Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 80


__ADS_3

Harum dibuat tercengang saat mobil SUV putih yang disopiri oleh salah satu karyawan kedai melaju ke arah Tangerang kota. Semula Harum mengira, Hangga akan membawa dirinya liburan ke Pantai Anyer atau di Resort yang pernah dikunjunginya bersama Hangga hampir sebulan yang lalu.


Akan tetapi, di luar dugaan, Hangga malah membawa sopir dan mobil melaju menuju Bandara Soekarno Hatta. Sampai di Bandara, Hangga dan Harum turun lalu Hangga menyuruh sopir untuk pulang membawa mobilnya ke mes kedai.


“Memangnya kita mau ke mana, Mas?” tanya Harum sepeninggal sopir bersama mobilnya.


“Ke mana ya? Ayo tebak.”


“Ish serius, Mas.”


“Kita mau liburan ke Bali. Kamu belum pernah ke Bali kan?”


Harum menggeleng. Jangankan ke Bali, ke Monas saja Harum baru pernah sekali. Itu pun saat kegiatan study tour Sekolah Menengah Pertama.


“Belum pernah naik pesawat kan?”


Harum kembali menggeleng. Jangankan naik pesawat, naik kereta dan kapal laut saja ia belum pernah. Sejak ditinggalkan mama dan papanya, Harum jarang sekali jalan-jalan atau berekreasi.


Kurang dari dua jam, pesawat yang ditumpangi Hangga dan Harum sampai di Bandara Ngurah Rai. Beruntung perjalanan udara yang ditempuh berjalan lancar. Padahal tadi Harum sempat cemas, khawatir mabuk udara. Apalagi ia belum minum antimo dan tidak membawa kantong plastik keresek untuk wadah muntah.


Hangga tertawa keras saat Harum meminta kantong keresek sebelum naik pesawat.


“Insyallah enggak mabuk, Rum. Sini mas balur minyak kayu putih dulu.” Hangga membalur tengkuk dan perut Harum dengan minyak kayu putih sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.


Selama perjalanan, Harum tidak hentinya merapalkan zikir dan doa. Sampai-sampai ia tidak begitu meladeni saat Hangga mengajaknya mengobrol.


“Rum, kenapa diam aja sih?” tegur Hangga saat ucapannya hanya ditanggapi dengan anggukan kepala.


“Saya enggak diam, tapi lagi berdoa. Mas Hangga jangan banyak bicara deh, mending banyakin berdoa. Kalau seandainya pesawatnya jatuh kita bisa mati dalam keadaan husnul khotimah.” Hangga tertawa lagi mendengar ucapan istrinya yang polos itu.


Semua kekhawatiran Harum terbayar dengan rasa bahagianya begitu menginjakkan kaki di Bali.


“Alhamdulilah,” ucap Harum begitu turun dari pesawat.


“Alhamdulilah pesawatnya enggak jatuh ya, Rum?”

__ADS_1


“Iya dan alhamdulilah enggak mabuk." Lagi-lagi Hangga tertawa. Tingkah polos Harum begitu menggemaskan di mata Hangga.


“Ini beneran Bali nih, Mas?” tanya Harum dengan wajah semringah.


“Beneran dong, memang Bali ada kw nya?” Hangga tidak kalah semringah melihat pancaran kebahagiaan di mata istri pertamanya itu.


“Bali, Serang, Cilegon, Tangerang semua warna langitnya sama aja ya, Mas.”


“Hahahaha.” Hangga tergelak dalam tawa mendengar selorohan Harum. “Gemas banget sih,” katanya sembari mencubit pipi Harum.


Kemudian Hangga membawa Harum menuju hotel dengan menaiki taksi. Harum kembali dibuat takjub dengan hotel pilihan Hangga. Suaminya itu memilih hotel dengan akses langsung ke pantai di Kuta.


“Kamu suka enggak sama hotelnya?” tanya Hangga begitu sampai di kamar hotel.


Harum menggangguk. “Suka, Mas. Hotelnya bagus, pemandangannya juga indah,” ujarnya sembari memandangi deburan ombak yang menabuh pantai dari balkon kamar hotel.


“Kalau hotel dekat pantai begini, sensasinya beda. Nanti malam kita tidur dengan backsound deburan ombak. Pokoknya emejing deh,” sahut Hangga.


