
Ini visual Hangga nih yang gantengnya bikin Harum enggak bisa move on. Jangankan Harum, aku aja enggak bisa move on lihat si Abang ganteng itu. Gantengnya masyaallah, enggak ada obat.
Nah, kalau ini visual Yuda. Dokter berusia 37 tahun, duda anak satu, papinya si Harum kecil. Ganteng n macho ya Papi Yuda.
Lihat dua cowok ganteng itu, aku jadi ninu ninu. 😂😂
*
Seorang pria tampan yang wajahnya kini ditumbuhi kumis tipis serta bulu halus di bawah dagu sampai cambang, bersama seorang perempuan cantik berkulit putih bersih dengan tubuh kurus dan pipi tirus yang duduk di atas kursi roda mendatangi sebuah rumah berpagarkan tanaman hijau nan asri
Pasangan tersebut adalah Hangga dan Nata. Beberapa hari yang lalu, mereka mendapatkan informasi dari Nina bahwa Harum masih memiliki kerabat di daerah Pandeglang, Banten. Hangga yang mendengar kabar tersebut langsung pergi ke alamat yang diberikan Nina. Niatnya Hangga ingin pergi sendiri ke Pandeglang, namun Nata bersikukuh untuk minta ikut.
Jauh-jauh menempuh ratusan kilometer menuju pelosok Banten, keduanya menelan kekecewaan sebab Harum tidak berada di sana. Bahkan, kerabat dari pihak nenek Harum itu baru tahu kalau nenek Harum sudah tiada.
“Jadina Harum teu aya didieu, Bah?” (Jadi, Harum enggak ada di sini, Bah?)
“Teu aya , Jang. Malah abah kakarak teurang lamun ende na Neng Harum eta tos ninggal.” (Enggak ada, Nak. Malah abah baru tahu kalau neneknya Harum udah meninggal)
“Kitu nya, Bah.” (Begitu ya, Bah?)
“Muhun.” (Iya)
“Nya ntos geh, Bah. Ari kitu kami arek izin pamit bae lah. Hatur nuhun nya, Bah.” (Ya sudah, Bah. Kalau begitu kami pamit pulang saja. Terima kasih ya, Bah)
“Sami-sami. Engke lamun kapendak jeng Neng Harum, salam kitu ti abah, titah ulin ka imah abah , manjangkeun silaturahmi.” (Sama-sama. Nanti kalau ketemu sama Neng Harum, salam gitu dari Abah, suruh main ke rumah Abah. Menjaga tali silaturahmi)
“Insyaallah, Bah. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Pasangan suami istri tersebut hanya sebentar saja bertamu. Setelah mendengar bahwa Harum tidak ada di sana, keduanya berpamitan pulang. Hangga mendorong lesu kursi roda yang diduduki sang istri menjauh dari rumah kerabat Harum tersebut.
“Tadi si Bapak itu bilang apa, Hangga?” tanya Nata mendongakkan kepala menatap tubuh jangkung Hangga yang mendorong kursi roda di belakangnya.
“Harum enggak ada di sana. Mereka sudah lama tidak berkomunikasi,” jawab Hangga menatap lurus ke depan. Sorot kekecewaan tampak jelas dari matanya. Padahal tadi Hangga begitu yakin dapat menemukan Harum, atau paling tidak, bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Harum dari kerabat mantan istrinya tersebut.
“Ke mana lagi kita harus mencari Harum, Hangga?”
"Sudahlah, Nata. Kalau Harum memang ingin pulang, dia pasti pulang."
"Ini salahku, Hangga. Aku berdosa sama Harum."
__ADS_1
"Hush. Jangan terus-terusan merasa bersalah. Kamu enggak boleh begini terus. Kata dokter kamu kan enggak boleh stres. Bebaskan hati kamu dari rasa bersalah.”
“Aku ingin minta maaf sama Harum, Hangga. Aku mau minta maaf. Apa Harum enggak mau memaafkan aku makanya Harum enggak pulang-pulang?"
“Harum itu orang baik. Tanpa diminta pun pasti dia sudah memaafkan kamu.”
“Aku mau ketemu Harum, Hangga. Aku mau ketemu Harum sebelum aku mati. Huuu, huuu.” Nata menangis lagi. Dua tahun terakhir ini, hari-harinya banyak dilalui dengan derai air mata.
