Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 86


__ADS_3

Dengar-dengar, Hangga mengajukan cuti karena mau bulan madu bersama istrinya.


Hati Nata sungguh terguncang kala mendengar kabar bahwa Hangga tidak sedang berdinas ke luar kota, melainkan tengah berbulan madu. Tega sekali kau, Hangga!


“Aku duluan ya.” Nata lekas berpamitan kepada kedua teman Hangga sebab khawatir tidak dapat mengendalikan diri karena emosi. Bagi Nata, mengendalikan emosi itu sangat sulit.


Nata keluar kedai. Rasa penasaran menuntun langkahnya berbelok ke samping menuju mobil Hangga yang terparkir. Ia mengintip ke dalam mobil suaminya dari kaca jendela mobil berwarna gelap itu. Berharap menemukan sesuatu yang dapat membantah kecurigaannya. Beruntung, keadaan sekitar sedang sepi. Andai dipergoki orang, mungkin ia dikira hendak maling.


Tidak menemukan apa-apa di dalam mobil Hangga yang terkunci, Nata memutuskan untuk pulang saja. Namun sesaat kemudian, pandangannya menemukan tiga bangunan rumah di belakang kedai. Ia melihat beberapa karyawan kedai keluar masuk ke rumah tersebut.


“Mbak, itu rumah siapa?” tanya Nata pada salah seorang karyawan kedai.


“Oh, itu mes karyawan, Kak,” jawab karyawan kedai perempuan tersebut.


Mes karyawan? Aku baru tahu ada mes karyawan di sini. Jangan-jangan di belakang aku, Hangga dan Harum sering menghabiskan waktu berdua di mes tersebut. Hati Nata semakin resah dan curiga.


Malamnya, Nata tidak bisa tidur sebab sibuk bergelut dengan pertentangan hatinya.


Enggak mungkin Hangga membohongi aku. Hangga kan cinta mati sama aku. Ini pasti salah. Kedua teman Hangga itu pasti hanya bergurau. Tapi, kenapa Harum dan Hangga pergi dalam waktu bersamaan? Kenapa keduanya sama-sama tidak bisa dihubungi?


“Argghh. Sialan, Hangga! Awas aja kalau ternyata lu benar-benar bohongi gue!” umpat Nata dengan napas memburu.


“Aduh.” Nata seketika merasakan nyeri di perutnya.


“Ya Tuhan, kenapa perutku sakit lagi?” Nata meringis merintih memegangi perutnya.


“Kalau sampai benar kamu bohongi aku, keterlaluan kamu, Hangga! Aku lagi sakit begini, kamu malah pergi ninggalin aku."


Nata meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi Hangga kembali, namun kecewa karena nomor Hangga masih tidak aktif.


“Hangga, aku sakit,” lirih Nata. Sudut matanya tampak basah menahan sakit. Entah mana yang membuat perempuan mirip artis Korea itu kesakitan. Sakit hati atau sakit perut.


Kemudian, ia teringat Harum dan mencoba menghubunginya. Lagi-lagi ia menelan kecewa sebab nomor Harum juga tidak aktif.


“Mbak Nata, makan malamnya sudah siap.” Bi Jenah berseru dari depan pintu.


“Masuk aja, Bi,” sahut Nata di sela rintihannya.


“Mbak Nata kenapa? Perutnya sakit lagi?” lontar ART Hangga itu dengan raut cemas. Nata menjawab dengan anggukan.


“Kita ke rumah sakit ya, Mbak.”


“Aku enggak mau ke rumah sakit tanpa ditemani Hangga. Huuu, hiks, hiks,” sahut Nata tersedu-sedu.

__ADS_1


“Sabar ya, Mbak. Mungkin Mas Hangga masih sibuk. Ke rumah sakitnya sama saya saja. Sebelum berangkat kan Mas Hangga menitipkan Mbak Nata sama saya,” bujuk Bi Jenah.


Nata menggeleng pelan. Ia menolak tawaran Bi Jenah. Setelahnya, ART berusia empat puluhan itu pergi ke dapur untuk membuat air hangat dalam botol. Nyeri perut Nata berangsur mereda setelah Bi Jenah menggiling perutnya dengan botol berisi air hangat. Lewat dini hari, baru ia bisa memejamkan matanya.


*


Matahari terasa begitu menyengat. Teriknya semakin membakar hati Nata yang telah terbakar amarah karena memergoki Hangga dan Harum tengah bermesraan di mes karyawan. Semua kecurigaannya terbukti dan ia semakin yakin bahwa Hangga dan Harum sering menghabiskan waktu berdua di mes tersebut tanpa sepengetahuan dirinya.


Hari ini Nata memutuskan untuk tidak bekerja dikarenakan pikirannya tengah carut marut. Dan hatinya semakin porak-poranda begitu mengetahui fakta yang ada. Fakta bahwa Hangga—pria yang sangat dicintai melebihi segalanya itu benar tengah berduaan dengan Harum. Sekaligus kenyataan bahwa Hangga telah berubah.


Tidak ada lagi Hangga yang selalu mengalah saat ia kalap melampiaskan emosi dan kekecewaan. Tidak ada lagi Hangga yang dengan sabar menunggu amarahnya mereda, untuk kemudian menenangkannya dengan sebuah pelukan hangat.


