Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 64


__ADS_3

Pembaca kecewa karena Harum enggak milih tetap pisah. Jadi gini ya, kalau menurut aku kalau Harum meninggalkan Hangga saat ini enggak akan berpengaruh apa-apa pada Hangga. Karena apa? Karena Hangga belum begitu dalam mencintai Harum. Saat ini dia hanya baru mulai mencintai Harum.


Kalau pun Harum akhirnya milih pergi meninggalkan Hangga itu nanti saat Hangga sudah begitu dalam mencintai Harum. Di saat itu, Hangga akan merasa sangat kehilangan dan merasakan sedih yang begitu mendalam.


Ini judulnya bukan "Istri yang disakiti" jadi setelah ini enggak akan ada lagi Hangga menyakiti Harum. Bab berikutnya mungkin enggak terlalu banyak konflik, fokus tentang pembuktian cinta Hangga pada Harum aja.


Pembuktian "bersyarat" karena ada Nata di antara mereka. Makanya judulnya Satu Biduk Dua Cinta.


Kita lihat saja nanti siapa yang akan pergi meninggalkan Hangga? apakah Harum? apakah Nata? Atau justru Hangga yang pergi meninggalkan kedua istrinya? Atau mereka bertiga akan menjalani pernikahan poligami dalam kedamaian dan kebahagiaan?


*


Sepulang makan siang dan jalan-jalan sebentar di pantai, Harum meminta Hangga membawanya ke sebuah butik. Hangga mengerut bingung saat Harum membeli sebuah gaun dress selutut warna tosca dengan motif bunga.


Dress itu memang cantik. Harum sudah pasti terlihat semakin cantik jika memakai dress tersebut. Tetapi, bukankah Harum adalah perempuan berjilbab? Lalu mengapa memilih dress seperti itu? Oh, mungkin Harum akan memakainya khusus di depan suami. Begitu pikir Hangga.


“Enggak usah, Mas, saya saja yang bayar,” tolak Harum saat Hangga mengeluarkan kartu debit dari dalam dompetnya di depan kasir.


“Kenapa? Ini kewajiban Mas loh, Rum,” sahut Hangga.


“Saya beli ini untuk Kak Nata. Saya mau kasih hadiah untuk Kak Nata. Jadi, biar saya yang bayar saja ya, Mas,” terang Harum.


Ia memang sudah lama berniat memberi hadiah kepada madunya, tetapi kesibukan serta permasalahan yang terjadi silih berganti membuat Harum belum sempat mewujudkan niatnya.


“Ya sudah, kalau kamu maunya begitu. Tapi, kalau ada baju yang kamu suka, kamu beli aja ya, nanti Mas yang bayar.”


“Enggak ada lah, Mas. Ini ‘kan bukan butik muslimah.”


“Siapa tahu kamu mau beli baju yang itu,” sahut Hangga mengerling nakal. Tangannya menunjuk lingerie berwarna merah menyala yang terpajang di sudut toko.


“Ih, enggak mau.” Harum berdecak. Hangga tertawa melihat raut malu-malu istri pertamanya itu.


Harum dan Nata memang dua sosok yang berbeda. Harum cenderung pemalu dan tidak banyak bicara, sedangkan Nata lebih dapat mengekspresikan perasaannya.


Setelah membayar, Harum dan Hangga pulang menuju rumah Bu Mirna.


“Harum mana, Bu?” tanya Hangga sepulang dari masjid usai menunaikan salat Isya berjamaah.


“Lagi solat,” jawab Bu Mirna yang tengah menyiapkan makan malam di meja.


“Oh.” Hangga mangut-mangut sembari mencomot tempe tepung krispi yang masih hangat lalu memasukkannya ke mulut.


Hangga yang tengah mengunyah tiba-tiba teringat sesuatu. “Apa? Harum lagi solat?” gumamnya di sela suara kriuk-kriuk.


“Kenapa?” tanya Bu Mirna kebingungan atas reaksi Hangga.

__ADS_1


“Enggak, Bu,” sahut Hangga cengengesan.


“Hangga ke kamar dulu ya, Bu.” Hangga yang masih memakai baju koko dan sarung buru-buru pergi menuju kamar.


“Astagfiruloh,” pekik Harum yang terkejut karena hampir saja bertubrukan dengan Hangga di pintu kamar.


“Rum, kamu habis solat?” tanya Hangga antusias. Harum menjawab dengan anggukan kepala.


“Berati udah boleh 'kan?” cecar Hangga lagi.


Harum kembali menjawab dengan anggukan, namun kali ini disertai wajahnya yang memerah karena malu. Tidak menyangka Hangga bisa berbicara frontal seperti barusan.


