Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
128


__ADS_3

Beberapa hari ini Bu Yusma terus saja kepikiran dengan percakapan Yuda melalui sambungan telepon bersama seseorang yang dipanggil Josh. Ibunda Yuda itu mengira bahwa Josh adalah seorang pria.


“Tidak. Tidak mungkin Yuda seperti itu.” Bu Yusma menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


“Tapi, bagaimana seandainya benar Yuda seperti itu? Buktinya perempuan secantik Harum saja, ia tolak. Apakah karena Yuda sudah berubah menjadi ...” Perempuan paruh baya itu bergidik ngeri membayangkannya. “Amit-amit jabang bayi ... Ihhhh!!” cicitnya sambil mengetuk meja tiga kali.


“Bayi siapa, Bu?” lontar Yuda menghampiri sang ibunda yang tengah duduk di depan televisi kemudian mengambil posisi duduk di sampingnya.


Bu Yusma langsung melengos begitu sang putra duduk di sampingnya. Yuda tersenyum sekilas melihat tingkah Bu Yusma. Yuda bukan tidak merasa, bahwa beberapa hari ini perempuan yang melahirkannya tersebut kerap kali bertingkah aneh. Yuda beberapa kali memergoki sang ibunda diam-diam menguping setiap ia menerima telepon. Dan yang lebih parah, Yuda pernah memergoki sang ibunda kedapatan tengah memegang ponsel Yuda seolah sedang berusaha menerobos privasinya.


Hal tersebut tidak biasa dilakukan oleh ibunya Yuda. Makanya kini Yuda begitu hati-hati menjaga ponselnya. Tidak sembarang meletakkan ponsel di mana saja. Yuda bukannya ingin menyembunyikan privasinya. Hanya saja menurut Yuda tidak elok jika kita menerobos privasi seseorang secara diam-diam begitu, sekalipun itu adalah ibunya. Jika ibunya memang ingin mengetahui suatu hal darinya, bukankah lebih baik bertanya.


“Ibu sudah minum obat belum?” tanya Yuda sembari merangkul pundak sang ibunda.


“Ibu enggak sakit. Hanya sedang banyak pikiran saja.” Gara-gara memikirkan masalah Yuda, tensi darah Bu Yusma sempat naik, beruntung tidak sampai kena stroke.


“Memangnya apa yang ibu pikirkan?”


Mendapatkan pertanyaan dari Yuda, Bu Yusma kini beralih menatap Yuda. Banyak yang ingin ia tanyakan pada putra semata wayangnya itu. Hanya saja ia bingung harus memulai dari mana.


Kita ke sorotan lainnya pemirsa. Isu LGBT kembali mencuat setelah ketua MPR beberapa waktu lalu menyebut soal adanya fraksi di DPR yang menentang dan mendukung LGBT. Berkaitan dengan hal tersebut lembaga survei SMRC pun menggelar dan telah merilis hasil survei kontroversi publik tentang LGBT di Indonesia. Hasil survey menyimpulkan masyarakat Indonesia memandang negatif LGBT. Mereka menilai LGBT adalah ancaman dan dilarang dalam agama.


Kebetulan sekali televisi yang sedari tadi menyala namun tidak ditonton itu menampilkan progam berita yang membahas soal isu LGBT. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut kepada Yuda.


“Yuda, apakah perilaku gay itu bisa disembuhkan?”


To the poin sekali pertanyaan Bu Yusma. Andai program berita televisi tidak sedang membahas isu soal LGBT, mungkin kening Yuda sudah berkerut mendengar pertanyaan ibundanya.


"Menurut dunia kedokteran saat ini, lesbian, gay, dan biseksual bukanlah penyakit dan bukanlah gangguan. Jadi tidak perlu disembuhkan,” jawab Yuda. Ia menjawab menurut pandangan dari sisi ilmu kedokteran. Kalau dikaitkan dengan agama, memang akan lain lagi uraiannya. Tetapi, bukankah semua orang beragama, apapun agamanya, sudah pasti tahu bahwa LGBT adalah perilaku menyimpang dan pastinya HARAM. Oleh sebab itu ia memilih menjawab dari sudut pandang kedokteran sesuai ilmu yang dipelajarinya.


Kecuali jika pelaku LGBT merasa tidak nyaman, itu bisa dibilang gangguan. Jika sudah seperti itu, barulah bisa dilakukan konseling dan terapi yang berkesinambungan. Begitu yang Yuda pernah dengar dari sisi kedokteran.


“Dasar gendeng!!” Bu Yusma menjewer telinga Yuda karena geregetan mendengar jawaban Yuda.


“Loh, loh, loh. Sakit, Bu. Ampun.” Yuda berusaha melepaskan tangan Bu Yusma dari telinganya.


“Enggak akan ibu lepas. Bocah gendeng!”


“Hihihihi ... Papi dijewer sama Oma.” Harum kecil tiba-tiba sudah hadir di sana dan tertawa cekikikan melihat sang papi dijewer oleh omanya.

__ADS_1


Kehadiran Harum kecil sontak membuat Bu Yusma melepaskan jewerannya dari telinga Yuda. Tidak boleh mempertontonkan kekerasan sekecil apapun di depan anak kecil. Begitu prinsipnya.


“Duh, Gusti Allah ampunilah hambaMu ini. Ampuni anakku yang gendeng ini ya Allah,” cicit Bu Yusma memilih berlalu meninggalkan putra dan cucunya.


“Terima kasih, Sayang. Untung Harum datang tepat waktu. Kalau enggak, bisa copot telinga Papi,” kata Yuda yang disahuti cekikikan dari putri kesayangannya.


