
Matahari telah tenggelam. Dan langit begitu cantik melukis senja. Nata yang tengah duduk miring di boncengan motor, menatap indahnya cakrawala dengan hati syahdu.
Dahulu, ia sering begini. Berkeliling dalam boncengan dua roda bersama Hangga menikmati indahnya senja di langit Kota Jakarta. Pria ganteng yang sangat dipujanya itu mengendarai motor dengan lincahnya, meliuk-liuk menerjang kepadatan jalan raya. Nata akan memeluk pinggang Hangga dengan erat. Dan mereka akan bersahutan kata cinta di sepanjang jalan.
“NATA , I LOVE YOU.”
“HANGGA, I LOVE YOU.”
Tidak peduli dengan aneka ragam tatapan orang-orang akan kebucinan mereka berdua. Karena bagi mereka kala itu, dunia milik berdua. Yang lain, minggir aja.
Momen yang paling disukai Nata saat berboncengan motor dengan Hangga adalah ketika motor berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Hangga akan menarik tangan Nata agar lebih erat lagi memeluk dan melingkar sampai ke perutnya. Kemudian tangan Hangga akan lincah berkelana, kadang mengelus tangan Nata, kadang mengelus kaki Nata, kadang mengelus paha Nata yang terbalut ketat celana jeans. Nata suka. Sangat suka.
“Mbak, ini sudah benar titik lokasi tujuannya kan?” Pertanyaan Abang ojol berjaket hijau membuyarkan lamunan Nata.
“Iya, sesuai titik,” jawab Nata.
Langit setengah gelap, saat Nata turun dari motor ojek online yang ditumpanginya. Nata tidak membayar ongkos ojeknya dengan uang cash karena ia punya saldo dompet digital di akun ojek online tersebut.
Nata sengaja tidak menghubungi Hangga untuk menjemputnya karena ....
__ADS_1
Entahlah, Nata bingung jika harus menjelaskan bagaimana perasaannya pada Hangga kini. Ia masih mencintai Hangga. Sangat mencintai Hangga. Akan tetapi, ada sebuah ruang hampa di hatinya. Terutama saat mengingat pengkhianatan Hangga.
Nata masih sering menangis kala mengingat begitu tega Hangga membohongi dirinya. Susah payah ia membangun kepercayaan kepada sosok pria yang teramat dicintainya itu.
Nata tahu, sejak dulu Hangga memang banyak penggemarnya. Beberapa wanita pernah berupaya menarik perhatian pria tampan tersebut. Dan Nata bahagia karena Hangga selalu setia dan tidak pernah berpaling sedikit pun darinya, meskipun ribuan wanita datang menggodanya.
Bahkan, pernah di suatu masa, saat Nata mengungkapkan kejujuran perihal ketidaksempurnaan dirinya sebagai seorang wanita, jawaban Hangga di luar perkiraan Nata. Pria yang setahu Nata rajin beribadah itu tetap mau menerima ia apa adanya. Tidak pernah berkurang sedikit pun rasa cinta Hangga padanya meski ada cela yang teramat kelam di dirinya.
Hangga tetap mencintainya, meskipun ia telah mengungkapkan kejujuran bahwa ia tidak lagi pe rawan.
“Aku bukan pria pemuja selaput dara, Nata. Aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu. Aku mencintaimu apa dan bagaimana pun kamu. Aku sangat mencintaimu, Nata.” Begitu jawaban Hangga yang saat itu melambungkan Nata ke titik terindah sebuah ketulusan cinta.
Dan yang membuat sakitnya semakin perih adalah saat Hangga berkata dengan membentak-bentak dirinya di depan Harum. Nata benci. Ia benci setiap mengingat peristiwa tersebut.
“Nat, kamu udah pulang? Kok enggak telepon aku sih?” todong Hangga begitu Nata masuk ke kamarnya.
Nata diam saja, tidak menyahut. Memang begitulah Nata belakangan ini. Ia hanya bicara untuk hal urgent saja, yang memang mengharuskan ia bicara.
“Aku enggak pergi ke masjid dan milih salat di rumah karena nungguin telepon kamu loh,” kata Hangga lagi.
__ADS_1
Nata tetap tidak bersuara. Setelah meletakkan tas ke tempatnya, ia pergi ke kamar mandi. Namun, langkahnya tertahan karena cekalan tangan Hangga.
“Nata, please jangan begini. Aku bingung harus bagaimana lagi. Aku kangen Nata yang dulu. Yang selalu senyum, yang selalu ceria, yang selalu manja, yang maunya nempel sama aku. Bukan Nata yang seperti ini. Yang selalu diam, yang selalu murung, yang maunya ngejauhin aku.”
Terengah-engah Nata menahan diri agar tidak menangis, namun air matanya luruh juga.
“Oke, kalau aku salah, aku mohon maaf, Nata. Aku salah dan kamu pun pernah salah. Kita lupakan semuanya. Mari kita jalani hari-hari seperti hari-hari kita biasanya. Atau kamu memang kamu udah enggak cinta aku, Nat?”
“Aku cinta kamu. Tapi, aku juga benci kamu, Hangga. Huuu, huuu, huuu.” Untuk kesekian kalinya Nata menangis, dan menangis lagi.
.
.
.
Maaf yah dua bab tapi dikit dan tidak penting. Kalau beberapa hari ke depan aku enggak up, mungkin aku sedang menemani anak-anak liburan.
Terima kasih dukungannya ❤️❤️
__ADS_1