Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 103


__ADS_3

Matahari telah hadir di timur cakrawala. Sinarnya membias lewat kaca jendela yang gordennya sedikit terbuka. Yuda membuka mata saat merasakan sebuah kecupan bibir mungil di pipinya.


“Hai, sayangnya Papi,” sapa Yuda yang tidur dengan memeluk putri kecilnya.


“Hai, Papi,” balas Harum kecil menguntai senyum.


“Duh, papi bangunnya keduluan sama anak papi yang cantik,” ujar Yuda dengan suara serak khas bangun tidur.


“Habisnya Papi kerjanya kelamaan, pulangnya malam terus,” kata Harum kecil dengan bibir dimanyunkan.


“Iya, maafin Papi ya. Kan banyak pasien yang harus papi tolong.”


“Tapi aku tetap senang kok karena papi udah kasih hadiah Cinderella syar’i untuk aku.” Tubuh Harum bergerak melepaskan diri dari pelukan papinya. Kemudian tangan mungilnya mengambil boneka Barbie muslimah yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.


“Aku suka sekali sama hadiahnya. Terima kasih, Papi.” Putri Yuda itu kembali mengecup pipi papinya sembari memegang boneka kesayangannya.


Alis Yuda saling bertaut mendengar ucapan putrinya. Ia yang masih dalam posisi rebahan, lalu bangun dan mengambil posisi duduk memangku putri kesayangannya.


“Ini bonekanya cantik sekali,” ujar Yuda. Lalu pandangannya beralih ke sederetan aneka mainan di atas meja yang ia yakini adalah hadiah ulang tahun untuk putrinya. “Itu semua yang di atas meja, hadiah dari siapa aja?”


“Ada dari Bibi, dari Mami dan dari Oma. Tapi, aku paling suka yang ini, boneka Cinderella syar’i hadiah dari Papi,” sahut Harum kecil menunjukkan boneka Barbie yang ia namakan Cinderella syar’i.


Yuda terdiam terpaku menatap boneka cantik itu. Ia dapat menerka siapa pemberi boneka miniatur pengantin perempuan itu. Siapa lagi kalau bukan Harum. Begitu tebakan hati Yuda.


“Eh, udah jam delapan,” kata Yuda saat pandangannya tertuju pada jam bergambar Minnie Mouse yang menggantung di dinding.


“Bangun yuk! Terus mandi, terus sarapan dan kita jalan-jalan.”


“Jalan-jalan, Pi?”


“Hem. Mau enggak?”


“Mauuuu.” Harum kecil bersorak gembira.


Satu jam kemudian, papi keren dan putrinya yang cantik itu telah berpakaian rapi. Mereka memakai pakaian casual dengan pilihan warna yang kompak, yaitu merah muda alias pink.


“Anak papi cantik sekali,” puji Yuda melihat penampilan putrinya.


“Terima kasih, Papi. Kan Mami yang dandanin aku. Oya kita mau jalan-jalan ke mana, Pih?” tanya Harum kecil semringah.


“Enaknya ke mana ya? Eh, tapi kita panggil Mami dulu yuk.”

__ADS_1


“Memangnya Mami ikut?”


“Hem.”


“Yeay. Mami ikut." Harum bersorak girang.


“Ayo, kita jemput Mami!” Yuda menggandeng tangan mungil putrinya menuju unit rumah di sebelahnya.


Yuda memiliki dua unit rumah yang posisinya berdampingan. Satu unit rumah adalah tempat tinggal Yuda, sedangkan satu unit rumah lainnya ditempati oleh Harum dan seorang ART yang bekerja di rumah Yuda. Sementara Bu Yusma dan Harum kecil terkadang tinggal di rumah Yuda, terkadang pula tinggal di unit rumah sebelahnya menemani Harum.


Harum kecil langsung masuk ke rumah yang tentu saja jaraknya hanya ukuran satu langkah. Sementara Yuda memilih untuk duduk di teras. Tidak berapa lama kemudian, putri kecil Yuda itu muncul di pintu sembari menggandeng Harum.


“Papi, maminya nih udah siap,” celoteh Harum kecil yang pagi ini tampil dengan tatanan model rambut yang lucu dan elegan karya kreasi Harum.


Sehabis memandikan putri Yuda tadi, Harum menata rambut panjang Harum kecil dengan mengepang kedua bagian sisi dan menyisakan ujung rambut untuk dijadikan sanggul. Model rambut si anak dokter itu mirip seperti model rambut putri bangsawan abad ke-19. Harum kecil terlihat sangat cantik dan lucu dengan model rambut tersebut.