Harum jadi berpikir, berapa banyak kocek yang harus dikeluarkan Hangga untuk membiayai liburannya ini? Apakah liburan ini menggunakan uang Hangga atau disponsori oleh mertuanya? Mengingat Hangga adalah karyawan biasa yang mempunyai gaji standar. Setahu Harum, gaji Hangga bahkan lebih kecil dari cicilan mobil SUV putih mewah milik suaminya itu.


Bu Mirna adalah seorang pengusaha. Selain usaha kuliner, setahu Harum, ibu mertuanya itu juga memiliki beberapa toko yang dikontrakkan, berhektar-hektar tanah di daerah Mancak dan berpetak-petak sawah di daerah Ciomas. Sementara Pak Hendra—ayah Hangga bekerja di perusahaan BUMN yang bergerak di bidang produksi baja di kota Cilegon dengan jabatan yang cukup tinggi.


Semula Harum merasa heran, mengapa Hangga tidak bekerja saja di perusahaan tempat ayahnya bekerja. Sebagai seorang yang memiliki jabatan tinggi, tentu tidak sulit bagi Pak Hendra untuk memasukkan satu orang putranya untuk bekerja di perusahaan tersebut.


Belakangan Harum mulai mengerti bahwa kemungkinan Nata lah yang menjadi alasan Hangga untuk tidak meminta bekerja di perusahaan tempat ayahnya tersebut. Mungkin Hangga ingin dekat dengan Nata, dan tidak mau bergantung pada orangtuanya yang jelas-jelas menentang hubungannya bersama Nata.


Memikirkan hal tersebut, Harum jadi teringat Nata. Hati Harum yang lembut itu jadi merasa bersalah karena telah membohongi madunya itu. Bagaimana reaksi Nata jika tahu Hangga membohonginya? Bagaimana reaksi Nata jika tahu Hangga mengajaknya liburan di Bali? Sementara Harum tahu betul bahwa liburan di Bali bersama Hangga adalah salah satu mimpi Nata yang belum pernah diwujudkan oleh Hangga.


“Kamu ngajak Harum liburan ke Bali, Hangga? Kenapa Bali? Dari semua tempat di Indonesia ini kenapa Bali? Why? Kamu tahu pergi ke Bali itu impian aku. It’s my dream, not her. My dream, Hangga!”


“Astagfiruloh.” Harum mendesis sembari geleng-geleng kepala kala membayangkan Nata akan memarahi Hangga persis seperti di film yang viral itu.


“Kok ngelamun sih, Hum?” Harum dikejutkan dengan keberadaan Hangga yang sudah memeluknya dari belakang dan mengecup bahu kanannya yang tertutup jilbab.


“Ish geli, Mas.” Harum berusaha melepaskan tangan Hangga yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


Hangga tidak mau kalah, dia membalik tubuh Harum sehingga posisi pasangan suami istri itu kini saling berhadapan dan dalam jarak yang sangat dekat.


“Kamu mau makan dulu atau gimana?” tanya Hangga dengan menatap Harum.


“Terserah Mas Hangga aja,” kata Harum langsung menundukkan pandangannya. Tidak berani menatap sorot mata Hangga yang pastinya berbahaya.


“Kalau terserah, mas pilih makan kamu dulu ah. Udah kangen banget soalnya.” Setelah berkata begitu, Hangga mendekatkan wajahnya bersiap melu mat bibir Harum nan ranum.


“Tunggu, Mas!” cegah Harum sembari memundurkan wajahnya dan mendorong pelan tubuh Hangga. “Kita di sini mau liburan kan?”


“Liburan sekalian bulan madu dong.”


“Tapi, Mas, sa-ya ....”


“Kenapa, Hum?”


“Saya lagi datang bulan, Mas.”


Gubrak


Hangga jatuh pingsan. Harum tidak tahu saja, bahwa rencana ke Bali yang telah disusun matang ini adalah liburan mandiri, tanpa sponsor finansial dari kedua orangtua Hangga.


Suami Harum itu menguras rekening tabungannya yang tidak seberapa demi untuk merajut manisnya lima hari di Bali bersama sang istri pertama.


It’s my dream, Harum. My dream. Batin Hangga.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"Syukurin Hangga!" seru entunizen dengan kompaknya.


__ADS_2