
Setelah sempat dirawat selama beberapa jam di rumah sakit, Nata belum pernah merasakan sakit lagi di perutnya. Bahkan, sehari setelah keluar dari rumah sakit, Nata tetap bekerja seperti biasanya. Sama dengan kehidupan pernikahannya yang juga berjalan baik seperti biasanya. Ibu mertua yang di mata Nata sangat menyebalkan itu sudah pulang dijemput sang ayah mertua. Hangga tidak lagi membuatnya kesal, dan Harum—istri pertama Hangga yang penurut tidak pernah menuntut.
Nata menyukai Harum yang penurut. Meskipun hatinya terkadang kesal melihat Harum yang begitu sabarnya tetap bertahan dalam hubungan pernikahan yang rumit ini.
Kenapa Harum tidak mundur saja? Kenapa Harum tidak pergi saja dari Hangga lalu mencari laki-laki lain yang bisa mencintainya sepenuh hati? Bukan laki-laki seperti Hangga yang jelas-jelas adalah milikku. Hanya milikku. Begitu yang ada di benak Nata.
Meskipun begitu, hubungannya bersama Harum kembali terjalin baik seperti dulu. Asal Hangga selalu bersamanya, Nata tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Harum.
Seperti malam ini, Nata dan Harum tengah berakrab ria di dapur. Nata meminta diajarkan memasak pada Harum, dan Harum dengan senang hati mengajarkannya.
Menu pertama yang diminta Nata dalam belajar memasak adalah soto bening kesukaan Hangga. Suaminya itu kerap memuji soto buatan Harum setiap kali mereka makan siang bersama dengan menu soto di tempat makan langganannya.
“Lebih enak soto buatan Harum.” Begitu yang sering diucapkan Hangga. Karena hal tersebut, maka Nata minta diajari memasak soto. Kalau ia bisa memasak, Nata yakin Hangga yang memang sangat mencintainya akan tambah dan lebih lebih mencintainya lagi.
“Udah beres, Kak. Sembari menunggu kuah soto mendidih, kita iris bawang lalu digoreng untuk taburan bawang gorengnya,” ujar Harum.
“Aku aja yang iris bawangnya ya,” tawar Nata yang sedari tadi hanya menyimak dan mencatat resep di buku catatannya.
“Boleh.” Harum meletakkan beberapa siung bawang merah bersama pisau dan talenannya. Nata dengan antusias mulai mengupas bawang.
“Kak, bukan begitu cara ngirisnya,” tegur Harum saat melihat Nata bukannya mengiris, malah memotong bawang menjadi empat bagian.
“Salah ya?”
“Begini Kak caranya. Bawangnya disisir begini. Setelah disisir semua, baru nanti kita goreng dan jadilah bawang goreng untuk taburan soto dan masakan lainnya.” Pada akhirnya dari sejak awal memasak hingga matang, Harumlah yang memasak. Sementara Nata yang jarang sekali ke dapur, baru bisa menyaksikan proses memasaknya saja.
Selepas Isya, Hangga bersama kedua istrinya duduk bersiap menyantap makan malam.
“Wah soto, enak nih,” ujar Hangga antusias.
“Iya, dong. Aku yang masak loh, diajari Harum,” sahut Nata.
__ADS_1
“Aku coba ya.” Hangga menyendok kuah soto dalam mangkok di hadapannya lalu mencicipinya. “Wih, ini sih enak. Rasanya udah sama banget dengan soto buatan Harum. Enggak nyangka, kamu berbakat masak juga. Pertama masak langsung enak," puji Hangga.
Ya memang Harum yang masak sih. Aku cuma tim hore aja. Gumam Nata dalam hati.
Sementara Harum tersenyum mendengar ucapan Hangga. Ia selalu bahagia jika Hangga mau memakan masakannya apalagi sampai memuji masakannya.
“Oya, kamu besok jadi dinas ke luar kota?” tanya Nata pada Hangga di sela aktivitas makan mereka.
“Eng.” Hangga melirik Harum yang duduk di hadapannya. “iya, jadi,” sahutnya kemudian setelah berpikir untuk beberapa saat.
Harum yang juga tengah menatap Hangga mengerutkan alis karena gagal memahami arti tatapan Hangga.
“Berapa hari?” tanya Nata lagi.
“Belum tahu. Sekitar tiga hari atau lima hari mungkin.” Hangga terdiam sejenak mengunyah ayam di mulutnya. “Oya, kamu enggak apa-apa kan ditinggal sendiri?”
“Aku di sini sendiri?”
“Berdua sama Bi Jenah.”
“Ibu nyuruh Harum untuk audit kedai cabang Serang dan Cilegon.”
Harum mendelik mendengar penuturan Hangga. Kapan ibu nyuruh aku untuk audit di cabang Serang dan Cilegon? Atau ibu udah bilang sama Nina, tapi Nina lupa bilang ke aku?
“Iya ‘kan, Rum?” lontar Hangga saat Harum tengah membatin.
“Ya, apa?” sahut Harum gelagapan.
Hangga mengedipkan mata dan kakinya menendang pelan kaki Harum di bawah meja. “Ibu udah telepon kan? Dan nyuruh kamu pulang besok?”
“Eng, i-iya,” sahut Harum terpaksa berbohong.
__ADS_1
Keesokan paginya, usai mengantarkan Nata pergi bekerja, Hangga kembali ke rumah menjemput Harum.
“Udah siap, Rum?” lontar Hangga saat menjumpai Harum yang sudah bersiap hendak berangkat ke kedai.
“Sudah, Mas. Semua keperluan Mas selama dinas keluar kota sudah saya siapkan. Kopernya ada di kamar Mas Hangga,” sahut Harum.
Dengan berlari kecil, Hangga gegas naik ke kamarnya lalu membawa turun koper yang sudah disiapkan Harum itu ke lantai satu.
“Loh, kok isinya baju mas semua. Baju kamu mana, Rum?” lontar Hangga saat mengecek isi kopernya.
“Memangnya Maa Hangga mau dinas di mana? Di Serang dan Cilegon juga?” Harum balik bertanya.
“Siapa yang mau dinas, Rum. Kita ini mau liburan.”
“Liburan?” lontar Harum dengan mengernyit bingung.
“Iya.”
“Katanya ibu nyuruh saya untuk audit?”
“Enggak, Harum sayang. Kita mau liburan.”
“Kita?” Alis Harum saling bertaut karena masih bingung.
“Mas mau mengajak kamu liburan. Kamu mau kan liburan sama mas?”
"Terus Kak Nata bagaimana?"
“Rum, tolong kali ini kamu enggak usah mikirin Nata dulu. Untuk sementara, mari kita abaikan Nata.”
“Jadi Mas Hangga berbohong soal dinas keluar kota itu?”
__ADS_1
Hangga mengangguk. “Kalau enggak berbohong begini, kita sulit untuk sekedar menghabiskan waktu berdua.”
Harum tidak mungkin menolak keinginan Hangga sebab Hangga telah merencanakan liburannya dengan sangat matang, meskipun sangat berisiko.