Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 87


__ADS_3

Rasa cinta Nata pada Hangga yang cenderung gila dan rasa kecewa yang teramat besar telah membutakan akal sehat Nata. Istri kedua Hangga itu melakukan upaya bunuh diri dengan berusaha memotong urat nadi pergelangan tangannya. Beruntung, Bi Jenah yang mendengar teriakan marah-marah Nata, berinisiatif untuk menerobos masuk kamar sang majikan, tidak lama setelah Nata melakukan hal bodoh tersebut.


Kini Harum dan Hangga duduk resah di depan ruang UGD menantikan kabar dari dokter. Harum tidak dapat menahan air matanya, ia sangat-sangat merasa bersalah dengan situasi yang terjadi. Hatinya terus melantunkan doa semoga madunya itu bisa diselamatkan. Apa jadinya kalau Nata tidak selamat, ia pasti akan merasa dikejar-kejar dosa seumur hidupnya.


“Ini kesalahan kita,” lirih Harum sembari mengusap setitik air mata yang jatuh di pipi.


Hangga yang duduk berdampingan bersama Harum, meraih kepala istri pertamanya tersebut dan mengarahkan supaya bersandar di bahunya. “Tidak perlu saling menyalahkan, Rum. Yang harus dilakukan sekarang adalah berdoa untuk keselamatan Nata.”


Harum menahan kepala dan tubuhnya, menolak menyandarkan diri pada Hangga. “Ya Allah selamatkanlah Kak Nata,” lirihnya dalam hati dengan kedua tangan menangkup di wajah.


Hangga terjingkat bangun begitu melihat seorang dokter membuka pintu UGD. “Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanyanya cemas.


“Beruntung Anda lekas membawanya kemari, sebab luka sayatan cukup luas dan dalam sehingga menyebabkan pasien banyak kehilangan darah. Kehilangan banyak darah akibat kondisi ini bisa membuat pasien mengalami anemia, hipotensi, bahkan syok yang bisa membuat kesadaran menurun. Andai terlambat membawanya ke sini, kemungkinan pasien bisa ....” Dokter menjeda sejenak ucapannya, “ya begitulah.”


“Jadi, sekarang keadaannya bagaimana, Dok?” ulang Hangga. Ia merasa penjelasan panjang lebar dokter pria berkepala setengah botak itu belum menjawab pertanyaannya.


“Alhamdulilah pasien bisa diselamatkan.”


“Alhamdulillah,” ucap Hangga penuh syukur.


Harum yang tengah duduk dengan tangan saling bertaut di bawah dagu sembari merapalkan doa dalam hati, turut mengucap syukur mendengar jawaban dokter.


“Pasien juga sudah mulai sadar. Saran saya, pasien dirawat dulu di sini. Dan jauhkan pasien dari segala sesuatu yang membuat jiwanya terguncang. Lebih baik lagi jika pasien mendapatkan penanganan dokter psikolog atau psikiater," saran dokter berusia kepala lima tersebut.


“Iya, Dok. Terima kasih, terima kasih banyak.”


“Sama-sama, Pak. Mari saya tinggal dulu,” pamit sang dokter.


“Iya, Dok. Terima kasih.”


"Alhamdulillah Mas, Kak Nata selamat," ucap Harum yang menghampiri Hangga sepeninggal dokter. Raut wajah cemasnya berangsur cerah sebab mendapatkan kabar kondisi Nata yang terselamatkan.


"Iya, Rum. Alhamdulillah," sahut Hangga penuh kelegaan.


*


Beberapa jam setelahnya, Nata dipindahkan ke ruang perawatan. Perawat mendorong kursi roda yang diduduki Nata menuju ruang perawatan. Hangga dan Harum mengekor di belakangnya.


Sampai di ruang perawatan, hanya Hangga dan perawat yang masuk menemani Nata. Sementara Harum memilih untuk tidak ikut masuk, sebab khawatir dengan kondisi Nata yang masih terguncang. Bukankah dirinya juga ikut menjadi bagian atas apa yang terjadi dengan Nata.


“Terima kasih, Sus,” ucap Hangga usai perawat selesai mengurusi kepindahan Nata di ruang rawat. Sepanjang perawat perempuan tersebut melakukan SOP keperawatan terhadap pasien rawat inap, Nata terus menatap Hangga dengan raut datarnya.


“Sama-sama, Pak, Ibu. Kalau ada keadaan darurat serta keperluan lainnya, boleh menghubungi kami di ruang perawat atau boleh juga memanggil kami dengan menekan tombol nurse call.”


“Baik, Sus. Terima kasih.”


“Saya permisi dulu, Pak, Ibu,”


“Iya, Sus. Terima kasih banyak.”


Dari atas ranjang rumah sakit, Nata masih menatap tajam Hangga.

__ADS_1


Setelah perawat itu pergi dan menutup pintu, Hangga melangkah mendekati Nata. Tangannya terulur hendak mengusap puncak kepala Nata, namun istri kedua Hangga tersebut langsung menepis tangan Hangga.


“Nata, please. Maafkan aku,” ucap Hangga.


“Kenapa kamu enggak biarkan aku mati, Hangga?” Nata berkata dengan napas terengah-engah menahan sesak. “KENAPA, HANGGA? KENAPA?!” teriaknya.


“Nata please jangan begini. Maafkan aku,” ucap Hangga berusaha untuk memeluk Nata, namun pergerakannya sontak terhenti karena teriakan Nata.


“JANGAN SENTUH AKU!”


“Oke, aku enggak akan sentuh. Tapi tolong kamu tenang, Nata. Kamu tenang ya.” Khawatir jiwa Nata kembali terguncang, Hangga melangkah mundur menjauhi Nata.


“Aku mau mati aja, Hangga. Aku mau mati. Huuu, huuu.” Nata menangis histeris.


