Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 63


__ADS_3

Cinta memang tidak dapat ditebak. Normalnya cinta berlabuh pada satu hati saja. Akan tetapi, keadaan terkadang membuat cinta menjadi bercabang. Seperti itulah yang dirasakan Hangga.


Hangga mengira hati dan cintanya hanya untuk Nata seorang. Tidak akan ada seorang pun yang dapat masuk, membuka celah, lalu menduduki hatinya selain Nata. Cinta Hangga kepada perempuan yang menggambarkan visual definisi cantik versinya itu teramat besar.


Cintanya pada Nata masih sama, tidak berkurang sedikit pun takarannya. Hanya saja, ia merasa ada sebuah rasa yang kini hadir merayapi hati setiap ia mengingat Harum—istri pertamanya.


Hangga tidak mengerti rasa apakah itu. Yang jelas, rasa tersebut sama indahnya dengan yang ia rasakan dulu saat awal mengenal Nata.


Hati Hangga bersorak riang kala Harum mengabulkan permintaannya untuk memberikan kesempatan sekali lagi. Maka dari itu, ia tidak akan menyia-nyiakan weekend kali ini untuk menghabiskannya berdua bersama Harum.


Dan Harum, istri pertama Hangga yang selama ini diabaikan itu memutuskan untuk memberi kesempatan kedua kala melihat kesungguhan dari manik hitam lelaki yang sangat dicintainya itu.


Usai makan mi tek-tek dan salat Isya, Harum dan Hangga pergi tidur. Tidak ada yang dapat dilakukan Hangga sebab Harum tengah mendapatkan tamu bulanan. Meskipun begitu, Hangga merasa sangat bahagia.


Harum tidur dengan posisi miring membelakangi Hangga. Sementara Hangga memeluknya dari belakang.


“Rum, tidurnya menghadap sini dong,” protes Hangga.


Harum menggelengkan kepalanya. Jujur saja, ia masih merasa malu-malu berdekatan dengan Hangga. Juga ada sedikit trauma yang membekas di hatinya. “Saya lebih suka tidur menghadap sini,” sahut Harum.


“Hemm. Mas juga lebih suka begini.” Hangga menggeser tubuhnya semakin merapat di belakang Harum sampai tidak ada celah di antara mereka. Tangan Hangga menyelusup ke dalam baju piyama Harum lalu mulai merayap nakal. Harum lekas memukul tangan Hangga. “Jangan mesum, Mas!”


“Makanya ngadep sini dong,” sahut Hangga sembari terkekeh.


“Nah, gitu dong.” Hangga tersenyum girang saat Harum berbalik badan menghadapnya. “Kalau begini ‘kan lebih enak. Mas jadi bisa tidur nyenyak,” katanya sembari mencubit pipi Harum yang tengah merona.


“Terima kasih ya, Rum. Sudah mau kasih Mas kesempatan lagi. Mas janji akan lebih baik memperlakukan kamu. Dan menjadi suami yang baik untuk kamu.”


“Untuk Kak Nata juga, Mas.”


“Iya, untuk kalian berdua.” Hangga memandangi wajah teduh Harum. Hatinya mengakui bahwa Harum adalah sosok istri idaman. Sayangnya, ia baru menyadarinya sekarang.


Sesaat kemudian terbesit tanya di benak Hangga, jika saja rasanya pada Harum ini tumbuh sejak di awal pernikahan mereka, apakah ia benar-benar bisa mencintai Harum dan melupakan Nata?


*


“Loh, kalian mau ke mana?” tanya Bu Mirna ketika melihat Hangga dan Harum telah berpakaian rapi.


Setelah menginap semalam di rumah mungil perumahan itu, Sabtu pagi Hangga membawa Harum ke rumah orangtuanya. Baru tiga jam berada di sana, kini Hangga hendak mengajak Harum keluar.


“Mau keluar dulu sebentar, Bu, sama Harum.” Hangga merangkul pundak Harum seraya mengukir senyum. "Mau pacaran dulu," lanjutnya.


"Ish, Mas," tegur Harum yang justru merasa malu Hangga berkata begitu.


Bu Mirna tersenyum haru mendengar jawaban Hangga. Ia senang karena dari gestur serta binar cerah sorot mata Hangga, menunjukkan bahwa putra kesayangan satu-satunya itu telah menerima Harum sebagai istri.


Bu Mirna bukan tidak tahu bahwa dulu putranya tidak mencintai Harum. Bu Mirna tahu bahwa kepatuhan Hangga menikahi Harum adalah sekedar bentuk baktinya sebagai anak yang dikenal penurut.


