
“Hah, hah, hah.”
“Hangga, bangun!” seru Nata sembari memukuli pundak Hangga. Ia melihat suaminya yang tertidur dalam posisi duduk dengan kepala merebah di ranjang, tampak terengah-engah. Titik-titik peluh juga tampak membasahi dahi pria tampan itu.
“Hangga!” Nata memukul lebih keras lagi pundak Hangga.
“Hah.” Hangga terlonjak bangun.
“Kamu kenapa? Mimpi?” tanya Nata.
Beberapa saat Hangga hanya terdiam, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
“Astaghfirullah,” lirih Hangga seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Mimpi buruk ya? Mimpi buruk apa?” cecar Nata yang begitu penasaran.
“Bukan.” Hangga menguntai sebuah senyuman. “Kamu kenapa enggak tidur? Apa perlu sesuatu?”
Nata menggeleng pelan. “Aku udah tidur, terus tadi bangun karena ngedenger kamu tidurnya gelisah banget. Berisik.”
“Maafin aku ya, karena udah bangunin kamu,” sahut Hangga membelai rambut Nata. “Sekarang kamu tidur lagi gih. Tuh masih jam dua. Masih lama subuhnya.”
“Kamu mau minum?” tanya Hangga karena Nata tidak kunjung memejamkan mata dan terus memandanginya.
Nata menjawab dengan anggukan. Dengan telaten, Hangga membantu Nata minum.
“Makasih,” ucap Nata setelahnya.
“Sama-sama. Kamu tidur lagi ya, Yang. Aku mau solat dulu,” kata Hangga sembari meletakkan kembali botol air mineral ke atas nakas. Setelah kehilangan Harum dan Nata didiagnosa kanker, Hangga jadi sering melakukan salat malam.
“Jangan lupa doakan Harum,” pesan Nata.
Hangga bergeming sesaat. Ia teringat mimpinya tadi. Mimpi Harum datang menemuinya dan meminta izin hendak menikah lagi dengan seorang pria. Di dalam mimpi itu, Hangga ingin mencegah dan mengatakan kepada Harum bahwa Nata ingin bertemu dengannya. Akan tetapi, seakan tidak peduli dengan ucapan Hangga, Harum yang terlihat sangat cantik itu pergi begitu saja meninggalkan Hangga.
“Rum, tunggu!” Hangga berlari-lari mengejar Harum sehingga ia terbangun tidur dengan napas terengah-engah.
Harum Sayang, bagaimana kabar kamu? Mas kangen, Rum.
*
“Harum cantik, bekalnya udah mami taruh di tas ya,” kata Harum yang tengah mengantarkan putri Yuda itu masuk ke kelasnya.
“Apa bekalnya, Mih?”
__ADS_1
“Donat kesukaan Harum cantik.”
“Asyiiiik." Harum kecil bersorak riang.
“Nanti jangan lupa dimakan ya, Sayang. Jangan lupa berbagi sama teman juga," pesan Harum.
“Siap, Mami,” sahut Harum kecil ceria.
“Selamat belajar dan bermain ya, anak cantik. Cium dulu sini.” Harum membungkukkan tubuh lalu mengecup pipi putri Yuda kanan dan kiri.
“Dadah, Mami. Nanti jemputnya jangan telat ya.”
“Iya, Sayang.” Harum memandangi putri Yuda yang berlarian masuk kelas berbaur bersama teman-temannya.
Bagi Harum, menjadi pengasuh putri Yuda itu bukan sekedar pekerjaan. Kesibukannya mengurus Harum kecil telah mampu menyembuhkan luka hati pasca perpisahannya dengan Hangga. Dan Harum sangat menyayangi putri dari dokter yang telah melamarnya tiga hari yang lalu itu.
Tiga hari ini Harum terus berpikir, apa yang akan terjadi jika ia memutuskan menolak lamaran Yuda?
Setelah putri cantik Yuda itu masuk kelas, Harum beranjak meninggalkan sekolah. Tujuan Harum selanjutnya adalah menuju kantin. Duduk di bangku kemudi, Harum mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut. Yuda memang mewajibkan Harum untuk menggunakan mobil di setiap kegiatan bersama putrinya. Jika bepergian sendiri, baru Harum diperbolehkan menggunakan motor.
Harum memarkirkan mobil di area parkir rumah sakit, lalu berjalan kaki menuju kantin dengan menentengi dua box berisi donat dalam sebuah kantong plastik. Donat yang sengaja ia buat untuk Harum kecil dan sisanya hendak ia berikan kepada Yuda.
Saat melewati area parkir khusus dokter, ia berpapasan dengan Yuda yang baru turun dari mobil.
“Rum,” sapa Yuda begitu melihat sosok Harum melintas di depannya. “Harum sudah diantar ke sekolah?” tanyanya basa-basi.
“Wah, apa ini?” lontar Yuda dengan ekspresi antusias.
