
Metro, Lampung.
Di sebuah rumah sakit.
Langit-langit kamar berplafon putih yang pertama Harum lihat saat ia membuka mata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Jilbab yang terasa kurang nyaman di kepala menuntun tangan Harum bergerak ke atas hendak membetulkan posisi jilbabnya. Saat itulah ia melihat jarum infus beserta selang melekat di pergelangan tangan. Saat itu pula ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.
Harum mengedarkan pandangan ke sekitarnya dan mendapati seorang pria asing tengah duduk persis di samping ranjangnya. Pria itu duduk dengan mata terpejam dan tangan bersedekap di dada. Beberapa kali pria tersebut terangguk-angguk menahan kepalanya untuk tetap tegak.
Siapa pria itu? Harum membatin seraya memandangi pria di sampingnya.
Pelan dan perlahan, Harum mencoba bangun dari posisinya yang tengah berbaring. Gerakannya dibuat sehalus mungkin agar tidak menimbulkan decit suara ranjang dan tidak membangunkan pria yang tertidur sambil duduk tersebut.
Harum yang kini dalam posisi duduk mencoba mengumpulkan informasi di memorinya serta mengingat apa yang terjadi. Beberapa jenak kemudian, ia bisa mengingat semuanya. Terakhir ia menginap di rumah Bu Yusma—ibu asal Lampung yang baru dikenalnya. Kemudian ia merasakan sakit perut yang teramat sakit lalu tubuhnya ambruk di kamar mandi. Setelah itu, ia merasakan Hangga membopong tubuhnya.
Mas Hangga? Tidak mungkin Mas Hangga. Batinnya membantah.
Harum melirik pria yang masih duduk terangguk-angguk menahan kepala. Pasti pria ini yang membopongnya tadi. Pikir Harum.
Siapa dia? Apakah anaknya Bu Yusma? Batin Harum bertanya-tanya.
Dalam posisi duduk, Harum bisa lebih jelas memandang pria yang memakai kaus lengan pendek ketat warna hitam yang menampilkan otot Bisep dan Trisep lengan kokohnya. Kaus warna hitam kontras sekali dengan kulitnya yang putih.
Harum menerka pria tersebut usianya lebih tua dari Hangga. Jika Hangga berusia dua puluh enam tahun, mungkin pria tersebut berusia kepala tiga. Ditambah kacamata yang bertengger di hidung mancung dan kecil, semakin membuat pria tersebut terlihat dewasa.
Harum refleks mengulurkan tangan dan menahan kepala pria tersebut yang terangguk keras dan hampir membentur besi ranjang rumah sakit.
Pria yang duduk sembari tertidur di samping ranjang adalah Yuda. Putra Bu Yusma tersebut refleks terbangun saat tubuhnya hampir terjerembap jatuh dan kepalanya hampir membentur besi ranjang andai tidak ditahan oleh tangan Harum.
“Maaf, maaf, saya ngantuk berat,” ucap Yuda usai terdiam terpaku sekian detik memandangi Harum yang memegang kepalanya.
Wajar ia ngantuk berat. Kemarin ia tidak bisa tidur semalaman setelah menerima kabar dari Ustazah pemimpin pengajian ibundanya. "Bu Yusma tidak ada dalam rombongan, apakah Bu Yusma pulang ke rumah Mas Yuda?"
Yuda kalut bukan main. Ponsel ibundanya pun tidak bisa dihubungi. Memang begitu kebiasaan ibunya saat sedang berpergian. Alasannya karena malas nanti ditelepon terus oleh Yuda. "Ibu kan mau refreshing, malah kamu teleponin ibu terus, Yuda." Begitu yang selalu diucapkan Bu Yusma kala menjawab telepon dari putranya yang tidak cukup sekali.
Malam itu Yuda mencari Bu Yusma di sekitar stasiun televisi yang beralamat di Daan Mogot. Semalaman ia mencari di sekitar Tangerang dan Jakarta. Baru kemudian saat subuh buta, ia bisa bernapas lega karena mendapat kabar baik dari Ustazah.