Hangga kembali mendekati Nata, namun lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Nata.


“Jangan mendekat!”


“Maafkan aku, Nata. Aku mohon,” ucap Hangga memohon. Sungguh, jiwa Hangga juga terguncang saat mendapati Nata tergeletak dengan tangan berdarah-darah.


“Aku mau mati aja, Hangga. Buat apa aku hidup kalau kamu udah enggak cinta aku,” ucap Nata tersedu-sedu.


“Aku cinta kamu, Nata. Sampai kapan pun aku selalu mencintai kamu.”


“KAMU CINTA HARUM, BUKAN AKU!” sahut Nata dengan berteriak.


“Aku cinta kamu dan juga Harum. Aku cinta kalian berdua karena kalian istriku. Tolong kamu mengerti.”


Sementara Harum yang berada di luar ruangan dan menguping pembicaraan Hangga dan Nata dari balik pintu, kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam.


“Saya yang akan pergi, Kak,” ucap Harum tegar. Tidak terdengar keraguan dari intonasi bicaranya.


“Mas Hangga sangat mencintai Kak Nata. Kak Nata harus meyakini itu. Sedangkan kepada saya, Mas Hangga sekedar melakukan kewajibannya sebagai seorang suami saja.” Harum kini memandangi Hangga. “Mas, tolong talak saya.”


“Enggak, Harum. Enggak,” sahut Hangga menggelengkan kepalanya.


“Talak saya sekarang, Mas!” seru Harum dengan intonasi semakin tinggi.


“ENGGAK!” Hangga balas dengan intonasi tinggi juga.


Harum menarik tangan Hangga keluar ruangan dan menutup pintunya. Di depan pintu ruangan tersebut keduanya kembali berdebat.


“Mas tega melihat Kak Nata seperti itu, hah? Kak Nata sudah mengorbankan segalanya demi cintanya pada Mas Hangga. Dan mas dengan tega menghancurkannya. Jadi, saya mohon biarkan saya yang mundur jadi istri Mas Hangga, tolong talak saya.”


“Enggak, Harum. Mas mencintai kamu. Mas mencintai kalian berdua.”


“Jangan egois, Mas! Saya lelah dengan semua ini. Asal mas tahu, saya enggak pernah bahagia dengan pernikahan ini. Saya ingin bahagia, Mas. Tolong lepaskan saya.” Meskipun berat, Harum terpaksa berkata seperti itu.


“Mas tahu kamu mencintai mas. Dan Mas juga mencintai kamu.”


Di dalam ruang perawatan, Nata menangis terpuruk. Ia sungguh terluka melihat sorot cinta di antara Hangga dan Harum. Nata tidak bisa melihat Hangga mencintai perempuan lain selain dirinya. Lebih baik mati saja daripada mendapatkan pengkhianatan Hangga.

__ADS_1


Dengan berurai air mata dan kondisi tubuh yang masih lemah, Nata melepas jarum infus yang menusuk di punggung tangannya.


Aku mau mati. Aku harus mati.


Ia berpikir untuk pergi dari ruangan tersebut lalu berlari sekencang-kencangnya menuju jalan raya. Nantinya ia akan membiarkan tubuhnya dihantam truk tronton sekalian agar nyawa lekas terlepas dari raga. Begitu tekad Nata.


“Aku enggak akan menceraikan kamu, Harum. TITIK!”


Braaak


Pintu dibuka dengan keras dari dalam. Kemudian disusul dengan Nata yang berlari keluar. Hangga refleks berlari lalu menangkap tubuh Nata. Tangan Hangga melingkar erat di perut Nata. Menahan perempuan yang bertahun-tahun dicintainya itu agar tidak berlari.


“Lepas, Hangga! Lepas! Aku mau mati.”


“Enggak, Nata. Jangan pergi!” Hangga menggendong Nata kembali ke kamar perawatan.


“Lepas Hangga. Huuu, huuu. Aku mau mati. Huuuu, huuuu.” Nata menangis meraung dengan tubuh yang melungsur di lantai.


"Nata, please jangan begini."


“Mas Hangga, ayo cepat talak saya!”


Hangga menggelengkan kepalanya. Masih kekeuh menolak permintaan Harum. Saat Hangga hendak berjongkok untuk meraih Nata, ia dikejutkan dengan sebuah tamparan di pipinya.


Plak


Harum yang teringat perdebatan Hangga dan Nata di mes tadi sengaja mendaratkan tangannya dengan keras di pipi Hangga. Bukankah Hangga tidak suka ditampar seperti itu?


“Saya enggak bahagia dengan pernikahan ini. Biarkan saya bahagia, Mas. Tolong talak saya,” mohon Harum dengan berurai air mata.


Hangga kalut bukan main. Kepalanya terasa mau pecah menghadapi situasi tersulit dalam hidupnya.


“Aku mau mati, Hangga!”


“Tolong talak saya, Mas! Biarkan saya bahagia.”


Hangga menarik napas panjang. Mengisi udara pada dadanya yang kini terasa sesak. Ia terdiam beberapa jenak, menimbang apa yang akan diputuskannya.


“Bismillahirrohmanirrohim. Harum Lestari binti Abdul Manaf," ucap Hangga dengan suara bergetar seraya menatap Harum dengan mata berkaca-kaca. “Mulai detik ini kamu bu-kan is-tri-ku. A-ku men-ce-rai-kan-mu,” lanjutnya terbata-bata.


Harum bisa melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Hangga—pria yang sangat dicintainya, imam impiannya sejak kecil, yang detik ini telah sah secara hukum.agama sebagai mantan suami.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya, alurnya memang begitu. Harum justru minta pisah saat Hangga telah mencintai Harum sangat dalam.


__ADS_2