“Ini donat. Tadi pagi saya bikin donat untuk bekal Harum. Bikinnya lumayan banyak, masih ada sisanya.”
Yuda menerima tentengan plastik dari tangan Harum. “Makasih ya, Rum. Tapi, ini ada dua box, apa enggak kebanyakan?”
“Enggak, apa-apa, Mas. Sisanya bisa dikasih untuk teman perawat atau siapa lah.”
“Baiklah. Makasih ya, Rum,” ucap Yuda sembari menguntai senyum.
“Ayo kita jalan bareng. Kamu mau ke kantin ‘kan?” lontar Yuda yang dijawab Harum dengan sebuah anggukan.
Kantin milik Yuda memang berada di area gedung rumah sakit. Dan kini keduanya berjalan bersama menuju tempat tujuannya masing-masing.
“Mas.”
“Hem.”
__ADS_1
“Saya mau menjawab tentang apa yang diutarakan Mas Yuda tiga malam yang lalu,” ujar Harum disela langkah kakinya.
Mendengar kalimat yang diucapkan Harum, Yuda menghentikan langkah. Membuat Harum juga turut menghentikan langkah.
“Secepat itu?” tanya Yuda sembari menatap Harum.
“Sekarang atau pun nanti, saya tetap harus menjawabnya ‘kan?” sahut Harum balas menatap Yuda.
“Ya, kalau memang kamu sudah memutuskan, saya akan siap mendengarkan apa pun jawaban kamu.” Semula Yuda mengira, waktu satu minggu atau bahkan satu bulan tidak cukup bagi Harum untuk memberikan jawaban atas lamarannya. Tapi ternyata, baru tiga hari Harum sudah siap memberikan jawaban.
“Tetapi, sebelumnya saya ingin menanyakan sesuatu kepada Mas Yuda. Jawaban Mas Yuda atas pertanyaan saya, menjadi dasar jawaban saya atas lamaran Mas Yuda.”
Tiga hari ini Harum telah memikirkan matang-matang atas apa yang akan diputuskannya. Keputusan yang akan diambil Harum tergantung dari apa jawaban Yuda nanti.
Yuda mangut-mangut. “Baik. Saya ke ruangan saya sebentar untuk mengecek jadwal. Jika memungkinkan, kita bertemu di taman belakang rumah sakit. Saya akan telepon kamu nanti.”
Harum mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya. Diikuti Yuda yang kembali mengiringi langkah Harum. Keduanya berjalan bersama. Sampai kemudian mereka berpisah menuju tempatnya masing-masing.
Yuda masuk ke ruangannya. Setelah meletakkan tentengan pemberian Harum ke atas meja, ia memanggil perawat untuk menanyakan jadwal dan jumlah antrean pasiennya..
“Saya tunda sebentar ya, karena saya ada keperluan,” kata Yuda kepada seorang perawat perempuan yang masih muda.
“Baik, Dok.” Perawat itu hendak berbalik badan, namun dicegah Yuda. “Tunggu!”
“Iya, Dok?”
“Ini bawa. Bagikan sama teman-teman kamu,” ujar Yuda sembari menyodorkan kantong plastik berisi dua box donat.
“Apa tuh, Dok?”
“Donat. Saya enggak makan yang manis-manis.” Harum mungkin tidak tahu bahwa Yuda sangat menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuhnya. Selain untuk menjaga bentuk tubuhnya, pria bertubuh atletis tersebut juga selalu mematuhi pesan Ranum yang adalah seorang dokter gigi. “Jangan sering-sering makan yang manis. Enggak bagus buat gigi.”
“Wah, makasih, Dok," ucap perawat itu dengan senang hati.
“Ya. Sama-sama,” sahut Yuda, lalu segera meninggalkan ruangannya untuk menemui Harum.
Mengayun langkah melewati koridor rumah sakit, Yuda menghubungi Harum. “Rum, saya lagi jalan ke taman. Kamu juga cepat ke sana ya. Jangan lama-lama karena banyak pasien yang udah nunggu,” cerocosnya melalui panggilan telepon.
Kini Harum dan Yuda telah duduk di bangku taman. Taman atau ruang terbuka hijau itu terletak di area belakang gedung rumah sakit. Taman tersebut selain untuk area interaksi sosial, juga berfungsi untuk tempat mencari udara segar bagi pasien dan pengunjung rumah sakit, terutama pasien yang dalam masa pemulihan.
“Ya, jadi gimana, Rum?” todong Yuda tidak sabaran.
“Sebelum saya menjawab, saya ingin menanyakan suatu hal dulu kepada Mas Yuda. Boleh?”
__ADS_1
“Boleh. Silakan tanya saja. Kamu mau tanya apa memangnya?”
“Saya mau tahu, apa alasan Mas Yuda ingin menikahi saya?” Harum menjeda ucapannya sejenak dan memberanikan diri menatap Yuda sampai ke sorot mata terdalamnya. “Apakah Mas Yuda mencintai saya?”