“Yuk lah.” Hangga merangsek masuk sembari mendorong pelan tubuh Harum.


“Ini masih sore, Mas. Saya mau siapkan makan malam,” elak Harum.


“Udah enggak usah, udah dikerjakan sama ibu.”


Baru Hangga hendak merangkul pundak istrinya, terdengar suara teriakan ibu dari dapur. “Nak, ayo makan malam dulu!”


Harum terkekeh melihat wajah kecewa Hangga. Kemudian keduanya segera pergi ke meja makan setelah Hangga mengganti pakaian salat dengan kaus oblong dan celana boxer klub bola favoritnya.


Usai makan malam, mereka mengobrol sebentar bersama kedua orangtua Hangga.


Pak Hendra—ayah Hangga mengutarakan niatnya yang ingin berangkat haji untuk kedua kali, namun belum kesampaian karena kesibukan.


“Ibu tuh yang ingin sekali pergi haji kedua kali,” sahut Pak Hendra.


“Umroh juga boleh. Yang penting ibu ingin berdoa di depan Ka’bah agar segera mendapatkan cucu,” timpal Bu Mirna.


“Kalau soal cucu enggak usah khawatir, Bu. Lah wong si Hangga istrinya dua,” celetuk Pak Hendra.


“Rum, ayo kita pergi tidur aja,” ujar Hangga menghindari obrolan rawan itu.


Hangga meraih tangan Harum dan menuntunnya sampai ke kamar.


“Kenapa enggak bilang sih kalau udah suci,” protes Hangga yang tengah merebahkan tubuh di ranjang dengan kepala berbantal paha Harum.


“Memangnya kalau kayak gitu harus kasih pengumuman,” sahut Harum.


"Iya dong. Harus,” sahut Hangga.


Harum tersenyum sembari mengusap lembut rambut hitam Hangga.


“Tadi magrib solat enggak?” tanya Hangga selanjutnya.

__ADS_1


“Solat.”


“Kalau Asar?”


“Solat.”


“Zuhur?”


“Solat.”


“Subuh?”


“Solat.”


Hangga yang tengah berbaring, bangun dari posisinya lalu duduk memandang geram Harum.


“Jadi, kemarin malam kamu bilang lagi datang bulan itu bohong ya?” cecarnya.


Hangga yang selalu salat berjamaah di masjid, seharian ini memang tidak melihat aktivitas Harum menunaikan kewajiban lima waktu.


“Benar, kok. Nah, pas subuhnya saya mandi wajib. Waktu Mas Hangga ngobrol sama temannya yang manajer itu, saya solat Zuhur,” terang Harum dengan sejujur-jujurnya.


Setelahnya, Hangga memilih diam. Memasang wajah cemberut, suami Harum itu bersandar di kepala ranjang sembari melipat tangan di dada.


“Mas Hangga marah sama saya?” lontar Harum setelah menyadari perubahan wajah dan diamnya Hangga.


Hangga tetap bergeming dan menekuk wajahnya.


“Maafkan saya, Mas,” ucap Harum.


“Mas, maafkan saya.” Harum tampak mulai panik atas sikap merajuk Hangga.


Sementara Hangga setengah mati menahan tawa melihat kepanikan istri pemalunya itu. Ia bertahan dalam diam. Ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Harum untuk mendapatkan maafnya.


Harum yang tidak punya pengalaman dalam menghadapi pasangan yang tengah merajuk, tampak kebingungan. Kemudian ia meraih tangan kanan Hangga yang terlipat di dada, menariknya sampai ke ujung hidung Harum.


“Maafkan saya ya, Mas. Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf,” ucap Harum sembari berkali-kali menciumi tangan Hangga.


Hangga tersenyum haru. Harum memang jauh berbeda dengan Nata. Biasanya jika Hangga merajuk, Nata akan berlaku agresif untuk mendapatkan maafnya. Si cantik berwajah oriental itu akan menciumi Hangga bertubi-tubi. Dan yang paling menyenangkan, Hangga tidak akan bersusah-susah untuk mencapai puncak kepuasan sebab Nata yang akan memegang kendalinya.


“Mas, maaf ya,” ucap Harum penuh permohonan.


“Iya, Sayang,” sahut Hangga sembari bibirnya melengkungkan senyum. Kemudian tangan kiri Hangga terangkat dan mengusap lembut rambut Harum.


Dan setelahnya, bisa ditebak. Usapan lembut tangan Hangga berkeliaran ke mana-mana. Menyentuh apa yang ingin disentuh. Mengusap apa yang ingin diusap.

__ADS_1


Harum menyambut Hangga dengan penuh cinta. Menyerahkan seluruh jiwa dan raga. Merengkuh manisnya malam bersama suami tercinta.


__ADS_2