
"Saya menerima lamaran Mas Yuda.”
Yuda menarik napas penuh kelegaan mendengar jawaban Harum. Bibir Yuda melengkungkan senyuman, meskipun tidak lebar.
“Tetapi saya belum mengurus proses perceraian pernikahan saya ke pengadilan," ujar Harum selanjutnya.
“Mantan suami kamu tinggal di mana?” Yuda sudah mendengar kisah rumah tangga Harum secara detail dari ibundanya. Yuda mengetahui bahwa Harum dulu dijodohkan dengan pria yang dicintainya, kemudian dimadu hingga akhirnya diceraikan. Tetapi, Yuda dan Bu Yusma belum mengetahui nama mantan suami Harum dan di mana tempat tinggalnya.
“Di Tangerang.”
“Dekat dong dari sini. Nanti saya akan mengantar kamu untuk mengurus perceraian ke Pengadilan.”
“Tapi, boleh saya minta waktu untuk menguatkan hati saya dulu. Sejujurnya, saya belum siap bertemu dengan mantan suami saya dan ....” Harum ingin menyebut nama Nata, tetapi kemudian diurungkannya.
“Oke. Enggak masalah.” Bagi Yuda, Harum sudah menerima lamarannya saja sudah cukup menenangkan hati. Itu berarti Harum akan tetap bersamanya dan akan terus mengasuh putrinya. Masalah tentang kapan waktu pernikahannya, tidak menjadi masalah buat Yuda.
“Rum, nanti kita makan siang bareng ya. Kalau sudah waktunya pulang sekolah, kamu jemput Harum lalu bawa ke kantin. Saya akan sempatkan waktu supaya kita bisa makan siang bersama. Anggap saja sebagai perayaan atas diterimanya lamaran saya oleh kamu.
“Iya, Mas.” Harum mengangguk.
“Oke. Saya Harus segera kembali. Kasihan pasiennya kalau kelamaan nunggu.” Yuda bangun dari duduknya.
Menatap Harum sejenak, dokter muda itu kemudian melangkah menjauh. Baru beberapa ayun kakinya melangkah, ia kembali berbalik badan. “Rum,” panggilnya.
Harum yang tengah duduk dengan kepala tertunduk, menolehkan kepalanya. “Iya, Mas.”
“Terima kasih. Terima kasih sudah menerima lamaran saya,” ucap Yuda sembari menatap Harum. Harum menjawab dengan anggukan.
Yuda berlalu meninggalkan Harum. Harum memandangi langkah Yuda yang terus menjauh.
“Ya Allah, semoga keputusanku sudah benar,” lirih Harum.
Harum memutuskan untuk menerima lamaran Yuda padahal ia tahu Yuda tidak mencintainya. Akan sangat berdosa rasanya andai Yuda menikahinya karena cinta sementara ia sendiri tidak mencintai Yuda. Begitu yang ada di pikiran Harum.
__ADS_1
Harum menyetujui perkataan Yuda, bahwa cinta bukanlah satu-satunya dasar utama dalam pernikahan. Yuda membutuhkan dirinya untuk merawat Harum, putrinya. Sedangkan ia yang sebatang kara merindukan sebuah keluarga utuh yang bisa mengayominya. Sekaligus salah satu usaha agar bisa move on dari masa lalunya dan melupakan ... Hangga.
*
Sementara di ruang perawatan kelas 1 lantai 3.
“Hangga. Perempuan yang duduk sama dokter Yuda itu mirip Harum ya,” ujar Nata.
Kalimat yang diucapkan Nata tepat sama seperti yang ada di pikiran Hangga. “Benar, Nat. Mirip Harum.”
“Harum bukan sih?” lontar Nata sembari terus memandangi perempuan berjilbab yang tengah mengobrol bersama dokter Yuda. “Ih, kenapa dia menghadap sana terus sih."
“Tapi, masa Harum ada di rumah sakit ini?” sahut Hangga ragu.
“Hangga, mending kamu samperin langsung aja sana biar yakin. Siapa tahu perempuan berjilbab itu memang benar Harum,” cetus Nata.
