan alasan tubuhnya lelah dan ingin segera tidur.
“Daaah, love you,” ucap Nata sembari berdadah-dadah menatap layar ponselnya.
“Yang, I love you,” ulang Nata karena Hangga tidak menyahut.
__ADS_1
Hangga ragu untuk membalas ucapan cinta dari Nata sebab keberadaan Harum yang tengah bersama Nata. Akhirnya, Hangga memutuskan saja panggilan video tersebut. Sepertinya itu langkah terbaik.
“Ye, malah diputus,” ucap Nata kesal.
Nata hendak melakukan panggilan video lagi kepada Hangga, namun urung sebab Hangga lebih dulu mengirim pesan kepadanya.
[Maaf, Sayang. Sinyal lemot]
[Love U too]
[Met bobo, Sayang. Mimpi yang indah ya]
Nata tersenyum membaca pesan tersebut, namun ia memilih untuk tidak membalas pesan Hangga
“Rum, memangnya kamu enggak pernah buka jilbab di depan Hangga?” tanya Nata usai memutus panggilan video dengan Hangga.
Harum menjawab dengan menggelengkan kepala.
Seandainya saja Mas Hangga melihat penampilan kamu yang seperti ini. Aku enggak yakin, Mas Hangga enggak jatuh cinta sama kamu, Rum. Nata membatin dalam hati.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Triple up nih