Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 40


__ADS_3

Keesokan paginya, Harum memilih untuk berdiam diri di kamar dan tidak ikut sarapan. Perasaan sakit yang membebani hati dan pikiran membuat moodnya sangat buruk. Ia sempat berpikir untuk tidak pergi bekerja sebab suasana hati yang sedang tidak baik. Namun akhirnya, menjelang siang, Harum berangkat bekerja juga.


Berada di rumah justru membuat hatinya akan semakin tidak nyaman, apalagi jika bertemu Nata dan Hangga sore nanti.


Pukul 16.30 adalah waktunya Nina selesai bekerja Sebab hari ini sahabat Harum itu jadwal kerja pagi.


“Rum, Nina duluan ya,” ujar Nina yang sudah bersiap untuk pulang.


Tidak ada sahutan dari seseorang yang tengah diajaknya bicara. Sahabat Nina itu malah tengah duduk melamun di meja dapur.


“Rum,” panggil Nina sekali lagi. Harum yang duduk dengan posisi tangan menyangga dagu tetap bergeming. Tatapannya menerawang entah ke mana.


“Bahasa inggrisnnya pintu. Doooorrr!” Tangan Nina mengentak punggung Harum.


“Astagfirullah.” Harum terjingkat kaget. “Aduh, Nin, kalau jantung saya copot gimana. Gak dijual di toko, loh,” sungutnya.


“Lagian dari tadi Nina lihat, kamu bengong mulu, Rum. Mending kayak Nina deh, banyak omong enggak banyak bengong."

__ADS_1


Harum tersenyum mendengar selorohan Nina. "Kamu udah waktunya pulang, Nin?”


“Iya, dong.”


“Terus mau ke mana?”


“Nina jomblo loh, Rum. Jangan tanya mau ke mana, karena jawabannya pasti enggak ke mana-mana.” Harum tersenyum lagi mendengar jawaban Nina. Sahabatnya itu memang selalu bisa membuatnya tertawa, minimal tersenyum.


“Ya udah, Nina pulang duluan ya, Rum. Udah kangen sama kasur,” gurau Nina sembari melambaikan tangan.


“Hati-hati.” Harum balas melambaikan tangan.


Nina memang tinggal di mes yang terletak di belakang kedai. Orangtua Hangga menyediakan mes untuk tempat tinggal para karyawan yang kebanyakan adalah berasal dari kota Serang dan Cilegon.


Harum tersenyum memandang sahabatnya. Nina adalah gadis yang ceria dan selalu santai menjalani hidup. Bahkan, saat dihadapkan dengan suatu masalah pun, ia akan selalu riang.


“Rum, Nina ‘kan lagi banyak masalah, terus Nina goyang dumang deh. Eh, udah goyang dumang tetap aja masalah enggak hilang. Bohong nih Cita Citata.” Begitu gurauan Nina saat pernah dihadapkan oleh sebuah masalah. Gadis itu jarang sekali terlihat sedih.

__ADS_1


Menjelang Magrib, Harum segera membereskan pekerjaannya. Setelahnya, ia pergi ke tempat tinggal Nina dan menunaikan kewajiban Magrib di sana.


“Mau pulang sekarang, Rum?” tawar Nina setelah Harum selesai salat.


Harum menggelengkan kepalanya.


“Jam delapan aja pulangnya, Rum. Biar kita jajan cuangki dulu. Biasanya jam tujuhan ada mamang cuanki lewat,” kata Nina penuh semangat.


“Saya nginep di sini ya, Nin,” ujar Harum sembari menatap Nina.


“Kenapa? Mas Hangga lagi keluar kota?” Harum menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Nina.


“Mas Hangga lagi pulang ke rumah ibunya?” Harum kembali menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, kamu enggak boleh nginep di sini. Nina enggak mau dilaknat malaikat karena mendukung istri yang meninggalkan suami. Seorang istri harusnya enggak boleh meninggalkan suami kalau dia lagi ada di rumah, kecuali kalau mendesak dan atas izin suami.”


Harum menatap Nina. Ia ingin melepaskan sesak yang telah ditahan selama ini.

__ADS_1


“Mas Hangga sudah menikah lagi dengan perempuan lain,” ujar Harum lirih dengan mata berkaca-kaca.


“Apa? Mas Hangga menikah lagi?” Nina terkejut mendengar pengakuan sahabatnya itu.


__ADS_2