
Nata menggigit bibirnya, menahan luka yang begitu menusuk hati. Baru kali ini ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Hangga melakukan hal intim dengan perempuan lain. Nata yang selama ini merasa satu-satunya wanita yang dicintai Hangga, merasakan sakit teramat sakit.
Beberapa hari yang lalu ia hanya memergoki Hangga keluar kamar Harum. Saat itu, ia sekuat hati berusaha untuk tidak memikirkan apalagi membayangkan apa yang terjadi antara Hangga dan Harum di kamar tersebut. Ia menepis kuat-kuat rasa cemburu yang begitu menggerogoti hati dan membuat sesak di dada.
Tetapi kini, saat ia mulai bisa melupakan drama subuh buta yang begitu membuatnya terluka, malah hatinya dibuat sakit kembali oleh Hangga.
Seandainya ini bukan tempat umum, mungkin Nata akan memaki-maki Hangga seperti biasanya. Melampiaskan emosi dan amarahnya pada Hangga-- pria yang begitu sangat dicintainya melebihi apa pun.
Akan tetapi, kemudian ia memilih pergi tanpa mengucap sepatah kata pun sembari menahan tangis. Nata hanya perempuan pencemburu, bukan perempuan gila yang tanpa sungkan memaki-maki suami di depan ratusan orang pengunjung pantai.
“Mas, itu Kak Nata pergi,” ujar Harum sembari sedikit mendorong tubuh Hangga agar menjauh darinya.
“Biar ajalah,” sahut Hangga setelah menoleh sebentar melihat Nata yang pergi menjauh.
“Ih, Mas Hangga enggak boleh begitu! Sana kejar Kak Nata!”
“Sekali-sekali enggak apa-apa dibiarkan aja. Nata juga harus memahami bahwa posisi kamu juga sama. Sama-sama istri mas.”
“Jangan terlalu memaksakan diri kalau memang Kak Nata belum memahami. Kita yang harus mengalah. Udah cepat sana kejar Kak Nata! Kalau Kak Nata marah terus kabur dan tersesat bagaimana?”
“Kalau mas kejar dia terus dia minta pulang dan kamu ditinggal bagaimana?” Hangga balik bertanya.
“Saya enggak masalah. Karena saya orang sini. Seandainya saya ditinggal, saya tahu harus pulang naik angkot yang mana. Sedangkan Kak Nata bukan orang sini, kalau dia kabur dan tersesat bagaimana? Tahun kemarin saya tersesat di Ragunan karena Mas Hangga, jadi jangan sampai sekarang Kak Nata tersesat di Sambolo gara-gara Mas Hangga juga,” cerocos Harum.
Hangga geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Harum yang tumben sekali panjang dan lebar. Padahal biasanya istri pertama Hangga itu termasuk orang yang irit bicara.
Apakah sebegitu pedulinya Harum pada Nata? Atau apakah Harum memang enggan berjuang untuk mendapatkan Hangga? Begitu yang ada di benak Hangga.
“Oke, mas mau kejar Nata. Kamu tetap di sini, jangan ke mana-mana!” Setelah berkata begitu, Hangga segera berlari mengejar Nata.
Ya Allah begini rasanya berpoligami. Bikin mumet kepala.
Jangan poligami. Punya dua istri itu berat. Kamu enggak akan kuat. Pesan Hangga untuk para suami seantero jagat raya.
*
Arya tengah mengendarai motor sport kesayangannya saat merasakan getaran ponsel menggelitiki pahanya. Ia menepikan motor di pinggir trotoar sejenak untuk menjawab panggilan telepon.
Keningnya mengernyit saat melihat ada panggilan telepon masuk dari seseorang. ‘Nata nelepon, ada apa?’ gumamnya dalam hati.
Arya terdiam sejenak, menimbang apakah menjawab telepon Nata atau tidak. Terakhir Arya berkomunikasi dengan Nata adalah saat ia menegur Nata karena merasa kena prank perihal perjodohannya dengan Harum.
Setelah berpikir dan menimbang, Arya memilih untuk mengabaikan panggilan telepon Nata. Ia masih merasa jengah dengan Nata.
Arya kembali melajukan motor warna hijau itu. Akan tetapi, ponselnya terus-terusan bergetar menggelitiki paha, membuat Arya merasa tidak nyaman sehingga mau tidak mau menjawab juga panggilan telepon dari Nata.
__ADS_1
“Ya, halo.”
“Arya. Huuu ... Hiks hiks.” Di ujung telepon terdengar suara Nata menangis.
“Sek sek sek, loh kok nangis, Nat? Ada apa?”
“Gue mau ketemu sama lu.”
“Tumben?”
“Iya. Bisa kan?”
“Eng, gimana ya?”
“Please, Arya.
Harus bisa!”
“Duh gimana ya. Tapi, ghue enggak janji ya.”
“Harus! Nanti gue share lokasinya,” pungkas Nata lalu memutuskan panggilannya.
