Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 107


__ADS_3

“Saya mau tahu, apa alasan Mas Yuda ingin menikahi saya?” Harum menjeda ucapannya sejenak dan memberanikan diri menatap Yuda sampai ke sorot mata terdalamnya. “Apakah Mas Yuda mencintai saya?”


Yuda yang tengah menatap Harum seketika tertunduk mendapatkan pertanyaan tersebut. Tidak dipungkiri, Yuda memang mengagumi sosok perempuan berjilbab yang cantik dan salihah itu. Akan tetapi, sejauh ini Yuda belum memiliki perasaan istimewa kepada Harum seperti perasaannya pada Ranum dulu. Harum sangat jauh berbeda dengan Ranum. Kalau boleh jujur, menurut penilaian duda keren beranak satu itu, spek Ranum jauh lebih canggih dan berkualitas dibanding Harum.


Kalau pun Yuda memiliki perasaan istimewa kepada Harum, itu adalah perasaan layaknya seorang kakak kepada adik. Harum memang lebih “diistimewakan” dibanding pengasuh-pengasuh putri Yuda sebelumnya.


Angan Yuda kembali mengingat percakapannya bersama sang ibunda.


“Sampai kapan kamu akan sendiri begini, Yuda? Kamu butuh pendamping. Harum juga butuh ibu sambung yang bisa mengurusinya.”


“Kan ada Harum yang mengurusi Harum, Bu. Harum sangat cocok sama Harum. Dia enggak perlu ibu sambung.”


“Sampai kapan, Yuda? Sampai kapan Harum akan terus mengurusi anakmu? Seperti pengasuh-pengasuh sebelumnya, Harum pun suatu hari akan pergi. Kamu enggak pernah berpikir kalau suatu hari Harum ketemu jodohnya lalu pergi dari kita dan tidak bisa lagi mengurusi Harum anakmu.”


“Yuda, ibu kira yang dibutuhkan kamu adalah perempuan yang bisa menyayangi anakmu setulus hati. Yang mau menyayangi dan mengurusi layaknya seorang ibu kepada anaknya. Ibu lihat, Harum begitu menyayangi anakmu. Dia juga tipikal perempuan sederhana yang lembut dan keibuan. Ibu rasa, Harum cocok untuk menjadi ibu sambung Harum.”


“Tapi, Harum terlalu muda untuk jadi pendamping Yuda, Bu.”


“Biar usianya masih muda, tapi dia dewasa dan begitu keibuan. Tapi itu sih terserah kamu. Yang pasti kamu harus siap bila suatu hari Harum minta berhenti jadi pengasuh anakmu.”


“Jangan bicara begitu, Bu. Yuda enggak siap kalau Harum pergi dan tidak lagi mengurusi Harum.”


“Kalau begitu, nikahi Harum, Yuda! Biarkan dia menjadi ibu sambung anakmu.”


Sebelum sang ibunda mencetuskan saran kepadanya agar menikahi Harum, Yuda tidak pernah berpikir sedikit pun untuk melepas masa dudanya. Yuda hanya takut bila suatu saat nanti Harum pergi, dan ia akan kehilangan pengasuh terbaik untuk anaknya.


Harum masih terus menatap Yuda yang tertunduk. Dari riak wajah yang ditampilkan Yuda, Harum dapat menerka isi hati Yuda.


Setelah terdiam beberapa saat, Yuda mengangkat wajahnya menatap Harum. “Begini, Rum. Saya ini bukan anak remaja lagi yang bisa dengan mudahnya merasakan cinta dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Kalau saya bilang cinta, saya khawatir itu adalah kejahatan mulut saya. Kalau saya bilang tidak cinta, nyatanya saya tertarik sama kamu.”


Meskipun perasaannya pada Harum belum mencapai level seperti perasaannya pada Ranum, namun hati Yuda mengakui bahwa Harum adalah perempuan pertama yang membuat hatinya tertarik. Dari sekian banyak wanita yang berusaha mendekatinya dan mendapatkan perhatiannya setelah kepergian sang istri, belum ada satu pun yang membuat hati Yuda tertarik, kecuali Harum.