Hangga yang tengah mendorong kursi roda menghentikan langkahnya. Ia menyeret langkah ke depan dan berjongkok di hadapan Nata. Ia menangkup wajah Nata dan mengusap jejak basah di pipi perempuan cantik itu dengan ibu jarinya.
“Please, Nata. Jangan bilang mati-mati terus. Aku enggak mau dengarnya. Aku enggak mau,” ucap Hangga dengan suara bergetar.
“Aku enggak takut mati. Tapi, aku enggak mau mati sebelum bertemu Harum. Aku mau mati dengan tenang, Hangga. Hiks, hiks, hiks,” ucap Nata terisak-isak.
Hangga memeluk tubuh Nata yang tidak lagi sintal seperti dulu. “Udah, Nata. Aku enggak mau dengar kamu ngomong gitu lagi. Kita akan menemukan Harum. Kita pasti menemukan Harum,” ucapnya sembari mengelus lembut punggung Nata.
“Kalau nanti aku ketemu Harum, aku, aku, mau diajari solat dan ngaji sama Harum,” ucap Nata sesenggukan di pelukan Hangga.
Hangga melepaskan pelukannya. “Aku yang akan ajari kamu solat dan ngaji, Nata. Aku yang akan ajari kamu.”
Nata menggeleng lemah. “Enggak, Hangga. Aku maunya sama Harum. Aku mau belajar solatnya sama Harum. Huuu, huuu,” sahutnya dengan air mata yang kembali meluruh.
“Awww. Aduh.” Nata meringis menahan sakit di perut bawahnya.
“Kita pulang sekarang ya? Kuat ‘kan?” tanya Hangga yang dijawab anggukan lemah oleh Nata.
Hangga mendorong kembali kursi roda Nata menuju mobilnya. Bukan mobil SUV putih mewah miliknya dulu, melainkan mobil sedan keluaran lama milik ayahnya. Setelah Nata didiagnosa kanker dua tahun lalu, Hangga memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja agar bisa fokus menemani pengobatan Nata.
Hangga yang tidak sanggup membayar cicilan mobilnya, memindahtangankan mobil tersebut kepada ayahnya, dan ditukar dengan mobil sedan Vios keluaran lama milik ayahnya.
Setelah melakukan serangkaian pengobatan untuk pasien kanker stadium 2 seperti operasi dan kemoradiasi, Nata sempat dinyatakan sembuh oleh dokter. Namun, seperti yang dikatakan dokter, kesembuhan pada penderita kanker itu tidak dapat sepenuhnya menjamin kanker tidak akan kembali. Apalagi, Nata yang terus menerus didera rasa bersalah pada Harum sehingga membuat dirinya stres dan memicu kembalinya kanker yang siap menggerogoti tubuhnya.
Ketika Hangga baru akan kembali menata hidup dengan memperoleh pekerjaan baru, Nata malah kembali didiagnosa kanker. Terpaksa Hangga kembali mundur dari pekerjaan untuk kembali fokus menemani pengobatan Nata.
Rencananya, setelah mencari keberadaan Harum di Pandeglang, Hangga akan membawa Nata kembali ke rumah sakit spesialis kanker di Jakarta. Seminggu yang lalu, Hangga sudah menelepon dokter spesialis kanker yang menangani Nata dulu, dan menceritakan perihal istrinya yang kembali didiagnosa kanker. Dokter tersebut menyuruh Hangga untuk segera membawa Nata ke rumah sakit dan menemuinya.
“Bapak segera bawa istri Bapak kemari. Nanti saya akan bantu untuk Bu Nata mendapatkan kamar dan penanganan di rumah sakit ini.” Begitu kata dokter baik hati itu.
Hangga merasa sangat bersyukur karena saat menjalani pengobatan Nata, mereka diberikan banyak kemudahan dan dikelilingi orang-orang baik. Rumor yang beredar bahwa untuk bisa mendapatkan penanganan di rumah sakit spesialis kanker tersebut sangat sulit bagi pasien yang menggunakan jaminan BPJS kesehatan. Mesti pakai uang pelicin atau apa lah namanya. Begitu rumor yang didengarnya.