“Papi nakal ya makanya dijewer sama Oma?” tanya Harum yang masih berdiri sembari memeluk boneka Mickey mouse kesayangannya.


“Enggak ah. Mana ada Papi nakal.”


Selepas menjawab pertanyaan sang putri, ia menggaruk kepalanya meski tidak gatal. Hatinya pun merasa kebingungan sendiri. Mengapa ibunya bereaksi se ekstrem itu kala mendengar jawabannya.


“Papi, kamar aku gelap karena lampunya rusak,” lapor putri kecil cantik itu.


“Besok nanti Papi benerin ya,” jawab Yuda yang pikirannya masih belum beranjak dari keanehan sikap ibunya.


“Ok. Dadah Papi...” Melambaikan tangan, putrinya Yuda itu berlari menuju pintu keluar.


“Loh, Sayang mau ke mana?”


“Aku mau tidur di rumah Mami Harum dan Papi Hangga.”


“Kayaknya aku harus cepat kasih Mami baru buat Harum. Anak itu semakin hari semakin lengket saja dengan si Harum dan Hangga,” gumamnya. Dan seketika kepalanya menjadi pening karena memikirkan sikap sang ibu dan putrinya.


*


“Astaghfirullah.” Harum terkejut saat Bu Yusma menceritakan kegelisahannya soal Yuda.


Bu Yusma menarik napasnya berat. Setelah beberapa hari memendam kegelisahannya sendiri, maka hari ini ia memutuskan untuk menceritakannya pada Harum. Toh Harum sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


“Enggak mungkin Mas Yuda seperti itu, Bu.” Bu Yusma sudah menduga, Harum pasti tidak akan percaya atas ceritanya.


“Ibu juga mau gak percaya. Tapi, gerak gerik Yuda itu menuju ke arah sana. Ibu sangat mengenal anak ibu. Ibu yakin Yuda itu sedang kasmaran. Tapi kenapa harus sama yang namanya Josh.” Bu Yusma berpendapat seperti itu karena telah berkali-kali mendapati putranya tengah berkomunikasi bersama seseorang yang dipanggil ‘Josh’. Dari pancaran wajah Yuda saat menerima telepon dari Josh, ia meyakini bahwa putranya itu tengah jatuh cinta dengan si penelepon.


Harum terdiam sesaat. Ia tidak tahu harus berpendapat apa. Ia memang tidak mengenal satu pun teman Yuda baik itu yang laki-laki maupun yang perempuan. Akan tetapi, Harum sependapat dengan perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. Belakangan ini tingkah pria yang pernah hampir menjadi suaminya itu memang sedikit berbeda. Lebih banyak senyum dan auranya tampak cerah sumringah seperti orang yang tengah jatuh cinta.


“Ibu sudah menanyakannya langsung ke Mas Yuda?”


“Belum sih. Karena ibu bingung harus bagaimana menanyakannya. Makanya ibu cerita sama kamu.”

__ADS_1


“Sebaiknya kita jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu sebelum kita mengetahui kebenarannya. Jadi, ibu tenang saja. Saya yakin Mas Yuda enggak seperti itu,” sahut Harum bijak.


“Apa sebaiknya ibu minta tolong Hangga untuk menyelidiki Yuda?” lontar Bu Yusma.


“Boleh juga. Nanti saya akan ceritakan hal ini ke Mas Hangga. Ibu tenang dulu. Jangan terlalu dipikirkan ya,” ujar Harum sambil menggenggam tangan mantan calon mertuanya.


“Ngomong-ngomong Hangga ke mana, Rum?”


“Tadi sih bilang mau ke Indomaret depan beli es krim sama Harum kecil.”


“Lah, Harum kan lagi main sama anak tetangga.”


*


“Saya kira bohlamnya yang putus, Mas,” ujar Yuda yang tengah menemani Hangga membetulkan listrik yang mati di kamar Harum—putrinya.


“Bukan, Mas. Bohlamnya masih nyala kok. Ini fitting lampunya yang bermasalah. Saya ganti yang baru aja biar aman,” sahut Hangga yang tengah memasang kabel di fitting lampu yang baru dibelinya.


“Mas Hangga hebat nih ngerti soal listrik,’ puji Yuda. Mungkin ia boleh ahli soal ilmu kedokteran, tapi skill Yuda tentang listrik ternyata nihil.


“Yang hebat mah penemu listriknya, Mas,” seloroh Hangga seraya naik ke atas bangku untuk memasang fitting lampu.


“Mas, biar saya saja yang pasang bohlamnya.” Yuda menahan Hangga yang hendak memasang bohlam ke fitting. “Biar Harum bangga sama papinya karena bisa benerin lampu kamarnya yang mati,” lanjutnya.


Hangga tersenyum mendengar ucapan Yuda. “Baiklah. Buat putrimu bangga, Mas. Semangat!!” candanya sembari mengepalkan tangan. Keduanya kompak tertawa di dalam kamar yang hanya dihuni mereka berdua.


Setelah Hangga turun dari bangku, gantian Yuda yang naik ke bangku untuk memasang bohlam.


“Mas Hangga pegangin bangkunya ya,” pinta Yuda.


“Siap, Mas. Hati-hati ya.”


Baru Hangga berkata hati-hati. Entah apa penyebabnya, tubuh Yuda malah limbung dan terjatuh tepat di atas kasur dengan posisi menindih tubuh Hangga yang ikut terjatuh.


“Yuda!!”


“Mas Hangga!!”


Bu Yusma dan Harum kompak berteriak melihat pemandangan tidak senonoh di hadapannya. Kedua pria itu tengah saling bertatapan dengan posisi Yuda yang menindih tubuh Hangga.

__ADS_1


Kacau, kacau.


__ADS_2