Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 42


__ADS_3

Air langit turun begitu deras, sesekali diiringi dentum petir yang menggelegar. Hangga menghentikan mobilnya di halaman rumah. Ia turun lalu berlari masuk dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup sejak tadi.


Bi Jenah berlari kecil menghampiri Hangga dengan membawa payung.


“Enggak usah, Bi. Udah basah juga,” tolak Hangga, lalu berlari masuk ke rumah menerjang hujan.


“Gimana, Yang?" tanya Nata begitu Hangga masuk rumah.


“Enggak ketemu,” jawab Hangga seraya menggelengkan kepalanya.


“Kenapa kamu enggak telepon dia aja sih," kata Nata.


Hangga bergeming sejenak, lalu menjawab, “aku enggak punya nomor teleponnya.”


Hangga memang tidak memiliki nomor ponsel Harum. Pernah sekali Hangga mendapatkan pesan WA dari Harum saat sebelum ia menikahi Nata, tetapi ia tidak terpikir ingin menyimpan nomor tersebut dan malah langsung menghapus pesan sekaligus menghapus room chatnya. Sehingga nomor Harum hilang begitu saja tanpa jejak.


“Gimana sih, kamu ‘kan suaminya malah enggak tahu nomornya,” omel Nata.


Padahal, apa yang dilakukan Hangga adalah bentuk kesetiaannya pada perempuan pujaannya tersebut.


“Memangnya Mas Hangga habis ke mana, sampai hujan-hujanan begitu?” tanya Jenah yang sedari tadi menyimak percakapan antara Hangga dan Nata, tetapi tidak memahami apa yang terjadi.


“Bibi punya nomor telepon Harum?” Nata melontarkan pertanyaan kepada Bi Jenah, mengingat Harum tampak begitu akrab dengan ART-nya tersebut.


“Punya, Neng,” jawab Jenah. “Oya, Neng Harum malam ini nginep di mes, sudah izin sama Mas Hangga ‘kan?” lontarnya kemudian.


“Harum nginep di mes?” Hangga balik bertanya.


“Iya, Mas.”


Hangga menarik napas panjang sembari memegang kepalanya. Mengapa hal tersebut tidak terpikirkan olehnya. Harum tidak memiliki saudara di kota ini. Ia pun tahu, Harum hanya berteman dengan para karyawan kedai.


Tidak mungkin Harum pergi ke mana-mana, kecuali ke mes tempat teman-temannya tinggal. Malahan Hangga berpikir sangat jauh, sempat mengira Harum pulang ke rumah orangtuanya.


Hal itulah yang membuatnya cemas. Jika Harum sampai pulang ke rumah orangtua Hangga sendirian, sudah dipastikan Hangga akan kena omel ibunya.


“Kenapa Bibi enggak bilang dari tadi,” tegur Nata.


“Saya kira Neng Harum sudah bilang sama Mas Hangga,” kilah Bi Jenah.


Bi Jenah mendapatkan telepon dari Harum selepas isya tadi. Istri pertama majikannya itu mengabarkan bahwa malam ini tidak pulang ke rumah dan akan menginap di mes.


Setelah mendapat telepon dari Harum, Bi Jenah langsung tertidur. Lalu terbangun beberapa menit yang lalu dan mendapati Nata masih duduk di depan televisi sendirian.


“Tolong nanti kirimkan nomor Harum ke nomor saya ya, Bi,” titah Hangga.


“Baik, Mas.”


“Bi, ambilkan handuk untuk Hangga ya.”


“Iya, Neng,” jawab Bi Jenah patuh, lalu segera berlalu untuk mengambil handuk.

__ADS_1


*


Keesokan harinya saat jam kantor istirahat, Hangga datang ke kedai untuk menemui Harum. Istri pertama Hangga itu baru selesai menunaikan salat Zuhur saat sang suami datang menemuinya.


Harum cukup terkejut dengan kedatangan Hangga. Tumben sekali Mas Hangga datang ke sini. Gumam Harum dalam hati.


Ini adalah kedatangan kali pertama Hangga ke kedai setelah statusnya sebagai suami Harum.


“Kenapa semalam kamu enggak pulang?” tanya Hangga saat telah berdiri di hadapan Harum. Suara Hangga terdengar bindeng di telinga Harum.


“Maaf, di sini semalam hujan,” sahut Harum. Ia tidak berbohong, sebab semalam hujan memang turun dari sejak magrib, sehingga kedai pun tutup lebih awal dari biasanya.


“Lain kali kalau mau enggak pulang, kabari saya,” ujar Hangga kalem. Intonasinya datar, bukan seperti orang yang tengah marah-marah.


Harum cukup tercengang mendengar reaksi Hangga. Ia mengira kedatangan Hangga adalah untuk mengomelinya atau mau melempar percik-percik pertengkaran seperti kejadian dua malam yang lalu.


“Iya, Mas,” sahut Harum sembari menatap wajah Hangga yang tampak pucat.


Apa Mas Hangga sedang sakit? tanya Harum dalam hati.


“Tapi kamu enggak ....” Belum selesai Hangga berbicara, ponsel di sakunya berbunyi dan menampilkan panggilan dari nomor kantor. Hangga segera menerima panggilan telepon dari salah satu rekan kerjanya.


“Iya, tadi gue cari lo. Mau minta tolong, nanti habis istirahat tolong bilangin ke Pak Bos kalau gue izin pulang, karena lagi enggak enak badan,” ujar Hangga pada rekan kerja yang meneleponnya.


“Mas Hangga mau saya buatkan roti bakar atau minuman?” tawar Harum setelah Hangga selesai dengan ponselnya. Sebab Hangga terlihat pucat dan lesu seperti orang sakit yang belum makan.


