Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 41


__ADS_3

"Mas Hangga sudah menikah lagi dengan perempuan lain.”


Kedua mata Nina membulat dan mulutnya menganga karena terkejut mendengar pengakuan sahabatnya.


“Ini serius, Rum? Kamu lagi enggak bercanda?”


“Saya enggak mungkin bercanda untuk masalah seserius ini, Nin.” Harum bergeming sejenak seraya menatap sahabatnya, lalu ia mulai bercerita.


“Mas Hangga sudah memiliki kekasih. Dia menikahi saya demi menyenangkan ibunya. Sejak awal pernikahan kami tidak berjalan layaknya sebuah pernikahan. Karena Mas Hangga tidak pernah mencintai saya. Dia sangat mencintai kekasihnya dan mereka saling mencintai. Sampai kemudian saya memutuskan untuk mengizinkan Mas Hangga menikahi kekasihnya itu.”


“Kenapa kamu izinkan Mas Hangga menikahi kekasihnya?”


“Untuk apa saya menghalangi mereka, jika kenyataannya mereka saling mencintai. Bahkan pernikahan kami saja tidak dapat memutus perasaan cinta mereka.”


“Bukannya pernikahan kalian baru berjalan dua bulan?”


“Mas Hangga menikahi kekasihnya itu saat pernikahan kami berusia tiga minggu.”


Nina kembali terkejut mendengar pengakuan Harum.


“Ya Allah, Rum.” Nina menghambur memeluk Harum. Hatinya turut merasa sesak mendengar cerita sahabatnya. “Nina enggak tahu harus ngomong apa, Rum,” ujarnya sembari mengusap punggung Harum yang tengah berada dalam pelukannya.


Harum menumpahkan seluruh sesak dan rasa sakit yang selama ini menggumpal di dada, menangis terisak di pelukan Nina. Ia tidak menyesali keputusannya yang mengizinkan Hangga menikahi kekasihnya. Akan tetapi, perlakuan tidak adil Hangga yang membuatnya terluka.


Nina mengurai pelukannya, lalu mengusap jejak air mata Harum. “Kamu boleh nginep di sini, Rum. Enggak usah kasih kabar sama Mas Hangga kalau kamu nginep di sini. Biar kita lihat bagaimana reaksinya. Sekali-kali mungkin Mas Hangga harus diberi pelajaran,” ucap Nina yang ikutan kesal.


Harum menganggukkan kepalanya menyetujui usul Nina. Bukankah Hangga pernah berucap bahwa tidak peduli dengan dirinya.


“Apa Mas Hangga memperlakukan kamu dan istri keduanya itu dengan adil?” selidik Nina. Meskipun Harum bungkam tidak menjawab pertanyaannya, sepertinya Nina dapat menebak apa yang terjadi pada pernikahan sahabatnya itu.


Tidak mudah menjalani sebuah pernikahan poligami. Seandainya suami mampu berbuat adil pun, tidak menjamin istri-istrinya merasa bahagia. Apalagi jika suami bersikap tidak adil.


“Kalau tahu begitu, Nina enggak akan menghalangi Mas Arya buat deketin kamu, Rum,” ujar Nina kemudian.


Kening Harum mengerut mendengar ucapan Nina. “Maksudnya?”.


“Mas Arya itu suka sama kamu, Rum.”


“Suka sama kamu kali, Nin.”

__ADS_1


“Kalau dia suka sama Nina mah udah Nina seret ke KUA,” celetuk Nina. Harum langsung tersenyum mendengar celetukan Nina.


“Waktu awal-awal kita kenalan sama Mas Arya, dia pernah mau jemput kamu pulang kerja, terus Nina larang dan bilang kalau kamu udah ada yang punya,” terang Nina.


“Terus dia bilang begini ‘sebelum janur kuning melengkung, masih halal untuk menikung. Sebelum bendera kuning terpasang, masih bisa berjuang’. So sweet ya Mas Arya tuh," kata Nina dengan mata berbinar.


"Tapi akhirnya Nina bilang aja kalau kamu udah nikah.”


“Mas Arya tahu enggak kalau suami saya itu Mas Hangga?” tanya Harum.


“Rum, bukannya kamu pernah bilang kalau Mas Arya itu temannya Mas Hangga? Kok dia enggak tahu kalau kamu istrinya Mas Hangga?” Dengan raut bingung, Nina balik bertanya.


“Sebenarnya Mas Arya itu temannya Kak Nata.”


