
Bu Mirna belum bisa melupakan peristiwa enam belas tahun lalu yang membuatnya syok dan dikejar rasa berdosa hingga kini. Saat itu ia yang tengah belajar mengemudikan mobil bersama sang suami dikejutkan dengan sepasang suami istri yang hendak menyeberang jalan. Karena panik, bukannya menginjak rem, ia malah menginjak pedal gas yang akhirnya menyebabkan sepasang suami istri tersebut tertabrak hingga meninggal dunia.
“To-long jaga anak saya. Na-ma-nya Ha-rum.” Bu Mirna masih ingat kalimat terbata-bata yang diucapkan ibu muda yang kemungkinan usianya sebaya dengannya kala itu. Pesan terakhir yang disampaikan sebelum akhirnya ibu muda itu menghembuskan napas terakhirnya.
Karena rasa bersalah dan juga rasa tanggung jawabnya, Bu Mirna sampai rela membangun rumah di kampung tempat tinggal Harum dengan tujuan agar lebih dekat dan dapat memantau kehidupan Harum. Bu Mirna tidak tega jika harus mengajak Harum tinggal bersamanya sebab Harum adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki neneknya Harum.
“Bu, melamun?” Tepukan di bahu membuyarkan lamunan Bu Mirna tentang masa kelamnya. Ia yang tengah duduk di meja dapur menoleh ke belakang dan mendapati putra semata wayangnya tengah tersenyum lebar.
“Ngagetin aja kamu, Ga!”
“Habis dari tadi ditanya diem aja enggak dijawab.” Hangga menarik kursi dan duduk di samping ibundanya yang tengah mengupas mangga muda.
“Tanya apa memangnya?”
“Ibu lagi ngapain?”
“Ibu lagi buat asinan mangga buat Harum.”
“Subuh begini buat asinan, Bu?”
"Istrimu itu suka banget sama asinan mangga. Ibu bikin subuh, tapi kan dimakannya nanti.”
“Ibu kayaknya tahu banget tentang Harum. Ibu sayang banget sama Harum ya?”
“Iya, begitulah. Dan kamu juga harus menyayangi Harum, Ga. Jangan pernah sekalipun kamu menyakiti Harum.”
“Insyaallah, Bu. Tapi, biar adil, ibu juga harus sayang sama Nata. Karena Nata juga istriku.”
“Iya. Ibu sayang dua-duanya. Ngomong-ngomong soal adil, kamu juga harus adil loh sama istri-istrimu.”
“Itu yang susah, Bu. Tapi, Hangga akan berusaha. Ibu doakan Hangga ya.”
“Ibu akan selalu doakan kamu, Hangga. Semoga kehidupan pernikahan kamu bersama kedua istrimu selalu baik," sahut Bu Mirna sembari menatap Hangga. “Ini kamu udah pakai baju rapi mau ke mana?” tanyanya kemudian.
“Mau pulang sekarang, Bu.”
“Subuh-subuh begini?”
“Iya, Bu. Setelah menurunkan Harum di rumah, Hangga mau langsung ke Jakarta jemput Nata.”
“Duh, kenapa enggak bilang dari semalam kalau mau pulang subuh begini. Ya sudah ibu mau rebus air gulanya dulu.”
Beberapa menit kemudian, Hangga dan Harum telah selesai berkemas dan bersiap untuk pulang.
“Rum, ini dibawa ya,” ujar Bu Mirna saat anak dan menantunya berpamitan pulang.
“Apa ini, Bu?” tanya Harum menatap toples besar bermerek yang disodorkan sang ibu mertua.
“Asinan mangga, kesukaan Harum ‘kan?”
__ADS_1
“Kok ibu tahu kalau Harum suka asinan mangga?” lontar Harum.
“Tahu dong. Makanya dulu waktu Harum masih kerja di sini, ibu sering buat asinan mangga dan dibawa ke kedai. Berhubung sekarang kerjanya jauh di Tangerang, ibu jadi enggak sering bikin asinan lagi.”
Mata bening Harum langsung berkaca-kaca mendengar penuturan ibu mertuanya. Ia ingat, Bu Mirna memang kerap kali membawa asinan mangga ke kedai lalu asinan itu dimakan bersama-sama karyawan kedai lainnya. Hanya saja Harum tidak menyangka bahwa dirinyalah yang menjadi alasan bos kedai itu membawakan kudapan segar tersebut.
“Tuh, Rum. Saking sayangnya ibu sama kamu tuh,” celetuk Pak Hendra.
Harum tersenyum haru, ia menerima toples berisi asinan tersebut dari tangan Bu Mirna. “Terima kasih banyak, Bu,” ucapnya.
“Sama-sama, Nak.”
“Sini mas yang bawakan ke mobil.” Hangga mengambil toples itu dari tangan Harum. “Penuh amat nih, Bu. Jangan-jangan ini mangganya sepohon.”
“Enggak apa-apa. Simpan aja di kulkas, sampai seminggu juga awet,” sahut Bu Mirna.
“Ayo, Rum. Kita berangkat sekarang!” seru Hangga saat keduanya telah berpamitan.
Hangga berjalan lebih dulu menuju mobil, kemudian ia membukakan pintunya untuk Harum.
Harum yang hendak naik ke dalam mobil, berbalik badan menatap wajah kedua mertuanya bergantian. Sesaat kemudian, ia berlari menuju sang ibu mertua lalu memeluknya sembari menahan tangis. Semua yang ada di sana terkejut melihat sikap Harum yang tidak biasa.