*
Di sebuah Coffee Shop, Nata tengah duduk menunggu Arya. Ia menyesap pelan avocado Coffee yang telah tersaji di hadapannya.
Ya, sebelah hatinya saja. Sebab sepotong hatinya yang lain meyakini jika cinta Hangga masih sama. Tidak berkurang sedikit pun.
Nata tidak membenci Harum. Ia hanya membenci keadaan ini.
Nata menyadari pesona Harum sedari lama, bahkan sejak awal berjumpa. Di matanya, Harum tidak hanya sekedar cantik tapi juga jelita. Harum memiliki banyak kelebihan yang ia tidak punya.
Harum adalah tipe ideal calon istri idaman bagi pria baik-baik.
Dan Hangga adalah masuk kategori pria baik-baik. Aneh bin mustahil rasanya jika pria yang telah menjalin hubungan cinta yang sangat lama dengannya itu tidak jatuh cinta pada Harum.
Mungkin Hangga bukan tidak jatuh cinta pada Harum, hanya ... belum saja.
Maka dari itu, sebelum terjadi, ia harus berusaha untuk menepis benih-benih rasa cinta Hangga kepada Harum.
Nata juga pernah meminta Hangga untuk melepaskan Harum, namun keinginannya langsung ditolak oleh Hangga dengan dalih, apa lagi selain alasan karena orangtuanya.
“Aku enggak bisa, Nata! Sampai kapan pun aku enggak bisa melepaskan Harum. Ibu bisa masuk rumah sakit atau bahkan mati kalau aku menceraikan Harum.” Bagitu dalih Hangga.
Nata tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Sebab sesungguhnya ia juga enggan menyakiti Harum apalagi membuatnya menderita.
__ADS_1
“Hai, Nat. Sorri ya lama.” Sebuah suara pria yang sangat khas mengagetkan Nata.
“Ojo ngelamun mengko kesambet.” Pria yang tidak lain adalah Arya bersuara lagi seraya menarik kursi dan duduk di hadapannya.
Kepada Aryalah, Nata menaruh harap. Teman dekat Nata saat kuliah itu diharapkan dapat membantu mengurai benang kusut masalahnya yang begitu menggulung-gulung hati.
“Lama banget sih.” Nata mengerucutkan bibir.
“Soalnya aku menunggu balasan pesan suamimu dulu,” kilah Arya.
Pagi tadi, saat akan berangkat ke kedai bakso miliknya, ia mendapat telepon dari Nata yang meminta ketemuan. Mengingat Nata adalah perempuan bersuami, apalagi suami Nata adalah Hangga yang notabene temannya juga. Arya mengirim pesan kepada Hangga untuk meminta izin.
[Masbro, Nata ngajak aku ketemuan. Ada apa ya?]
[Boleh aku ketemuan sama Nata?]
Begitu bunyi pesan yang dikirim Arya kepada Hangga. Sayangnya, pesan yang dikirim Arya sejak pagi itu baru dibalas oleh Hangga beberapa menit yang lalu.
“Lu bilang sama Hangga kalau mau ketemuan sama gue?” tanya Nata.
“Iya lah. Aku ‘kan ndak mau menimbulkan fitnah. Secara kamu ‘kan istrinya Hangga.”
Nata menghela napas kesal. “Harusnya lu enggak bilang-bilang sama Hangga. Kita ‘kan Cuma mau ketemu, bukan mau selingkuh,” sewot Nata.
Arya ikutan menghela napas panjang.
“Ini punya siapa?” Arya menunjuk jus jeruk di hadapannya yang kelihatan masih utuh.
“Punya lu. Kelamaan sih, jadi udah enggak dingin,” sahut Nata.
“ Enggak apa-apa, buat ghue mah enak aja.” Arya langsung meraih ujung sedotan dan memasukkannya ke mulut.
“Gue pesan jus jeruk soalnya enggak tahu menu kopi favorit lu,” kata Nata.
Kemudian tangan Nata melambai memanggil pelayan. Seorang pelayan wanita yang memakai kemeja warna putih plus apron dan celana hitam datang menghampiri, lalu dengan cekatan mencatat tambahan menu yang dipesan.
“Tumben kamu ngajak ketemu. Ono opo toh?” tanya Arya setelah pelayan itu pergi.
“Lu jomblo ‘kan?” lontar Nata.
“Bukan jomblo tapi singel. Kalau jomblo itu nasib, kalau single itu pilihan. Catat ya!” sahut Arya tidak terima.
“Kalau gue cariin jodoh buat lu. Lu mau ‘kan?”
“Aku ini ngganteng loh, Nat. Enggak usah dicariin juga cewek-cewek pada antri,” kata Arya menyombongkan diri. “Eh, tapi ngomong-ngomong mau dijodohin sama siapa?”
__ADS_1
“Sama Harum.”
“Harum lagi,” sahut Arya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.