
Perempuan cantik berkulit putih itu menyusut ingusnya berkali-kali seiring air matanya yang jatuh meluruh tanpa permisi. Di hadapan perempuan tersebut, duduk seorang pria dengan wajahnya yang datar dan satu tangannya terbungkus gips.
“Aku enggak mau kita putus, Beb,” kata perempuan itu terisak-isak.
Beberapa detik yang lalu, pria di hadapannya yang tidak lain adalah kekasihnya memutuskan hubungan cinta dengan perempuan cantik tersebut.
“Kita sudah menjalin hubungan yang lama. Lima tahun, Beb. Apa lima tahun itu enggak ada artinya buat kamu?” lontar perempuan cantik berambut panjang dan berkulit bening dengan mata berkaca-kaca.
“Udahlah, Nara. Lebih baik kita pisah saja. Aku enggak mau dapat kesialan lagi karena mempertahankan hubungan sama kamu,” kata pria itu datar tanpa beban.
“Apa maksud kamu?” Perempuan yang dipanggil Nara itu menatap penuh selidik kekasihnya atau pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihnya.
“Nara, kamu itu cewek pembawa sial. Kamu ingat kesialan apa yang aku udah alami selama menjalin hubungan pacaran sama kamu. Nyebur ke got waktu boncengan motor sama kamu, kesetrum waktu benerin listrik di kamar kamu, terus sekarang ...” Pria itu menunjukkan tangan kanannya yang di gips. “Tangan aku patah gara-gara kamu!”
“Kok gara-gara aku sih?” lontar Inara tidak terima. “Bukannya tangan kamu patah itu karena terjatuh saat main bola ya?”
“Aku jatuh ini karena kamu pake datang dan nonton aku main bola. Aku 'kan udah mewanti-wanti kamu supaya jangan datang nonton aku main bola, nanti aku bisa ketiban sial, eh kamu malah tidak mengindahkan pesan aku. Ujug-ujug kamu datang dan nonton aku main bola. Benar aja ‘kan, aku sial gara-gara kamu!” tukas pria yang usianya sebaya dengan Inara.
“Apa? Kamu bilang aku pembawa sial?” lontar Inara dengan mata terbelalak.
“Iya. Kamu enggak merasa juga kalau kamu itu cewek pembawa sial seperti apa yang dibilang orang-orang selama ini tentang kamu?”
“Aku bukan cewek pembawa sial!” tegas Inara tidak terima.
“Aku juga tadinya enggak percaya sama apa yang dibilang orang-orang tentang kamu. Makanya selama ini aku berusaha untuk mempertahankan hubungan kita sampai lima tahun. Tapi, setelah aku udah ketemu dengan mantan-mantan kamu, dan mereka juga menceritakan kesialan-kesialan yang mereka alami selama menjadi pacar kamu, sekarang aku jadi percaya kalau kamu itu cewek pembawa sial. Baru pacaran aja, aku udah sial berkali-kali begini. Apalagi kalau kita nikah, jangan-jangan aku akan mat....”
__ADS_1
“DERRYYYYY!!!” teriak Inara geregetan. Mata bundarnya tajam menatap kekasihnya yang bernama Dery. “Jangan lagi mengatakan kalau aku cewek pembawa sial! Aku enggak terima!”
“Enggak usah teriak-teriak begitu, Nara! Kamu mau bikin aku budeg, IYA?!! Belum puas kamu kasih kesialan yang sebanyak ini sama aku? Dan sekarang kamu mau bikin aku budeg!”
“Kenapa kamu tega ngomong kayak gitu sama aku? Kamu enggak sayang sama aku?Inara berkata dengan napas tersengal lantaran menahan emosi. Sakit rasanya mendengar pria yang dicintainya, pria yang selama lima tahun ini menjadi pusat kehidupannya, malah mengatai dirinya adalah ‘cewek pembawa sial’.
Pria bernama Dery itu tidak menyahut.
“Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar, Der. Udah banyak kenangan dan segala suka duka yang telah kita lalui. Kita merajut mimpi bersama selama itu. Kita berproses bersama selama itu. Dan sekarang, tahun ini, adalah waktunya untuk menyatukan kehidupan kita dalam sebuah pernikahan. Kita udah berjanji, sukses atau tidak sukses, kelar atau belum segala impian tentang karier kita masing-masing, kita akan menikah tahun ini. Kamu enggak lupa ‘kan? Kamu masih ingat sama janji kita berdua ‘kan?” lontar Nara dengan raut memelas. Sungguh, Nara tidak ingin hubungannya selama bertahun-tahun bersama pria yang berprofesi sama seperti dirinya itu kandas begitu saja.