“Enggak usah, saya cuma mau ngomong itu sama kamu,” sahut Hangga lalu berbalik badan hendak keluar dari ruang berukuran 3m x 3m yang berfungsi sebagai ruang kantor kedai.


“Ya,” jawab Hangga tanpa menoleh ke belakang dan tanpa menatap Harum.


“Saya boleh ikut pulang dengan Mas Hangga?” Harum yang mengkhawatirkan kondisi Hangga yang sepertinya tengah sakit, berinisiatif untuk pulang.


Pertanyaan kedua Harum membuat Hangga berbalik badan. Pria yang memakai kemeja hitam itu menatap Harum beberapa jenak.


“Boleh,” jawabnya lalu kembali melanjutkan langkah.


Setelah mendengar jawaban Hangga, Harum segera membereskan meja kerjanya, mengembalikan beberapa pembukuan ke tempatnya. Kemudian menghampiri Hangga yang berdiri menunggu di meja pemesanan.


“Ayo!” seru Hangga saat posisi Harum hampir di dekatnya.


Harum bergerak patuh, berjalan mengekor di belakang Hangga. Saat keduanya telah sampai di luar kedai dan hendak masuk mobil, terdengar seruan Nina yang memanggil nama Harum dari pintu kedai yang dibuka sedikit.


“Rum, baksonya!” seru Nina, tangannya mengangkat tinggi-tinggi sebuah kantong keresek berwarna hitam.


“Bakso?” Harum mengerutkan kening. “Saya enggak pesan bakso,” sahut Harum yang sudah berdiri di samping mobil.


Nina berlari kecil menghampiri Harum. Sementara Hangga memilih untuk masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi dengan kaca pintu mobil yang dibiarkan terbuka.


“Dari Mas Arya. Tadi dia datang ke sini bawa bakso. Katanya ini menu bakso terbaru, namanya bakso selimut hati. Kita dipercaya untuk mencicipi sebelum menu bakso ini dirilis,” terang Nina.


Harum yang berdiri di pintu mobil samping dekat kursi pengemudi, melirik Hangga. Bertepatan dengan Hangga yang juga sedang meliriknya dari kaca spion.

__ADS_1


“Buat kamu aja, Nin,” ucap Harum akhirnya. Ia takut Hangga salah paham lagi kalau tahu bakso itu pemberian Arya.


“Nina mah udah, tadi ‘kan Mas Arya bawa dua. Nih, buat kamu!” Nina menyerahkan kantong keresek berisi bakso itu kepada Harum, tanpa Harum bisa menolak. Setelahnya, Nina berlari masuk ke dalam kedai.


Harum kembali melirik Hangga. Hangga yang sedari tadi memperhatikan dan menguping obrolan Harum dan Nina, segera membuang pandangannya dari kaca spion.


“Kamu duduk di depan aja,” titah Hangga saat Harum membuka pintu mobil samping.


Harum mengangguk patuh, lalu berjalan menuju bagian depan mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah Hangga.


Roda empat yang dikendarai Hangga mulai bekerja menggilas aspal jalanan. Sepuluh menit pertama, suasana mobil hening senyap, tidak ada obrolan antara sepasang suami istri tersebut.


Harum dan Hangga, keduanya seakan berat untuk memulai obrolan. Sampai di menit berikutnya, baru Hangga bicara.


“Saya minta maaf soal malam itu,” ujar Hangga melirik Harum. “Seharusnya saya bisa menjaga perkataan saya,” sambungnya.


Harum diam saja tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan memandang ramainya kendaraan yang saling berpacu. Tidak berminat menanggapi ucapan Hangga.


Lagi pula, ia harus menjawab apa?


Iya, saya maafkan Mas Hangga. Dan sekarang mari kita mulai hubungan pernikahan yang hangat. Tidak mungkin Harum menjawab seperti itu kan? Harum mana berani berkata begitu.


“Dimaafkan enggak?” Hangga menoleh sekejap ke arah Harum yang duduk di sampingnya, sebab Harum tak kunjung menanggapi ucapannya.


“Eh, iya.” Harum gelagapan, tidak menduga Hangga akan bertanya seperti itu. “Saya juga minta maaf, Mas,” ucapnya kemudian.


Hangga mangut-mangut menanggapinya.


Kembali atmosfer hening yang tercipta di dalam mobil SUV putih itu.


“Siapa yang kasih bakso?” Setelah hening beberapa saat, Hangga bertanya tanpa melirik Harum.


Entah kenapa Hangga sangat penasaran. Kalau tidak salah dengar, nama Arya disebut-sebut dalam obrolan Harum bersama Nina tadi.


Harum duduk sambil meremas jari jemari di pangkuannya, bimbang apakah harus menjawab atau tidak.


“Dari Mas Arya,” jawab Harum ragu. Ia langsung mempersiapkan hati, jika seandainya Hangga marah lagi lalu menuduhnya yang macam-macam seperti dua malam yang lalu.


“Oh.”


Tidak disangka hanya satu kata ‘oh’ yang keluar dari bibir Hangga.


Mobil kembali melaju dalam kebisuan penumpangnya. Akan tetapi, Hangga masih penasaran tentang sosok Arya. Hangga yang tidak mengetahui Arya membuka kedai bakso, berpikir bahwa Arya yang dimaksud mungkin Arya yang lain.


“Arya siapa?” Pertanyaan Hangga kembali memecah kebisuan mereka.


Harum menoleh pada Hangga, merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Bertepatan dengan Hangga yang juga menoleh ke arah Harum. “Arya siapa?” ulang Hangga.


“Arya temannya Kak Nata,” jawab Harum jujur.


Memangnya Arya siapa lagi.

__ADS_1


__ADS_2