"Mas Yuda, Bu Yusma ternyata sudah pulang. Ada di rumahnya. Suami saya sebelum berangkat ke masjid mampir dulu ke rumah Bu Yusma. Dan katanya Bu Yusma dari semalam pun sudah pulang ke rumah."
Paginya ia memutuskan untuk pulang ke Lampung. Sekali-kali ibu harus diomeli. Ini bukan yang pertama kali ibu pergi tanpa meminta izin dan mengabarinya. Tidak peduli kalau sang ibunda balik mengomeli dirinya dan menceramahi agar dirinya segera menikah lagi.
"Makanya kamu menikah lagi, Yuda. Kalau kamu punya istri, ibu akan minta Istrimu untuk menemani kalau ibu mau ikut acara wisata religi." Begitu yang selalu diucapkan Bu Yusma saat Yuda mengomelinya.
Kembali ke Harum dan Yuda.
__ADS_1
“Maaf, saya ....” Harum refleks menarik tangannya dari kepala Yuda, tetapi ia bingung mau bicara apa.
“Enggak papa,” sahut Yuda keki. “Oya, kamu sudah dari tadi siuman?” tanyanya. Barangkali saja perempuan cantik berjilbab yang wajahnya mirip boneka punya si Harum anakku itu sudah dari tadi bangun dan memandangi aku dari tadi.
Harum menggelengkan kepalanya dengan keki juga. "Barusan," ucapnya.
“Oya, saya Yuda. Anaknya Bu Yusma.” Yuda mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Harum mengangguk sopan dengan tangan saling bertaut di depan dada.
“Oh, ya.” Yuda menarik tangannya keki sebab tidak mendapatkan sambutan jabatan tangan oleh Harum.
“Nama kamu Harum, betul?”
“Iya.” Harum mengangguk.
“Ibu sebenarnya ingin menunggui kamu di sini, tapi saya larang, daripada beliau yang sakit. Jadi, saya yang menunggui kamu.”
“Maaf sudah merepotkan,” ucap Harum yang merasa tidak enak hati.
“Enggak papa. Maksud saya, saya hanya menjelaskan khawatir kamu bertanya-tanya tentang keberadaan saya di sini.”
“Terima kasih.”
“Kamu mau minum?” Yuda yang bingung mau bicara apa lagi menyodorkan sebotol air mineral yang masih bersegel.
Harum mengangguk menjawab tawaran Yuda.
Dengan gerakan gesit, Yuda membuka segel penutup botol, kemudian menyodorkan sebotol air mineral di tangan kanan serta sedotan di tangan kiri kepada Harum. “Nih.”
Harum memandang keki aksi Yuda. ‘Biar saya saja’. Tadinya Harum ingin bilang begitu saat Yuda membukakan segel botol air mineral. Akan tetapi, kalimat tersebut belum sempat terucap dari bibir Harum, Yuda sudah selesai lebih dulu membuka segelnya.
“Terima kasih,” ucap Harum menerima botol air mineral dan sedotan dari tangan Yuda. Setelah mengucap basmallah, Harum meminum air mineral dengan sedotan.
“Kamu jatuh di kamar mandi,” ujar Yuda setelah Harum selesai minum dan meletakkan botol ke nakas.
“Terima kasih sudah menolong saya,” sahut Harum.
Yuda mengangguk, kemudian ia bicara lagi. “Saya mau mengabari keluarga kamu, tapi saya enggak bisa menemukan ponsel atau apapun akses yang bisa menghubungkan saya dengan keluarga kamu.”
Harum menundukkan kepala. Rasanya ia ingin menangis kala mengingat tidak ada lagi keluarga yang ia miliki. Jika sebelumnya ia merasa masih memiliki Bu Mirna yang ia anggap sebagai ibu sendiri, tetapi kini tidak lagi karena statusnya yang tidak lagi menjadi istri Hangga.
