
“Mas Yuda kenapa?” tanya Harum menatap bingung wajah Yuda yang seketika pucat. Harum juga bisa merasakan embusan napas Yuda yang mulai tidak teratur.
“Rum, maafkan saya. Saya enggak bisa,” sahut Yuda dengan suara bergetar.
Melihat ada yang tidak beres dengan Yuda, Bu Yusma lekas mendekati putranya itu. “Yuda, kamu kenapa?!”
Yuda mengerjapkan mata dan memejamkannya sekejap untuk mengusir kekalutannya.
“Pak Ustaz, akad nikahnya bisa ditunda sebentar. Anak saya sepertinya agak kurang sehat,” ujar Bu Yusma kepada ustaz yang tengah menatap bingung kedua calon mempelai pengantin di hadapannya.
“Iya, Bu. Coba dikasih minyak kayu putih dulu, sepertinya masuk angin,” sahut Pak Ustaz masih dengan raut bingung.
“Ayo, Yuda. Kamu ikut ibu!” Bu Yusma menarik tangan Yuda agar mengikutinya. “Rum, kamu juga ke sini ikut ibu,” titahnya.
Bu Yusma membawa Yuda dan Harum masuk ke kamar. Dikarenakan kamar Yuda adalah yang terdekat, Bu Yusma membawa kedua calon pengantin itu masuk ke kamar Yuda.
Bu Yusma mendudukkan Yuda di tepi ranjang bersamanya. Sementara Harum berdiri tertegun memandangi puluhan foto perempuan cantik yang memenuhi hampir di seluruh dinding kamar. Tanpa harus bertanya, Harum bisa mengetahui siapakah perempuan dalam foto tersebut.
Harum sudah mengetahui nama Ranum sejak lama, tetapi melihat bagaimana wajah almarhumah istrinya Yuda seperti saat ini adalah untuk pertama kalinya. Ranum begitu cantik. Rambutnya lurus di bagian atas dan keriting di bagian bawah seperti model rambut keriting gantung, entah itu adalah keriting gantung alami atau buatan salon. Senyumnya begitu manis memesona. Harum paling suka melihat bentuk mata Ranum yang bulat nan indah seperti matanya Alexandra Daddario. Harum yakin, semua pria akan betah berlama-lama menatap mata indahnya.
Harum kini menyadari bahwa Harum kecil--putrinya Yuda, mewarisi gen cantik dari sang mami.
“Kamu kenapa, Yuda? Sakit?” lontar Bu Yusma sembari mengusap punggung Yuda.
Yuda menggelengkan kepalanya. Menatap sang ibunda, Yuda berkata dengan ragu. “Bu, maaf. Yuda enggak bisa menikahi Harum.”
“Apa maksud kamu Yuda?” sahut Bu Yusma dengan ekspresi terkejut.
Yuda yang tengah dalam posisi duduk beringsut turun lalu berjongkok di hadapan sang ibunda. “Yuda enggak bisa, Bu. Yuda belum siap. Maafkan Yuda,” ucapnya terisak.
“Kamu yang sudah memutuskan untuk menikahi Harum hari ini. Sekarang kamu berubah pikiran di detik-detik terakhir?!”
“Maaf, Bu.”
“Kamu enggak malu sama semua tamu yang sudah datang. Coba kamu lihat Harum. Kamu enggak kasihan sama Harum?” Bu Yusma melirik pada Harum yang berdiri tergugu di hadapannya. “Kamu enggak memikirkan bagaimana perasaan Harum kalau kamu membatalkan pernikahan di detik-detik terakhir seperti ini?”
Mendengar kalimat yang diucapkan sang ibunda, Yuda bangun dari posisinya. Kemudian ia menghampiri Harum yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
“Rum, maafkan saya. Saya tahu ini pasti sangat menyakitkan buat kamu. Tetapi, akan lebih menyakitkan lagi jika saya meneruskan pernikahan ini. Saya tidak mencintai kamu, Harum. Saya takut, saya akan menyakiti kamu nantinya. Saya takut saya tidak bisa membanggakan kamu seperti saya membanggakan almarhumah istri saya dulu,” tutur Yuda menatap Harum dengan perasaan bersalah.
Di mata Yuda, sosok Harum sangat jauh berbeda dengan Ranum. Yuda mengakui bahwa Harum sangat cantik, tetapi cantik saja tidak dapat menggetarkan hati Yuda. Tidak seperti sosok Ranum dengan segala kelebihan yang dimiliki yang membuat Yuda tidak berhenti berdecak kagum. Yuda selalu membanggakan Ranumnya di depan semua orang. Ranum cantik, cerdas, pintar, dari keluarga berada dan terpandang, juga memiliki profesi yang sama dengannya. Bersama Ranum, Yuda bisa membicarakan banyak hal. Yuda merasa hari-harinya sempurna bersama Ranum.