“AKU BENCI KAMU, HANGGA!” Umpatan terakhir yang dilontarkan Nata berbarengan dengan secangkir kopi panas yang ia siramkan kepada lelakinya itu.


Kenapa hanya kopi yang disiramkan? Seharusnya tadi ia melempar Hangga dengan cangkir beling atau menghajarnya dengan baki. Biar saja sekalian Hangga terluka. Seperti ia yang kini juga terluka. Batin hati Nata yang meradang berdarah-darah.


Nata pulang ke rumah dengan berurai air mata. Hatinya benar-benar sakit. Sakit teramat sakit.


“Mbak Nata kenapa?” sapa Bi Jenah yang berpapasan dengan Nata di anak tangga.


Nata tidak menggubris. Ia semakin mempercepat langkah tergesa menuju kamar. Sampai di kamar, ia meluapkan tangisnya yang sedari tadi susah payah ia tahan. Duduk di depan meja rias, ia memandangi wajahnya yang begitu menyedihkan.


“HANGGA! SIALAN KAMU!” teriak Nata sembari tangannya menyingkirkan semua benda yang ada di hadapannya. Pengkhianatan Hangga membuat hatinya hancur tidak terbentuk.


Terlintas di pikirannya untuk pergi saja dari rumah ini, namun sedetik kemudian tangisnya pecah tatkala mengingat bahwa tidak ada tempat untuknya pulang. Keluarganya telah membuang dirinya.


Kemudian matanya tertuju pada laci meja rias di hadapannya. Dengan tangan gemetar ia membuka laci dan mengambil sebuah benda di dalamnya.


Kilatan kisah cintanya bersama Hangga berputar di memori bagai thriller film. Dimulai saat awal pertemuan keduanya, momen manis selama lima tahun berpacaran, hingga kejadian tadi di mes.


“Aku cinta kamu, Hangga,” lirih Nata sebelum ambruk jatuh dan semuanya menjadi gelap.


*


“Sini biar bajunya saya cuci, Mas,” ujar Harum usai mengepel membersihkan tumpahan kopi di lantai dan melihat Hangga keluar kamar sudah mengganti baju.


Drama kedatangan Nata tadi diakhiri dengan penyiraman kopi kepada Hangga. Beruntung kopi yang masih mengepulkan asap panas itu hanya mengenai kemeja Hangga, tidak sampai mengenai kulit tubuhnya. Beruntung lagi, mes sepi dan tidak ada satu pun karyawan yang berlalu-lalang di depan mes.


“Nanti saja nyucinya, Rum. Kamu juga pasti masih capek,” sahut Hangga sembari mengambil posisi duduk diikuti oleh Harum yang duduk di sebelahnya.


“Mas Hangga sebaiknya pulang saja, kasihan Kak Nata,” usul Harum.


“Nanti saja mas pulangnya, sore atau malam. Kalau sekarang percuma, Nata pasti masih emosi.”

__ADS_1


“Mas, saya boleh untuk sementara tinggal di mes dulu? Jujur saja, saya tidak siap bertemu Kak Nata. Saya benar-benar merasa enggak enak dengan Kak Nata.”


“Rum, dengarkan mas.” Hangga meraih tangan Harum dan menggenggamnya.


"Berhenti selalu merasa bersalah. Berhenti untuk selalu mengalah. Kalau kamu terus begini, Nata tidak akan pernah berubah. Siap tidak siap, mau tidak mau, Nata harus memahami pernikahan poligami ini. Mas enggak mau terus-terusan berdosa karena tidak bisa adil dengan kalian berdua.”


Harum menatap Hangga, ia tidak tahu harus berkata apa.


“Mas mau makan apa? Biar saya buatkan atau saya belikan.”


“Makan mi instan yang pedas kayaknya enak ya.”


“Oke. Saya buatkan mi instan dulu ya.”


“Dua ya, buat kamu juga.”


“Oke.”


“Cabe rawitnya yang banyak ya.”


“Oke.”


Baru Harum berdiri hendak beranjak menuju dapur, ponsel Hangga berdering dan menahan langkah Harum.


“Siapa yang telepon, Mas?”


“Bi Jenah,” sahut Hangga sembari mengusap layar untuk menjawab panggilan.


“Waalaikum salam. Iya, Bi, ada apa?”


Hangga terdiam menyimak berita yang dikabarkan ART-nya tersebut.


“Saya ke sana sekarang, Bi.” Hangga bangkit dari duduk dengan raut cemas.


“Ada apa, Mas?” tanya Harum.


“Nata.”


“Kak Nata kenapa, Mas?”


*


Hangga dan Harum melangkah tergesa masuk ke rumah yang lima hari ini telah ditinggalkannya. Setelah mendapatkan telepon dari Bi Jenah, Hangga lekas berlari menuju mobilnya. Harum yang merasa cemas, memutuskan untuk ikut bersama Hangga. Membatalkan rencananya membuat mi instan.

__ADS_1


Berlari-lari Hangga menaiki tangga diikuti Harum di belakangnya. Sampai di kamar, Hangga menemukan Nata telah tergeletak dengan pergelangan tangan berdarah-darah.


"Nata!" teriak Hangga histeris.


__ADS_2