
Buncah bahagia tengah memenuhi hati Harum, perempuan ayu berwajah teduh yang baru melepas mahkotanya untuk suami tercinta di usia dua bulan pernikahan mereka.
Harum mengguyur seluruh tubuhnya dengan hati berdesir. Dalam aktivitas mandi itu, bayangan kegiatannya bersama Hangga beberapa kali melintas tanpa permisi, menciptakan rona-rona merah di paras ayunya.
Usai melakukan mandi junub pertamanya dan berwudu, Harum segera keluar kamar mandi. Saat melewati dapur, ia dibuat terkejut karena melihat Nata sudah berada di dapur. Hal yang jarang terjadi karena madunya itu tidak biasa bangun di subuh hari.
Melihat Nata, Harum jadi teringat dengan Hangga yang masih tidur di kamarnya. Bagaimana reaksi Nata jika seandainya tahu bahwa pria yang dicintainya itu telah menghabiskan sepertiga malam bersamanya.
Yang Harum tahu, Nata sangat mencintai Hangga dan sikapnya cenderung posesif.
Harum melanjutkan langkah dengan pura-pura tidak melihat Nata. Mungkin menghindari Nata adalah jalan terbaik untuk detik ini.
“Udah bangun, Rum?”
Harum tidak dapat mengelak lagi kala mendengar sapaan dari madunya.
“Eh, I-iya,” jawab Harum terbata. “Sa-saya ke kamar dulu, mau solat Subuh,” ucapnya sembari mengulas senyum kaku.
“Iya, silakan,” sahut Nata.
Harum segera berlalu dari hadapan Nata, mengayun langkah terburu-buru menuju kamar. Sampai di kamar, ia lekas menutup pintunya.
Harum hendak membangunkan Hangga, namun tidak tega karena melihat Hangga yang tidur pulas. Lagi pula waktu salat Subuh masih lumayan panjang, cukup untuk membiarkan Hangga tidur selama setengah jam lagi.
Harum kemudian menggelar sajadah, memakai mukena, lalu menunaikan salat sunah sebelum subuh juga salat fardu Subuh. Tidak lupa untuk berdoa. Mendoakan kedua orang tua, kakek nenek dan yang paling utama adalah mendoakan imamnya, yaitu Hangga. Selepas salat, ia mengaji sebentar seperti kebiasaannya.
Pukul 05.10 Harum yang telah selesai melakukan rutinitas subuh, menghampiri Hangga untuk membangunkannya.
“Bangun, Mas,” ucap Harum yang kini duduk di sisi Hangga.
Pria yang masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer bola itu tidak bereaksi. Mungkin karena suara Harum yang begitu lembut dan terlalu pelan.
Gagal membangunkan lewat suara, Harum memberanikan diri untuk menepuk lembut bahu Hangga. “Mas Hangga bangun.”
Usaha Harum berhasil, pria yang tengah tidur dengan posisi tengkurap itu berbalik badan.
“Jam berapa ini?” tanya Hangga yang kini dalam posisi telentang.
“Jam lima lewat sepuluh, Mas,” jawab Harum.
“Emm, masih ngantuk,” kata Hangga sembari menarik tangan Harum sehingga membuat tubuh Harum limbung dan separuh tubuhnya jatuh di pelukan Hangga.
Jantung Harum yang sudah normal kini berdetak tidak karuan kembali. Mukanya pasti sudah memerah seperti memakai blush on. Beruntung wajah ayu itu tersembunyi di dada bidang sang suami yang ditumbuhi bulu halus.
“Mandi dulu, Mas, terus solat subuh,” ujar Harum masih dalam posisi membenamkan wajah di dada Hangga.
Hangga lambat merespons. Suami Harum itu tengah terbuai dengan aroma mewangi dari sekujur tubuh Harum. “Kamu udah mandi ya, harum banget,” ucapnya sembari mengelus lengan Harum.
__ADS_1
“Iya. Sekarang Mas Hangga cepat mandi ya, khawatir terlewat waktu subuh,” sahut Harum.
Mendengar ucapan Harum, Hangga mengendurkan pelukannya. Hal itu digunakan Harum untuk melepaskan diri dari belitan pelukan Hangga.
“Mas Hangga mandi ya. Saya mau bikin sarapan. Mas Hangga mau sarapan apa?” tanya Harum setelah lepas dari pelukan Hangga.
“Apa aja. Apa pun kalau kamu yang masak, pasti enak,” jawab Hangga sembari memandang paras ayu istri pertamanya.
Harum tersipu mendengar jawaban Hangga.
“Ya udah, Mas, saya tinggal ke dapur dulu,” ucapnya lalu berdiri.
“Rum,” panggil Hangga saat Harum hendak beranjak.
“Iya, Mas.”
“Terima kasih ya,” ucap Hangga sembari mengulas senyum.
“Sama-sama, Mas,” sahut Harum mengukir senyum kemudian berlalu meninggalkan Hangga.
Sepeninggal Harum, Hangga tidak langsung bangun. Masih dalam posisi rebahan, ia terdiam sejenak sembari pandangannya menyapu seisi ruang kamar. Kamar yang sejatinya adalah diperuntukkan untuk tamu, namun selama dua bulan ini ditempati Harum—istri pertamanya.
Sejenak ia termenung mencerna kejadian dini hari yang dilakukannya bersama Harum. Ada rasa yang sesaat meresapi hatinya. Perasaan lega tidak terkira karena telah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami Harum.
