
Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, pasangan suami istri itu check out dari hotel. Meskipun berat dan enggan menyudahi kebersamaan mereka di Pulau Bali, akhirnya mereka pulang juga. Beruntung di malam terakhir, Harum telah suci sehingga mereka bisa merayakan cinta yang sempat tertunda. Dan mengukir kenangan indah yang tidak mungkin terlupa.
“Semoga kapan-kapan kita bisa ke sini lagi ya, Hum,” ujar Hangga sesaat setelah meninggalkan kamar hotel.
“Amin. Tapi, sebelum Mas Hangga mengajak saya ke sini lagi, Mas Hangga harus ajak Kak Nata dulu ke sini, biar adil,” sahut Harum.
Mereka menaiki taksi menuju Bandara Ngurah Rai lalu terbang menuju Bandara Soekarno Hatta.
“Hum, kita pulang naik taksi aja ya. Soalnya ini udah jam makan siang. Kedai pasti lagi rame dan anak-anak kedai pasti lagi sibuk. Mas enggak bisa nyuruh anak kedai jemput kita,” ujar Hangga sembari menyeret kopernya. Harum mengangguk setuju.
Hangga memesan taksi berwarna biru itu dengan tujuan pulang ke kedai. Sekitar pukul 13.00 pasangan suami istri itu sampai di kedai. Harum mengajak Hangga untuk singgah di mes dulu untuk menunaikan salat Zuhur. Kebetulan di jam tersebut, mes sudah sepi sebab para karyawan shift siang telah pergi ke kedai.
“Mas mau makan siang apa?” tawar Harum usai salat.
“Mas sih inginnya ngopi dulu, Hum. Kepala mas agak pusing,” sahut Hangga sembari merebahkan diri di sofa di ruang tamu mes.
"Kalau begitu saya buatkan kopi dulu ya." Harum pergi ke kedai untuk membuatkan kopi pesanan suaminya juga beberapa kudapan lainnya.
“Teh Harum makasih ya oleh-olehnya,” ucap beberapa karyawan kedai begitu Harum masuk kedai.
“Iya, sama-sama." Harum memang membelikan oleh-oleh rata kepada seluruh karyawan, meskipun hanya sebuah kaus Bali.
“Rum, kemarin si Song Hye Kyo itu ke sini loh,” beritahu Nina saat Harum tengah membuat kopi di dapur kedai.
“Iyakah, Nin? Terus bagaimana?" lontar Harum antusias, tetapi tangannya tidak berhenti mengaduk kopi.
“Dia kayaknya nanyain kamu sama si Ida. Terus si Ida bilang kalau kamu lagi cuti," terang Nina.
Harum terdiam, hatinya sedang berdoa semoga saja sang madu tidak mencurigai dirinya dan Hangga.
“Ya sudah, Nin. Saya mau antarkan kopi dulu buat Mas Hangga,” pamit Harum setelahnya.
“Oke, Harum cantik. Betewe makasih ya oleh-olehnya.”
__ADS_1
“Masama, Nina geulis.”
Hangga tengah berbaring di atas sofa dengan mata terpejam saat Harum datang mengantarkan kopi hitam dan pisang bakar coklat keju yang masih panas.
Harum meletakkan baki yang dibawanya ke atas meja lalu duduk di tepi sofa tempat Hangga berbaring. Ia tersenyum memandangi wajah suaminya yang tampak kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan, semalam mereka begadang merajut cinta, kemudian diulangi satu babak saat bangun tidur sebelum salat Subuh.
“Katanya minta dibuatkan kopi, malah tidur, Mas.” Harum bergumam lirih.
Tidak mendapat sahutan dari Hangga, membuat Harum berpikir untuk pergi ke kedai saja hendak mengecek laporan harian kedai yang kemarin di back up oleh Nina. Harum hendak bangkit dari duduknya, namun tangan kekar Hangga malah menariknya sehingga membuat tubuh mungil Harum terjerembap jatuh di atas tubuh Hangga.
“Mau ke mana sih, Hum? Sini aja dong temani mas.” Hangga berkata dengan mata terpejam dan memeluk Harum.
“Ish, Mas Hangga. Kirain tidur.”
“Enggak tidur, Cuma lagi lowbat aja. Harus meluk kamu begini biar full lagi," katanya sembari mengusap punggung Harum.
Harum berusaha untuk bangkit, namun sulit karena Hangga mendekapnya sangat erat.
“Mau ke mana sih, Hum? Udah begini aja, kan gak ada orang.”