Sedangkan dengan Harum, hingga detik ini, Yuda belum pernah merasakan mengobrol panjang dan intens selama berjam-jam. Karakter Harum yang pendiam dan tidak banyak bicara, membuat Yuda sungkan untuk mengobrol lebih lama. Intinya, Harum tidak satu server dengan Yuda. Begitu yang Yuda rasakan.
__ADS_1
“Putri saya adalah satu-satunya alasan yang membuat saya ingin menikahi kamu. Saya hanya takut kamu akan pergi dari kehidupan saya Saya hanya takut kamu akan meninggalkan putri saya. Dan sangat egois jika saya memaksakan diri untuk mengikat kamu dalam tali pernikahan yang saya sendiri pun tidak bisa membayangkan seperti apa pernikahan yang akan kita lalui nantinya. Pernikahan yang saya sendiri tidak yakin dapat membahagiakan kamu.”
Sepanjang Yuda bertutur, Harum hanya bergeming menatap Yuda. Seharusnya ia terluka dengan semua kalimat panjang yang diucapkan bakal calon suaminya. Seharusnya hati Harum berdarah bernanah karena keputusan Yuda yang membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata. Seharusnya Harum menangis meraung meratapi luka yang digoreskan Yuda.
Akan tetapi, anehnya tidak ada sebulir pun air mata Harum yang meluruh, meskipun rasa kecewa itu pasti adanya. Harum tidak merasakan terluka dengan semua ucapan Yuda. Bahkan, kalimat yang diucapkan Hangga saat terakhir bertemu di depan ruang terapi terasa lebih menyakitkan bagi Harum.
“Mas bahagia, kalau kamu bahagia.”. Harum begitu terluka mendengar kalimat yang diucapkan Hangga sebab ia sendiri tidak yakin dengan kebahagiaan yang akan diraihnya. Lantas, jika ia tidak bahagia, apakah Hangga juga tidak bahagia?
Harum masih berdiri tegar memandang Yuda. Tidak ada kalimat pertanyaan, sanggahan, permohonan maupun harapan yang terlontar dari bibir mungilnya.
“Harum, sekali lagi saya mohon maaf,” ucap Yuda penuh sesal. “Meskipun begitu, kamu adalah salah satu orang yang berarti dalam hidup saya. Bagi saya, kamu bukan sekedar pengasuh. Saya sudah menganggap kamu sebagai keluarga. Saya menyayangi kamu layaknya seorang kakak kepada adiknya. Harum, sekali lagi saya mohon maaf."
“Kamu enggak bisa membatalkan pernikahan ini. Ibu enggak setuju, Yuda!” timpal Bu Yusma. “Apapun yang terjadi, pernikahan ini harus tetap dilaksanakan. Terserah kalau setelah pernikahan ini kamu mau menalak Harum. Yang penting pernikahan ini tetap dilaksanakan, jangan sampai dibatalkan.”
“Bu, pernikahan itu bukan mainan, masa iya habis menikah, Yuda langsung talak Harum.”
“Dari pada malu. Kamu malu, ibu malu, dan yang paling malu di sini adalah Harum, karena Harum perempuan,” sewot Bu Yusma dengan penuh emosi.
“Kamu ini, Yuda! Bikin jengkel ibu aja!” Bu Yusma yang merasa gemas dengan sikap Yuda menjewer telinga putranya itu.
“Aduh, aduh, aduh!” Yuda meringis memegangi telinganya.
“Sudah, Bu, sudah,” sela Harum memegang tangan Bu Yusma, memberi isyarat agar ibunya Yuda itu melepas jewerannya dari telinga Yuda.
“Kalau memang ini keputusan Mas Yuda, saya enggak papa kok. Saya setuju dengan keputusan Mas Yuda karena hakikat sebuah pernikahan adalah kebahagiaan. Dan kebahagiaan dalam pernikahan adalah mencintai dan dicintai. Jika tidak mencintai dan dicintai, lantas untuk apa kami menikah,” tutur Harum penuh ketenangan.
“Terus kamu mau bilang apa di hadapan para tamu itu, Yuda?” lontar Bu Yusma masih dengan perasaan jengkelnya.
Yuda terdiam, berusaha memikirkan apa yang akan ia katakan di depan tamu undangan yang berjumlah sedikit itu.
“Rum, kenapa kamu enggak rujuk lagi saja dengan mantan suami kamu.” Kening Harum mengerut mendengar ucapan Yuda.
“Saya bisa lihat dari sorot matanya, Hangga itu masih mencintai kamu. Dan saya pernah mendengar bahwa Nata juga menginginkan kamu bisa kembali bersama Hangga. Lagi pula, bukannya kamu juga masih mencintai Hangga?” tukas Yuda.
“Saya pernah mendengar hal itu dari ibu,” lanjut Yuda menjawab sorot mata penuh pertanyaan dari Harum.
Harum memang pernah menceritakan kisah hidupnya pada Bu Yusma sedetail-detailnya. Ia mengungkapkan bahwa perpisahannya dengan sang mantan suami adalah karena keadaan.