Akan tetapi, perjalanan Nata saat melakukan pengobatan di rumah sakit tersebut malah dimudahkan, meskipun Nata adalah pasien BPJS. Hangga tidak memiliki cukup banyak uang untuk membiayai pengobatan Nata, sehingga ia mendaftarkan Nata menjadi peserta BPJS mandiri.
Hangga menganggap itu adalah rezeki Nata. Kecuali soal sikap posesif akut Nata pada Hangga, sejatinya Nata orang baik dan sering menolong orang. Dan segala kemudahan ini mungkin balasan dari kebaikan-kebaikan Nata selama ini. Begitu pikir Hangga.
Hangga membuka pintu penumpang depan mobil sedan warna hitam itu, lalu mengangkat Nata dan mendudukkannya di jok. Nata mengalami pembengkakan di paha sebelah kanannya, sehingga istri Hangga itu sedikit kesulitan untuk berjalan. Setelah yakin posisi duduk Nata telah nyaman, Hangga menutup pintunya. Kemudian ia melipat kursi roda dan memasukkannya di bagian jok tengah mobil.
__ADS_1
“Harum mana, Hangga?” lontar Nata begitu Hangga masuk mobil dan duduk di belakang kemudi.
“Harum. Sebentar.” Hangga memutar tubuh lalu mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk mengambil sesuatu dari jok belakang.
“Ini dia Harumnya.” Hangga memberikan benda tersebut kepada Nata.
Nata tersenyum pilu memandangi sebuah benda yang tidak lain adalah boneka Barbie muslimah. Hangga yang memberikan boneka tersebut kepada Nata. Kala itu, Nata memergoki Hangga tengah melamun sembari memandangi boneka kenang-kenangannya bersama Harum.
Nata bertanya perihal boneka tersebut dan Hangga menjelaskan semua sejujur-jujurnya. Di luar dugaan, Nata sama sekali tidak marah dan tidak tampak cemburu di wajahnya. Malahan Nata meminta boneka tersebut untuk menemaninya selama menjalani perawatan di rumah sakit. Nata dan Hangga pun kompak memakai gelang tridatu khas Bali. Sementara gelang milik Harum, Nata kalungkan pada leher boneka Barbie muslimah yang ia namakan ‘Harum’.
“Besok kita ke Jakarta ya, Yang. Kamu harus dirawat lagi di sana. Kamu harus berjuang lagi mengobati penyakitmu,” ujar Hangga yang tengah fokus mengemudikan mobil.
“Aku enggak perlu dirawat atau pun menjalani pengobatan, Hangga. Aku hanya perlu bertemu Harum. Setelah itu aku udah siap untuk ....”
“Udah, Nata. Jangan bicara gitu lagi!” potong Hangga cepat. Ia tahu apa lanjutan kalimat yang akan diucapkan Nata. Pasti istrinya itu mau membahas lagi soal ‘mati’.
“Kita enggak pernah tahu kapan Harum kembali, atau kapan kita akan menemukan Harum. Makanya kamu harus semangat menjalani pengobatan lagi. Biar kamu bisa bertemu Harum saat Harum pulang nanti.”
“Betul. Aku harus tetap hidup. Setidaknya sampai Harum kembali,” ucapnya lirih sembari memandangi boneka ‘Harum' di pangkuannya.
“Aku udah telepon dokter Yuda. Katanya dia akan membantu kita agar kamu mendapatkan kamar di rumah sakit itu,” terang Hangga.
“Dokter Yuda itu baik sekali ya sama kita,” sahut Nata.
“Hem.”
“Dia itu sudah menikah apa belum Hangga?”
“Enggak tahu. Dengar-dengar dari perawat sih katanya duda.” Hangga melirik Nata. “Kenapa tanya-tanya dokter Yuda. Kamu naksir ya?” guraunya.
“Kalau dia belum menikah, semoga dokter Yuda itu cepat dapat jodoh. Semoga segera dapat pasangan perempuan yang baik juga.”
Hangga hanya mengangguk-anggukkan kepala menanggapi ucapan Nata yang terdengar tulus itu.
.
.
.
Maaf ya aku mah author-authoran, jadi enggak bisa up banyak-banyak 😪. Karena membagi waktu sama real life itu sulit. Aku belum pandai me-manage waktu.
Yo para Entunizen. Mana nih tim nya Hangga? Mana nih tim nya Yuda?
Btw terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️
__ADS_1