Harum yang tadi memberontak, kini terdiam. Membiarkan Hangga memeluknya erat. Kini ia pun meresapi usapan lembut tangan Hangga di punggungnya yang tertutup baju. Bukankah setelah ini, hubungannya bersama Hangga belum tentu bisa sehangat dan semanis ini?
"Kata Nina, kemarin Kak Nata ke sini," ucap Harum membuka obrolan setelah beberapa menit keduanya terlarut dalam keheningan seraya meresapi pelukan.
"Hussh, kalau lagi begini, please jangan bahas yang lain dulu. Mas enggak mau memikirkan itu dulu."
“Tapi, Mas Hang ....” Ucapan Harum terpotong karena kehadiran seseorang di gawang pintu.
“HANGGA!” Nata berteriak dengan napas memburu.
Hangga yang tengah rebahan sembari memeluk Harum sontak terbangun dan lekas berdiri.
"Nata." Hangga dan Harum tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
__ADS_1
“Tega kamu bohongi aku, Hangga! Dinas ke luar kota itu bohong dan kamu enak-enakan bulan madu sama Harum!” tukas Nata penuh emosi.
“JAHAT KAMU, HANGGA! JAHAT!” Menangis meraung, Nata berlari menghampiri Hangga dan memukuli suaminya itu dengan kalap.
“JAHAT KAMU! TEGA KAMU!” racau Nata sembari terus memukul dan juga menendang.
“HENTIKAN, NAT!” Kedua tangan Hangga menangkap kedua tangan Nata yang terus memukulinya. Hangga bisa melihat napas Nata terengah-engah karena emosi.
“Harum itu istri aku. Kamu harus memahami itu, Nata! Enggak berdosa kalau aku ajak Harum bulan madu. Next, aku akan gantian ajak kamu. Aku terpaksa bohongin kamu. Memangnya kalau aku enggak berbohong begini, kamu akan kasih izin aku untuk berduaan bersama Harum. Enggak ‘kan?”
“HANGGA!!” Nata memberontak tidak terima, sehingga tangannya berhasil terlepas dari cekalan tangan Hangga. Lalu, seperti yang biasa dilakukannya jika tengah emosi, tangan Nata melayang hendak menampar Hangga.
“CUKUP NATA!” hardik Hangga menangkap tangan Nata sebelum sampai ke pipinya. Kali ini Hangga tidak membiarkan Nata menamparnya.
“Kamu selalu begini, Nata! AKU ENGGAK SUKA!” seru Hangga sedikit berteriak.
Bertahun-tahun menjalani hubungan cinta bersama Nata, sudah tidak terhitung berapa kali pipi Hangga menjadi sasaran emosi perempuan cantik berwajah oriental yang dulu sangat dipujanya itu. Nata selalu kalap jika Hangga kedapatan tengah berdua bersama perempuan, meskipun perempuan itu hanyalah sekedar teman.
Nata menatap Hangga tidak percaya. Ia tidak menyangka pria yang sangat dicintainya itu berani menentangnya seperti ini. Selama ini, Hangga adalah sosok kekasih yang penurut dan selalu mengalah. Tetapi, tidak kali ini. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan Hangga berbeda. Bahkan, Hangga tadi berkata dengan berteriak seperti membentak.
“Hangga, kamu?” Terisak-isak Nata mengucapkan kalimat itu sembari menatap pria pujaannya. Mencoba menyelami sorot mata Hangga yang dahulu hangat dan selalu dirindukannya.
Ada apa dengan Hangga? Apakah Hangga sudah tidak mencintaiku lagi? Batin Nata kepayahan menolak semua prasangka hatinya.
Kemudian pandangannya beralih menatap Harum. Nata bisa melihat perempuan yang lebih dulu menjadi istri Hangga itu tampak tengah menatapnya dengan tatapan bersalah.
“Maafkan saya, Kak,” ucap Harum. Setelah berkata begitu, ia menundukkan kepala tidak berani menatap Nata.
“Cukup, Rum! Jangan lagi kamu merasa bersalah pada dia. Enggak perlu meminta maaf karena kamu enggak bersalah. Sudah cukup kamu mengalah selama ini. Dan sudah waktunya bagi dia untuk memahami,” tutur Hangga.
Nata menggelengkan kepala tidak percaya. Hangga benar-benar telah berubah. Bahkan, Hangga berkali-kali menyebut "dia", seolah enggan menyebut namanya. Dan itu sungguh membuat Nata terluka.
Air mata yang tadi tertahan, kini jatuh meluruh seiring rasa cinta Hangga kepadanya yang juga jatuh meluruh. Begitu yang dirasakan perempuan cantik itu.
__ADS_1