“Hal itulah yang menjadi dasar keputusan saya untuk melamar kamu. Saya butuh kamu, Rum. Putri saya juga butuh kamu. Menurut saya, cinta saja tidak dapat menjamin sebuah hubungan itu berjalan baik. Cinta juga tidak dapat menjamin pernikahan akan langgeng dan bahagia. Dalam sebuah pernikahan akan banyak hal tidak terduga yang akan dialami pasangan suami istri. Berbagai masalah yang datang dalam pernikahan, tidak akan cukup diselesaikan hanya dengan cinta semata. Saling berkomitmen, saling menghargai, komunikasi yang baik, tanggung jawab, juga kemapanan finansial, semua hal yang saya sebutkan tadi adalah sama pentingnya dalam sebuah pernikahan.”

__ADS_1


“Dan kita bisa memulainya dari sana. Seiring berjalannya waktu, saya yakin kita berdua akan menemukan kebahagiaan. Dan saat kita sudah merasakan bahagia, baru hati kita bisa meyakini bahwa itu adalah CINTA,” tutur Yuda panjang lebar.


Harum terus menyelami sorot mata Yuda selama Yuda berbicara. Dari sorot mata serta penjelasan pria yang berbeda usia amat jauh dengannya, Harum dapat menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya Yuda tidak atau belum mencintainya. Yuda hanya membutuhkan dirinya untuk menjadi ibu sambung buat Harum kecil. Tetapi, jawaban tersebut justru membuat lega hati Harum. Sebab sama seperti Yuda, ia pun belum mempunyai perasaan cinta untuk Yuda.


“Baik, saya mengerti, Mas.” Harum mengangguk paham. Setelahnya ia melepaskan pandangan dari Yuda, berganti memandangi indahnya bunga mawar yang merekah begitu cantiknya.


“Ja-jadi?” lontar Yuda. Dari intonasi bicara, papinya Harum itu tampak resah. Jelas saja resah, sebab ia takut Harum menolak lamarannya.


Tidak, yang ditakutkan Yuda bukan penolakan Harum, melainkan takut jika Harum menolak lamarannya dan memutuskan untuk berhenti menjadi pengasuh putrinya. Ya Tuhan, aku belum siap.


Harum kembali menatap Yuda. Sebelum menjawab, ia menarik napas untuk mengisi udara dalam rongga dada. “Saya menerima lamaran Mas Yuda," putusnya.


*


Hangga baru saja selesai mengelap Nata dan menggantikan pakaiannya. Selama Nata dirawat di rumah sakit, Hangga yang selalu mengerjakan pekerjaan tersebut. Nata pernah menolak agar Hangga tidak melakukannya, tetapi suaminya itu bersikukuh untuk melakukannya.


“Kamu ‘kan istri aku. Sudah kewajiban aku untuk mendampingi kamu selama sakit dan mengurusi semuanya,” kata Hangga saat Nata pernah menolak diurusi olehnya.


“Tapi yang kayak gini kan bisa dikerjakan sama perawat, Hangga. Biar perawat saja nanti yang gantiin baju aku.”


Hati Nata trenyuh mendapatkan perlakuan tersebut dari suami yang sangat dicintainya itu. Nata menyesal atas sikapnya dulu yang sangat egois. Dulu ia begitu marah saat mengetahui Hangga mencintai Harum dan sempat merasa amat tersakiti karena berpikir cinta Hangga padanya telah sirna.


Tetapi kini, Nata baru menyadari bahwa cinta Hangga kepadanya begitu tulus. Meskipun ia meyakini Hangga masih sangat mencintai Harum, tetapi cinta Hangga padanya masih terjaga dan tidak berubah takarannya.


