Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 39


__ADS_3

"Kalau saya bisa, saya sudah ceraikan kamu dari dulu, Harum!”


Kalimat yang diucapkan Hangga terus terngiang di telinga Harum. Rasa sakitnya begitu menusuk kalbu dan memorak-porandakan hati.


Saat Harum hendak masuk kamar, ia melihat Nata tengah duduk menonton televisi sendirian. Harum yang tengah kesal dan sakit hati membatalkan niatnya masuk ke kamar. Menghindari Nata yang selalu ramah menyapanya setiap waktu. Sekaligus menghindari kemungkinan Hangga yang akan duduk di sana menemani istri keduanya.


Harum memilih pergi ke teras samping. Ia duduk meringkuk di sudut teras dengan tangan memeluk lutut. Melepaskan rasa sesak dan nyeri yang memukul-mukul dada di sana. Serta menumpahkan tangis dalam senyap, tanpa suara. Ia tidak ingin Hangga dan Nata mendengar tangisnya.


Ya Rabb, maafkan hamba-Mu yang seolah berkhianat atas ikhlas yang pernah diucapkan.


Ia pernah berkata ikhlas dipoligami di depan mertua, bahkan pada Sang Pemilik Takdirnya. Nyatanya kini, ia tidak dapat berdiri tegar menahan sakit hatinya.


Selintas angannya merekam hal-hal berbau intim antara suami dan madunya yang tidak sengaja pernah dilihatnya. Entah sudah berapa kali ia memergoki Hangga dan Nata berciuman. Di kamar, di dapur, di balkon, di ruang televisi, di ruang tamu dan di segala penjuru. Air mata Harum semakin tumpah mengingat hal tersebut.


Momen de-sahan di subuh buta juga turut terlintas di angan. Mengingat kejadian tersebut, seketika Harum merasa mual. Kini bukan hanya cairan dari mata saja yang keluar, seluruh isi perut pun seakan mendesak ingin keluar.


Hoek ...


Harum menumpahkan isi perutnya sampai berkali-kali di tanah teras samping. Mungkin efek terlalu sedih dan terlalu sakit, atau barangkali masuk angin karena pulang naik motor Arya.


Arya.


Kenapa Mas Hangga tidak seperti Arya yang begitu perhatian dan pribadinya begitu menyenangkan? Kenapa ia bisa mencintai Hangga yang jelas-jelas selalu menyakitinya? Kenapa ia tidak jatuh cinta saja pada Arya lalu meninggalkan Hangga dengan mantap? Kenapa ia tidak bisa membenci Hangga?


Rentetan tanya itu tumpah bersama isi perutnya.


Cinta memang tidak dapat didefinisikan oleh nalar. Cinta dapat dipahami melalui perasaan dalam hati. Bahkan, kita tidak perlu menyentuhnya untuk mengetahui bahwa kita mencintainya.


Setelah perutnya terasa sedikit lega, Harum menyandarkan punggungnya di dinding. Sedetik kemudian tubuhnya melungsur jatuh, seiring semangatnya yang juga ambruk. Semangat untuk memperjuangkan cintanya.


Bi Jenah yang baru pulang pengajian dibuat terkejut mendapati Harum tertidur di teras rumah.


“Neng, Neng Harum,” panggil Bi Jenah sembari menggoyang-goyang kaki Harum yang tertutup rok panjang.


Setelah Bi Jenah memanggil namanya serta menggoyang kakinya berkali-kali, baru Harum membuka matanya.

__ADS_1


“Kok, Neng Harum tidur di sini?” tanya Bi Jenah saat Harum telah tersadar.


Harum tercenung sejenak. Ia tengah mengumpulkan kesadarannya, mengingat kembali apa yang terjadi. Entah berapa lama ia menangis di tempat remang tersembunyi itu, ia tidak ingat. Pasti penampakan wajahnya kini tidak karuan.


Beruntung, pendar lampu teras hanya remang-remang, sehingga Bi Jenah tidak dapat melihat jejak tangisnya.


Bukan karena apa, Harum hanya khawatir ART-nya itu akan melaporkan pada sang ibu mertua. Ia tidak mau mertuanya nanti akan memarahi Hangga. Harum tidak tega membayangkannya.


“Astagfirulloh, Neng Harum enggak bawa kunci rumah ya? Jadi enggak bisa masuk ke dalam,” lontar Bi Jenah lagi.