Semula, ibu mertua Harum mengira kedatangan putra dan menantunya adalah karena ada masalah besar yang menimpa mereka. Bahkan, ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada pernikahan Hangga dan Harum.


“Harum kemarin telepon karena kangen sama ibu katanya.” Bu Mirna baru bisa bernapas lega setelah mendapat jawaban Hangga tersebut.


“Tapi nanti kalian pulang ke sini lagi ‘kan?” lontar Bu Mirna.


“Iya dong, Bu.”


“Ya sudah kalau begitu kalian hati-hati ya.”


“Iya, Bu. Kami pamit ya. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.” Bu Mirna mengiringi kepergian putra dan menantunya dengan senyum merekah.

__ADS_1


Harum sudah duduk manis di dalam mobil. Begitu pun dengan Hangga yang sudah siap di belakang kemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia melirik istrinya sembari tersenyum.


“Kenapa, Mas? Ada yang salah sama saya?” lontar Harum yang tidak memahami arti senyum suaminya.


“Enggak ada yang salah sama kamu.” Hangga menggelengkan kepala. “Mas yang salahnya banyak. Baru sadar kalau kamu itu cantik,” ucapnya.


Harum tersenyum malu-malu. Pipinya bersemu merah. Tetapi, sedetik kemudian senyumnya terhenti karena teringat dengan Nata.


“Mbak Nata juga cantik,” balas Harum.


Bagi pasangan yang lain, dipuji cantik oleh suami mungkin akan membuatnya terbang sampai ke langit. Tetapi, bagi Harum yang berstatus bukan istri satu-satunya, pujian Hangga hanya menerbangkan sampai atap mobil saja.


“Iya. Mas beruntung punya dua istri yang cantik-cantik,” sahut Hangga lirih.


“Oya, enaknya kita ke mana ya, Rum?” tanya Hangga.


“Ke mana aja, Mas.”


Hangga tampak berpikir sejenak. Setelah mendapatkan ide, baru suami Harum itu melajukan mobilnya.


Perjalanan yang biasanya dilalui dengan keheningan, kini tidak berlaku lagi. Mereka berbincang banyak hal sepanjang perjalanan. Hangga yang lebih banyak bertanya pada Harum. Meskipun sudah lama mengenal Harum, ternyata banyak yang tidak diketahui Hangga perihal kehidupan perempuan ayu tersebut.


Di antara sekian banyak obrolan itu, Hangga berhasil juga mengorek informasi tentang pertemanan Harum dan Arya, serta bagaimana mereka bertemu dan bisa menjadi akrab seperti sekarang.


Hal yang telah membuatnya penasaran sejak lama.


“Jadi kamu, Nina sama Arya itu berkawan akrab gitu ceritanya?” lontar Hangga.


“Saya kurang tahu bagaimana ukuran berkawan akrab itu, Mas.”


“Arya sering menemui kamu?”


“Apa Arya tahu kalau kamu itu istri Mas?”


“Sepertinya enggak.”


“Kamu enggak kasih tahu dia?”


“Sebenarnya yang sering ngobrol sama Mas Arya itu Nina.” Harum terdiam sejenak, lalu melirik Hangga. “Kan Mas Hangga yang bilang, jangan pernah kasih tahu teman atau siapa pun yang kenal Mas Hangga kalau aku ini istrinya Mas,” lanjutnya.


“Maafkan atas sikap Mas yang dulu ya, Rum.”


Harum mengangguk sembari mengukir senyum, menanggapi permintaan maaf yang entah sudah ke berapa kali terucap dari bibir suaminya.


Hampir satu jam mobil SUV putih yang dikemudikan Hangga merayap di kemacetan jalan raya menuju pantai Anyer. Maklum hari ini adalah weekend.


Hangga mengarahkan mobilnya masuk ke sebuah resor mewah di kawasan Pantai Anyar. Harum mengernyitkan kening. Benaknya penuh dengan pertanyaan.


Mengapa Hangga membawanya ke tempat ini? Apakah mau menginap di sini? Apa Hangga tahu kalau subuh tadi dirinya sudah keramas setelah suci dari haid? Mendadak Harum merasakan tubuhnya berdesir karena pikirannya telah jauh ke mana-mana.


“Ayo turun, Rum!” Harum yang tengah melamun tersentak kaget karena seruan Hangga.


“Kenapa kita ke sini, Mas?” tanya Harum ragu dan malu-malu.


“Mas jamin, kamu pasti suka.” Hangga tersenyum sembari mengerlingkan mata. Membuat wajah malu-malu Harum semakin merona.


“Yuk, turun!” Hangga berseru seraya membuka pintu mobil. Harum pun mengikuti yang dilakukan suaminya, turun dari mobil.