Jocelyn Inara Djamaris, begitu nama lengkap wanita cantik itu. Auranya masih bersinar layaknya anak muda, meskipun usianya telah menyentuh kepala tiga. Perempuan berdarah Minang, Manado, dan sedikit campuran Jawa itu berprofesi sebagai dokter. Sama seperti sang kekasih yang juga adalah seorang dokter.
Kedua insan itu menjalin hubungan sejak masih menjalani masa internship atau dokter magang lima tahun yang lalu. Nara dan Dery lulus menyandang gelar dokter dari universitas yang berbeda. Kemudian keduanya bertemu saat menjadi dokter magang di rumah sakit yang sama dan terjalinlah cerita cinta dari sana.
“Cincin ini.” Inara mengangkat sebelah tangannya, menunjukkan cincin emas putih bermata mungil yang tersemat di jari manisnya. “Ini tanda keseriusan hubungan kita. Kita enggak boleh berakhir begini aja. Kita harus menikah, Der!"
Inara benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir kekasihnya itu. Mengapa Dery jadi tidak logis begini cara berpikirnya. Padahal Dery itu seorang dokter. Konon katanya untuk masuk ke sekolah kedokteran harus punya modal otak yang lebih encer serta tanggung jawab yang tinggi. Banyak ilmu yang dipelajari hanya untuk mendiagnosis satu penyakit saja. Itulah sebabnya seorang dokter harus memiliki pola pikir yang kritis serta logis.
Mengapa bisa Dery sampai berpikir bahwa musibah yang menimpa adalah disebabkan kesialan karena menjalin hubungan kasih dengan Inara?
Ini pasti karena kejadian dua bulan yang lalu. Dery pasti termakan oleh omongan peramal gendeng itu.
“Ibarat arah mata angin, kalian itu berbeda arah. Layaknya utara dan selatan, atau barat dan timur yang membuat kalian tidak akan pernah bisa seiring sejalan seirama. Jika hubungan kalian terus dilanjutkan akan banyak kesialan-kesialan yang akan menimpa.” Saat itu Inara merasa sangat geram dengan omongan ngawur si peramal gendeng. Ingin rasanya ia menampol wajah si peramal perempuan itu menggunakan hak sepatunya.
“Kamu percaya sama omongan peramal itu. Iya?” tukas Inara.
__ADS_1
“Terserah kamu mau ngomong apa. Yang penting, aku mau hubungan kita cukup sampai di sini. Kita putus!”
Rasanya mendebat Dery di saat kondisi jiwanya yang tengah ngelantur akan percuma. Lebih baik Inara menggunakan jurus andalan perempuan yang dibenci kaum laki-laki, yaitu menangis. Biasanya kekasihnya itu selalu luluh jika sudah melihat derai air mata sakti miliknya.
“Huuu ... Huuu ... Huuu. Aku enggak mau putus. Hiks, hiks, hiks.” Inara menangis sejadi-jadinya.
Sial, reaksi Dery justru tidak sesuai apa yang diharapkan Inara.
“Udah, enggak usah pakai nangis! Sekarang udah enggak akan mempan lagi. Pokoknya aku mau putus. Titik!”
Inara sontak menghentikan tangisnya mendengar seruan Dery yang begitu menohok hati. Matanya menghunus menatap tajam pria yang lima tahun ini telah menjadi kekasihnya.
“Jadi, kamu mau tetap putus sama aku?”
“Iya!”
“Oke, kalau kamu maunya begitu! Tapi, ingat ya jangan pernah berpikir untuk balik lagi sama aku. Karena aku yakin, habis ini kamu bakalan minta balikan lagi sama aku.” Setelah berucap demikian, Inara berdiri sembari melengoskan muka lalu melenggang pergi dari hadapan Dery.
“Nara!” Baru beberapa langkah, terdengar seruan Dery memanggil namanya. Inara sontak menghentikan langkah.
Tuh kan, baru juga berapa langkah udah mau ngajak balikan lagi. Inara tersenyum girang di dalam hati.
Memasang wajah tetap cool demi menjunjung harga diri, Inara menoleh pada kekasih yang baru saja memutuskan hubungan percintaan dengannya. “Ada apa?” tanyanya dengan memasang wajah kalem.
“Nih, bulu mata kamu jatuh,” sahut Dery sembari menunjukkan bulu mata anti badai Katrina yang terjatuh saat Inara menangis tadi.
__ADS_1
Ih, sebel. Boleh enggak sih matahin tangan si Dery yang satu lagi.