“Kamu tahu apa yang terjadi dengan kamu?” lontar pria berkacamata itu menatap Harum.
__ADS_1
Harum menggelengkan kepala. Apa yang terjadi, bagaimana maksudnya? Harum yang pendiam memilih bergumam dalam hati saja. Tidak berani mengobrol lebih akrab dengan pria asing yang baru ia kenal. Kan memang begitu karakter Harum.
“Maaf kalau saya mau mengabarkan berita yang mungkin akan membuat kamu kecewa dan bersedih.”
Harum yang tengah menunduk sontak mengangkat kepalanya menatap Yuda.
Berita apa ? Berita sedih apa? Bukankah sudah tidak terhitung kesedihan yang saya alami dalam hidup ini. Batin Harum.
“Kamu keguguran. Usianya enam minggu.”
“Apa? Ke- keguguran?” Tangis Harum pecah seketika.
“Sabar ya. Saya tahu kamu sedih, tapi ya harus sabar. Mungkin itu bukan rezeki kamu, dan semoga nanti kamu dan suami diberikan kepercayaan kembali untuk memilik anak.”
Harum bukan menangis karena kehilangan janin di perutnya. Harum menangis karena merasa sangat berdosa. Harum masih ingat, kemarin ia sempat mengucap syukur saat mendapati bercak darah di ce lana dalamnya yang ia kira darah menstruasi. Maafkan ibu, Nak. Kamu pasti pergi karena merasa ibu tidak menginginkanmu.
Yuda membiarkan Harum menangis melepaskan kesedihannya. Mau menghibur, ia tidak tahu caranya. Lagi pula, menghibur istri orang bukanlah porsi dirinya saat ini. Kecuali saat ia bekerja. Profesinya yang kadang memberi kabar baik dan kabar buruk, menuntutnya untuk berempati tinggi. (Kira-kira Yuda profesinya apa ya?)
“Kamu hafal nomor telepon suami kamu?” tanya Yuda setelah tangis Harum mereda.
Ia tidak bertanya soal keluarga Harum, sebab telah mendengar dari Bu Yusma bahwa Harum sebatang kara. Tetapi, faktanya perempuan di hadapannya itu baru saja keguguran. Artinya perempuan itu pernah hamil dan memiliki suami.
Tidak mendapat jawaban dari Harum, Yuda menyodorkan ponsel miliknya kepada Harum. “Kamu bisa hubungi suami kamu pakai ponsel saya.”
Harum memalingkan wajah menatap Yuda. “Saya enggak punya suami,” ucapnya lirih.
Kini Yuda menatap Harum dengan tatapan berbeda. Enggak punya suami, tapi hamil? Apa sekarang perempuan berjilbab seperti itu kelakuannya? Kalimat itu hanya diucapkan dalam hati Yuda.
“Maksud saya. Suami saya telah menjatuhkan talak kepada saya hampir dua bulan yang lalu. Dan saya tidak tahu kalau saya hamil,” ralat Harum seolah mengerti apa yang dipikirkan pria bertubuh atletis di hadapannya.
“Jangan-jangan saat keguguran kemarin pun kamu enggak tahu kalau kamu hamil?” Pertanyaan Yuda dijawab Harum oleh sebuah anggukan.
“Tapi saran saya, sebaiknya kamu tetap kabari suami kamu tentang keadaan kamu sekarang. Suami kamu harus tahu bahwa dia hampir punya calon anak, tapi sayang keguguran.”
Seandainya saya benar hamil. Mas Hangga, Bu Mirna dan Ayah pasti senang mendengar berita tersebut. Harum tersenyum membayangkannya. Namun, sekejap kemudian wajahnya berubah murung. Tapi, Kak Nata pasti tidak senang.
.
.
Terima kasih banyak yang sudah vote
Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️
__ADS_1