Demi Tuhan, sesungguhnya selama ini ia merasa berdosa karena tidak menganggap keberadaan Harum sebagai istrinya. Hangga dapat mengingat dengan jelas betapa wajah ayu itu merona bahagia saat ia dan kedua orangtuanya datang melamar.
Hangga bisa merasakan rasa bahagia Harum dini hari tadi. Rasa yang kemudian menular dan merambat di relung hati Hangga. Ia bahagia karena telah membuat Harum bahagia.
Setelah puas merenung, Hangga yang bertelanjang dada beringsut turun dari tempat tidur. Ia menyingkap selimut untuk memungut kausnya. Saat itu pula sorot matanya menemukan bercak darah di atas sprei.
Sebagai pria dewasa, Hangga tentu tahu bercak darah itu apa. Sesuatu yang tidak didapatkannya saat pertama kali melakukan keintiman dengan Nata.
Hangga segera memakai kausnya setelah melirik jam bentuk masjid di meja dekat tempat tidur. Kurang dari sejam waktu subuh akan habis. Ia menyeret langkahnya menuju pintu. Lalu tangan kekar sedikit berbulu itu menekan gagang pintu.
“Hangga! Kamu ....”
Hangga terkejut bukan main. Tidak menyangka, tidak menduga dan tidak memperhitungkan tentang Nata.
Bagai terhipnotis, sejak dini hari tadi sosok Nata seolah lenyap dalam pikiran dan perhitungannya. Tidak sedikit pun bayangan wanita cantik yang sangat dicintainya itu melintas di saat ia tengah memadu cinta bersama Harum.
“Na-Nat.” Susah payah Hangga bersuara.
“Kamu tidur di kamar dia, Hangga?” tukas Nata dengan sorot mata meradang.
“A-aku.”
Nata mengayun langkah emosi mendekati Hangga. “Kamu tidur sama dia. Iya?” tukas Nata penuh amarah.
__ADS_1
“Jawab, Hangga!” bentak Nata karena pria yang berdiri di hadapannya itu tak kunjung menjawab.
“Habis nonton bola aku ngantuk, jadi aku tidur di kamar Harum,” jawab Hangga gugup.
“Terus kamu ngapain sama dia? Kamu tidur sama dia ‘kan? Kamu melakukannya sama dia ‘kan?” cecar Nata. Dadanya naik turun menahan gejolak yang rasanya ingin meledak di dada.
“Nat, kamu tahu aku cuma cinta sama kamu. Aku enggak ada perasaan apa-apa sama Harum. Apa yang terjadi sama aku dan Harum itu terjadi begitu aja. Hanya karena dia perempuan dan aku laki-laki. Hanya sebatas itu. Tanpa ada rasa apa-apa, tanpa cinta,” tutur Hangga tanpa sadar.
Penjelasan panjang lebar dari Hangga mengartikan jika pria itu mengakui apa yang dituduhkannya. Hal itu tak pelak membuat rasa amarah sekaligus rasa sedih mendesak di dada Nata. Wanita cantik itu benar-benar meradang, tidak terima.
“Kamu jahat, Hangga! Kamu jahat!” Nata berteriak sembari memukuli dada Hangga.
“Maafkan aku, Nat. Aku khilaf. Aku enggak akan melakukannya lagi bersama Harum. Aku janji.” Hangga meraih Nata ke dalam pelukannya, namun istri keduanya itu memberontak tidak ingin dipeluk.
“Maafkan aku, Nat. Aku enggak cinta sama Harum. Aku cuma cinta sama kamu. Apa yang aku lakukan sama Harum itu sebuah kekhilafan. Aku janji enggak akan melakukannya lagi,” ujar Hangga berusaha meredam emosi Nata.
Nata sangat marah. Ia tidak terima jika pria yang bertahun-tahun menjalin hubungan pacaran dengannya itu sampai menyentuh Harum apalagi sampai melakukan hal intim.
Hatinya terbakar cemburu teramat sangat.
“Aku benci kamu, Hangga!” teriak Nata dengan air mata yang mulai meluruh di kedua pipinya.
Plak ...
Tangan halus Nata mendarat kencang di pipi Hangga, sebelum akhirnya Nata memilih pergi.
Hangga yang merasa syok dengan tamparan Nata, berdiri tergugu menatap langkah berlari Nata menaiki tangga menuju kamar.
Belum syoknya reda, ia dibuat syok kembali dengan keberadaan Harum yang sudah berada di sisinya.
“Ha-Harum.” Hangga memanggil lirih nama istri pertamanya itu.
.
.
.
.
Hangga siap-siap kena santet online. Wkwkwk
Tenang ya, ini kan judulnya Satu Biduk Dua Cinta, jadi enggak bisa cinta Hangga buat Harum saja atau buat Nata saja. Nantinya Hangga akan cinta dua-duanya.
Konflik awal memang tentang istri yang disakiti. Konflik kedua nanti adalah bagaimana reaksi Nata jika tahu Hangga ternyata mencintai Harum. Konflik ketiga baru nanti Hangga dihadapkan dua pilihan. Pilih Harum apa pilih Nata. Konflik terakhir ialah konsekuensi atas pilihan Hangga.
Begitu kira-kira runut alurnya. Tetapi, sekali lagi, saya lagi belajar menulis. Jadi maaf kalau alurnya lambat atau apa lah. Memang lagi ngejar kata sebanyak-banyaknya.
__ADS_1