“Ah, iya. Ayo, kita jalan sekarang,” kata Yuda seraya bangun berdiri.


Harum mengulum senyum melihat penampilan Yuda yang mengenakan kaus warna merah muda. Kemudian ia menatap dirinya sendiri yang juga mengenakan kaus tunik dan jilbab warna merah muda dipadukan dengan rok plisket. Harum sengaja memilih warna merah muda agar kompak dengan Harum kecil. Namun, ia tidak mengira jika Yuda juga mengenakan warna yang sama.


“Ibu enggak ikut, Mas?” lontar Harum.


“Ayo!” Yuda melangkah lebih dulu menuju mobil. Harum yang menggandeng putri Yuda mengekor di belakangnya.


“Rum, duduk di depan aja!” cegah Yuda saat Harum hendak membuka pintu tengah mobil. Sementara Harum kecil sudah ia dudukkan di jok depan bersama Yuda. “Harumnya kamu pangku aja,” lanjutnya.


Harum menurut saja. Mungkin Yuda ingin agar ia menjaga Harum kecil sebaik-baiknya. Pikir Harum.


“Rum, enaknya kita ke mana ya?” lontar Yuda saat ketiganya telah duduk manis di dalam mobil.


“Terserah Mas Yuda aja,” sahut Harum.


“Kamu enggak punya keinginan gitu, misalnya ada tempat rekreasi yang ingin kamu kunjungi atau belum pernah kamu kunjungi di Jakarta ini.”


Aku ingin ke Dufan sih. Dulu pernah sekali ke Dufan pas waktu SD, tapi enggak sempat menikmati permainannya karena aku mabok kendaraan. Batin Harum.


“Enggak ada. Terserah Mas Yuda aja.”


“Oke.” Yuda mulai melajukan mobilnya.


Perjalanan menuju tempat rekreasi diwarnai oleh celotehan Harum kecil, juga obrolan yang tercipta antara Yuda dan Harum seputar tentang perkembangan putri Yuda di sekolah.

__ADS_1


Hingga kemudian, mobil yang dikendarai Yuda masuk ke kawasan Ancol.


“Kita sampai, ayo turun!” kata Yuda tepat setelah mematikan mesin mobilnya.


“Asyik, Dufan,” sorak Harum kecil ceria.


Sementara Harum tercenung beberapa jenak begitu mengetahui Yuda membawanya ke Dufan. Eh, kok Mas Yuda bisa tahu isi hati aku sih.


“Ayo, Rum!”


“Eh, iya Mas.”


Ketiga orang yang mirip sebuah keluarga bahagia itu menikmati berbagai macam wahana permainan yang ‘aman’ untuk dimainkan. Harum kecil paling suka wahana Istana Boneka. Putri Yuda itu mengulang sampai empat kali memasuki wahana Istana Boneka, tentunya didampingi oleh Yuda dan Harum.


“Harum cantik, ayo kita foto di sini,” kata Yuda pada putrinya.


“Sini, Mas. Saya fotokan,” tawar Harum.


“Ish, kamu ke sini juga. Kita foto bareng.”


“Sa-ya?”


“Iya. Ayo cepat sini!”


Harum melangkah ragu mendekat ke posisi Yuda dan putrinya yang siap berfoto.


“Senyum dong,” titah Yuda saat melihat ekspresi tegang di wajah Harum. Terang saja Harum tegang, sebab baru kali ini Yuda memperlakukannya seperti itu. Biasanya hubungan Harum bersama Yuda layaknya bos dan pekerjanya. Kalau boleh ge er, Harum merasa Yuda seperti tengah mengikis jarak terhadapnya.


“Senyum, senyum. Semuanya senyum yang lebar ya. Satu, dua, tiga. Yes.” Yuda mengambil banyak foto selama menikmati tempat rekreasi terkenal di Jakarta tersebut. Foto selfi bertiga dengan berganti-ganti formasi. Yuda, Harum kecil, Harum. Atau Harum, Harum kecil, Yuda. Dan yang paling membuat jantung Harum bergoncang adalah formasi Harum kecil, Harum, dan Yuda di belakangnya. Harum bisa merasakan napas hangat Yuda meniup-niup jilbabnya.


.


.


Maaf ya sebenarnya bab ini panjang banget. Dan pasti ending bab nya seru. Tapi, terpaksa aku potong sampai di sini. Karena udah malam begini, aku belum kelar juga ngetiknya 😭.


Sedangkan kalau habis isya itu waktunya menemani anak-anak belajar.


Besok subuh dilanjut lagi ya.


Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2