Hangga mengangguk. “Iya, nanti aku samperin ke sana.”
“Iya. Tapi, kamu kembali ke tempat tidur dulu yuk!” Hangga memapah Nata kembali ke tempat tidurnya.
“Kamu mau nitip apa, Nat? Sekalian aku keluar," kata Hangga usai membaringkan tubuh Nata.
“Ish, cepetan sana, Hangga! Aku enggak mau apa-apa. Aku mau ketemu Harum, itu aja.”
“Aku samperin dulu ke sana ya.”
“Iya, Hangga, cepetan.”
Dengan langkah terburu-buru, Hangga pergi menuju lift. Kotak pengangkut orang itu sedang sibuk bekerja, sehingga Hangga perlu menunggu beberapa menit untuk bisa masuk lift lalu turun ke lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, Hangga mengambil langkah cepat menuju belakang gedung rumah sakit. Saat mencapai pintu belakang gedung rumah sakit, Hangga malah bertubrukan dengan Yuda.
“Ma-maaf, Dok,” ucap Hangga setelah menyadari dirinya menubruk tubuh dokter yang dikenal baik olehnya itu.
“Ya, enggak apa-apa,” sahut Yuda. Dokter bertubuh macho itu cukup terkejut, namun beruntung tubrukan tersebut tidak membuatnya jatuh. “Memangnya Bapak mau ke mana? Kelihatannya buru-buru sekali.”
__ADS_1
“Saya ....” Hangga mengedarkan pandangannya di sekitar Yuda, namun tidak ditemukan perempuan berjilbab yang duduk bersama dokter Yuda tadi.
“Saya mau ke belakang,” ucap Hangga akhirnya. Tidak mungkin ia menanyakan perihal perempuan yang duduk mengobrol bersama dokter Yuda.
“Saya permisi, Dok. Sekali lagi saya mohon maaf," pamit Hangga sebelum melanjutkan langkahnya.
“Iya, enggak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati.”
“Iya, Dok, mari.” Hangga melanjutkan langkahnya menuju taman. Kali ini langkahnya tidak tergesa-gesa seperti tadi.
Sementara Yuda melanjutkan langkah menuju ruangannya.
Sampai di taman, Hangga mengedarkan pandangannya mencari sosok perempuan berjilbab yang diduga Harum. Hangga masih ingat perempuan yang berbincang bersama dokter Yuda di bangku taman tadi memakai kerudung warna hijau mint. Setelah beberapa saat mencari dan tidak menemukan perempuan berjilbab yang diduga Harum, Hangga kembali ke kamar perawatan Nata dengan perasaan kecewa.
“Gimana, Hangga?” Nata bertanya antusias saat Hangga kembali ke kamarnya.
Hangga menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Perempuan itu bukan Harum?” lontar Nata penasaran.
“Bukan. Maksud aku, aku enggak ketemu sama perempuan yang ngobrol sama dokter Yuda tadi.”
Rasa kecewa menyeruak di hati Nata. Padahal tadi istri Hangga itu cukup yakin jika perempuan yang mengobrol bersama dokter Yuda adalah Harum.
“Gimana kalau nanti kita tanya ke dokter Yuda aja,” usul Nata.
“Terus gimana cara kita bertanya sama dokter Yuda?” sahut Hangga.
“Dok, maaf saya mau tanya. Tadi saya lihat dokter ngobrol dengan seorang perempuan di taman belakang. Perempuan itu siapa ya? Aku harus tanya begitu sama dokter Yuda? Ya enggak enak lah, Nat,” ujar Hangga tidak setuju dengan usulan Nata.
“Iya juga sih. Enggak enak kalau tanya begitu,” ucap Nata lirih. Hangga bisa melihat raut kecewa di wajah cantik Nata.
“Mungkin perempuan tadi bukan Harum. Udah ya, kamu enggak usah mikirin masalah tadi. Kata dokter kan kamu enggak boleh banyak pikiran,” kata Hangga sembari membelai rambut Nata, lalu mendaratkan kecupan di rambut sebahu yang kini telah rontok dan tidak seindah dahulu.
__ADS_1