Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 58


__ADS_3

Begitu masuk kedai, Hangga melempar pandang pada meja kasir dan tidak menemukan Harum di sana. Kemudian, ia pergi ke ruang petak yang difungsikan sebagai ruang kantor kedai.


Hangga tahu Harum yang bertugas mengurus administrasi pembukuan dan keuangan di kedai orangtuanya.


“Harum mana?” tanya Hangga ketika tidak menemukan Harum di ruang kerjanya.


“Saya eggak lihat Teh Harum. Mungkin di mes sama Teh Nina,” jawab karyawan perempuan yang usianya lebih muda dari Harum.


Hangga pergi ke mes lewat pintu belakang kedai. Ia melihat Harum tengah duduk di kursi rotan depan teras gudang. Ruangan yang dulunya akan digunakan untuk ruang kantor kedai, namun beralih fungsi menjadi gudang itu jaraknya beberapa langkah dari pintu belakang kedai. Terletak di antara kedai dan mes.


“Kamu sering ngobrol sama Arya seperti tadi?” Hangga yang sudah mengambil posisi duduk di kursi rotan di sebelah Harum, bertanya penuh selidik.


“Enggak,” jawab Harum singkat. Ia hanya ingin menjawab, merasa tidak perlu untuk memberikan penjelasan. Lagi pula, bukankah Hangga tidak peduli dan tidak mencintainya. Yang dicintai pria itu hanya Nata, Nata dan Nata.


Hati Harum masih sering berdenyut sakit jika mengingat ucapan Hangga subuh itu. Hangga yang telah membuainya, lalu mereguk manisnya madu gelora bersama, namun kemudian mengatakan kalau yang terjadi adalah ketidaksengajaan dan tanpa cinta.


Memang Harum mengakui bahwa suaminya itu tidak pernah mengucapkan kata cinta secara gamblang kepada dirinya. Akan tetapi, tidak salah rasanya jika Harum mengira apa yang dilakukan Hangga pada dini hari itu adalah sebuah pengekspresian cinta.


Harum bisa melihat ketulusan serta kobar asmara dari sorot mata Hangga saat memadu cinta bersamanya. Bukan sebuah ketidaksengajaan, kekhilafan apalagi kecelakaan.

__ADS_1


“Semalam Ibu telepon, katanya kamu mau pulang,” ujar Hangga to the point. Memang karena hal inilah, ia datang kemari menemui Harum.


Hangga tidak bisa menemui Harum dan menanyakan hal tersebut di rumah sebab khawatir Nata akan salah paham, lalu kembali terjadi keributan.


Semalaman Hangga tidak bisa tidur memikirkan kenapa Harum ingin pulang dan ingin menemui ibunya. Ia berharap Harum tidak berniat menceritakan keributan subuh itu kepada sang ibunda. Ia ingin ayah dan ibunya mengetahui bahwa kehidupan pernikahan poligaminya baik-baik saja.


“Iya,” jawab Harum dengan kepala tertunduk. Tidak berminat menatap laki-laki yang dicintainya itu.


“Mau pulang ke man ... maksud aku, kenapa mau pulang?” Hangga meralat ucapannya segera. Awalnya ia ingin bertanya ‘mau pulang ke mana’ mengingat keadaan Harum kini tidak punya keluarga.


“Saya masih punya rumah kok, Mas," sahut Harum menanggapi ucapan Hangga yang telah diralat.


Betul, ia memang tidak punya siapa-siapa, tetapi ia masih punya rumah peninggalan orangtuanya. Jujur saja, sejak kejadian subuh itu, Harum ingin pulang ke rumahnya yang tidak ada siapa-siapa itu. Ia ingin menumpahkan kekesalan maupun kesedihannya di sana.


Tanpa dunia sedikit pun mengetahui perasaannya.


“Saya juga ingin bicara sama ibu,” ujar Harum lagi.


“Tentang?” tanya Hangga sembari menatap lekat wajah Harum yang duduk di sampingnya. Sementara yang dilihat hanya menunduk dan menunduk.

__ADS_1


Dari tempatnya duduk, Hangga bisa melihat bentuk siluet wajah Harum dari samping yang begitu sempurna. Bulu mata Harum begitu lentik. Hangga tahu itu adalah bulu mata asli tanpa polesan maskara apalagi bulu mata palsu. Hidung bangirnya tampak bagus dan proporsional. Bibirnya kecil dan tipis. Kalau diperhatikan Harum mirip boneka Barbie berhijab. Tentu saja Barbie versi Indonesia.


Hangga jadi teringat momen dini hari beberapa hari yang lalu. Jujur saja, keintimannya bersama Harum masih terus membayangi hari-hari Hangga. Aroma tubuh Harum masih terasa mengharumi raga dan jiwanya.


Potongan adegan keintiman yang menjadi favorit Hangga dan terus berputar di otak adalah ketika Harum dengan wajah malu-malu membalas pelukannya. Juga gestur kikuk Harum saat membalas ciumannya. Tingkah Harum sungguh membuat Hangga gemas.


Hangga yakin itu adalah ciuman pertama bagi Harum. Semua hal intim yang dilakukan dini hari itu adalah hal pertama bagi Harum. Hangga mempercayai itu.


Hangga juga mengakui bahwa Harum sangat cantik. Dan semakin cantik kala paras istri pertamanya itu merona dalam impitannya.


Tiba-tiba Hangga merasa menyesal.


Menyesal karena terlambat menyadari pesona perempuan pilihan ibundanya tersebut.


“Mau bicara sama ibu tentang apa?” ulang Hangga karena Harum tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Harum menarik napas panjang. Perempuan berparas ayu itu seperti tengah mengumpulkan kekuatan sebelum mengangkat wajahnya lalu kini berani menatap Hangga—pria yang beberapa hari ini selalu berusaha dihindarinya.


“Tentang pernikahan kita,” jawab Harum sembari menatap Hangga.

__ADS_1


Hangga baru akan menyahut menanggapi ucapan Harum, tetapi sedetik kemudian bibirnya terbungkam karena ucapan Harum selanjutnya.


“Saya boleh mundur jadi istri Mas Hangga ‘kan? Saya mau kita pisah saja, Mas."


__ADS_2