“Ada apa, Rum?” tanya Bu Mirna sembari mengusap punggung Harum. “Apa Hangga akan menyakiti kamu?” tukasnya.
Harum menggelengkan kepalanya usai melepas pelukan.
“Harum hanya mau bilang terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena Ibu dan Ayah sudah menyayangi Harum selama ini.” Menatap sang ibu mertua, Harum menjeda ucapannya sejenak. “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Dan tidak ada satu pun kesalahan yang tidak patut untuk dimaafkan,” pungkasnya.
“Maaf ya, Rum. Kita harus subuh-subuh begini pulangnya,” ujar Hangga yang menyadari matahari bahkan belum hadir saat ia mulai melajukan mobilnya.
“Enggak apa-apa, Mas. Lebih enak subuh begini. Enggak macet,” sahut Harum.
Padahal perjalanan pulang ini dilakukan di hari Minggu, di mana kepadatan jalan raya biasanya lebih lengang daripada hari kerja.
“Rum tadi yang kamu bilang ke ibu pas pamitan itu nyindir mas ya?”
Harum mengerutkan kening. “Yang mana, Mas?”
“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Dan tidak ada satu pun kesalahan yang tidak patut untuk dimaafkan.”
“Saya enggak nyindir siapa-siapa, Mas.”
“Rum, menurut kamu bagaimana caranya mas ngomong sama Nata?” tanya Hangga.
Selama dua hari ini, Hangga berusaha keras memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Nata. Hangga masih sangat mencintai Nata, meskipun kini ia juga merasakan cinta untuk Harum.
“Ngomong tentang apa, Mas?”
“Nata itu sebenarnya baik, Rum. Dia baik kan sama kamu. Tetapi sejujurnya Nata belum bisa menerima pernikahan Mas sama kamu. Nata enggak mau berbagi hati, berbagi cinta, apalagi berbagi suami.”
__ADS_1
Harum menghela napas berat. Siapa sih memangnya perempuan yang mau berbagi hati, berbagi cinta, apalagi berbagi suami. Harum pun tidak menginginkan hal tersebut. Kalau pun tempo hari ia memutuskan bersedia dimadu, percayalah itu adalah keputusan terberat sepanjang hidupnya.
“Nata itu akan marah kalau mas sampai nyentuh kamu."
"Saya tahu kok, Mas," sahut Harum lirih. Tanpa Hangga memberi tahu, Harum pun sudah merasakannya. Nata sangat baik kepadanya untuk hal apapun, asalkan bukan soal berbagi Hangga.
"Tapi Mas akan berusaha untuk memberikan pengertian kepada Nata, agar Nata bisa memahami posisi Mas sebagai suami yang harus bersikap adil kepada kalian berdua. Semoga Nata bisa mengerti dan berbesar hati menjalani pernikahan poligami ini,” harap Hangga.
Harum mengaminkan harapan suaminya dalam hati.
“Mas akan bilang sama Nata, kalau mas juga mencintai kamu. Mas mencintai kalian berdua.”
Harum menoleh pada Hangga. “Mas Hangga yakin mau bicara begitu sama Kak Nata?”
“Hem.”
“Kalau Kak Nata marah?”
“Ya, kita harus siap.”
“Apa sebaiknya mas enggak usah bilang sekarang ya? Yang saya takutkan bukan kemarahan Kak Nata, tapi saya khawatir Kak Nata yang mualaf akan goyah keyakinannya. Karena bagi perempuan muslimah yang taat saja bab poligami itu sungguh tidak mudah, apalagi bagi seorang mualaf seperti Kak Nata.”
“Tapi mas enggak mau terus-terusan berdosa, Rum. Mas, ingin bersikap adil sama kalian.”
“Terserah mas saja baiknya bagaimana.”
Roda empat itu terus bekerja menggilas aspal hitam hingga membawa pasangan suami istri itu sampai ke kediaman mereka di Tangerang.
Rencananya Hangga lebih dulu menurunkan Harum di kediaman mereka, baru setelahnya ia kembali melajukan mobilnya menuju Jakarta menjemput Nata.
“Mas mau langsung berangkat apa turun dulu?” lontar Harum begitu mobil SUV putih itu sampai di depan kediaman Hangga.
“Langsung aja ya, Rum. Takut Nata nungguin.”
“Iya, deh. Kalau begitu hati-hati ya, Mas.” Harum meraih tangan Hangga untuk salim.
“Udah, begitu doang?” sahut Hangga saat Harum hendak membuka pintu mobil untuk turun.
“Apa lagi memangnya?” Harum mengerutkan kening.
“Hemm.” Hangga memonyongkan bibirnya memberi isyarat agar Harum mau menciumnya.
Harum yang pemalu, pipinya langsung bersemu merah menanggapi tingkah Hangga.
“Ayo dong!” kata Hangga.
Setelah diam sejenak, Harum yang masih merona pelan-pelan mendekatkan wajahnya pada Hangga. Bibir Harum hampir saja menyentuh bibir Hangga saat terdengar suara seruan seseorang yang membuat keduanya terjingkat.
“Hangga!”
__ADS_1
Harum dan Hangga sontak saling menjauhkan tubuh mereka, lalu keduanya sama-sama menoleh pada seseorang yang menyerunya.
“Nata," lirih Hangga yang tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.