“Harum, sejujurnya ibu ingin kamu menikah dengan Yuda. Sebab ibu menaruh harapan besar bahwa perempuan sepertimu yang bisa membimbing Yuda. Perempuan seperti kamu yang bisa menjadi ibu sambung terbaik untuk cucu ibu. Tetapi, ibu juga tidak mau jika kamu tersakiti oleh Yuda. Ibu menyayangi kamu, Naik,” tutur Bu Yusma penuh ketulusan.
“Saya juga menyayangi ibu. Terima kasih karena ibu sudah menerima diri saya dengan begitu baik. Sangat baik.” Harum meraih tangan perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
“Nak, Benar apa yang dikatakan Yuda. Jika memang cinta itu masih ada, kenapa tidak kembali saja bersama mantan suamimu. Ibu lihat, dia laki-laki yang baik, Nak.” Bu Yusma balas menggenggam tangan Harum.
__ADS_1
“Saya ....”
.
.
Kirain dua bab bisa selesai ternyata enggak. Tapi, sudah bisa ketebak ya bagaimana endingnya. Harum tidak berjodoh dengan Yuda. Terus rujuk lagi sama Hangga apa enggak, tunggu bab berikutnya ya.
Mohon maaf untuk yang kecewa.
Saya mau menjawab beberapa komen dari pembaca di sini.
*Thor, Harum nikahkan sama Yuda!
Jawab : Kalau pun dipaksakan menikah dengan Yuda, kasihan keduanya karena keduanya tidak saling mencintai.
*Tapi cinta 'kan bisa tumbuh belakangan, Thor.
Jawab: Betul, tapi itu artinya perlu kira-kira 30 bab lagi untuk menemukan chemistry cinta antara Harum dan Yuda. Oh, Tidak! Maafkan author-authoran ini yang sudah melambaikan tangan ke kamera karena tidak sanggup.
*Enggak apa-apa enggak jadi sama Yuda, tapi jangan sama Hangga, sama cowok lain aja.
Jawab: Apalagi ini, makin panjang dong bab nya. Sedangkan bendera putih sudah dikibarkan tanda menyerah.
"Hangga itu laki-laki plin plan dan maruk.
Jawab : Jadi begini. Benar apa yang pernah dikatakan Nata, bahwa sesungguhnya cinta Hangga untuk Nata itu sudah pudar seiring rasa cinta Hangga yang tumbuh subur kepada Harum. Tetapi, menurut kalian, Hangga harus bagaimana? Harus menendang Nata dan memilih hidup berdua dengan Harum? Oh, No! Hangga bukan laki-laki yang tidak punya hati. Kalau Hangga sampai begitu (membuang Nata) pasti Harum juga ilfil kali sama Hangga. Keputusan yang diambil Hangga sudah tepat di mata Harum, makanya perasaan Harum pada Hangga tidak pernah berubah.
* Nata kan egois. Sekarang aja tobat, coba aja kalau enggak mau mati pasti enggak akan membiarkan Hangga bersatu dengan Harum.
Jawab : Bukannya setelah Harum pergi, Nata juga memutuskan untuk pergi dari Hangga? Dia memilih untuk mengontrak bersama temannya. Setelah insiden bunuh diri itu, Nata merasa sangat terluka dan merasa cinta Hangga kepadanya telah menguap. Ia hanya melihat cinta Hangga adalah untuk Harum. Dan yang harus digarisbawahi, mereka tidak pernah lagi melakukan aktivitas seksual. Aktivitas seksual yang terakhir dilakukan Hangga adalah bersama Harum di Bali.
* Terus kenapa Hangga masih manggil Nata dengan panggilan ",Yang."
Jawab : Memangnya salah kalau manggil Yang. Nata ini sedang sakit parah loh, di mana kematian cepat atau lambat pasti akan menjemputnya. Panggilan 'Yang" itu sebagai bentuk support Hangga kepada Nata. Hangga enggak mungkin mengabaikan Nata yang sakit-sakitan. Apalagi mengingat bagaimana pengorbanan Nata demi cintanya pada Hangga. Intinya, Hangga memang menyayangi Nata, meskipun tidak ada cinta seperti dulu.
Memang apa bedanya Cinta dan Sayang, Thor? Menurut aku, sayang itu perasaan yang universal kepada siapa saja. Antara orangtua dan anak, antara teman, sahabat, saudara, juga antara aku dan kamu, ciye...
Sedangkan cinta adalah rasa sayang yang terbalut hasrat seperti hubungan kita dan pasangan kita.
*Kenapa Yuda enggak cinta sama Harum, Thor.
Jawab: Ada penjelasannya ya di bab ini. Yaitu karena enggak satu server. Spek Ranum dan Harum itu timpang jauh.
__ADS_1
Untuk pendukungnya Yuda, insyaallah nanti ada extra part khusus Yuda dalam menemukan jodohnya.
Udah ah, begitu aja.. Untuk semuanya.Terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️❤️