Saat dua kaki Harum mendarat di paving blok, Hangga telah berdiri menyambutnya lengkap dengan senyuman memesona.


Detik itu juga Harum merasa dunia adalah miliknya. Senyum Hangga yang dulu dinikmati Harum dengan cara sembunyi-sembunyi, kini bisa dinikmati secara langsung sepuasnya.

__ADS_1


Hangga meraih tangan Harum, lalu melingkarkan ke pinggangnya. Ia pun melakukan hal yang sama, melingkarkan tangannya ke pinggang Harum. Keduanya berjalan dengan saling memeluk pinggang.


Adegan tersebut terasa tidak asing di mata Harum. Ia sering melihat Hangga melakukannya bersama Nata.


Harum yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan tersebut tampak berjalan kikuk. Seolah peka dengan apa yang dirasakan Harum, tangan Hangga yang bebas mengelus tangan Harum yang berada di pinggangnya untuk memberikan rasa tenang. Perlakuan Hangga sontak menimbulkan desiran halus yang menjalar di relung hati Harum.


Sepanjang perjalanan kaki penuh keromantisan itu, hati Harum terus berdebar. Ia berpikir, mungkin Hangga akan mengajaknya menginap di resor indah ini. Kebetulan sekali, dirinya baru suci.


Hati Harum menciut malu saat menyadari pikiran liarnya salah. Ternyata Hangga membawanya ke restoran di resor mewah tersebut. Restoran dengan pemandangan pantai Anyer nan indah yang membuatnya takjub.


Hangga dan Harum telah duduk berhadapan di atas kursi kayu artistik. Menu hidangan seafood dan jus jeruk telah tersaji di atas meja bulat bertaplak warna putih di hadapan mereka.


“Suka seafood ‘kan?” lontar Hangga.


Harum mengangguk.


“Masakan seafood di sini itu yang paling enak,” kata Hangga.


“Oh ya?”


“Hemm.” Hangga mengangguk. “Kalau lagi pulang, Mas selalu sempat-sempatin datang ke sini. Oya, Mas juga udah pesan dessert. Kamu pasti suka. Nata juga suka banget sama dessert di sini,” kata Hangga keceplosan.


Hati Harum yang tengah semringah dan merekah, mendadak kuncup mendengar cerita Hangga. Tadinya, ia mengira Hangga tengah memberikan sesuatu yang spesial kepadanya. Ternyata dugaannya salah, Nata yang lebih dulu diajak ke sini dan pastinya lebih dari sekali.


“Oh. Mas Hangga sering ke sini sama Kak Nata?”


“Iya,” jawab Hangga ragu karena menyadari kesalahannya. “Tapi Cuma makan aja, enggak nginep di sini,” sambungnya lagi.


Harum tersenyum kaku menanggapi ucapan suaminya.


“Ayo makan, Rum,” ajak Hangga untuk mengalihkan perhatian.


“Iya, Mas.”


Baru saja keduanya hendak bersiap menyantap makanan, seorang pria berpakaian kemeja rapi lengkap dengan dasi menghampiri meja mereka.


“Hangga,” sapa pria berambut keriting cepak.


“Wisnu.” Hangga menyalami pria yang tersebut.


“Lama banget lu enggak ke sini,” ujar pria yang bernama Wisnu.


“Masa sih?” Hangga mengerutkan kening seperti tengah mengingat sesuatu. “Baru juga tiga bulan gue enggak ke sini,” sambungnya.


“Tiga bulan itu lama, Bro. Biasanya sebulan sekali bahkan dua kali lu pasti ke sini sama ....” Wisnu menggantung kalimatnya saat pandangannya tertuju pada Harum. “Sama siapa, Bro?” tanyanya.


“Oh iya, ini Harum. Rum, kenalin ini Wisnu teman bolos sekolah dulu. Dia manajer di sini,” ujar Hangga.


Harum yang masih duduk, kemudahan berdiri. “Harum,” ucapnya sembari mengapit kedua tangan di dada sembari tersenyum ramah.


“Wisnu,” balas Wisnu sembari melakukan gerakan yang sama seperti Harum.


“Nu, Harum ini istri gue,” ujar Hangga setelah Harum dan Wisnu berkenalan.


Harum tersenyum. Hatinya menghangat.


Meskipun ia bukan yang pertama kali diajak Hangga ke tempat ini, setidaknya Hangga mau mengakuinya sebagai istri.


Setelah semalam mengakuinya sebagai istri di depan tukang nasi goreng, kini Hangga juga mengakui Harum sebagai istrinya di depan teman sekaligus manajer resor mewah.


Ada peningkatan bukan?

__ADS_1


__ADS_2