Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 109


__ADS_3

Jarum jam terus bergerak hingga waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


“Satu lagi dong, Yang,” ucap Hangga yang tengah menyuapi Nata.


“Cukup, Hangga. Aku udah kenyang. Percuma aku makan banyak. Penyakit aku enggak akan sembuh dengan banyak makan,” sahut Nata dengan wajah sendu.


“Kamu enggak boleh bilang begitu. Dulu kamu bisa sembuh, sekarang juga pasti bisa sembuh.” Hangga berusaha menyemangati istrinya.


“Kamu sendiri belum makan dari pagi, Hangga. Makan dulu sana! Jangan sampai karena ngurusin aku, kamu jadi enggak makan terus malah ikutan sakit.”


“Iya, habis ini aku mau cari makan,” sahut Hangga yang tengah membereskan bekas makan Nata lalu menyimpannya di tempat penyimpanan bekas makan pasien.


“Aku tinggal sebentar mau cari makan dan salat Zuhur, enggak papa?” lontar Hangga usai membereskan bekas makan Nata.


“Iya, enggak papa. Kamu makan dulu aja sana!”


“Iya deh. Aku tinggal dulu ya.” Hangga berpamitan dengan mengecup puncak kepala Nata.

__ADS_1


“Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku aja atau tekan tombol nurse call.” Pesan Hangga dijawab anggukan oleh Nata.


Biasanya Hangga membeli makan di warteg atau rumah makan Padang yang letaknya cukup jauh dari gedung rumah sakit. Alasannya karena di tempat tersebut harganya lebih murah dibandingkan tempat makan lainnya. Hangga yang kini berstatus pengangguran, sebisa mungkin menghemat pengeluaran biaya hidup sehari-hari selama mengurusi istrinya yang sakit. Ia tidak mau jatah bulanan yang diberikan orangtuanya habis sebelum waktunya. Hangga enggan merepotkan dan membebani orangtuanya lebih banyak lagi.


Namun, kali ini Hangga sedang malas harus menempuh jarak yang jauh untuk membeli makan. Hati Hangga tengah gundah dikarenakan mimpinya semalam. Ditambah pagi tadi ia melihat sosok perempuan berjilbab yang mirip Harum. Karena hal tersebut, Hangga ingin mencari makan di tempat yang dekat saja.


Kegundahan hati Hangga menuntun langkahnya menuju sebuah kantin yang letaknya masih berada di area rumah sakit. Hangga belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di kantin yang bersih dengan dekorasi elegan tersebut. Khawatir harga makanannya mahal dan melampaui budget pengeluaran sehari-harinya. Begitu yang dicemaskan Hangga.


Dan kini kaki Hangga telah sampai di kantin tersebut. Hangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling area kantin dan menemukan sebuah tulisan besar bertajuk ‘KANTIN HARUM’.


Kenapa namanya kantin? Padahal tempat ini terlalu mewah untuk disebut ‘kantin’. Seharusnya dikasih nama kafe saja. Bangunan ini cukup pantas disebut kafe. Terus kenapa namanya Kantin Harum? Apa pemiliknya bernama Harum? Hangga membatin penuh tanda tanya.


Hangga memesan soto bening Harum dan seporsi nasi. Kemudian ia duduk bersama para pengunjung kantin lainnya yang Hangga yakini adalah keluarga pasien, sama seperti dirinya.


Setelah beberapa menit menunggu, seorang pelayan perempuan membawakan menu pesanan Hangga dan meletakkannya ke atas meja.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Hangga kepada pelayan tersebut. Setelahnya, ia mulai menyantap sepiring nasi dan semangkuk soto ayam bening yang begitu menggugah selera.

__ADS_1


Deg


Hangga tertegun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya. Soto tersebut rasanya sama persis dengan soto yang biasa dimasak oleh Harum. Ia terus melanjutkan makan sembari hati dan pikirannya menduga-duga sesuatu.


Soto ini rasanya sama persis seperti yang sering dimasak oleh Harum. Menu soto ini tadi namanya soto bening Harum. Kantin ini juga bernama Kantin Harum. Apakah itu artinya ...? Apakah kantin ini milik Harum?


Hangga masih menganalisa segala petunjuk yang ada ketika pandangannya menangkap bayangan sosok wanita berjilbab warna hijau mint berjalan mengarah ke kantin.


Hangga tidak melepas pandangannya barang sedetik pun hingga sosok perempuan berjilbab itu semakin dekat ke arahnya. Hati Hangga bergetar hebat kala wajah ayu perempuan itu semakin nyata terlihat oleh matanya.


“Ha-rum.” Suara Hangga bergetar memanggil nama perempuan yang hingga detik ini masih bertakhta di hatinya. Perempuan yang selalu dirindukannya.


.


.


Lamaran Yuda udah diterima, eh malah ketemu Hangga. Apakah nanti Harum jadi nikah sama Yuda atau malah balikan sama Hangga?

__ADS_1


Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.


Btw terima kasih dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2