“Maafkan bibi ya, Neng. Bibi enggak telepon Neng Harum dulu dan ngasih tahu enggak bisa nunggu Neng Harum pulang.”


Biasanya kalau Harum pulang saat malam, Bi Jenah akan menunggunya di teras. Tetapi, malam ini Bi Jenah tidak bisa menunggu Harum karena menghadiri pengajian.


“Enggak kok, Bi. Saya enggak apa-apa,” sahut Harum.


“Soalnya bibi habis ikut pengajian RW, Neng. Bibi udah minta izin sama Mas Hangga untuk ikut pengajian seminggu dua kali. Dan Mas Hangga mengizinkan.” Tanpa Harum bertanya, Bi Jenah sudah menjelaskan sendiri.


“Iya, enggak apa-apa, Bi. Malah bagus itu,” sahut Harum.


Apalagi yang ditanyakan Bu RT kalau bukan tentang gosip poligami sang majikan. Kalau diladeni, sampai pagi pun tidak akan kelar obrolan tidak berfaedah itu.


“Ya udah atuh, Neng. Masuk, yuk! Kelamaan di luar nanti habis sama nyamuk.”


“Jam berapa sekarang, Bi?”


“Kayaknya jam sepuluhan, Neng.”


Harum bangun dari posisinya. Karena kelamaan menangis, ditambah tubuh lelah sepulang kerja membuatnya ketiduran di teras. Entah ketiduran, entah pingsan.


"Ini kok ada bekas muntah-muntah?" tanya Bi Jenah yang baru menyadari ada bekas muntahan di tanah.


"Iya, Bi. Tadi saya yang muntah," jawab Harum lesu.


"Wah, jangan-jangan Neng Harum hamil," tukas Bi Jenah. "Kalau ibu sama bapak tahu, pasti senang dengarnya."

__ADS_1


Meskipun Bi Jenah tidak pernah melihat kemesraan antara Hangga dan Harum, tetapi bukan tidak mungkin istri majikannya itu hamil 'kan?


Hamil? Boro-boro hamil disentuh pun enggak pernah. Batin Harum.


Mungkin saja kalau tengah malam, saat semua orang tidur, Mas Hangga diam-diam mendatangi Harum. Neng Harum kan juga cantik, tidak kalah sama Mbak Nata. Mana ada sih laki-laki yang menyia-nyiakan perempuan cantik. Yang belum sah aja disosor apalagi yang sudah sah. Begitu yang ada di benak Jenah.


"Enggak, Bi. Saya enggak hamil," sahut Harum.


"Enggak apa-apa Neng, masih banyak kesempatan," kata Bi Jenah.


Kemudian Bi Jenah yang malam ini memakai gamis motif bunga membuka pintu samping. Ia memang biasa masuk lewat sana, karena lebih dekat menuju kamarnya yang terletak di dekat dapur.


“Neng, kok enggak masuk?” tanya Bi Jenah saat melihat Harum tetap berdiri di gawang pintu.


“Masih ada yang nonton tv enggak, Bi?” tanya Harum. Ia khawatir Hangga dan Nata masih duduk menonton televisi di dekat kamarnya. Ia sedang tidak ingin melihat wajah kedua orang itu.


“Sepi, Neng. Kayaknya Mas Hangga sama Mbak Nata udah pergi tidur.”


Mendengar jawaban Bi Jenah, hatinya merasa sedikit lega. Kemudian Harum melangkah masuk menuju kamar.


Sementara, Hangga yang sedang menuruni anak tangga sontak memutar tubuhnya, kembali naik ke kamar setelah mendengar dan memastikan bahwa Harum telah kembali.


Sejujurnya, ia merasa sangat cemas karena tidak mendapati Harum di dalam rumah setelah pertengkaran mereka tadi.


.


.


.


.


Saya bukan penulis. Hanya sedang belajar menulis. Jadi, mohon maaf ya kalau alurnya lambat atau apa lah.


Bagi penulis remahan upil kayak saya ini, memang yang dikejar adalah jumlah kata dan jumlah bab. Makanya bab nya aku potong-potong biar tercium sistem.

__ADS_1


Terima kasih banyak dukungannya untuk sahabat semua. ❤️❤️❤️


__ADS_2