“Kak Nata itu siapa?”


“Istri kedua Mas Hangga.”


“Kak Nata? Kayak pernah dengar namanya.”


“Kak Nata itu perempuan cantik yang pernah hampir kecurian hape di kedai."


Harum mengangguk menjawab pertanyaan Nina.


“Pantas aja Mas Hangga tergila-gila, dia cantik soalnya.”


Harum menunduk mendengar ucapan sahabatnya itu.


“Tapi kamu lebih cantik kok, Rum. Buktinya Mas Arya naksir berat sama kamu. Kata Mas Arya kamu itu kayak sunlight. Mampu menghilangkan kenangan mantan yang membandel."


Harum tertawa. Tawa pertama setelah setelah pertengkarannya dengan Hangga kemarin malam.


*


“Yang, ke kamar yuk!” ajak Nata. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hangga yang tengah menatap televisi, bukan menonton televisi. Matanya tertuju pada televisi di depannya, tetapi hatinya tengah mencemaskan seseorang.


Berkali-kali, pria beristri dua itu melemparkan pandangannya pada penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Sudah pukul sepuluh lewat, seseorang yang dicemaskannya belum pulang juga.


“Yang!” seru Nata lagi sebab Hangga seperti tidak mendengar ajakannya.

__ADS_1


“Ya, kenapa?”


“Sudah jam sepuluh lewat, ke kamar, yuk!” Nata menengadahkan kepalanya menatap Hangga.


“Kamu duluan aja, Yang. Aku sebentar lagi.” Hangga mengecup bibir Nata.


“Kalau kamu masih mau di sini, aku juga di sini aja,” sahut Nata menyandarkan punggung di sofa sembari melipat tangan di dada.


“Sudah jam segini, Harum belum pulang. Biasanya paling telat itu jam sembilan,” ucap Hangga cemas.


“Mungkin sebentar lagi. Kemarin malam juga, dia pulang jam sepuluh bareng Bi Jenah,” sahut Nata yang tidak tahu bahwa sesungguhnya malam kemarin Harum telah pulang dan menangis di teras.


Hanga bangun dari duduknya, lalu melangkah menuju jendela utama. Membuka sedikit gorden, ia memandangi halaman rumah yang sepi. Hatinya semakin cemas karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, namun istri yang ditunggunya itu belum juga pulang.


Hangga takut Harum kabur gara-gara pertengkaran mereka kemarin.


Ia melangkah tergesa menuju ruang televisi menghampiri Nata. “Nat, aku harus jemput Harum."


Tanpa menunggu jawaban Nata, Hangga segera beranjak menuju mobilnya. Sementara kunci mobil sejak beberapa saat yang lalu telah digenggamnya.


Rinai hujan perlahan mulai turun saat Hangga baru menaiki mobil. Roda empat itu segera meluncur, menerjang jalan aspal yang mulai basah. Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan sisi kanan dan kiri jalan, berharap berpapasan dengan Harum. Namun hingga sampai depan kedai, ia tidak jua menemukan istrinya itu.


Kedai yang bercat ungu itu telah tutup saat Hangga sampai di sana. Hujan yang deras membuat area di depan kedai tampak sepi. Tidak ada seorang pun yang ia temukan di sana. Bahkan, tukang parkir yang biasanya masih berjaga di depan kedai pun sudah tidak ada lagi.


Hangga yang masih duduk di dalam mobil, meraih ponsel lalu menghubungi Nata untuk menanyakan apakah Harum sudah pulang atau belum. Barangkali saja, ia dan Harum berselisih jalan. Begitu pikirnya.


“Memang kamu belum ketemu Harum?” tanya Nata di ujung telepon.


“Belum.”


“Di kedai enggak ada?”


“Ini aku di depan kedai. Gak ada orang sama sekali.”


“Mungkin enggak sih kalau Harum pulang kampung?”


Hangga terdiam. Hatinya dirundung cemas. Bagaimana jika benar Harum pulang kampung. Bagaimana kalau Harum melaporkan kelakuannya pada kedua orangtuanya. Tetapi, yang paling dikhawatirkan Hangga adalah, bagaimana jika sampai terjadi apa-apa dengan Harum.


“Enggak tahu, Nat. Ya udah, aku mau cari Harum lagi,” ucap Hangga lesu. Meskipun ia juga tidak tahu harus mencari Harum ke mana.

__ADS_1


__ADS_2