
"Ngapain lu di sini!” hardik Hangga sembari menarik kerah jaket Arya.
Arya terjingkat kaget melihat Hangga yang tiba-tiba muncul dan menarik kerah jaketnya.
"Apa-apaan sih lu. Lepas!” balas Arya.
Melirik Harum sekejap, Hangga kemudian melepaskan cekalan tangannya dari kerah jaket Arya.
“Kamu tunggu di kedai!” titah Hangga pada Harum.
Harum mengangguk patuh kemudian berlalu meninggalkan kedua pria yang saling memandang sengit.
“Jangan berani-berani deketin Harum! Ngerti enggak sih lu!” geram Hangga. “Udah gue bilangin, masih enggak ngerti juga lu!” sungutnya.
“Deketin gimana maksudnya? Aku masih waras. Aku ndak akan deketin perempuan yang udah jadi istri orang,” sahut Arya.
__ADS_1
“Tapi jujur aku kecewa sama kamu, Ga. Sebagai seorang kakak seharusnya kamu lebih peka. Aku aja yang temannya, bahkan teman baru kenal, bisa merasakan kalau dia itu enggak bahagia. Kamu sebagai kakaknya seharusnya bisa lebih peduli, minimal bertanya sama Harum. Apa pernikahan Harum itu baik-baik saja? Apa suaminya memperlakukan Harum dengan baik? Apa Harum bahagia?” tutur Arya.
Kening Hangga mengerut mendengar kata “Kakak”.
Maksud Arya apa? Apa Arya mengira aku adalah kakaknya Harum? Gumam Hangga dalam hati.
Hangga tidak menyangka, Arya masih mengira bahwa ia adalah kakaknya Harum. Padahal, Hangga meyakini ucapan Nata di depan Arya waktu itu, yang mengatakan bahwa Harum adalah adiknya, hanya sebuah candaan.
“Kamu ndak bisa lihat kalau Harum itu kelihatannya selalu sedih? Apa kamu ndak tahu kalau kemarin-kemarin Harum selalu pulang kerja malam dan diantar pulang sama Nina? Memangnya ke mana suaminya? Kok tega banget ngebiarin istrinya pulang kerja malam sendiri,” cerocos Arya.
Hangga jadi teringat kejadian saat memergoki Harum pulang diantar oleh Arya. Ia jadi berpikir, apakah Harum yang meminta Arya mengantarkannya pulang? Atau justru Arya yang menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang?
Kalimat Arya selanjutnya, menjawab pertanyaan di benak Hangga. “Sampai aku aja ndak tega lihatnya. Dan pernah sekali mengantarnya pulang," ungkap Arya.
“Semestinya kamu tegur suami Harum itu, Ga. Istri model Harum itu jangan sampai disakiti!" seru Arya lagi sembari menatap Hangga.
__ADS_1
Hangga terpaku membisu. Kepalanya tertunduk, enggan menatap pria yang beberapa saat lalu duduk bersama istri pertamanya itu. Kalimat Arya benar-benar telah menamparnya.
“Sebaiknya lu enggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang,” sahut Hangga. Nada bicaranya lebih tenang, tidak meledak seperti di awal.
"Aku ndak ikut campur, hanya kasih masukan. Memangnya kamu rela adikmu disia-siakan oleh suaminya."
Hangga berdecak menanggapi ucapan Arya. Pria berambut cepak itu masih juga mengira Hangga adalah kakaknya Harum. Akan tetapi, Hangga sama sekali tidak berminat untuk mengklarifikasi statusnya di depan Arya. Gak penting juga si Arya itu. Batin Hangga.
“Dengarkan kata-kata gue tadi. Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang,” tegas Hangga sekali lagi. Tidak mau berdebat lebih lama dengan Arya, Hangga memilih pergi.
“Bilang sama suami Harum. Kalau enggak bisa membahagiakan Harum, lepasin aja! Masih banyak laki-laki yang mau dan siap untuk membahagiakan dia,” lontar Arya saat Hangga sudah mengayun langkahnya.
“Aku salah satunya!” seru Arya dengan lantang dan sedikit berteriak sebab posisi Hangga yang sudah menjauh.
Hangga yang tengah mengayun langkah bisa mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Arya. Ia memejamkan mata mendengar kalimat yang begitu menohok jantung dan membuat dirinya mengerdil. Detik itu juga ia merasa pria yang paling payah di dunia.
__ADS_1
Akan tetapi, Hangga memilih untuk tidak menanggapi ucapan Arya dan lekas mempercepat langkah menuju kedai yang jaraknya tidak jauh dari taman