“Aku capek tiduran terus,” keluh Nata usai Hangga menggantikan pakaiannya. “Aku ingin jalan-jalan keluar, Hangga.”


“Ya gak boleh dong, Yang. Kamu kan lagi sakit begini.”


“Tapi, aku jenuh di sini terus.”


Hangga menatap sendu Istrinya. Terkadang, Hangga ingin menangis saat mengingat Nata yang dulu ceria, supel dan selalu semangat bekerja, harus terpenjara di rumah sakit seperti ini karena penyakitnya. Kemudian Hangga mengalihkan pandangannya pada jendela kaca, lalu muncul sebuah ide di kepalanya.


“Enggak usah jalan-jalan keluar, Yang. Aku bantu kamu berdiri di kaca jendela itu aja. Dari jendela itu kamu bisa lihat taman di bawahnya. Mau?” tawar Hangga.

__ADS_1


“Mau.” Nata menyahut antusias.


Ruang perawatan Nata berada di lantai tiga. Dalam satu kamar kelas 1 yang ditempati Nata, terdiri dari tiga tempat tidur pasien. Beruntung Nata mendapatkan posisi tempat tidur paling pojok dekat jendela kaca. Saat Hangga merasa jenuh, ia sering berdiri di dekat jendela kaca memandangi taman rumah sakit yang dipenuhi oleh berbagai macam tanaman hijau dan bunga-bunga.


“Hati-hati, Yang.” Hangga membantu Nata berdiri dan memapah langkah istrinya mendekati jendela. Sebelumnya ia memindahkan kursi yang biasa ia duduki ke dekat jendela untuk mengantisipasi sekiranya Nata tidak kuat berdiri.


“Lihat taman begini aja, aku udah senang,” ucap Nata yang sudah berdiri di dekat kaca jendela dengan dipegangi Hangga. Senyumnya mengembang menatap bunga warna-warni yang merekah indah.


“Kalau capek, duduk di kursi ini, Yang,” sahut Hangga penuh perhatian.


“Begini ya rasanya jadi orang sakit. Hal kecil yang dulu dianggap biasa ketika sehat, jadi luar biasa ketika sakit.” Nata tersenyum miring.


“Iya. Itu sebabnya manusia diharuskan bersyukur.”


Selama beberapa saat, keduanya tenggelam dalam pemandangan taman nan indah di bawahnya. Memandangi taman seperti ini, ternyata menjadi hiburan tersendiri bagi Hangga dan Nata.


“Hangga, lihat deh orang yang duduk di taman itu. Kayak dokter Yuda deh.”


“Yang mana?”


“Tuh yang duduk di bangku dekat taman bunga mawar. Dokter Yuda bukan sih?”


Hangga memperhatikan titik yang ditunjuk Nata. “Kayaknya dokter Yuda sih," sahutnya setelah meyakini dari gestur dan pakaian yang dikenakan, pria yang tengah duduk di bangku taman itu adalah benar dokter Yuda.


“Dia lagi ngobrol sama siapa ya?” lontar Nata masih memperhatikan dua orang yang tengah berbincang di bangku taman.


“Enggak tahu,” sahut Hangga. Pandangannya tidak lepas dari sosok perempuan berjilbab yang tengah berbincang bersama dokter yang menangani penyakit Nata.


Hangga dan Nata, keduanya fokus menatap Yuda dan perempuan berjilbab di sebelah Yuda yang wajahnya tidak begitu jelas terlihat dikarenakan posisi duduknya yang menyamping. Beberapa saat kemudian, Nata menyadari sesuatu. Ia menolehkan wajahnya pada Hangga, bertepatan dengan Hangga yang juga menoleh kepadanya.


“Hangga. Perempuan yang duduk sama dokter Yuda itu mirip Harum ya,” ujar Nata.


Kalimat yang diucapkan Nata tepat sama seperti yang ada di pikiran Hangga.

__ADS_1


“Benar, Nat. Mirip Harum.”


__ADS_2